Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
31. Gunung Bersalju


__ADS_3

‘Akhirnya, setelah berjalan seharian. Aku sekarang sudah sampai di gunung bersalju, sekarang tinggal mencari bunga tujuh warna itu.’ Ethelyne tersenyum tipis, jerih payahnya selama seharian tidak sia-sia. Dia menaiki gunung dengan perbekalan yang dia cari mati-matian kemarin. “Oh iya, Flowing. Setelah menemukan bunga itu. Apa benar jiwa iblisku akan hancur?”


Tidak ada balasan dari Flowing, Ethelyne berhenti melangkah. Dia tiba-tiba ingat dengan ucapan Flowing beberapa hari yang lalu, Ethelyne tersenyum dan kembali berjalan. ‘Aku akan merasa kesepian tanpa kau di sisiku.’




Suara pecahan kaca mengalihkan atensi Aelene yang sedang mengantarkan makanan ke istana matahari, dia yang penasaran mengintip dari celah pintu.



“Kenapa kalian masih belum bisa menemukannya?! Dia hanyalah seorang gadis!”



“Maafkan kami, Yang Mulia. Kami memang tidak dapat menemukan jejaknya sama sekali, Nona Rimuru seolah menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun.”



“Maafkan saya, Yang Mulia. Saya seharusnya tidak lengah hingga membuat Nona Rimuru menghilang meski dalam pengawasan saya,” kata Willa dengan penuh penyesalan.



Eadric duduk sambil memijat pangkal hidungnya.



“Oh ayolah, dia hanyalah seorang pelayan. Masih banyak gadis yang lebih cantik dan lebih terhormat darinya,” kata Zion yang berusaha membujuk Eadric namun gagal, dia justru mendapatkan tatapan sengit dari sang sahabat. Zion yang merasa aneh dengan sikapnya melirik Ned, namun pria itu hanya mengangkat bahunya tak tau.



“Huh, kerahkan seluruh prajurit untuk mencarinya. Jika tidak ada yang menemukannya, kalian semua akan mati!”



Zion mengibaskan tangannya dan mengisyaratkan agar prajurit yang sedari tadi bergerak untuk pergi, dengan cepat. Prajurit itu berlari keluar.



Aelene yang melihat hal itu segera bersembunyi hingga si prajurit benar-benar hilang dari pandangannya, dia kembali menguping karena tidak dapat melihat mereka.



“Kenapa kau sangat perduli pada gadis itu? Dia hanyalah seorang pelayan, jika kau ingin gadis cantik. Aku bisa membawakanmu sebanyak yang kau mau, kau cukup--”



“Lebih baik kau diam sekarang sebelum aku memotong lidahmu itu!”



Zion terdiam, dia menghela napas. “Kau ini, kenapa jadi semakin kejam hanya karena seorang perempuan?”

__ADS_1



“Dia bukanlah pelayan biasa! Dia …”



“Dia apa?”



Eadric memalingkan wajahnya. “Lupakan saja, keluar saja jika kau ingin terus menggangguku.”



“Cih, dingin sekali.” Zion berdiri dan merangkul pundak Ned. “Jika ada sesuatu yang salah pada Eadric, beritahu aku ya,” bisiknya pelan agar tidak didengar oleh Eadric.



Ned hanya mengangguk kecil. “Lebih baik Anda keluar sebelum dijadikan pelampiasan oleh Yang Mulia.”



“Aku tau, aku juga tidak ingin berlama-lama di sini.” Zion berjalan pergi, namun saat membuka pintu. Dia dan Aelene sama-sama kaget, keduanya saling bertatapan beberapa detik sebelum Aelene melangkah masuk dan menuangkan teh ke cangkir Eadric.



‘Rimuru, di mana kau sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba menghilang?’ batin Aelene khawatir, karena dia yang tidak terlalu fokus. Teh yang dituang ke cangkir hampir saja tumpah jika tidak segera dihentikan oleh Ned.




