
“Saya mengerti, Yang Mulia. Saya akan menyampaikan ucapan Anda.”
Ethelyne tersenyum manis. “Baguslah, jika tidak ada yang lain. Kau boleh pergi, ingat untuk memberitahunya ya. Aku tidak ingin dia mati tanpa tau apa-apa.
“Baik!”
‘*Master, Anda jahat sekali! Kenapa Anda meninggalkan saya di tengah hutan sendirian*??’
Ethelyne menutup telinganya. “Suara itu, ah. Kau hewan spirit Ethelyne ya? Apa wujudmu? Serigala, harimau, kelinci, atau siput?”
‘*Tidak ada satupun! Kenapa Master tiba-tiba bertingkah aneh sih*??’
“Heh.” Ethelyne tersenyum. “Kau masih belum menyadarinya ya?”
‘*Jangan-jangan, kau bukan masterku! Di mana master berada?! Kenapa kau bisa ada di raganya*!!’
“Hahaha, tenanglah. Tidak perlu marah-marah begitu, aku yakin kau pasti mengenaliku kan. Kutukan setiap seribu tahun …”
‘*Jangan-jangan … kau demon gila itu kan!! Bagaimana kau bisa ada di raga Masterku?! Kembalikan Masterku*!!’
“Memang kau siapa berani memerintahku, anjing gila.”
‘*Tidak sopan!! Aku ini naga, bukan anjing*!’
“Sungguh?” Mata Emas Ethelyne seolah berbinar. “Kebetulan sekali, aku sedang lapar sekarang. Bagaimana jika kau keluar dan menjadi santapanku?”
‘*Huh, jangan pernah berharap! Kau tidak akan pernah bisa memilikiku*!!’
“Uh, sayang sekali.” Ethelyne memasang raut wajah sedih. “Padahal, energi sihirku berkurang banyak karena gadis sialan itu memanggil Roh Waktu di dunia manusia. Menyebalkan sekali! Energi sihirnya sendiri tidak sebanyak itu, jika bukan karena aku. Dia pasti sudah lama mati!”
‘*Diam! Tutup mulutmu itu! Aku tidak akan membiarkanmu menghina master*!’
__ADS_1
“Maka lawanlah aku, muncul di hadapanku dan habisi aku jika kau bisa.” Ethelyne tersenyum miring, tidak ada balasan apapun dari Flowing.
‘*Kau, aku tidak akan membiarkan kau mengambil alih raga master*!’
Sebuah cahaya menyilaukan tiba-tiba muncul dari badan Ethelyne, gadis itu menutup matanya namun entah kenapa. Cahaya menyilaukan itu tetap menembus matanya, suasana tiba-tiba berubah gelap. Ethelyne menatap sekitaran dengan pandangan linglung, dia tiba-tiba berada di ruangan gelap yang entah sampai mana batasnya dengan pakaian compang-camping.
‘Apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba ada di sini? Bukankah seharusnya aku ada di istana dan menunggu kabar dari prajurit itu?’
“Kau makhluk jahat! Aku pasti akan menyingkirkanmu!”
Ethelyne menoleh ke belakang, tepat ke asal suara. Seorang anak laki-laki kecil mendorong gadis berumur 4 tahun dengan kasarnya.
Ruangan gelap yang ditempati Ethelyne tiba-tiba berubah menjadi lautan bunga yang indah.
“A-apa salahku? Kenapa kakak sangat membenciku?” tanya gadis kecil yang benar-benar mirip dengan Ethelyne yang berumur 5 tahun.
‘Apa ini? Apa ini ingatan masa kecil Ethelyne, tapi kenapa naga itu menunjukkan ingatan ini padaku? Apa dia berpikir aku akan luluh melihat Ethelyne diperlakukan seperti itu?’ Ethelyne masih berdiam diri di tempat sambil bersedekap dada dan menatap kedua anak kecil itu.
“Ethel tidak tau apa-apa, kenapa Kak Zen menyalahkan Ethel? Ethel juga tidak ingin ini terjadi,” kata gadis itu menangis sesegukan.
“Berhenti berpura-pura polos! Kau dan ibu sialanmu itu sama saja! Kalian selalu menganggu kehidupan keluarga kami, Andaikan saja ibumu tidak masuk ke kehidupan ayah dan ibu. Mereka pasti masih saling mencintai dan hidup sampai sekarang!!”
