Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
128. Dunia Pararel(2)


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu...


‘Mereka itu kenapa tidak ada kemajuan sama sekali sih! Padahal kan itu ular mainan orang lain,’ batin Kiara menggerutu.


“Ular mainan? Tapi di sini...”


‘Apa bocah satu ini melupakan temannya??’ Kiara menopang dagunya, dia melirik bunga yang masih tersisa setengah. ‘Hah... mau aku apakan sisa bunga ini? Kalau disia-siakan. Huh, itu sangat disayangkan.’


Tiba-tiba saja, Taylor hendak mendongak.


Kiara yang melihat hal itu segera berdiri namun tak sengaja kakinya terpeleset dan jatuh dari pohon. ‘Aww...’


“Siapa itu?!”


Kiara menoleh ke asal suara dengan panik. ‘Gawat, gawat! Jika dia melihatku bagaimana? Jika dia berpikir ini ulah Ran... tidak, ini kan memang ulah Ran!’


“Ada apa? Bagaimana jika itu musuh yang bersembunyi untuk mengamati kita.”


“M-mungkin itu hanya buah mangga, lagipula. Kita berada di bawah pohon mangga.”


Kiara mendengar penjelasan Ran terbata-bata sambil berdiri dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara apapun.


“Bagaimana kalau kita pergi saja? Aku masih sedikit trauma karena ular mainan kemarin.”


“Apa kau yakin? Bisa saja--”


“Itu hanya buah mangga! Ayo pergi!”


Tidak berselang lama, terdengar suara langkah kaki yang menjauh.


Setelah memastikan keadaan aman, Kiara langsung bersandar di pohon dan menghela napas lega. ‘Huh... hampir saja, untung saja Ran cukup peka dan segera membawa Taylor pergi...’ Dia tersenyum. ‘Tapi yang tidak kusangka, ternyata orang yang disukai Ran diam-diam itu Taylor.’ Kiara cekikikan. ‘Aku tau kelemahanmu sekarang, Ran. Habis kau!’ Dia berdiri tegak dan berjalan pergi.


Namun, baru saja melangkah. Kiara langsung merasakan sakit di pergelangan kakinya. Dia menunduk dan menyadari kakinya yang memerah dan sedikit bengkak. Kiara mengusap wajahnya kasar. ‘Pasti aku yang akan mati duluan.’


~♥~


“Kiara! Sudah berapa kali ibu peringatkan! Kau tidak boleh memanjat, kenapa kau keras kepala sekali?!”

__ADS_1


“Ibu, aku tidak--”


“Cukup Kiara! Ibu sudah muak dengan alasanmu itu! Kau selalu bilang kalau kau menyayangi Ibu tapi kau tidak pernah mau mendengarkan kata-kata ibu!” Earlene menatap Kiara penuh amarah, dia menghela napas dan memegang bahu Kiara dengan wajah yang sedikit melunak. “Kiara, ibu tidak bermaksud untuk membatasi pergerakanmu,” jelas Earlene dengan lembut. “Ibu tidak hanya ingin melihatmu terluka seperti ini, apalagi. Dalam seminggu ini tunanganmu akan berkunjung dan jika dia melihatmu seperti ini...”


“Ibu, sudah aku katakan aku tidak ingin bertunangan dengannya. Dia itu... terlihat sangat kejam meski tengah tersenyum,” gumam Kiara di akhir kalimatnya sambil memalingkan wajah, tangannya diam-diam terkepal dengan kuat. ‘Dia menyeramkan! Meski selalu tersenyum, tapi dia tetap terlihat kejam. Aku bahkan... sering membayangkan melihatnya penuh dengan darah... siapa orang itu sebenarnya?? Dia membuatku gemetar hanya dengan auranya yang... terasa sangat gelap.’


“Kiara, kau tidak boleh berkata begitu sayang.” Earlene mengusap pipi Kiara dengan lembut, dia menatap sang putri dengan penuh kasih sayang. “Ayah Ryu adalah teman lama Ayahmu dan mereka berdua membuat janji untuk menikahkan kalian berdua, terlebih lagi. Janji itu juga atas permintaan para tetua, jadi kau tidak bisa asal membatalkannya saja. Kau tidak mau melihat keluarga kita hancur kan?”


Kiara menatap Earlene dengan mulut terbuka, namun. Dia tak mengeluarkan suara apapun, Kiara membuang muka. “Aku... mengerti, Ibu.”


“Anak baikku.” Earlene tersenyum sangat manis. “Kau tidak perlu khawatir karena Ryu pasti akan membahagiakanmu.”


