Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
30. Kabur


__ADS_3

Ethelyne mengucek matanya pelan, dia melirik ke arah para bandit yang terlihat ketakutan. Matanya menatap Eadric dan Zion yang terlihat terkejut dengan aksinya.


Ethelyne berjalan ke arah keduanya. “Kenapa kalian ini sangat payah? Kalian bahkan tidak bisa menghabisi semua bandit-bandit itu, aku tiba-tiba merasa ragu dengan gelar kalian saat ini.” Dia berdiri di tengah-tengah kedua pihak. “Baik, sekarang. Mari kita bicarakan baik-baik.”


“Siapa gadis tengil ini?? Berani sekali dia berkata-kata tanpa rasa takut!” kata ketua bandit.


Ethelyne yang sedang malas berdebat menjentikkan jarinya, ketua bandit bersama kudanya tiba-tiba menjadi es dan hanya menyisakan kepalanya. “Baik, sekarang apa kita bisa berbicara?”


“S-sialan kau! Aku pasti akan membunuhmu!” Sang ketua menggunakan sihir api untuk melelehkan es, namun anehnya. Es itu tidak meleleh namun justru bertambah besar dan seolah melahap api.


“Bagaimana jika sekarang?”


“S-sialan kau!”


“Beraninya kau melakukan ini pada ketua! Semuanya, habisi gadis itu!!”


Ethelyne menatap mereka dingin, dia mengangkat sebelah tangannya ke depan. “Kalian seharusnya berlutut di depan penguasa!” Ethelyne menggerakkan tangannya ke bawah, tiba-tiba. Kuda-kuda yang ditunggangi para bandit meledak dan membuat darah terciprat ke mana-mana.


Pada bandit yang masih bingung sekaligus terkejut tiba-tiba berlutut secara paksa.


“A-apa yang terjadi? Aku tidak bisa menggerakkan badanku!”


“Kakiku tiba-tiba keram.”


“Ada apa denganku?”


“Hei kalian! Kenapa kalian malah mematuhi perintahnya?!” tanya sang ketua murka, namun ketika dia bertatap mata dengan Ethelyne. Dia seolah terhipnotis dan jatuh dari kuda.


“Merepotkan, aku tidak akan melakukan hal ini jika kalian tidak menganggu tidurku.” Ethelyne berbalik ke arah Eadric dan Zion yang tampak terbengong-bengong. “Sisanya kuserahkan pada kalian, jika tidak ingin membunuh mereka. Beritahu aku, aku akan mengurus mereka semua.” Dia berjalan pergi sambil melambaikan tangannya. “Kalian berdua, kembali!” perintah Ethelyne pada kedua serigala.


Meskipun masih menikmati 'makanan' yang enak, kedua serigala segera mematuhi Ethelyne dan kembali masuk ke dalam bayang-bayang gadis itu. Ethelyne kembali naik ke kereta kuda dan hendak melanjutkan tidurnya.


Namun saat dia menutup matanya, adegan berdarah yang baru saja dia lihat tiba-tiba muncul di pikirannya layaknya kaset rusak. “Cih, apa yang terjadi? Aku tidak bisa tidur sama sekali,” gumamannya sambil memegangi kepalanya.


‘Gawat, Master. Kebangkitan jiwa telah mencapai 70 persen, jika kebangkitannya mencapai seratus persen sebelum kita menemukan penawarnya. Maka jiwa manusia Anda akan menghilang dan tidak akan pernah bisa kembali lagi!’


“Masa bodoh, aku akan meminta cuti pada Eadric sebagai balasan atas bantuanku tadi. Sekarang aku sedang sangat mengantuk, jadi jangan menggangguku tidur atau kau akan kulempar ke jurang kematian.”




“Apa yang sedang terjadi? Aku tidak berharap gadis pelayan itu sangat kuat, dia bahkan bisa menundukkan para bandit dengan sekali gerakan tangan,” bisik Zion yang tersadar dari kekagumannya.



Eadric menghela napas pelan. ‘Aku sendiri tidak menyangka dia akan sekuat itu, meskipun sejak awal sudah curiga dengan identitasnya. Tapi aku tetap tidak menyangka kekuatannya akan sebesar itu, apa itu adalah semua sihir yang bisa dia gunakan. Atau masih banyak sihir lagi yang bisa dia lakukan.’ Dia tersenyum tipis. ‘Aku tidak sabar melihat penampilanmu selanjutnya, Rimuru.’

