
Gaun berwarna putih yang sedikit mengembang, ditambah beberapa aksesoris sederhana.
Ethelyne berhasil menghebohkan seisi aula dengan kecantikannya yang tiada tara, bahkan. Jika dibandingkan dengannya, Sela hanyalah semut kecil yang bisa diinjak.
“Wah, apa itu Lady Virgian?”
“Beliau secantik Dewi.”
“Woah, cantik sekali. Bahkan jika dibandingkan Nona Sela, Lady Virgian tetaplah yang tercantik.”
Ethelyne melewati setiap bangsawan yang melontarkan kata-kata pujian, dia berhenti lima langkah dari singgasana. Ethelyne sedikit membungkuk sambil mengangkat kedua ujung gaunnya dengan anggun dan penuh hormat. “Saya Ethelyne Virgian, menghadap Anda. Yang Mulia.”
“Hahaha, kau tidak perlu begitu formal. Nona Virgian, terima kasih sudah mau menerima undanganku, silahkan duduk.”
“Terima kasih, Yang Mulia.” Ethelyne berdiri tegak, dia berjalan ke arah Aelene dan duduk di samping gadis itu.
“Saya merasa terhormat bisa melihat Anda hari ini, Lady Virgian.”
Ethelyne menoleh ke arah Aelene, dia tersenyum. “Saya juga merasa terhormat bisa melihat Anda lagi, Nona Aelene.”
Aelene menatap bingung. ‘Lagi?’
“Mereka berdua terlihat serasi ya.”
Aelene menoleh ke arah yang dilihat Ethelyne. “Ah, benar. Mereka adalah Yang Mulia Pangeran ke7 dan Nona... ah iya, Nona Emerson.”
“Nona Emerson?”
“Sepertinya Lady tidak begitu tau tentang dunia ini ya? Tuan Duke Emerson adalah salah satu dari orang yang menopang kerajaan ini, keluarga Emerson memiliki kekuatan militer yang lebih kuat dari kerajaan, mungkin itu sebabnya Pangeran ke7 menikah dengan Nona Sela.”
“Ah, begitu ya.” Ethelyne mengangguk-anggukkan kepalanya, dia menatap ke arah Eadric yang juga menatapnya. Ethelyne tersenyum tipis, dia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu tanpa suara. ‘Selamat atas pernikahanmu, Eadric.’
“Oh iya, sebelumnya saya minta maaf kalau menanyakan hal yang tidak sopan. Tapi Anda berada di mana selama ini? Anda tiba-tiba menghilang dan tidak pernah muncul lagi sejak wabah itu.”
“Ah, tidak kusangka Anda mengetahuinya.” Ethelyne tersenyum formal.
__ADS_1
“Iya, Ayahanda menceritakannya padaku saat itu. Katanya, aku juga menghilang bersama dengan dua pangeran.”
“Begitu ya.” Ethelyne tanpa sengaja bertatapan dengan Aliya, gadis itu tampak memberi isyarat. “Saya permisi sebentar.”
“Tentu saja, tapi apa Anda hafal jalan di istana?” tanya Aelene khawatir.
“Anda tidak perlu cemas, saya... mengetahui kerajaan ini dengan cukup baik.” Ethelyne berbalik dan berjalan pergi.
~♥~
“Liya, tidak aku sangka kau seorang Tuan Putri.”
“Maaf karena tidak memberitahumu, Kak Ethelyne.” Aliya menunduk dengan raut penuh penyesalan.
“Kau tidak perlu sampai begitunya, aku tidak marah padamu kok, lagipula. Kita baru bertemu selama dua hari, jadi tentu saja kau tidak boleh memberitahuku dengan mudah. Tapi karena kita bertemu di sini, apa aku boleh bertanya?”
Aliya mendongak dan menatap Ethelyne penuh tanda tanya. “Iya.” Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kakak ingin bertanya apa?”
“Kenapa Liya menyamar sebagai rakyat biasa? Padahal kalau Liya berjalan-jalan dengan gelar seorang Tuan Putri, Liya pasti akan dihormati kemanapun Liya pergi. Ah, aku hanya penasaran saja, Liya tidak perlu menjawabnya jika tidak mau.”
“Eh?? Jadi maksudmu, Yang Mulia Raja...”
“Benar. Gelar Tuan Putri tidak pantas untukku, bahkan karena Yang Mulia Ratu tau aku anak haram Yang Mulia Raja. Yang Mulia Ratu langsung mengutus orang untuk menghabisi kami, aku dan ibuku berjuang untuk hidup dan tanpa sengaja...” Aliya mengepalkan tangannya, matanya memerah menahan tangis mengingat kejadian tak menyenangkan di hidupnya.