‘Bukan itu masalah Bu! Kenapa ibu tidak mau mengerti kalau aku di posisi yang benar-benar berbahaya!!’


Seminggu berlalu dengan cepat, selama seminggu terakhir. Ran sama sekali tidak muncul dan membuat teman bicara Kiara hilang, oleh karena itu. Kiara hanya bisa memendam semuanya di hati.


Kini, di dalam kamarnya. Dia didandani dengan sangat cantik dan terlihat sempurna, namun. Suasana di kamarnya terasa sangat suram.


“Wah, Anda cantik sekali. Nona, saya yakin. Tuan Muda Ryu pasti tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Anda,” puji salah seorang pelayan.


“I-iya, terima kasih...” cicit Kiara, di matanya. Dari pantulan cermin, bayangan para pelayan menatapnya dengan aneh. Mereka tersenyum sangat menyeramkan, pujian yang dilontarkan pelayan itu seolah bukanlah pujian, melainkan sebuah peringatan. ‘Ya Dewa, tolong bantu aku. Aku mohon... biarkan aku pulang meski hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.’ Dia menutup matanya sembari berdoa dalam hati.


“Nona Kiara, Tuan Muda sudah hampir sampai.”


Kiara berdiri dari duduknya. “Siapkan penyambutan dengan sebaik mungkin, aku akan segera kesana.”


“Saya mengerti,” kata kepala pelayan dari balik pintu. ‘Nona Kiara, semakin aneh.’


~♥~


“Wah, lihat. Itu Tuan Muda Ryu.”


“Wah, beliau benar-benar sangat tampan~”


“Bukan sangat tampan, tapi beliau seperti jelmaan dari Dewa.”


Pupil mata Kiara tampak mengecil. ‘Benar, kenapa aku melupakannya. Dia sebenarnya, Ryu yang sebenarnya ada--’

__ADS_1


“Hay Kiara, sudah lama tidak bertemu.” Pria tampan dengan setelan kesatria turun dari kudanya, dia kemudian berjalan ke arah Kiara dengan senyum manis. “Kau terlihat sehat-sehat saja.”


“Oh, hay Ryu. Memang sudah lama kita tidak bertemu.” Kiara memaksakan senyumannya, dia memegang lengannya sendiri dengan kepala yang sedikit menunduk dan mata yang tak henti melirik ke sembarang arah.


“Hm? Ada apa? Apa kau sedang sakit? Tidak biasanya kau tidak mau menatapku.”


Kiara tenggelam dalam lamunannya hingga tak mendengar pertanyaan Ryu, hingga namanya dipanggil beberapa kali. Barulah dia sadar dari lamunannya. “Ya?”


“Wajahmu terlihat sangat pucat, jika kau sakit. Kau tidak seharusnya menyambutku,” kata Ryu cemas, raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


Namun, di mata Kiara. Ryu terlihat sedang tersenyum aneh. Seharusnya kau mati saja dan biarkan aku dibangkitkan kembali!


“Kiara? Kau melamun lagi.”


“Uhh, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit tidak enak badan.” Kiara mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aku akan baik-baik saja setelah istirahat, bagaimana keadaan Turner? Tumben sekali dia tidak ikut.”


“Oh, soal dia ya.” Raut wajah Ryu tiba-tiba berubah dingin. “Dia itu... sedang berlatih bersama paman,” katanya dengan senyum manis.


“Ah... latihan ya, aku pikir dia tidak datang karena membenciku.”


“Hm? Memangnya--”


“Oh, nak Ryu sudah datang ya.”


Kiara dan Ryu menoleh ke asal suara, Earlene berjalan cepat ke arah keduanya.


“Bibi Earlene,” panggil Ryu antusias. “Bagaimana kabar Bibi? Apa bibi sehat-sehat saja? Bibi terlihat lebih cantik,” jelasnya bertubi-tubi saat Earlene berdiri di hadapannya.


Earlene tertawa kecil dengan anggun. “Kau terlalu memujiku Ryu.” Dia menoleh ke arah Kiara. “Kiara, bukankah kau harus mengantar tamu ke kamar untuk istirahat.”


“Apa? Aku? Tapi aku--”


“Ok baguslah.” Earlene menoleh ke arah Ryu dengan senyum manis. “Kiara akan mengantarmu ke kamar tamu.”


“Tidak perlu repot-repot Bi, Kiara sedang tidak enak badan. Lagipula aku sudah tau jalan di kediaman ini, aku bisa pergi sendiri.”


“Tidak boleh begitu! Kau tamu di sini, Kiara. Segera antarkan Ryu ke kamar tamu!”

__ADS_1


~♥~~♥~


__ADS_2