
“Berhenti di sana!!”
Ethelyne yang mendengar suara itu langsung terdiam, matanya tampak bergetar. “Kak Xander,” gumamnya nyaris tanpa suara.
William turun dari kereta kuda dan memberi hormat. “Apa ada masalah, Pangeran?”
“Siapa yang ada di kereta kuda?” tanya Xander dingin, Gavin yang duduk di kuda sampingnya menatap sang kakak kebingungan.
“Ada apa, kak? Kenapa kakak tiba-tiba--”
“Apa kalian pikir kalian bisa membawa Lyne pergi!”
Jantung Ethelyne berhenti berdetak sedetik. ‘Dia tau! Gawat! Apa yang harus kulakukan?? Apa aku akan dibawa kembali? Apa aku tidak akan bisa kembali?’ Genggaman tangan seseorang membuatnya tersadar, Ethelyne menatap lurus ke depan. Tepatnya ke arah Eadric yang menutup matanya sambil menggenggam tangan.
Dia terdiam sejenak, senyum tipis terbit di wajahnya. ‘Terima kasih.’
“Saya tidak mengerti maksud Anda sama sekali, pangeran. Yang ada di kereta kuda adalah Yang Mulia pangeran ketiga dan ajudan Tio, selain itu. Ada budak yang baru saja dibeli oleh Yang Mulia.”
Aura di sekitar berubah mengintimidasi, Xander turun dari kereta kudanya dan berjalan ke arah William. Tanpa aba-aba, dia memukul rahang pria itu dengan kerasnya.
“Beraninya kau memanggil adikku budak!!”
“Kak, sebenarnya kau--”
“Diam! Bawa Lyne kembali ke istana.”
“Tapi--”
“Tidak mau!!”
Ketiganya menoleh ke asal suara, bahkan Murry dan Eadric tidak sadar Ethelyne turun dari kereta kuda.
“Lyne! Apa kau ingin membuat ibu dan ayah khawatir??”
“Kalian itu pembohong!!” teriak Ethelyne dengan tangan terkepal.
“Lyne, apa … yang kau katakan?” tanya Xander tak percaya.
“Kalian hanya ingin menahanku di sini kan!” Tanpa sadar, air mata mengalir dari pelupuk mata gadis itu.
Hati Xander dan Gavin seolah diiris pisau saat melihat sang adik Kesayangan menangis di depan mereka.
“Lyne, apa maksud--”
“Ternyata begitu, kau sudah ingat ya.”
Gavin menoleh ke arah Xander dengan raut bingung. “Apa maksudmu, Kak? Apanya yang ingat?”
Xander menunduk dalam diam. “Ah, aku tidak menyangka kau akan bangun.” Dia menatap Ethelyne dengan senyum tipis. “Ternyata kau lebih hebat dari yang kukira.”
“Apa, apa maksudmu?” Ethelyne melangkah mundur dengan raut wajah ketakutan, dia seolah merasa aneh dengan senyum tipis di wajah Xander. “Apa jangan-jangan, kakak. Kakak yang membuat ini terjadi?”
“Bukan hanya aku, ibu dan ayah ikut andil dalam masalah ini. Mereka sejak awal sudah tau bahwa kau itu … bukanlah Lyne kami.”
“Apa??” Ethelyne dan Gavin sama-sama tercengang.
__ADS_1
“Jadi, maksud Kakak. Lyne yang bersama kita, bukanlah Lyne kita yang sebenarnya??”
“Ya, Lyne sudah mati saat dua tahun yang lalu karena benturan keras di kepalanya. Tapi ibu dan ayah tidak mau menerima kebenaran itu, jadi keduanya melakukan ritual terlarang. Ayah dan ibu ingin membangkitkan jiwa Lyne kembali dengan mengorbankan jiwa mereka ke bangsa iblis, tapi justru jiwa gadis asing yang terseret. Sebenarnya ibu dan ayah tidak mau menerimanya, tapi karena hilangnya ingatan gadis itu. Ibu dan ayah berencana untuk mengubahnya menjadi Lyne seutuhnya dan mengubur kebenaran selamanya, hah. Tapi sepertinya mereka tidak pernah menyangka kalau akan ada hari di mana gadis itu akan mendapatkan ingatannya kembali.”
“Jadi, selama ini … Lyne yang kuanggap sebagai adikku adalah orang asing??” gumam Gavin tak percaya, dia menatap Ethelyne yang juga tampak terkejut.
“Jadi … selama ini, ayah dan ibu tau kalau aku bukan Lyne. Kalian egois!!” teriak Ethelyne penuh amarah. “Apa kalian tidak berpikir, bagaimana dengan keluargaku di duniaku?! Kalian hanya melakukan hal yang kalian mau tanpa memikirkan orang lain, kenapa kalian sangat jahat! Kalian menjijikkan! Aku benar-benar membenci kalian, sangat benci!!” Kuku-kuku di tangan Ethelyne menancap karena kepalan tangannya yang begitu kuat, darah menetes ke tanah.
