Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
101. Dunia Bawah


__ADS_3

“Hoam …”


“Sepertinya kau sangat mengantuk, bukankah Nina memberitahumu untuk tidak datang jika sedang sibuk.”


“Tidak apa-apa, lagipula. Aku hanya akan bosan di kamar terus.” Ethelyne menopang dagunya.


Murry menghela napas, dia menatap William yang mengangkat kedua bahunya acuh. “Baiklah, apa kau sudah bicara dengan Ratu kegelapan?”


“Iya, tapi sepertinya dia sedang kesal padaku. Huuh …”


“Kenapa lagi?? Bukankah kau ke sana untuk membujuknya agar membebaskan para manusia, lagipula. Wabahnya telah berakhir berkat kontribusi--”


“Berkat kekuatan Kathelyne, benar kan?” Ethelyne menatap keduanya datar.


Murry hanya berdehem dengan raut malas.


Suasana tiba-tiba berubah sunyi, tidak ada suara apapun di ruang rapat itu. Ketiganya hanya diam dengan lamunan masing-masing.


“Kalian berdua.”


Murry dan William menoleh ke arah Ethelyne bersamaan.


“Apa … kapan Lady Earlene bisa dibangkitkan?”


Murry dan William saling menatap tiga detik sebelum kembali menatap Ethelyne dengan raut datar.


“Berbeda dari dirimu, para gadis suci lain membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan bisa sampai bertahun-tahun sebelum bisa dibangkitkan kembali, bisa juga … tidak bisa dibangkitkan.”


“Eh?? Kenapa??”


“Ethel, kekuatan suci yang dibagikan tentu terbatas. Terlebih lagi, tubuh yang dijadikan wadah untuk menampung jiwa mereka telah hancur--”


“Lalu kenapa aku bisa dibangkitkan?? Bukankah aku juga kehilangan wadah--”


“Kau tidak kehilangan, tapi kami yang merebut jiwamu secara paksa,” potong William cepat.


Ethelyne menatapnya kesal. “Apa benar mereka tidak bisa dibangkitkan lagi??”


“Kemungkinan gagal sampai 70%, tapi. Jikapun mereka gagal dibangkitkan, mereka tetap bisa bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya. Tentu dengan wadah dan ingatan baru.”


Ethelyne membuang muka, dia mengetuk-ngetuk meja dengan raut kesal.


“Lady?”


“Huuh, lalu. Berapa persen keberhasilan untuk membangkitkanku?”


Murry terdiam sejenak. “46%.”


“Tuh kan!” Ethelyne berdiri sambil memukul meja. “Hanya 46% saja tapi aku bisa dibangkitkan, kenapa mereka tidak bisa!”


“Kau tidak mengerti, Ethel.”

__ADS_1


“Aku mengerti semuanya! Kalian hanya tidak ingin membangkitkan mereka kan, karena situasi yang kualami--”


“Kami sudah mencobanya, Lady.”


“Apa?”


“Ya, kami telah mencobanya. Tapi kesebelas lady suci … gagal setelah kematiannya.”


Ethelyne duduk dengan raut wajah tak percaya. “Jadi, selama ini …”


“Kami berhasil menemukan reinkarnasi dari Lady pertama, Lady Maria. Tapi, kami masih belum mengetahui keberadaan lady yang lain. Atau kemungkinan, mereka belum dilahirkan.”


Ethelyne memijat pelipisnya. “Jadi, siapa reinkarnasi Lady Maria?”


William menatap Murry seolah meminta pendapat, pria berambut biru itu mengangguk dengan raut wajah datar.


“Reingkarnasi Maria adalah …”


~♥~


“Selamat-- Yang Mulia Ratu?”


“Hai, Loreen. Di mana Kathelyne?” tanya Ethelyne dengan senyum manis, rambut peraknya yang indah diikat satu dengan gaun berwarna hitam polos.


“Anda …”


“Ah, sepertinya kau melupakanku ya? Aku Ethelyne, tidak. Lebih tepatnya, jiwa suci Ethelyne. Kau ingat kan.”


“Tidak perlu seformal itu kok, lagipula. Aku bukan tamu dan juga keluarga kerajaan, jadi. Silahkan panggil aku Ethelyne. Omong-omong, di mana Kathel? Apa dia masih marah padaku?”


“Saya kurang tau, tapi sepertinya. Yang Mulia sedang ada di ruang kerjanya, beliau bahkan tidak keluar setelah kepergian Anda.”


“Hah, sepertinya dia benar-benar marah ya. Oh, di mana Bibi Meli?”


“Meli sedang berada di taman belakang.”


Ethelyne mengangguk kecil. “Ok, aku pergi dulu.” Dia berjalan ke belakang istana sambil melambaikan tangannya ke arah Loreen. ‘Aku harus bertemu Kathel secepatnya, tapi daripada itu. Yang lebih penting adalah mencari tau siapa reinkarnasi ibu.’


