Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
129. Kebenaran


__ADS_3

“Maaf ya Kiara, Bibi jadi memaksamu mengantarku padahal kau sedang tidak sehat.”


“Aku baik-baik saja, berapa lama kau akan tinggal di sini?” tanya Kiara dingin.


“Aku juga tidak tau, aku kemari karena Bibi ingin membicarakan sesuatu.”


Kiara berhenti melangkah, dia menoleh ke arah Ryu dengan tatapan penuh tanda tanya. “Ibuku?”


“Iya, Bibi juga mengundang Ayah dan ibu. Mungkin Bibi ingin membicarakan soal pertunangan kita,” kata Ryu dan berjalan melewati Kiara.


Gadis itu terus menatap Ryu dengan tatapan datar. “Memang ada apa dengan pertunangan kita?”


Ryu menoleh ke arah Kiara yang kini berjalan di sampingnya. “Kau tidak tau ya? Aku dengar dari Ayah, Bibi dan Ibuku ingin mempercepat pertunangan kita. Sepertinya mereka berdua sangat ingin melihat kita menikah.”


“A-apa?? Menikah?!” tanya Kiara kaget, dia tak pernah menyangka pernikahannya akan dipercepat.


Ryu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya, aku tau keterkejutanmu. Aku juga merasakan hal yang sama saat tidak sengaja menguping pembicaraan Ayah Ibu, huh... padahal kita berdua belum siap.”


Kiara dan Ryu berhenti di depan sebuah pintu, dia membuka pintu itu. “Lalu apa Bibi dan Paman tau soal ini?”


Ryu dan Kiara berjalan masuk ke dalam kamar.


“Mereka tidak tau, kau tau kan sikap ayahku jika aku protes.” Ryu duduk di tepi kasur dan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan. “Huh... hidup benar-benar mempermainkanku! Padahal aku ingin menjadi seorang Jenderal sebelum menikah denganmu.”


“Itu tidak akan terjadi,” balas Kiara dingin.


“Hm? Maksud--”


“Pernikahan kita tidak akan terjadi, sampai kapanpun itu!”

__ADS_1


“Tunggu, apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu saat ini? Jika kau, tidak. Apa kau tidak menyukaiku? Kita adalah teman sejak kecil, bagaimana bisa kau--” kata Ryu panik.


Kiara berdecak, dia bersedekap dada dan menatap rendah Ryu. “Kapan kau akan menghentikan drama ini?”


“Apa... maksudmu?” tanya Ryu kebingungan, dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan dari Kiara.


Kiara mengangkat dagunya tinggi. “Berhenti berpura-pura sebagai pria tak bersalah.” Matanya memicing. “Aku bisa melihat jiwa yang amat menyeramkan bersembunyi di dalam tubuhmu.”


Ryu diam tak membalas, dia berdiri dari duduknya dengan kepala sedikit tertunduk. “Aku sungguh tidak mengerti dengan ucapanmu, bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?” Ryu mendongak dan menatap Kiara dengan air mata berlinang. “Apa selama ini, kau hanya menganggapku orang asing?” tanyanya mulai terisak. “Padahal, padahal kita berteman sejak kecil. Pertunangan ini juga bukan atas kemauanku...”


“Hentikan air mata buayamu itu.” Kiara tidak merasa kasihan sama sekali, dia justru menatap Ryu semakin hina. “Hentikan ucapan omong kosongmu ini, Ryu. Ah, tidak, atau harus kupanggil. Dewa Iblis?”


Ryu terdiam, air matanya berhenti mengalir. Dia terdiam cukup lama. “Ah, jadi kau sudah tau ya?” Ryu mengusap air matanya. “Sepertinya memang sulit mengelabui mata seorang Gadis Virgian.”


Kiara hanya diam dengan tatapan yang sama. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya datar.


“Yang kuinginkan? Kurasa kau sudah tau apa yang kuinginkan.” Ryu tersenyum sambil menatap Kiara lembut, meski begitu. Aura mengintimidasi yang ada di sekitarnya terasa sangat kuat.


“Salah.” Ryu menggeleng. “Aku hanya memerlukan kekuatan murnimu saja.” Dia berjalan mendekat dan mengusap pipi Kiara dengan lembut. “Sebenarnya, aku bisa membantu mempertahankan jiwamu asal kau mau ikut denganku.”


“Ikut denganmu? Kau terlalu berharap!”


