
“Tentu saja, dan kami tidak mungkin memberikannya padamu!”
“Jika begitu, maaf atas ketidaksopananku.” Ethelyne tiba-tiba saja menghilang dan muncul di belakang salah satu prajurit, dia memukul leher Prajurit itu hingga tak sadarkan diri.
“Sialan! Serang gadis itu!”
Mereka menyerang Ethelyne bersamaan, namun dengan mudahnya Ethelyne menghindari setiap senjata tajam dan membalas mereka dengan pukulan dan tendangan.
Setelah melumpuhkan mereka semua, Ethelyne menginjak lengah dari salah satu prajurit dengan tangan terulur. “Berikan penawarnya dan aku akan membiarkan kalian hidup.”
“Hah, jangan harap! Kami tidak akan, memberikan penawarnya sampai kapanpun!” Meskipun di ambang kematian, pria itu masih kekeh pada prinsipnya.
Ethelyne menatapnya datar. “Aku mengerti, jadi bagaimana dengan kalian? Mati atau menyerah.” Dia mengalihkan pandangannya ke dua prajurit yang masih dibiarkan sadar.
“Kami, kami tidak tau apa-apa soal penawarnya!”
“Benar, kami hanya tau kalau penawarnya ada pada dia.” Salah satu dari mereka menunjuk pria yang lengannya telah diinjak oleh Ethelyne.
Gadis itu terdiam dengan wajah tanpa ekspresi. “Bagus, bagus sekali. Jadi kalian lebih memilih mati daripada menyerah? Maka aku akan mengabulkan permintaan kalian.” Ethelyne mengambil pedang di lantai dan menusuk dada pria yang dia injak lengannya, tepat di jantungnya. Saat Ethelyne menarik pedang itu, darah langsung terciprat ke wajahnya.
Ethelyne melirik ke arah dua prajurit yang bergetar ketakutan. “Aku memberi kalian waktu, berikan penawarnya. Atau kalian akan mati seperti dia.” Dia dengan perlahan melangkah ke arah keduanya sambil menyeret pedang di tangannya dan menimbulkan suara.
“J-jangan mendekat! Kami benar-benar tidak tau apa-apa soal penawarnya!”
“A-aku hanya tau kalau Aelene diracuni oleh racun mematikan dan tidak memiliki penawar.”
Ethelyne mengangkat pedangnya ke arah dada salah satu dari keduanya. “Siapa yang menyuruh kalian?”
Keduanya saling melirik seolah memberi kode, tiba-tiba. Keduanya mengigit lidah mereka dan mati bunuh diri.
Ethelyne yang melihat hal itu berdesah frustasi, dia melempar pedang di tangannya ke sembarang arah dan berjalan ke arah Aelene yang wajahnya makin memucat karena kehilangan darah. Ethelyne menggenggam tangan Aelene yang terasa dingin.
“Apa yang harus kulakukan, ibu? Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan siapapun.” Ethelyne terduduk di lantai dengan air mata yang berjatuhan ke lantai. “Aku ini benar-benar payah dan sial, kenapa. Kenapa semua orang yang berada di dekatku mati mengenaskan? Kenapa …” Dia terisak kecil.
__ADS_1
‘Master.’ -
“Flowing, kenapa hal ini selalu terjadi padaku?”
‘Maaf, master. Saya tidak bisa membantu Anda untuk hal ini.’ -
“Tidak apa-apa.” Ethelyne mengusap wajahnya kasar. “Ini bukan kesalahanmu, seharusnya aku tidak membiarkannya mendekatiku. Aku akan menyembuhkannya sekarang.”
‘Master, apa Anda gila? Kekuatan penyembuhan Anda hanya berefek pada iblis dan tidak stabil!’ -
“Lalu aku harus apa? Diam saja dan melihat orang-orang yang kusayangi mati satu demi satu seperti dulu.” Ethelyne mengangkat kedua tangannya ke arah Aelene, dia menutup matanya. ‘Roh kegelapan, cahaya api, jiwa iblis, kematian manusia, jiwa pengembara, cahaya merah, darah kematian, hidupkan kembali dan isilah raga gadis di depanku.’
’Master! Berhenti sekarang juga!!’ -
Ethelyne menarik napas dalam-dalam tanpa mendengarkan ucapan Flowing. “Healing … magic.”
