Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
69. Pembangkitan


__ADS_3

“Saya mengerti.” Nina mundur selangkah, dia menatap Ethelyne dengan senyuman. “Jika Anda melakukan hal itu, maka saya akan pergi. Tapi.” Senyum di wajahnya menghilang. “Saya tidak akan membiarkan siapapun melukai Tuan Murry, bahkan jika saya harus mengorbankan nyawa manusia sekalipun!” Nina menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan mata tertutup. “Karena sisa kekuatan yang sedikit, saya tidak bisa mempertahankan wujud saya di dunia bawah. Jadi saya mohon permisi, suatu hari nanti. Saya akan kembali dan membawa Anda ke dunia atas.”


Perlahan-lahan, tubuh Nina mulai diselimuti cahaya terang sampai membuat kamar Ethelyne terpenuhi cahaya menyilaukan. Saat cahaya mulai kembali redup dan menghilang, roh waktu telah menghilang bersamaan dengan energi suci yang menghilang.


Ethelyne memijat pelipisnya sambil menghela napas. ‘Melelahkan sekali, menggunakan kekuatan untuk memaksa jiwa iblis keluar selama tiga puluh detik itu ternyata memakan kekuatan suciku dengan sangat banyak.’ Dia tersenyum sambil menyentuh dadanya. “Dasar gadis rakus, apa kau juga akan menghancurkan jiwaku seperti menyerap kekuatan suciku?” gumamannya.


“Yang Mulia, semua yang Anda perintahkan telah dilaksanakan,” kata Loreen sambil mengetuk pintu.


“Perintah?”


“Ya, Anda sebelumnya memerintahkan kami untuk memindahkan semua abu para iblis yang mati di medan perang ke ruang bawah tanah. Kami juga sudah meletakkan satu barang yang memiliki bekas energi sihir mereka.”


‘Apa Nina yang melakukan hal ini?’ batin Ethelyne bertanya-tanya.


“Yang Mulia?”


“Baik, aku akan segera ke sana.” Ethelyne mengambil mantel berwarna merah dan sebuah kalung yang tergantung di kursi dan memakainya, dia berjalan keluar dan menuju ke ruang bawah tanah diikuti Loreen.




“Apa semua persiapannya sudah selesai?” tanya Ethelyne sambil menatap semua abu yang ditata dengan baik, ada satu benda di atas setiap abu.



“Ya, kami tinggal menunggu perintah Anda.” Loreen membungkuk.



“Yang Mulia, apa Anda yakin untuk melakukan hal ini?” tanya Meli ragu-ragu, pasalnya. Terakhir kali gadis itu membangkitkan para iblis karena setengah pikirannya dikendalikan oleh Demon Queen, tanpa kekuatan tersebut. Mungkin saja Ethelyne akan menjadi lebih lemah dari biasanya.



“Iya, aku yang membuat mereka mengikuti perang. Jadi aku sendiri yang harus menghidupkan mereka.” Ethelyne mengangkat kedua tangannya ke depan, sebelah warna matanya perlahan-lahan berubah merah. Namun anehnya, sebelah matanya yang seharusnya berwarna biru justru berubah menjadi emas. ‘Ethel, aku percayakan sisanya padamu.’



“Wahai roh-roh kegelapan, datanglah atas panggilanku. Hancurkan perisai, selamatkan jiwa.” Ethelyne menatap ke bola sihir yang melayang di hadapan kedua tangannya.


__ADS_1


“Ini … kenapa tampak berbeda dari yang dulu?” gumam Loreen dan Meli bersamaan.



“Kembalilah.” Bola sihir yang melayang itu tampak terisi oleh sebuah cahaya. Kalung yang dikenakan di balik mantelnya tampak bercahaya, kalung itu putus dan masuk ke dalam bola sihir. “Kematian tidak akan bisa dihentikan, tapi jiwa yang memiliki kehidupan abadi bisa dibangkitkan kembali. Wahai para roh kegelapan, patuhilah perintah Demon Queen. Muncullah, keluarlah. Selamatkan, dan hidupnya semua iblis kembali.”



Setelah menyelesaikan mantra, satu demi satu bola sihir dengan setengah cahaya keluar dari bola sihir di depan tangannya. Bola-bola sihir itu menyerap abu berserta satu benda dan kemudian mulai membesar membentuk para iblis yang telah mati.



Di dada mereka, muncul sebuah benih yang bercahaya terang dan masuk ke jantung mereka.



