Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
95. Ilusi Kematian (6)


__ADS_3

“Astaga tomat, ada apa denganmu??” tanya Gavin terkejut, dia segera memeriksa apa adik kesayangannya terluka. Gavin baru bernapas lega setelah tidak melihat lecet ataupun luka sekecil apapun di tubuh adiknya, dia menatap Erik sambil berkacak pinggang. “Ada apa ini?? Bukankah tadi kalian pergi meninggalkan kami berdua, dan setelah kembali. Tomat malah tidak bisa berdiri!”


“Aku bukan tidak bisa berdiri! Kakiku hanya kram karena beberapa hal.”


“Kau tidak berbohong pada kakak kan, tomat??” Gavin menatap serius Ethelyne yang mengangguk dengan raut wajah polosnya.


Gadis itu celingak-celinguk mencari seseorang. “Di mana Tina? Bukankah tadi dia bersama kakak?”


“Dia dipanggil oleh Duke untuk pulang, kau juga. Cepat pulang atau Tina akan dalam masalah karena kalian pergi bersama.”


“Ok, tolong jaga Lyne sebentar ya. Aku akan segera kembali.” Erik berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kedua kakak beradik itu.


Ethelyne menatap Gavin yang terus memperhatikan Erik. “Kakak tidak menyukai … Erik kan?”


“Hah?? Apa maksudmu! Kau pikir otakku ini sudah korslet sampai menyukai sesama pria?? Jika boleh ya, lebih baik aku menikahi Tin- Khem, maksudku. Lebih baik aku tidak menikah daripada bersama dia.”


“Oh, begitu ya. Aku pikir kakak menyukainya karena kakak selalu memperhatikannya sejak tadi.”


“Aku--”


“Ada apa ribut-ribut begini?”


Keduanya menoleh ke asal suara, Xander dengan seragam Kesatria dan pedang di pinggangnya berjalan ke arah mereka dengan raut wajah datar khasnya.


“Kakak pertama, kenapa kakak ada di sini?”


“Aku ke istana untuk berbicara dengan Ayah tentang pasokan ke medan perang, kau sendiri kenapa? Apa kakimu sakit?”


“Ah, tidak apa-apa kok. Kakiku hanya kram sedikit, tidak lama lagi pasti sembuh.” Ethelyne tersenyum manis.


Namun berbeda dengan Xander yang mengerutkan keningnya. “Kram?” Dia melirik Gavin dengan tatapan tajam, tangannya memegang gagang pedang. “Apa kau …” Dia menarik pedang di pinggangnya dan mengarahkannya tepat ke leher Gavin yang terkejut. “Yang membuat Lyne terluka??”


“Tidak, kak. Aku tidak melakukan apapun, aku bersumpah! Aku, aku melihat Erik menggendong Lyne pulang. Jadi mungkin saja sebelum itu kakinya sudah kram.”


Xander mengalihkan pandangannya ke arah Ethelyne. “Apa itu benar?”


Gadis itu mengangguk polos, Xander menghela napas. Dia menurunkan pedangnya dan kembali memasukkannya ke sarung pedang yang ada di pinggangnya. “Panggil tukang urut ke kamar Lyne, aku akan membawanya ke sana.”


“Baik, baik. Aku akan segera ke sana!” Gavin langsung pergi dengan cepat.


“Lyne,” panggil Xander setelah memastikan Gavin pergi.


“Em? Ada apa, kak?”


“Apa kau … merasa ada yang aneh?”


“Hm? Aneh bagaimana?” tanya Ethelyne bingung, dia sama sekali tidak mengerti yang dikatakan Xander.


“Maksudku, seperti. Kau merasa ada yang aneh dengan dirimu atau mungkin, muncul ingatan-ingatan seseorang,” kata Xander ragu-ragu.

__ADS_1


“Tidak tuh, kenapa kakak tiba-tiba bertanya hal aneh?” Ethelyne menatap Xander bingung. ‘Kenapa kakak tiba-tiba menanyakannya? Dia tidak biasanya menanyakan hal yang tidak penting, memang sih. Sering muncul ingatan seseorang di pikiranku, aku sendiri tidak mengenal orang itu. Tapi aku pikir itu bukan sesuatu berbahaya, lagipula. Aku masih belum mengerti siapa pria berambut biru yang membuatku tak sadarkan diri tadi, jadi. Lebih baik aku diam dan tidak memberitahu Kakak sampai aku tau apa yang terjadi padaku.’


“Oh, begitu ya.” Xander tersenyum tipis, Ethelyne menatapnya penuh tanda tanya.


“Kenapa kakak terlihat lega? Apa muncul ingatan seseorang itu adalah penyakit atau apapun?”