“Wah, kau kasar sekali.” Ryu menutup mulutnya pura-pura terkejut. “Padahal aku berbalik hati untuk membuatmu jadi permaisuriku.” Dia tersenyum. “Tapi sepertinya hal itu tidak membuatmu tidak membuatmu tertarik.”


“Benar, aku tidak sudi untuk menginjakkan kaki di istanamu. Apalagi menjadi Permaisurimu!”


“Wah, sayang sekali ya. Padahal sangat kasihan jika gadis secantik dirimu dibiarkan mati begitu saja.”


Ryu berbalik dan berjalan mendekati jendela, dia melirik Kiara dengan senyum tipis. “Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?”

__ADS_1


“Perjanjian?”


“Aku akan mempertahankan jiwamu, asal kau mau membantuku untuk membawa kembali Rio. Maka kau akan kebebasan setelah jiwaku pulih, bagaimana?”


“Rio? Siapa dia?”


“Ah, sepertinya Ratu kegelapan itu tidak memberitahu apapun padamu.” Ryu menoleh ke arah Kiara. “Rio adalah adikku, dia saat ini adalah seorang Kaisar Iblis. Hah, sayangnya.” Dia mengangkat bahunya. “Dia menolak menjadi dewa dan memilih untuk mengejar Dewi yang disukainya. Bukankah itu benar-benar bodoh? Seorang iblis, ingin bersama dengan Dewi. Hah, benar-benar pemikiran yang tidak berguna!”


“Kenapa...” Kiara menunduk dengan tangan terkepal.


“Hm?”


“Kenapa kau mengatakan hal itu hah?!” teriak Kiara marah.


“A-ada apa tiba-tiba? Aku hanya--”


“Jika kau tidak tau apa-apa soal perasaan, seharusnya kau tidak ikut campur! Kau bahkan tidak bisa membujuk adikmu sendiri...” Kiara mengusap wajahnya kasar. “Benar-benar gila.” Dia menatap Ryu dengan dingin. “Bagiku, yang bodoh dan tidak berguna itu bukanlah Rio. Tapi kau!”


“Hm... perasaan ya?” Ryu tersenyum tipis, dia menatap Kiara. “Kau benar, aku tidak tau apa-apa soal perasaan yang kau katakan,” katanya dengan nada yang sedikit lebih lembut. “Aku tahu apa yang dirasakan Rio, karena dulu pun. Aku mengalami hal yang sama.” Dia menatap ke luar jendela.


‘Mengalami hal yang sama?’


“Dulu, aku juga menyukai seorang gadis dari dunia manusia. Dia orang yang baik hati dan tidak pernah memperdulikan ucapan menusuk dari orang lain, dia cantik dan kuat. Sayangnya, kami berbeda. Ayahku yang menjadi Dewa Iblis, tidak menerima kalau aku menikah dengan seorang manusia fana. Oleh karena itu, dia mengutus seorang iblis untuk menghabisi gadis itu.” Ryu mengepalkan tangannya. “Saat aku tiba, hanya tersisa tubuh yang gosong dan tak bernyawa...”


‘Tubuh yang gosong, maksudnya--’ Pupil mata Kiara mengecil.


“Benar, dia dibakar hidup-hidup dengan kejamnya. Bahkan, hanya jari-jarinya yang terputus yang tak terbakar oleh api. Dia dibunuh dengan keji, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kekuatanku, sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki Ayahku. Aku tau, karena itu. Aku tidak pernah membalaskan dendamnya dan memaksa jiwanya untuk bereinkarnasi. Namun, saat itu, aku sangat menyesal.” Ryu menundukkan kepalanya. “Andai saja aku tidak bertemu dengannya dan tidak jatuh cinta dengannya, dia pasti tidak akan mengalami hal semengerikan ini. Bagi kami para iblis, jari-jari yang dipotong bisa disambungkan lagi. Namun dia, meskipun dia seorang gadis suci. Dia tetaplah manusia biasa, tubuh yang sudah terpisah, tidak bisa disatukan kembali.” Dia menoleh ke arah Kiara dengan mata memerah. “Gadis itu adalah kau... Kiara, bukan. Tapi kau, Ethelyne.”


Kiara kini tak bisa menahan keterkejutannya. ‘Aku? Reinkarnasi dari gadis yang disukai Ryu? Terlebih lagi, gadis itu juga... seorang Virgian.’

__ADS_1


~♥~~♥~


__ADS_2