Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
23. Kecurigaan


__ADS_3

Ethelyne menggeleng pelan. “Tidak bisa, entah bagaimanapun aku mencoba. Aku tidak bisa melakukan seperti saat membuat Meli menjadi iblis.”


Laurie memegang dagunya. “Apa mungkin karena mereka telah menjadi iblis.”


“Jangan bicarakan hal itu di sini, kau kembalilah di tempatmu. Aku akan membawa Aelene kembali ke kamar.”


“Baik! Hati-hati master.” Kaki Laurie mulai menghilang sedikit demi sedikit, dia melambaikannya tangannya dengan senyum manis.


‘Sekarang, aku hanya perlu membawanya ke kamar. Tapi sepertinya aku tidak bisa menghapus ingatanya, sihir gelap menguras banyak energiku meski pada akhirnya kubatalkan.’ Ethelyne berdesah frustasi. ‘Sepertinya aku harus kembali ke alam iblis untuk mengumpulkan energi dengan cepat.’




“Eugh, di mana aku?” Aelene bangun sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.



“Oh, Kakak Aelene. Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?” tanya Ethelyne sambil membuka tirai jendela.



“Rimuru? Kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah sebelumnya aku berada di istana terbuang?”



Ethelyne memiringkan kepalanya bingung. “Apa maksudmu Kakak Aelene? Sejak sore kau kembali ke kamar dan berkata sangat lelah, jadi Kakak ingin tidur. Mungkinkah Kakak Aelene bermimpi.”



“Hem, bisa saja. Omong-omong, jam berapa sekarang?” Aelene berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.



“Aku tidak tau jam berapa sekarang, tapi sepertinya sudah siang. Matahari sudah berada di puncak.”



“Apa?? Lalu kenapa kau tidak membangunkanku sejak tadi!” Aelene berlari masuk ke kamar mandi, tidak sampai sepuluh menit. Dia keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.



“Kakak Aelene, kakak mau ke mana?”



“Tentu saja bekerja, akan gawat jika pelayan lain menyadari ketidakhadiran kita.”



“Oh soal itu, Tuan Ned tadi pagi menghampiriku. Dia berkata kalau Kakak Aelene boleh istirahat seharian hari ini, mungkin saja Tuan Ned tidak sengaja melihat Kakak Aelene yang bekerja keras kemarin.”



Aelene yang semula panik menyisir rambutnya menoleh ke arah Ethelyne. “Sungguh? Tapi aku tidak ingat pernah berpapasan dengannya.”



“Hahaha, mungkin saja Tuan Ned tidak sengaja melihat Kakak Aelene dari jauh.” Ethelyne mengalihkan pandangannya berusaha tak bertatapan langsung dengan pemilik mata kuning itu. ‘Hah, semoga Aelene tidak tau bahwa aku yang pergi pagi-pagi ke istana Eadric dan mengancam Ned. Jika Aelene sampai tau, aku bisa dalam masalah.’


__ADS_1


“Hem, baiklah. Apa Rimuru juga tidak bekerja?”



“A-aku bekerja kok! Aku kemari hanya untuk melihat apa Kakak Aelene sudah bangun, aku akan pergi untuk melanjutkan pekerjaanku dulu.” Ethelyne dengan cepat keluar dari kamar dan menghela napas lega. ‘Syukurlah, semoga Aelene tidak tau kalau aku hanya bermalas-malasan. Lagipula, aku sangat ceroboh dalam melakukan pekerjaan seperti ini.’ Dia berbalik dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka.



“Rimuru, Yang Mulia ingin bertemu denganmu.”



Ethelyne tersentak kaget, dia menoleh ke belakang sambil mengelus dadanya. “Kau membuatku terkejut setengah mati! Bagaimana jika aku mati karena terkejut?”



“Mati karena terkejut?”



Ethelyne menghela napas panjang, dia berjalan dan melewati Ned. “Di mana Yang Mulia, aku akan menemuinya.”



“Yang Mulia berada di ruang kerjanya, kau pergilah ke sana. Aku memiliki urusan lain.” Ned tiba-tiba saja menghilang.



Ethelyne berdesah pasrah, dia berjalan ke arah ruang kerja Eadric di istana matahari. ‘Kenapa dia tiba-tiba memanggilku sih? Aku kan ingin berjemur di bawah sinar matahari, menyebalkan sekali!’




“A-ada apa ini?”



“Lakukan!” perintah Eadric dengan wajah datarnya.



Dua prajurit langsung menahan kedua tangan Ethelyne.