“Tidak, tidak apa-apa. Ayo kuantar ke kamarmu, Gavin pasti sudah menunggu di sana.”


“Baik.”




‘Apa maksudnya ingatan-ingatan tadi? Siapa sebenarnya aku? Apa itu benar ingatanku? Lalu kenapa aku tidak menemukan orang-orang di ingatanku di dunia ini, mereka terasa familier tapi juga asing bagiku.’ Ethelyne bersandar sambil menatap langit-langit kamarnya, dia benar-benar tidak mengerti dengan ingatan yang ditunjukkan pria berambut biru itu. “Aku tidak mengerti diriku sendiri.”



Saat sedang melamun, suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ethelyne menatap lurus ke arah pintu tanpa minat. “Siapa?”



“Permisi, Tuan Putri. Pangeran dari kerajaan Victoria ingin bertemu dengan Anda.”



Ethelyne menghela napas. “Persilahkan dia masuk.”




Dengan langkah pelan, Eadric berjalan masuk dan berdiri di depan Ethelyne.



“Ada perlu apa Pangeran ketiga menemui saya?” tanya Ethelyne dengan nada formal.



“Apa … kau pernah mendengar tentang bunga lima warna?”



“Bunga lima warna? Bunga apa itu? Apa bunganya memiliki lima warna berbeda? Apa sangat cantik??” Ethelyne berdiri dan berkata dengan menggebu-gebu, dia memang sudah melihat bunga berwarna-warni di taman tengah hutan tadi. Tapi dia tidak pernah tau ada satu bunga yang memiliki warna berbeda-beda di setiap kelopaknya.



“Iya.” Eadric tersenyum tipis, entah kenapa. Raut wajahnya tampak sedih dan tidak bisa dimengerti. “Aku ingin menunjukkannya padamu, tapi sayang sekali. Aku tidak bisa membawanya kemari.”

__ADS_1



“Apa bunga itu tumbuh di kerajaan Victoria?? Jika benar-benar ada, bolehkan aku ikut untuk melihatnya!”



“Boleh saja, tapi apa kau yakin? Kau mungkin saja tidak bisa kembali ke sini lagi.”



Raut wajahnya yang semula antusias berubah bingung. “Apa, maksudmu? Kenapa aku tidak bisa kembali ke kerajaanku lagi?”



“Karena … ketika kau pergi ke dunia- maksudku kerajaan Victoria, maka kau tidak akan bisa kembali lagi.”



“Apa maksudmu sebenarnya?? Kenapa aku tidak bisa kembali?!”



“Karena, tidak ada jalan lagi ketika kau pergi ke istana Victoria.”



Ethelyne duduk sambil memijat pelipisnya. “Aku tidak mengerti yang kau katakan sama sekali! Lagipula, aku kan bisa melewati jalan yang kau lewati saat kemari. Apa susahnya sih, kalau tidak mau memperlihatkannya tidak usah. Setidaknya jangan buat aku begitu berharap dan kemudian mematahkan harapanku!”



“Kenapa kau tidak bisa mengerti, Ethel,” gumam Eadric sambil menunduk.



“Dengar, pangeran ketiga Victoria!” Ethelyne berdiri dan menatap datar Eadric. “Aku adalah putri dari kerajaan Gezeweith! Meskipun kau seorang pangeran dari kerajaan Victoria, tapi di sini. Kau hanyalah tamu! Jadi tolong jangan sopan santunmu dan jangan bersikap akrab denganku, selain itu. Nama panggilanku adalah Lyne, selain itu. Hanya orang-orang terdekat yang boleh memanggilku seperti itu! Jadi, silahkan keluar sekarang!!” Dia menunjuk ke arah pintu yang terbuka lebar.



“Ethel, sebenarnya …”



“Cukup! Keluar dari kamarku sekarang juga!!” teriak Ethelyne marah.



Dengan wajah sedih, Eadric berjalan keluar. Dia sempat melirik Ethelyne sebelum menutup pintu kamar.


__ADS_1


Ethelyne duduk dan memijat pelipisnya. ‘Apa dia benar-benar pangeran ketiga kerajaan Victoria?? Kenapa dia mengatakan hal aneh dan menyebalkan! Lagipula, mana mungkin ada bunga dengan kelopak yang berwarna warni. Bodoh! Kau sangat bodoh Lyne, seharusnya kau tidak percaya ucapannya. Dia itu hanya membual belaka!’ Dia menghela napas. “Aku sangat lelah, biasakan aku istirahat meski sebentar saja? Tidak memikirkan apapun dan benar-benar istirahat dengan tenang.” Ethelyne tersenyum miris. ‘Mungkin saja bisa, tapi setelah itu. Aku tidak akan bisa bangun lagi.’


__ADS_2