Ethelyne menatap sendu, dia memeluk Aliya. “Sungguh tidak bermoral! Memang kenapa kalau kau anak haram? Bukan keinginanmu untuk lahir dalam keadaan begini, kenapa harus ada manusia yang begitu jahat?.” Ethelyne melepas pelukannya dan menatap serius Aliya. “Liya, bahkan jika orang lain tidak mengakuimu. Aku tetap akan mengakuimu, jika kau kesulitan. Kau bisa datang menemuiku, aku akan selalu melindungimu dari apapun. Bahkan jika Yang Mulia Ratu sekalipun, aku... aku tetap akan menjagamu seperti adikku sendiri!”
“Sayang, jika ibu tiada. Maka roh ibu akan selalu melindungimu dimanapun kau berada, meskipun kita bermandikan darah hari ini. Suatu hari nanti, di dunia ini atau dunia lain. Akan ada orang yang menerima kita, kau tidak perlu khawatir. Karena jika memang tidak ada siapapun, ibu akan selalu mempercayaimu.”
Mata Aliya berkaca-kaca, dia memeluk Ethelyne dengan erat dan menangis sesegukan. ‘Ibunda, ibunda bisa tenang sekarang. Sudah cukup, sekarang. Sudah ada orang yang benar-benar akan melindungiku, seperti yang Ibunda lakukan.’
“Sudah, sudah. Jangan menangis lagi, pesta masih berlangsung dan jika orang lain melihatmu dengan penampilan yang kacau, kau akan dikata-katai,” kata Ethelyne sambil mengusap surai Aliya lembut, padahal air matanya pun mengalir seperti air terjun.
~♥~
Setelah semua upacara selesai dilakukan, kini waktu kedua pengantin bertukar cincin.
__ADS_1
Ethelyne dan Aliya telah kembali di tempat masing-masing, keduanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing.
“Setelah bertukar cincin, mempelai pria dan mempelai wanita akan saling berciuman sebelum meminta berkat pada Lady Virgian.”
Ethelyne yang tengah asik berbincang dengan Aelene tertegun, dia menoleh ke arah Eadric yang tampak acuh tak acuh. Ethelyne menunduk, dia mengepalkan tangannya. ‘Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh!! Jangan bawa perasaanmu pada pekerjaanmu, Ethel! Kau bisa menahan diri, jangan sampai membuat pesta ini hancur! Kau bisa! Aku yakin kau bisa!’
“Silahkan kedua mempelai saling berciuman.”
Mata Ethelyne membulat, dia hendak berdiri. Namun terhenti saat tiba-tiba dua prajurit terlempar masuk dengan banyak luka.
“Penyerangan! Lindungi Yang Mulia!!”
Para prajurit yang ada langsung mengevakuasi para tamu kerajaan dan tentu Raja dan Ratu, para pangeran yang bisa bertarung mengambil pedang masing-masing dan siap dengan posisi menyerang.
‘Apa yang terjadi??’ Ethelyne berdiri dari duduknya, pandangannya terus mengarah ke pintu aula yang terbuka lebar-lebar.
“Lady Virgian, kita harus pergi dari sini secepat mungkin!” kata Aelene sambil menarik tangan Ethelyne.
“Tunggu sebentar, Aelene.” Ethelyne dengan lembut melepaskan genggaman tangan Aelene di pergelangan tangannya, dia melangkah maju. “Bawa Nona Aelene untuk segera mengungsi!”
“Tapi, bagaimana dengan Anda?”
“Aku akan baik-baik saja, usahakan membawa Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu ke tempat yang paling aman!”
“Baik, kami akan segera melaksanakan perintah. Mari, Nona Aelene.”
“Tapi, Lady Ethelyne--”
Ethelyne menoleh ke arah Aelene dan tersenyum. “Aku akan baik-baik saja.”
Seperti sebuah keajaiban, rasa cemas di hati Aelene sedikit berkurang. Dia menganggukkan kepalanya ragu. “Tolong, jangan memaksakan diri Anda,” katanya sebelum berbalik dan mengikuti para prajurit.
Ethelyne tersenyum tipis. “Kau juga,” gumamannya, dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu aula yang mulai dimasuki oleh monster, kening Ethelyne berkerut.”
~♥~~♥~
__ADS_1