
“Ned!! Kau ada di mana?!” teriak Willa di sekitar istana, namun tak menemukan siapapun. Dia sudah mencari kemana-mana, bahkan ke istana pangeran yang lain namun tetap tak menemukan keberadaan tangan kanan Eadric itu. Apalagi, suasana istana matahari yang entah kenapa menjadi sepi cukup mencurigakan. Bahkan di seisi istana dia tidak menemukan satupun pelayan ataupun penjaga yang berjaga. ‘Aneh, kenapa aku tiba-tiba merasa firasat buruk? Lagipula, tidak mungkin istana tiba-tiba sepi tanpa alasan. Cukup mencurigakan.’
Disisi lain, tepatnya di istana matahari. Ethelyne menembus dinding yang digunakannya untuk bersembunyi saat kedatangan Willa tadi.
‘Hah, dasar gadis itu. Jika saja aku tidak bersembunyi, pasti aku sudah ketahuan. Bagaimana dia bisa tiba-tiba datang menemui Eadric? Apa dia ingin menyampaikan sesuatu?’ Ethelyne melirik Eadric yang sedari tadi tengah tertidur, dia menghela napas. ‘Syukurlah aku menggunakan bubuk tidur untuk membuatnya tak sadarkan diri, setidaknya. Untuk sementara waktu, aku bisa membuatnya melupakanku seperti Arlene.’ Ethelyne melirik tangannya yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah, bagian darahnya tampak menetes ke lantai sedikit demi sedikit. “Ah, aku lupa kalau sekarang ini aku bukan iblis.” Dia tersenyum seolah tak merasakan rasa sakit. “Sepertinya aku terlalu berlebihan mengiris tanganku, sudahlah. Lebih baik selesaikan semuanya dengan cepat dan kembali pulang.” Ethelyne memejamkan matanya dengan kedua tangan di atas dada memohon. ‘Dewi …’
~♥~
“Bukankah kau seharusnya pulang sebelum malam.”
“Cih, pekerjaanku itu sangat banyak tau! Lagipula, kenapa kau masih bekerja di tengah malam seperti ini sih! Memangnya kau tidak lelah? Otakmu itu masih bisa bertahan? Bagaimana jika matamu keluar darah karena terlalu fokus pada dokumen?” tanya Ethelyne bertubi-tubi.
“Diamlah, aku sedang sibuk. Lagipula, iblis tidak pernah merasa lelah. Lebih baik … ada apa dengan tanganmu?” Kathelyne yang hendak menceramahi Ethelyne langsung terdiam saat tatapannya jatuh pada tangan gadis itu yang di perban sangat tebal.
“Ah, aku melakukan sebuah ritual yang membutuhkan darah. Jadi aku menggores tanganku dan mengambil darahnya, tapi sepertinya luka goresannya cukup parah. Aku sampai tidak bisa menyembuhkannya secara sempurna dengan sihirku, menyebalkan sekali,” omel Ethelyne. “Tanganku juga jadi kaku karena perbannya sangat tebal,” gumamnya.
Kathelyne menghela napas sambil memijat pelipisnya. “Jika tidak bisa sembuh dengan sihir, pergi ke dunia manusia dan minta tabib untuk mengobati lukamu. Atau pergi ke dunia atas agar Roh Cahaya itu menyembuhkannya.”
“Ck, jika seperti itu tidak akan asik.”
“Asik?” Kathelyne menatap Ethelyne dengan kening berkerut, memangnya apa yang seru dari melukai diri sendiri.
“Iya, lagipula. Kapan lagi aku bisa merasakan rasa sakit, setelah hari di mana Luna terbebas. Aku akan bersembunyi dalam kegelapan dan hanya muncul ketika dunia dalam bahaya, lagipula. Sejak awal seharusnya memang begitu.” Ethelyne berbaring dan menjadikan lengannya sebagai bantal, dia melirik Kathelyne yang kembali sibuk dengan dokumennya. “Omong-omong, kau terlihat cukup tenang ya. Akhir-akhir ini.”
__ADS_1
“Hm.”
