
Hari-hari berlalu dengan tenang, namun tidak bagi sesosok manusia yang sejak seminggu yang lalu selalu saja mondar-mandir di kekaisaran dengan jubah layaknya orang mencurigakan.
Selama seminggu juga, Kathelyne meninggalkan istananya hanya demi menguntit Ethelyne yang terus keluar setiap pagi di jam dan kembali sore harinya.
‘Sebenarnya apa yang gadis itu lakukan di toko buku?’ batin Kathelyne saat melihat Ethelyne melangkah masuk ke sebuah toko buku terbesar di kekaisaran, dia sempat ingin ikut masuk. Namun niatnya diurungkan saat ingat bahwa Ethelyne bisa membaca pikirannya, jadi. Meskipun sangat penasaran dengan yang dilakukan Jiwa sucinya itu, Kathelyne tetap menahan diri dan hanya melihat dari jauh.
Tidak berselang lama, Ethelyne keluar dari toko dengan lima buku tebal di tangannya.
‘Dia mengambil buku apa?’ Kathelyne kembali mengikuti Ethelyne yang berjalan menelusuri lorong-lorong kecil yang ada di tengah kota.
‘Bagus, buku-buku yang kumau sudah terkumpul semua.’ Dengan senyum bahagia, Ethelyne berjalan-japan di sekitar kota. ‘Sayangnya, aku belum menemukan informasi apapun. Sungguh menyebalkan sekali.’ Dia berjalan memasuki restoran dan duduk di dekat jendela. ‘Omong-omong, sepertinya kaisarnya berganti jadi wanita ya? Kalau tadi tidak salah dengar, namanya Anastasia atau siapa ya?’
“Selamat datang, Anda ingin memesan apa?” tanya pelayan dengan ramah.
“Eum … apa makanan yang direkomendasikan restoran ini?”
“Jika Anda berkenan, saya merekomendasikan Omurice.”
“Omu-rice?”
“Ya, nasi putih yang digoreng bersama saus tomat dan dibungkus oleh telur goreng omelet. Selain itu, biasanya di atas omurice disiram saut tomat.”
‘Ternyata begitu.’ Ethelyne menganggukkan kepalanya mengerti. “Kalau begitu, aku pesan omurice dan secangkir es teh.”
“Mohon tunggu sebentar.” Pelayan itu membungkuk hormat dan berjalan pergi.
Ethelyne menghela napas panjang, dia bersandar sambil menatap ke luar jendela. Tatapannya tidak sengaja menangkap orang 'misterius' yang tampak menguntit seseorang. ‘Entah kenapa … aku terikat Kathel saat melihat dia, tapi tidak mungkin kan Kathel ke dunia manusia. Lagipula, dia tidak ada urusan apapun. Tidak mungkin juga--’
__ADS_1
‘***Kenapa dia belum keluar juga sih***!’
Ethelyne langsung terdiam, dia cekikikan. ‘Ternyata benar-benar dia, apa dia benar-benar menguntitku? Hahaha, lucu sekali.’ Ethelyne menyeringai saat sebuah ide usil lewat di pikirannya. ‘Xixixi, habislah kau nanti.’
Tidak berselang lama, pesannya diantar. Pelayan itu kembali membungkuk sebelum berjalan hormat, dia sempat memberi kode dengan gerakan tangan.
Awalnya, Ethelyne memasang raut bingung. Namun saat mengerti kode dari sang pelayan, dia tersenyum tipis. “Terima kasih.” Ethelyne menyantap omuricenya dengan senang hati, dia sesekali memperhatikan Kathelyne yang sedari tadi berdiri sambil mengawasi sekitar tak jauh dari dirinya. ‘Ada-ada saja.’
Tidak sampai sepuluh menit, Ethelyne menyudahi makannya. Dia meletakkan lima koin emas di samping piring dan melirik sekitaran, saat melihat para semua orang yang sedang sibuk. Ethelyne dengan cepat mengambil surat yang tersembunyi di bawah piring dan mengantonginya, dia kemudian berjalan keluar seolah tidak terjadi apa-apa.
Di luar restoran, Ethelyne mengambil surat itu dan membukanya. ‘Ah, kupikir dari informanku. Tapi … karena dia sudah mengundangku, aku akan hadir dan memenuhi harapannya sekaligus mengetes apa dia benar-benar reinkarnasinya.’ Dia tersenyum dan kembali mengantongi surat itu, Ethelyne berjalan pergi dengan senang hati.