__ADS_1



“Eadric!”



Eadric tersadar dari lamunannya, dia berdehem. “Lebih baik kita membawa mereka semua ke istana, untuk sementara waktu. Mari kita ikat mereka lalu meminta prajurit istana untuk datang dan menangkap mereka.”



“Kau tidak ingin menanyakan apapun pada mereka?”



“Tidak. Willa, panggil prajurit istana kemari.”



“Saya sudah melakukannya, Yang Mulia.”



“Cepat sekali, apa kau sudah mengirimi mereka pesan sebelum kupanggilkan?”




‘Kenapa dia seolah tau apa yang akan terjadi selanjutnya?’ batin Eadric sambil memegang dagunya berpikir. “Baiklah, kau bisa pergi.”



Willa menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, Zion bergeser agar lebih dekat dengan Eadric. “Menurutmu, apa gadis pelayan itu adalah seorang penyihir?”



“Entahlah.” Eadric melangkah maju, tiba-tiba. Sebuah tali muncul di tangannya, dia mulai mengikat empat bandit dengan satu tali. Zion pun ikut membantunya hingga selesai mengikat semua para bandit.



“Selesai, sekarang aku bisa beristirahat kan? Tapi, siapa yang akan menjalankan kereta kudanya?” tanya Zion, pemuda yang menjalankan kereta kuda telah habis dimakan oleh serigala. Keduanya saling tatap.



“Kau saja,” kata keduanya bersamaan.


__ADS_1


Eadric memalingkan wajahnya sambil bersedekap dada. “Aku adalah pangeran ke6, tidak mungkin aku akan mengemudikan kereta kuda melewati kota.”



“Aku juga sama, aku adalah Duke. Aku juga tidak mungkin mengemudikan kereta kuda.”



“Jadi, satu-satunya pilihan adalah …” Keduanya menoleh ke arah kereta kuda.



Eadric dan Zion menggeleng cepat dan berusaha mengusir pikiran yang baru saja muncul di otak mereka. “L-lebih baik aku memanggil Rey agar dia yang mengemudi keretanya.”



“Ide yang bagus, aku juga bisa memanggil Ned. Jadi lebih baik kita kembali ke kereta kuda sekarang dan tunggu prajurit membawa para bandit.”



~~~♥~~~



Napas seorang gadis berambut cokelat tidak beraturan, gaun yang digunakannya bahkan sedikit sobek karena ranting kayu. Dia bersandar di salah satu pohon sambil mengatur napasnya yang memburu.



‘*Master, kenapa Anda meninggalkan kereta kuda? Anda telah masuk ke hutan cukup dalam*.’



“Kau tidak tau, Flowing. Aku merasa aneh, mencium bau amis darah itu.” Gadis yang tidak lain adalah Ethelyne itu menyentuh dadanya yang berdetak cepat, keringat membasahi wajahnya. “Aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku.”



‘*Saya paham maksud Anda, Master. Tapi saya sendiri tidak bisa melakukan apapun, Anda hanya bisa mengandalkan diri Anda sendiri. Lebih baik, kita mencari bunga tujuh warna itu sebelum terlambat*.’



Ethelyne mengusap keringat yang membasahi dahinya, dia duduk dengan napas yang mulai beraturan. “Kau benar, aku harus pergi ke gunung bersalju hari ini juga. Tidak ada waktu lagi, aku harus berangkat sekarang juga atau semuanya akan sia-sia!” Ethelyne hendak berdiri, namun kakinya tiba-tiba keram dan membuatnya tidak bisa berdiri. “Apa yang terjadi, padaku? Aku tidak bisa menggerakkan kakiku sama sekali.”



‘*Anda tenang saja, Master. Anda hanya mengalami keram, itu hal yang biasa bagi manusia. Mungkin saja keramnya akan sembuh setelah Anda istirahat yang cukup, lagipula. Anda sudah berjalan selama hampir dua setengah jam, Anda tidak boleh memaksakan diri Anda atau Anda bisa saja mati sekarang ini. Ingatlah, Master. Meskipun Anda memiliki tubuh abadi, tapi jiwa Anda adalah jiwa manusia dan tidak mengherankan jika Anda terluka ataupun mati*.’


__ADS_1


“Aku mengerti, aku akan istirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan .”


__ADS_2