Ethelyne membuka matanya dan bertepatan dengan itu, darah keluar dari mulut, hidung, dan matanya. Pandangan Ethelyne mengabur, namun gadis itu tetap berusaha untuk bertahan meski darah terus saja mengalir dari mata dan hidungnya.
Lingkaran sihir berwarna hijau muncul di lantai tempat keduanya berada, namun anehnya. Aura yang masuk ke tubuh Aelene justru berwarna hitam pekat, Ethelyne tersenyum tipis. ‘Akhirnya aku … berhasil.’ Dia terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
“Huh, ada-ada saja gadis ini.” Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul di depan Ethelyne. Bukan hanya satu, tapi ada dua bayangan.
Salah satu dari mereka memeriksa denyut nadi Aelene yang masih tak sadarkan diri. “Yang Mulia, racun di tubuh Aelene benar-benar menghilang. Apa sihir penyembuhan ini yang dia gunakan untuk menyembuhkan Anda? Tapi kenapa dia tidak memberitahu kalau dia bisa menggunakan sihir?”
“Bukankah menarik?”
“Hem, apa maksud Anda Yang Mulia?” tanya Ned, tangan kanan Eadric.
“Jika benar sihir ini yang digunakan untuk menyembuhkanku, dia pasti tidak sadarkan diri waktu itu seperti saat ini. Tapi saat kalian sampai, bukankah kalian tidak melihat siapapun.”
“Anda benar, Yang Mulia. Jadi apa maksudnya, dia bisa menggunakan sihir penyembuhan lain?”
“Sepertinya begitu, dia memang bukan gadis biasa. Dia memiliki aura yang terlalu aneh untuk seorang gadis biasa, apa mungkin dia bangsawan yang menyamar?”
__ADS_1
“Hm, bisa saja. Lagipula, dia tidak pernah memperlihatkan wajahnya pada siapapun.”
“Aku pernah melihatnya,” kata Eadric tiba-tiba.
Ned mengangguk mengerti, namun sedetik kemudian. Dia menatap Eadric dengan melongo. “Apa?”
“Aku pernah melihat wajahnya, dia wanita yang cantik. Entah kenapa dia menutupi wajahnya, tapi sepertinya dia bukan dari kerajaan Iceworld.”
“Tap--”
“Kalian jahat!”
Keduanya menoleh ke asal suara, mereka mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis kecil berdiri di depan jendela dengan wajah menahan amarah.
“Gadis kecil, kenapa kau bisa masuk kemari? Apa kau tersesat?” tanya Ned sambil berjongkok dengan senyum manis yang menawan.
Namun bukannya luluh, gadis kecil itu justru menatap mereka garang. “Apa kalian bodoh?! Kalian membuat Master kembali mengorbankan dirinya!!”
“Master?” Ned dan Eadric saling menatap, mereka kemudian mengalihkan pandangan ke gadis kecil berumur 8 tahun itu.
“Apa maksudmu, gadis kecil? Dan siapa namamu?” tanya Ned dengan nada ramah, dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis kecil di depannya ini.
“Kalian bodoh, jahat, menyebalkan!!” teriak Laurie melampiaskan kemarahannya, matanya memerah menahan tangis.
“Kau!” Ned hendak menghampiri Laurie namun dihentikan oleh Eadric.
“Apa maksud dari kemarahanmu itu, nona kecil? Kenapa kau bisa masuk kemari?” Kini giliran Eadric yang bertanya, meskipun tidak selembut dengan Ned. Namun masih ada sedikit kelembutan di suaranya.
Laurie mengepalkan tangannya menahan amarah, air mata tidak lagi bisa dia bendung. “Kalian tidak tau apa-apa! Apa kalian tau, karena ulah kalian ini. Master, Rimuru akan dalam bahaya!”
“Dalam bahaya bagaimana?”
Laurie menahan geram, kenapa pria sialan ini susah sekali mengerti ucapannya. Dia mengalihkan pandangannya ke Ethelyne, Laurie mengangkat sebelah tangannya dan membuat pelindung yang mengelilingi Ethelyne dan Aelene.
__ADS_1
“Gadis kecil, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Ned dengan nada takjub, dia yakin. Gadis di depannya ini adalah seorang jenius, tidak mungkin seorang gadis berumur 8 tahun bisa membuat pelindung yang kuat jika bukan jenius.