‘***Tadi itu Ethelyne membaca apa? Dari mana dia mendapat surat itu? Apa itu informasi dari informannya? Dia mau kemana lagi***?’
Dengan sengaja, Ethelyne berbelok ke lorong. Kathelyne yang melihat itu berlari kecil ke arah lorong itu, namun sesampainya di sana. Dia tidak menemukan apapun kecuali jalan buntu. ‘Sial, dia hilang kemana?!’
“Apa kau sudah puas mengikutiku sejak tadi, Kathel.”
Kathelyne seketika merinding, dia menarik jubah agar menutupi wajahnya dan berbalik. “Apa maksud Anda, Nona?” tanyanya dengan suara yang disamarkan menjadi pria.
“Ck, ck, ck.” Ethelyne geleng-geleng kepala. “Kau masih terlalu dini untuk membohongi ahlinya, Kathel. Mungkin kau sempat mengubah suaramu, tapi tinggi badanmu tidak bisa berubah dengan cepat. Kau harus lebih banyak berlatih.”
Kathelyne berdecak sambil membuang muka, percuma saja penyamarannya jika sejak awal sudah ketahuan.
__ADS_1
“Jadi, untuk apa kau memgikutiku?” tanya Ethelyne sambil berkacak pinggang.
“Tidak, kau salah paham. Aku tidak mengikutimu, aku sedang berjalan-jalan di dunia manusia hingga melihat orang mencurigakan. Itu sebabnya aku mengikutinya.”
“Oh, begitu ya. Kebetulan sekali ya, dunia yang sebesar ini. Bagaimana kita bisa bertemu dengan mudahnya ya? Padahal kalau dipikir-pikir, bukan hanya aku saja deh yang menggunakan jubah.” Ethelyne tersenyum manis namun terlihat mengancam bagi Kathelyne. “Sungguh kebetulan yang menarik ya,” katanya dengan sengaja menekan kata-katanya.
“Y-ya, begitulah. Aku sendiri tidak menyangka kalau kau akan pergi ke dunia manusia, a-aku harus kembali karena memiliki banyak pekerjaan di istana. Cepatlah kembali atau Meli akan marah.” Kathelyne langsung menghilang tanpa jejak.
“Ok, lain kali mungkin kita bisa bertemu lagi,” kata Ethelyne sambil melambaikan tangannya dengan senyum manis yang selalu merekah di wajahnya, saat Kathelyne benar-benar menghilang. Barulah Ethelyne meredakan senyumnya sambil geleng-geleng kepala. “Aktingnya sangat buruk sampai membuatku ingin tertawa.”
“Hoh, sungguh hari yang beruntung. Siapa yang sangka kita akan menemukan gadis cantik yang tengah sendirian di lorong sepi.”
Raut wajah Ethelyne berubah datar, dia melirik ke belakang. Tepatnya ke arah ketiga pria yang tampak menghalangi jalan keluar, dia berbalik dan menatap ketiganya datar.
“Hahaha, lihatlah tatapannya. Gadis yang sangat galak, tapi. Justru aku menyukai gadis yang tidak bisa diluluhkan dengan mudah.”
“Kau benar, gadis yang sangat cantik. Jika kita menjualnya ke bangsawan tinggi, kita pasti akan mendapat uang yang banyak.”
“Tapi sebelum itu, bagaimana jika kita cicipi gadis itu 'sedikit?' dia terlihat sangat menggo--” Sebelum salah satu pria berpakaian kusut itu menyelesaikan kalimatnya, kepalanya sudah lebih dulu jatuh ke tanah. Darah langsung menyembur keluar dan tubuhnya jatuh ke tanah bersimbah darah.
Kedua temannya langsung terkejut melihat kejadian di depan mereka, keduanya mengalihkan pandangan mereka ke arah Ethelyne yang tampak menatap mereka jijik.
“Dasar serangga rendahan! Kalian bahkan tidak akan bisa menyentuhku sesentil pun!”
“G-gadis sialan!! Habisi dia!!” teriak salah satu dari mereka sambil menunjuk ke arah Ethelyne, meskipun ketakutan. Keduanya tetap berlari maju sambil mengeluarkan belati dari balik pakaiannya.
__ADS_1
Namun, baru tiga langkah. Kepala keduanya sudah sama dengan satu temannya, mayat tanpa kepala keduanya jatuh bersimbah darah seperti yang pertama.