~♥~


“Bibi! Yuhu~” teriak Ethelyne sambil memeluk Meli dan mengangetkan wanita itu.


“N-nona Ethelyne? Kenapa Anda bisa ada di sini?”


“Aku ingin bertemu bibi, lagipula. Sangat membosankan berada di dunia atas, bibi sedang apa?”


“Ah, ini ya. Saya sedang menyiram tanaman, dulunya. Nyonya sangat menyukai tanaman berwarna-warni, tapi sejak beliau pergi. Taman ini tidak lagi terawat, setelah sekian lama. Yang Mulia akhirnya meminta saya untuk merawat taman ini, mungkin Yang Mulia menyukai taman berwarna-warni seperti Nyonya.” Meli tersenyum tipis, dia kembali mengingat hari-hari di mana dia bersama Earlene yang bermain di taman bunga yang masih terawat dan paling indah di dunia bawah.


“Bibi~” kata Ethelyne merengek. “Apa bibi hanya mengingat Kathel saja? Aku juga suka bunga berwarna-warni.”


“Iya, iya. Anda kan juga putri dari Nyonya Earlene.”

__ADS_1


Ethelyne tersenyum manis, dia duduk di bangku dan menatap Meli yang sedang menyirami tanaman. “Bibi,” panggilnya.


“Ada apa, Nona?”


“Apa Bibi, tidak lelah?”


Meli menghentikan kegiatannya, dia menatap Ethelyne bingung.


“Maksudku, apa Bibi … tidak lelah hidup selama ini?”


Meli yang semula bingung tersenyum tipis. “Tidak, karena berkat saya menjadi iblis. Saya jadi bisa melihat pertumbuhan Anda dan Yang Mulia, meskipun pada akhirnya nanti saya akan menyesal. Setidaknya, saya bisa menikmati kehidupan meskipun akan terkurung di dunia tanpa cahaya matahari ini selama sisa hidup saya.”


Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Aku sangat menyayangi bibi, semoga saja. Bibi bisa bahagia di sini, maaf karena aku tidak bisa banyak membantu. Padahal jika bukan karena aku, bibi pasti bisa menjalani kehidupan seperti manusia biasanya. Maaf.”


“Ini bukan kesalahan Anda sama sekali, Nona. Lagipula, saya justru bersyukur. Setidaknya, saya bisa melihat pertumbuhan Anda dan Yang Mulia dengan mata saya sendiri. Itu sudah lebih dari cukup, lagipula. Saya juga akan mati karena kutukan iblis.”


Ethelyne menghela napas sambil bersandar dengan raut wajah tak terbaca. “Bibi, apa Bibi--”


“Kalian mengobrol dengan senang ya sampai melupakanku.”


Ethelyne dan Meli menoleh ke asal suara, Meli segera membungkuk hormat saat melihat Kathelyne berjalan ke arah keduanya.


“Oh, Kathel. Kau sudah tidak marah lagi?” tanya Ethelyne sengaja memanas-manasi.


Kathelyne hanya menatapnya datar. “Kau pergilah, aku ingin bicara dengannya.”


Meli kembali membungkuk hormat dan berjalan pergi, setelah memastikan Meli benar-benar pergi.


Kathelyne menatap Ethelyne yang juga menatapnya dengan raut polos. “Sepertinya kau senang sekali ya mengusiliku,” katanya sambil bersedekap dada.


“Aku tidak pernah mengusilimu loh, aku kan hanya berbicara sesuai fakta.”


“Fakta matamu!” kesal Kathelyne, Ethelyne hanya cekikikan mendengarnya. Kathelyne duduk di sampingnya dan ikut bersandar. “Bagaimana?”


“Hem? Bagaimana apanya?” tanya Ethelyne dengan raut polos andalannya.


Kathelyne menatapnya datar. “Soal pembangkitan ibu.”


“Ah, yang itu ya.” Ethelyne bersedekap dada sambil menutup matanya. “Hem …”


“Cepat katakan!”


“Sebenarnya …” Ethelyne membuka matanya dan menatap Kathelyne serius. “Ibu, sudah bereinkarnasi.”


“Apa?”


“Iya, karena keberhasilan pembangkitan hanya 30%. Belum jelas sih apa ibu sudah hidup kembali dengan wadah baru, tapi aku dapat memastikan. Lady pertama Virgian sudah bereinkarnasi dan hidup sebagai manusia biasa.”


“Oh,” jawab Kathelyne tak tertarik.


“Ihh! Padahal kan aku sudah mengatakannya dengan sangat serius, tapi tanggapanmu malah begini!”

__ADS_1



__ADS_2