Seketika muncul cahaya putih yang mirip tornado mengelilingi Ethelyne, anginnya seolah menghisap semua energi sihir di sekeliling.
“Cepat! Cepat!! Energi sihir Lady kembali tidak terkontrol!!” Mika berserta para roh lain berjejeran di depan berier dengan kedua tangan terulur ke depan, mereka menutup mata dan mengucapkan mantra.
Energi sihir dengan warna yang berbeda-beda keluar dari telapak tangan mereka dan melilit jiwa Ethelyne yang dimasuki energi sihir secara tidak normal.
‘Semoga Anda baik-baik saja, Lady.’
Tiba-tiba, muncul cahaya terang dari diri Ethelyne. Para roh langsung menutup mata mereka karena cahaya yang menusuk mata.
Tidak berselang lama, cahaya itu seolah retak layaknya terus yang menetas. Anehnya, muncul tetesan darah di lantai bersamaan dengan retaknya cahaya yang membentuk telur itu.
Pecahan cangkang cahaya jatuh bersamaan dengan darah yang menetes sedikit demi sedikit, gaun Ethelyne berubah menjadi putih dengan renda berwarna sama yang tampak berkilau. Warna rambutnya yang cokelat perlahan-lahan berubah menjadi perak, matanya perlahan-lahan terbuka dan menampilkan warna biru cerah yang indah.
Rantai yang mengingatnya tiba-tiba hancur layaknya pecahan kaca, perlahan-lahan. Kaki Ethelyne menapak ke tanah yang berisi lingkaran sihir, mata birunya menelisik sekeliling.
“Ah, aku sudah kembali ya,” katanya dengan senyum tipis, dia berjalan ke arah barier. “Kalian baik-baik saja?”
Mika dan para roh lainnya membuka mata saat cahaya benar-benar menghilang, tatapan mereka langsung terarah ke arah Ethelyne yang juga menatap mereka bingung.
“L-lady Ethelyne.” Mata Mika berkaca-kaca menahan tangis, gadis itu mengusap matanya dan tersenyum.
__ADS_1
Ethelyne yang semula bingung tersenyum tipis. “Aku kembali.”
~~~♥~~~
“Apa maksudmu, hah?? Kau pikir, aku tidak bisa melakukan semuanya?!” tanya Ethelyne bengis, dia tanpa perasaan melempar pelayan itu menabrak dinding.
“S-saya tidak bermaksud seperti itu, Yang Mulia.” Pelayan itu terbatuk-batuk, bahkan ada bekas retakan besar di dinding.
“Jadi maksudmu, aku yang salah??” Ethelyne semakin menatap tajam pelayan itu dan membuat sang pelayan menunduk ketakutan.
Meli dan Loreen tidak berani menghentikannya, karena setahun yang lalu. Saat mereka sedang 'menasehati' Ethelyne, gadis itu tanpa sebab melukai mereka dan menganggap kalau dia tidak pernah salah.
“Cih, dasar pelayan hina.” Ethelyne berdecak, dia berjalan pergi dengan acuh tak acuh.
“Kenapa Yang Mulia berubah seperti ini?”
“Aku tidak tau, Loreen. Yang Mulia memang bersikap aneh sejak setahun yang lalu, apalagi. Sudah dua tahun sejak terakhir kali Yang Mulia menemui manusia, saya khawatir Yang Mulia akan melampiaskan amarahnya ke manusia yang tak bersalah.”
“Apa yang harus kita lakukan, Meli? Jika kita menghentikan Yang Mulia, bisa saja kita yang akan berakhir tragis.”
“Aku juga tidak tau.” Meli menatap ke arah punggung Ethelyne yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya, dia menghela napas. ‘Apa yang harus kulakukan, Kak?’
~~~♥~~~
“Et-hel,” kata Aelene terbata-bata, dia kesusahan bernapas. Apalagi saat aura gelap yang mencekiknya semakin menguat.
“Sialan! Lepaskan Aeli!!” Zachary menggedor-gedor barier hitam yang mengurungnya bersama Ned dan Zion, ketiganya tidak berdaya sama sekali. Mereka hanya bisa melihat Aelene yang terus memberontak.
__ADS_1
“Untuk apa?” Ethelyne menyeringai. “Seharusnya, aku melakukan ini sejak awal. Aku memang bodoh karena percaya pada naga sialan itu, tapi. Sekarang aku bisa menjadikan kalian pelampiasan atas kesedihanku, kira-kira. Bagaimana ya jadinya jika tunanganmu itu melihatmu mati tercabik-cabik tepat di hadapannya langsung? Itu pasti akan sangat menyenangkan!”