Ethelyne menghela napas panjang, warna matanya perlahan-lahan kembali biru. Dia langsung luruh ke lantai dengan napas tersengal-sengal.



“Yang Mulia!”




“Aku baik-baik saja, berbeda dari yang sebelumnya. Kali ini, aku menambahkan energi suci dalam diri mereka. Kali ini, mereka tidak akan hancur karena sinar matahari.”



“Tapi, jika begitu …” Loreen tampak ragu melanjutkan ucapannya.



“Aku tau kekhawatiran kalian.” Ethelyne menunduk dan menatap bros di tangannya. “Karena energi suci yang bertolak belakang dengan energi gelap, mungkin saja mereka akan hancur. Tapi, jika mereka tidak keluar dari dunia bawah dan tidak melanggar aturan. Maka mereka akan bisa hidup.” Dia menatap para iblis yang satu-persatu mulai bangun dan segera bersujud. “Mulai hari ini, kalian akan berada di bawah kendaliku sepenuhnya. Tanpa perintah dariku, kalian tidak akan bisa keluar dari dunia bawah. Tanpa seizinku, kalian tidak boleh saling membunuh!”



“Tapi, Yang Mulia. Bagaimana caranya kami bertahan hidup?” tanya seorang iblis memberanikan diri. “Kami hanya bisa hidup karena nutrisi dari manusia, dan karena melaksanakan perintah Anda. Kami tidak muncul di dunia tengah, tapi karena hal itu. Kami terus membunuh satu sama lain untuk merebut nutrisi mereka, apa yang harus kami lakukan untuk bertahan hidup tanpa membunuh?” Iblis itu tampak bergetar ketakutan, apalagi saat menyadari aura mencekam di sekitar Ethelyne.


__ADS_1


Gadis itu hanya diam, dia menghela napas dengan aura yang mulai berkurang. “Aku mengerti kekhawatiran kalian semua, kalian bukan lagi seperti dulu. Benih iblis yang kutanamkan di tubuh kalian akan bisa menopang hidup kalian hingga seribu tahun, jadi. Meskipun kalian tidak memakan nutrisi sama sekali, kalian akan tetap bisa bertahan hidup … aku akan memberikan setiap iblis benih itu, tapi dengan syarat. Kalian dilarang untuk muncul di dunia manusia lagi, apapun yang akan terjadi di dunia iblis beribu-ribu tahun kemudian. Kalian tetap tidak boleh muncul di hadapan satupun manusia! Jika kalian melanggar perintah.” Ethelyne mengangkat sebelah tangannya, tiba-tiba. Sebuah api gelap muncul di tangannya. “Maka aku akan membakar jiwa kalian semua, kalian tidak akan bisa beregenerasi ataupun bereinkarnasi. Dalam arti kata lain, kalian akan terkurung di neraka selamanya.”



“Kami akan mematuhi setiap perintah Yang Mulia Ratu! Dengan jiwa kami sebagai taruhan, kami bersumpah. Kami tidak akan pernah menganggu dunia manusia lagi apalagi muncul di hadapan manusia, tidak perduli beribu-ribu tahun ataupun seratus tahun sekalipun. Kami semua hanya akan mematuhi perintah dan hanya akan setiap pada Anda,” jawab semua iblis kompak.



Ethelyne tersenyum. “Terima kasih, aku percaya pada kalian.”



~~~♥~~~



“Bagaimana keadaan Ethelyne? Aku sangat khawatir padanya.” Aelene mondar-mandir di dalam kamar, di hadapannya. Ada keempat pria yang kini tengah duduk santai di kasur.



“Aeli, kenapa kau sangat khawatir pada iblis? Dia pasti hanya berakting untuk mendapatkan simpati kita.”



“Diam! Kau tidak tau apa-apa soal dia!” Aelene menunjuk Zachary geram.



“Tapi--”



“Diam atau ku … sobek mulutmu!” ancamnya.



“Sayang …” Zachary memasang wajah memelas. “Apa kau tidak merasa kasihan padaku?”



“Bukankah mereka terdengar menggelikan?” tanya Zion berbisik, Ned yang duduk di samping kirinya mengangguk membenarkan. Sementara Eadric yang duduk di samping kanannya hanya diam tak menjawab.

__ADS_1



“Terlalu menggelikan, aku ingin muntah mendengarnya.”


__ADS_2