Tiba-tiba, anak laki-laki itu ditampar oleh seorang gadis berpakaian pelayan. Mata gadis itu memerah menahan tangis. “Yang Mulia! Anda tidak seharusnya memperlakukan Yang Mulia Putri seperti ini!!” Marah gadis itu.
“Meli pergilah, Ethel tidak apa-apa. Ethel tidak ingin Meli ikut terluka karena melindungi Ethel!”
“Yang Mulia, Anda tidak bisa menyalakan Yang Mulia Putri! Mau bagaimanapun, Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu akan--”
__ADS_1
“Diam!!” Zen tiba-tiba menyela ucapan Meli, dia berdiri dengan wajah penuh amarah dan mata berkaca-kaca. “Kau pikir pelayan rendahan seperti kau bisa memerintahku seenaknya?!”
“Yang Mulia, saya hanya--”
“Ini bukan salah Meli!” Ethelyne kecil berdiri di depan Meli sambil merentangkan kedua tangannya bermaksud melindungi gadis itu. “Kak Zen tidak boleh menyakiti Meli! Meli adalah orang paling berharga di kehidupan Ethel!”
Zen yang berdiri cukup jauh dari Ethelyne tiba-tiba muncul di belakang Meli dan menusukkan dengan sebuah belati yang entah darimana datangnya.
Ethelyne yang syok masih terdiam kaku sambil menatap Meli yang terjatuh ke tanah tak sadarkan diri, tanpa Ethelyne sadari. Air mata mengalir di pipinya, dia terduduk di tanah dengan mata badan bergetar.
“Sekarang kau tau kan bagaimana perasaanku saat ibu dan ayah dibunuh.” Zen dengan tanpa perasaan mencabut belati yang berada di punggung Meli dan berjalan pergi. “Jangan berpikir kalau ini sudah berakhir, aku pasti akan menghabisimu demi ibu dan ayah.”
Air mata semakin deras mengalir di pipi Ethelyne, tangannya yang bergerak terangkat dan menyentuh mayat Meli yang menguap. Ethelyne menggeleng cepat, dia memeluk Meli sambil menangis sesenggukan. “Huaa!! Kau tidak bisa meninggalkanku! Kau tidak bisa pergi dariku, Meli! Meli bangun, jangan pergi. Kau tidak boleh menghilang!!”
Tiba-tiba, sebuah kabut hitam tebal berbentuk tangan muncul di belakang punggung Ethelyne. Kabut hitam itu menutupi setengah mayat Meli yang telah menguap.
Tiba-tiba, kabut hitam itu masuk ke tubuh Meli dan meregenerasikan semua yang menguap. Tepat setelah itu, Ethelyne tertidur dan Meli membuka matanya.
“Yang Mulia, kenapa Anda ada di sini?” tanya Meli sambil memperhatikan Ethelyne yang tertidur, dia mengangkat gadis kecil itu ke pelukannya. ‘Sepertinya Yang Mulia mengalami mimpi buruk, bahkan matanya sampai bengkak karena menangis.’ Meli menepuk-nepuk punggung Ethelyne lembut. “Tidurlah dengan tenang, Yang Mulia.”
Tiba-tiba, ruangan berganti. Dengan suasana yang hampir mirip dengan Ethelyne, seorang gadis kecil dengan pakaian lusuh menangis sambil memeluk mayat seorang wanita paruh baya.
Ethelyne yang melihat hal itu mengerutkan keningnya. ‘Ingatan ini, bukankah ini ingatanku?’
“Aku bisa menghidupkan ibumu kembali, tapi dengan satu syarat.”
Gadis kecil itu mendongak dan menatap seorang pria asing yang mengenakan jubah dengan bros lambang tengkorak di dadanya, tanpa pikir panjang. Gadis itu mengangguk. “Aku akan melakukan apapun, tolong. Tolong hidupkan ibu kembali!”
“Ok, mulai hari ini. Kau akan menjadi wadah, Jadilah alat yang berguna. karena jika tidak, aku bisa membunuh ibumu dengan inti jiwanya yang kumiliki.”
__ADS_1
Setelah ucapan pria misterius itu, ruangan kembali menjadi gelap gulita. Ethelyne tak dapat melihat apapun lagi atau mencerna apapun yang terjadi. ‘Aneh, bukankah ingatanku itu. Hampir mirip dengan yang dialami Ethelyne?’