
“Ethelyne!!”
“Kenapa? Apa kau marah? Bukankah itu sudah jelas, kalian para manusia bahkan tidak tau membalas budi pada orang yang berjasa!” Ethelyne berdecak, dia sudah muak melihat mereka semua yang bersikap munafik.
“Zac, jangan berteriak pada Ethelyne!” kata Aelene tak terima, meskipun susah. Dia tetap berusaha menerima bahwa ternyata gadis yang dianggapnya sebagai adik selama ini adalah seorang Ratu iblis dan juga Gadis suci. “Ethelyne, kenapa kau tidak mau menceritakan apapun padaku? Bukankah dulu kita sudah berjanji, kita tidak akan merahasiakan apapun.”
“Apa kau sungguh-sungguh ingin tau?”
Aelene mengangguk.
Ethelyne tersenyum sinis, dia menunjuk Eadric dan Zachary yang berdiri berdampingan. “Aku mengatakan semua itu karena yang membunuh ibuku adalah … Raja ketujuh Iceworld, Aelous Elrond!”
“Apa?? Bagaimana itu mungkin!”
“Kenapa tidak?”
“Kau pasti hanya salah lihat, lagipula. Itu terjadi beratus-ratus tahun yang lalu, tidak mungkin-”
“Sepertinya kau lupa, Putri Earlene Virgian berusia 800 tahun.”
Zachary tidak lagi melanjutkan ucapannya, dalam hati. Dia membenarkan ucapan Ethelyne, tapi tentu dia tidak percaya dengan mudahnya. “Umur berapa saat kau melihat ibumu dibunuh?”
“Umur ya? Apa kau yakin ini mengetahuinya?”
Zachary mengangguk. “Apa kau tidak bisa menjawabnya?” tanyanya dengan senyum sinis.
__ADS_1
“Hah, manusia yang merepotkan. Jika kalian tidak paham-paham juga, aku akan memperkenalkan diriku dengan cukup lengkap. Pertama, namaku adalah Ethelyne Virgian Blisterzz, umurku 800 tahun, warna mataku tergantung dengan jiwa yang mengendalikanku, warna merah dan emas, artinya aku dikendalikan oleh iblis, dan warna biru artinya aku dikendalikan oleh gadis suci. Aku kehilangan ibuku di usia tiga tahun, saat itu. Ingatanku disegel bersamaan dengan jiwa iblisku, lalu di umur … lima, tahun? Meli, pengasuh manusiaku. Dibunuh oleh kakakku sendiri, Zen Blisterzz. Tapi saat itu, terjadi sesuatu di luar dugaan. Kekuatan iblisku yang disegel tiba-tiba lepas kendali dan menghidupkan Meli kembali, namun bukan sebagai manusia. Tapi sebagai iblis, dan dalam beberapa bulan yang lalu. Saat penyerangan bandit, aku menghilang karena pergi ke gunung bersalju. Apa kalian tau apa yang kulakukan di sana?” Ethelyne tersenyum miris. “Aku ingin mengambil bunga tujuh warna yang bisa menghancurkan jiwa iblis ini dan mempertahankan jiwa manusia.”
“Tunggu, bunga tujuh warna? Bukankah itu hanya mitos?”
“Entahlah, tapi saat aku menemukan bunga lima warna.” Ethelyne terdiam. “Tidak, bukan aku. Tapi jiwa manusiaku, saat dia menemukan bunga itu. Dia lupa dengan peringatan Laurie dan menyentuh bunga itu, tidak tau bagaimana. Tapi jiwa manusiaku terkena ilusi masa lalu, kau tau kan. Ilusi yang bisa membangkitkan ingatan yang dilupakan, saat tau bahwa pembunuh sebenarnya adalah Raja Iceworld. Aku merasa sangat marah.” Dia menyentuh dadanya. “Bahkan amarah dari jiwa manusiaku bisa kurasakan saat itu, dan dia memilih pilihan yang tidak pernah dia bayangkan … dia memilih untuk membebaskanku dan memusnahkan kalian, para manusia.”
Kelimanya tampak terkejut mendengar penuturan Ethelyne.
Gadis itu tersenyum sinis. “Tapi mau bagaimana lagi? Hati dari jiwa manusiaku sangat rapuh, dia bahkan …” Ethelyne menutup sebelah matanya dengan tangan saat tiba-tiba terasa perih.
“Ethelyne, apa kau baik-baik saja?” tanya Aelene khawatir.