“Kau jadi lebih pendiam, eh. Tidak deh, dari awal kan kau memang pendiam. Seharusnya aneh jika kau jadi banyak bicara, sayang sekali. Padahal aku ingin sekali mendapat teman bicara, tapi mau bagaimana lagi. Apa kuajak Meli atau Loreen saja ya? Tapi mereka kan sibuk, dan juga. Seluruh iblis di dunia bawah ini takut pada kekuatanku dan tidak pernah berani menentangku saat tau aku 'kerabat jauh' dari ratu kegelapan, meskipun aneh juga sih jika orang-orang mendengar ratu kegelapan ternyata memiliki kerabat jauh seorang gadis suci. Tapi tidak masalah sih, lagipula kan. Aku hanya ingin Kathel di sampingku saja, aku juga tidak terlalu peduli pada yang lain.”
Kathelyne yang sudah muak dengan ocehan Ethelyne hanya bisa menutup kedua telinganya hingga suara gadis itu sedikit meredam dan tidak seberisik seperti awalnya.
Saat suara Ethelyne tidak terdengar, barulah Kathelyne menurunkan tangannya. Dia menoleh ke arah Ethelyne yang telah tertidur nyenyak sambil mengigau. ‘Ah, dasar bocah itu.’ Kathelyne memijat pelipisnya, dia kembali membuka berkasnya dan membacanya dalam diam.
Keesokan paginya, para pelayan dihebohkan dengan hilangnya Ethelyne. Mereka telah mencari di seluruh istana namun tak juga menemukan keberadaan gadis itu.
“M-maafkan kami, Yang Mulia. Tapi kami tidak tau kemana Lady Ethelyne pergi, hawa keberadaannya pun terasa sangat lemah dari--”
Belum selesai ucapan penyihir itu, kepalanya sudah lebih dulu lepas dan menggelinding ke lantai. Para pelayan dan pengawal yang melihat hal itu langsung bergidik, apalagi ketika tubuh penyihir tua itu mulai menguap dan menjadi abu.
“Maaf karena kelancangan saya, Yang Mulia. Tapi saya menemukan surat yang ditinggalkan lady Ethelyne di kolong meja.” Pelayan itu membungkuk sambil menyerahkan secarik kertas di tangannya.
Kathelyne mengambil kertas itu dan membukanya, dia membaca isi surat dengan seksama. Tidak berselang lama, suara helaan napas terdengar dari mulut gadis itu. “Tarik semua prajurit yang sedang mencarinya,” katanya sambil memijat pelipis.
“Baik, Yang Mulia.” Harvey membungkuk hormat dan segera menghilang.
‘Dasar gadis bodoh itu! Untuk apa dia ke tempat berbahaya untuk manusia seorang diri?? Apa dia cari mati! Meskipun seorang gadis suci, seharusnya dia tetap memikirkan keselamatannya sendiri. Dasar, dia selalu saja bertingkah seenaknya.’ Kathelyne berdiri dari kursi kerjanya. “Beritahu Leyton, Gareth, Verlin, dan para kesatria lain untuk ke ruanganku segera.”
“Saya mengerti, Yang Mulia.” Loreen membungkuk hormat dan berjalan keluar dengan anggunnya, kini tersisa seorang pelayan, Meli, dan Kathelyne di dalam ruangan.
__ADS_1
“Kau pergilah,” kata Kathelyne sambil menunjuk pelayan yang membawa surat tadi.
Pelayan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun membungkuk hormat dan berjalan keluar, kini tersisa di Kathelyne dan Meli yang ada di dalam ruangan.
“Bibi, saya harap. Bibi mau menjaga bocah itu sampai dia bisa bersikap dewasa.”
“Saya akan mematuhi perintah Anda, Yang Mulia.”
“Dan karena saya tidak bisa pergi dari istana, tolong Bibi gantikan saya untuk membawa bocah itu kembali pulang. Saat ini, dia sedang ada di hutan gelap. Bibi boleh menjewer telinganya dan mengomelinya sampai Bibi puas.”
Meli terkekeh kecil mendengar penuturan Kathelyne yang terdengar kesal. “Anggap saja perintah sudah dilaksanakan.”
“Kalau begitu, Bibi bisa pergi.”
Meli membungkuk hormat dan berjalan keluar, kini tersisa Kathelyne dan dokumen-dokumen yang menumpuk di meja dan di belakangnya.
Tidak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu.
Kathelyne yang sedang membaca dokumen mendongak dan menatap ketiga pria dan lima Kesatrianya.
“Kami datang sesuai perintah Anda, Yang Mulia.” Mereka berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan layaknya kesatria sejati.
“Hm, aku ada tugas penting untuk kalian.”
__ADS_1