Aelene menunduk. “Saya mengerti, saya permisi. Yang Mulia, Tuan Ned.” Dia berbalik dan berjalan pergi. ‘Rimuru, cepatlah kembali.’



~~~♥~~~



“Achu … huh, aku tidak sangka udaranya akan sedingin ini. Untung saja aku menemukan desa di tengah hutan dengan penduduk yang baik, jadi aku bisa meminta mantel yang cukup tebal dari mereka. Cukup sudah juga karena aku langsung saja pergi tanpa persiapan apapun.” Ethelyne meletakkan keranjang yang sedari tadi dia rangkul ke atas salju, dia kemudian duduk di sampingnya dan membuka keranjang. Ethelyne mencari sesuatu untuk menghangatkan diri. Namun dia tak berhasil menemukan apapun. ‘Di mana ya, aku meletakkan benda itu? Aku bahkan tidak tau seberapa jauh aku berjalan sekarang, semuanya tertutupi salju sehingga aku sangat kesulitan untuk berjalan. Tapi, demi bunga itu. Aku akan melewatinya!’



Tiba-tiba, suara raungan serigala mengalihkan atensi Ethelyne. Dia berusaha mencari-cari asal suara namun tak menemukan apapun.



Namun, entah kebetulan atau tidak. Bunga lima warna muncul di hadapannya, tepat di depan sebuah tebing.



Ethelyne yang melihat hal itu langsung berbinar, dia berdiri dan berjalan ke arah bunga sambil terus bertahan dari badai salju hingga akhirnya. Ethelyne berhasil mencapai bunga itu, namun baru saja menyentuhnya.

__ADS_1



Kepalanya tiba-tiba terasa pusing, pandangannya seolah berputar-putar dan menjadi gelap. Ethelyne jatuh tepat di depan bunga itu dan tak sadarkan diri, anehnya. Bunga lima warna itu menguap dan menghilang.



~~~♥~~~



Aku pernah membayangkan kehidupanku yang seperti dalam cerita dongeng yang dibacakan ibu, dimana sang tokoh utama selalu mendapatkan akhir yang baik setelah melalui banyak hal. Lalu, apa aku juga bisa mendapatkan akhir yang baik dari kehidupanku? Aku selalu berusaha untuk tidak menyebabkan perang antara manusia dan iblis, lalu kenapa para manusia justru datang ke dunia manusia dan hendak menghabisi para iblis? Aku tau, manusia dan iblis sampai kapanpun tidak akan bisa akur. Tapi setidaknya, jangan saling membunuh satu sama lain. Aku takut, sangat takut saat ingat kejadian di mana aku hampir saja mati oleh para serigala iblis. Jantungku hampir saja copot saat itu, aku pikir. Aku bisa membuat manusia dan iblis bersatu, tapi sepertinya. Itu adalah perkejaan yang sangat sulit, tidak. Tapi mustahil.



Ethelyne membuka matanya, dia bangun sambil celingak-celinguk dan menatap dengan linglung ‘Di mana aku?’ Tubuhnya tiba-tiba menjadi kecil layaknya bayi berusia 3 tahun.



“Ethel, kenapa kau bisa ada di sini sayang?”



Ethelyne menoleh ke asal suara, seorang wanita cantik dengan warna mata biru, rambut pirang panjang dan senyum lembut yang indah. Dia menggendong Ethelyne kecil.



“Cup, cup. Apa kau kabur dari Pangeran Ryan lagi? Ethel menjadi sangat nakal ya, ibu sampai kesusahan mencarimu,” kata Wanita itu sambil menghujani pipi Ethelyne dengan ciuman.



Tanpa sadar, air mata mengalir dari pipi Ethelyne. “I-bu?”



“Eh, Ethel. Kenapa kau menangis sayang? Apa kau terluka, di mana? Apa ada yang sakit?” tanya Wanita itu panik. “Mana yang sakit? Sini ibu sembuhkan.”



Air mata semakin mengalir dari pipi Ethelyne, dia memeluk wanita itu sambil menahan isakan tangis.



“Cup, cup. Berhentilah menangis, nanti ibu akan meminta Ayah untuk mengirimkan semua hal yang kau mau.” Wanita itu memeluk Ethelyne penuh kasih sayang.



“Ibu … Ethel, Ethel sayang, ibu.”



“Iya, iya. Ibu juga sangat menyayangi Ethel, sekarang. Kita kembali ke istana, ok.”


__ADS_1


Ethelyne mengangguk, dia tersenyum manis dengan tulus setelah sekian lama. ‘Ya dewa, jika ini mimpi. Tolong jangan bangunkan aku, aku tidak perduli bahkan jika aku mati nantinya. Asal aku bersama ibu, itu sudah lebih dari cukup.’


__ADS_2