“Hei, apa-apaan ini! Lepaskan aku!!” Ethelyne berusaha memberontak, namun demi imagenya sebagai gadis pelayan lemah nan polos. Dia hanya mengerahkan 5 persen dari kekuatannya.



Eadric melirik prajurit lain, dia memberikan kode. Prajurit itu mengangguk dan mengarahkan tombak di tangannya ke bahu kanan Ethelyne.



‘Jangan-jangan …’ Mata Ethelyne membulat. “Tunggu-tunggu! Apa yang kau lakukan?? Lepaskan aku! Aku tidak bersalah, jangan menyiksaku!” Dia mengigit bibir dalamnya. ‘Sial, jika dia melukaiku dan sembuh. Maka kecurigaan Eadric akan menjadi kenyataan! Aku harus bagaimana sekarang?’



“Maafkan saya, Nona,” kata Prajurit itu sambil menusuk bahu Ethelyne dengan ujung tombak yang runcing, dia kemudian menarik tombak itu hingga membuat darah Ethelyne terciprat ke beberapa tempat.


__ADS_1


Ethelyne meringis, bibir dalamnya sampai mengeluarkan darah karena dia yang mengigitnya terlalu keras. ‘Sial!’ Dia memejamkan matanya, namun anehnya. Rasa sakit di bahunya masih terasa.



Dua prajurit itu juga melepaskan cekalan mereka, Ethelyne yang kehilangan keseimbangannya langsung jatuh terduduk. Dia membuka matanya sambil memegangi bahunya yang terus mengeluarkan plus mata berkaca-kaca.



“Huaa!! Kalian jahat sekali!!” teriak Ethelyne dengan air mata yang mengalir.



Eadric yang duduk santai di depan kaligrafi mengerutkan keningnya, dia menatap luka di lengan Ethelyne yang tidak kunjung sembuh. ‘Apa dia benar-benar bukan iblis? Lalu kenapa dia bisa menggunakan sihir api gelap yang hanya bisa digunakan oleh iblis? Ini aneh, siapa dia sebenarnya.’



Ethelyne menangis sesegukan. ‘Hah, jantungku hampir saja copot. Tapi kenapa aku tidak bisa beregenerasi? Apa jangan-jangan karena jiwa iblisku masih tersegel?’



‘*Benar, Master. Setelah ribuan buku yang saya baca sejak kemarin, saya kini mendapatkan sesuatu yang berguna*.’



‘Mendapatkan apa?’



‘*Meskipun jiwa Demon ada di tubuh Anda, tapi hal itu tidak dapat memengaruhi kedua jiwa Anda. Dari kata lain, kekuatan dan kehadiran Demon tidak berarti apa-apa kalau jiwa iblis Anda masih tersegel. Mungkin saja karena segelnya retak, itu sebabnya Anda bisa menggunakan sihir Demon. Tapi hanya sebagian saja*.’



‘Ah, begitu ya? Syukurlah, setidaknya. Identitasku tidak sampai terekspos di sini.’ Ethelyne menghela napas lega, dia menghapus air matanya sambil berdiri dan memegang bahunya yang tak henti-hentinya mengeluarkan darah. “Anda sangat jahat, Yang Mulia! Anda benar-benar seorang tiran, saya membenci Anda!” Ethelyne berbalik dan berlari pergi dengan darah yang menetes ke tanah yang dilaluinya.



Eadric memijat pelipisnya pusing. “Kalian boleh pergi.”



Para prajurit berjalan keluar dengan wajah bingung.



“Apa ini maksud dari Yang Mulia memanggil kita?”



“Mungkin saja, jadi dari awal. Kita diminta untuk melukai seorang gadis tanpa sebab.”



Mereka semua menghela napas bersamaan. “Sudahlah, ayo kembali berpatroli.”



~~~♥~~~



‘Siapa sebenarnya Rimuru itu? Dia memiliki kekuatan iblis tapi bukan seorang iblis.’ Eadric menghela napas panjang, dia mengambil kuas dan menulis sesuatu di atas kertas. ‘Sepertinya aku harus menemukan bukti terlebih dahulu, entah itu dia seorang manusia atau iblis. Karena keberadaannya yang begitu unik, dan sepertinya dia bukan iblis penggoda yang dikirim Pangeran Mahkota Kerajaan Iblis. Meskipun wajahnya cantik, tapi itu tidak ada gunanya jika dia menutupinya kan. Sebenarnya, apa yang dia inginkan? Semuanya seolah terjadi begitu saja, tapi tidak mungkin kan kami bertemu di gua tanpa sebab. Lagipula, untuk apa dia masuk ke gua jika benar-benar mencari herbal.’

__ADS_1


__ADS_2