Ethelyne menatapnya, dia tersenyum. “Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku dan maaf. Kalian jadi mendengar omong kosong yang tidak seharusnya.” Ethelyne menurunkan tangannya, barulah terlihat warna matanya yang berubah kembali menjadi biru meski hanya sebelah. “Karena pembahasannya sudah tidak dalam rencana, lebih baik kita kembali ke dunia bawah secepat mungkin.” Dia berbalik dan berjalan pergi. “Kira-kira, Meli memasak apa ya?” Ethelyne menoleh ke arah mereka dengan senyuman manis. “Kalian tidurlah, kalian akan kubangunkan saat kita telah tiba di tujuan.”
Seketika, kelimanya jatuh tak sadarkan diri. Senyum di wajah Ethelyne perlahan memudar, dia menghela napas sambil menutup mata merahnya dengan sebelah tangan. “Ethel, bukankah itu berlebihan? Untuk apa kau memberitahu mereka soal masa lalu kita?”
“Hahaha, maaf ya. Tapi jika tidak kulakukan, maka kau akan membocorkan semuanya … kita bicara di kerajaan saja, kita harus segera pergi sebelum ada yang menyadari barier ini.” Ethelyne menutup matanya. “Roh Cahaya, Mika. Roh kegelapan, Lili. Datanglah, muncullah di hadapan sang penguasa kegelapan. Ethelyne Virgian Blisterzz.”
~♥~
“Eum, masakan Meli adalah yang terbaik dari semuanya!” kata Ethelyne sambil mengacungkan jempolnya dengan senyum puas.
“Saya hanya membuatnya seperti saat membuatkan makanan untuk Nyonya, karena selera Yang Mulia dan Nyonya tidak jauh berbeda. Saya jadi lebih mudah untuk menentukan makanan kesukaan Anda.”
“Sudah kuduga, kau yang terbaik!”
__ADS_1
“Maaf menganggu, tapi kelima tawanan telah sadar.”
“Oh, Loreen ya? Akhirnya mereka sadar setelah tertidur hampir tiga hari.” Ethelyne berdiri. “Tolong bereskan semuanya, dan antarkan makanan ke kamar mereka berlima. Aku akan menemui mereka terlebih dahulu.”
“Baik, Yang Mulia!”
Ethelyne berjalan pergi diikuti Loreen dan Meli. Para pelayan dan prajurit yang melewati lorong segera berbaris dengan rapi dan membungkuk hormat.
“Kalian ini, sudah kukatakan tidak perlu melakukan hal itu.”
“Tidak, Yang Mulia. Ini adalah cara kami menunjukkan kesetiaan kami, selain itu. Anda telah menghidupkan keluarga kami kembali, kami tidak akan pernah melupakan jasa Anda.”
“Kalian ini.” Ethelyne tersenyum tipis. “Seharusnya akulah yang meminta maaf, aku langsung saja membuat keluarga kalian menjadi prajurit istana tanpa berpikir panjang. Terlebih lagi menyerang di siang hari memang beresiko, tapi syukurlah sekarang kalian semua sudah baik-baik saja.”
“Kami merasa beruntung karena keluarga kami bisa menjadi prajurit dan mengorbankan diri demi kerajaan ini, Yang Mulia. Kami akan selalu setia pada Anda dan akan mengorbankan nyawa demi melindungi Anda!”
“Terima kasih, semuanya. Kalau begitu, aku harus pergi dulu. Kau perlu menemui beberapa tawanan.”
“Baik.”
Ethelyne dan keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka, tidak sampai sepuluh menit. Mereka sampai di sebuah kamar yang memiliki pintu yang cukup besar dan terlihat luas. “Kalian tunggu di sini,” katanya sambil membuka pintu.
“Baik, Yang Mulia.”
Ethelyne berjalan masuk dan menatap mereka semua yang terkurung dalam barier, tentu mereka tidak terkurung bersama. Ethelyne memisahkan kurungan mereka, Aelene dikurung sendiri, Zachary dan Eadric, lalu Zion, dan terakhir Ned. Mereka masih ditempatnya di kamar yang sama namun di barier yang berbeda. “Bagaimana kabar kalian? Kuharap kalian baik.”
__ADS_1
“Ri- Ethelyne, apa maksudnya ini?” tanya Eadric dengan nada kecewa, dia tidak pernah menyangka gadis yang amat dicintainya akan mengkhianatinya seperti ini.
“Bukankah sudah terlihat jelas? Apa perlu kuperjelas lagi?” tanya Ethelyne dengan mata memicing dan tatapan tajam. “Kalian tidak akan mengerti perasaan anak berumur tiga tahun yang kehilangan orang tuanya dan kehilangan pengasuh manusianya di umur lima tahun.”