
Ethelyne menggeleng, dia tersenyum tipis. “Aku harap, kalian bisa selalu akur. Meskipun nantinya aku tidak ada, tapi kalian tidak boleh berpisah satu sama lain.”
“Huhu, master. Anda tidak boleh berkata seperti itu.” Laurie sudah menempel di barier layaknya cicak. “Jika Anda mati, siapa yang akan memberikan saya cemilan enak lagi?”
Vio langsung memukul kepala Laurie dengan cukup keras, setidaknya cukup untuk membuat gadis itu mengadu kesakitan. “Kau itu benar-benar sangat bodoh, ya. Apa kau tidak tau, jika majikanmu mati. Maka, sebagai hewan kontraknya. Kita akan menghilang.”
“Eh, apa?? Kenapa bisa??” tanya Laurie terkejut.
Vio memijat pelipisnya, dia kini sangat yakin dengan sebutannya pada gadis di depannya. “Karena kita sebagai hewan spirit yang telah dikontrak bersatu dengan jiwa pemilik, maksudnya. Kau, aku, dan Nona telah menjadi satu. Kita bagaikan jiwa Nona, jika jiwanya keluar dari tubuh. Maka kita akan ikut menghilang.”
Laurie mengangguk mengerti, dia menatap Ethelyne dengan tatapan penuh harap dan seolah berkata 'Jangan mati, jika tidak. Aku juga akan ikut mati'.
Ethelyne menghela napas, dia berdiri dan berjalan mendekati barier. Ethelyne menyentuh permukaan barier yang seperti air. “Aku tidak akan membuat kalian terlibat dalam masalah, dan kalian juga tidak akan mati bersamaku.”
“Itu tidak mungkin bisa dilakukan, Nona. Kecuali jika ada yang mau menjadi wadah kami menggantikan Anda.”
“Jangan khawatirkan apapun.” Tangan Ethelyne menembus barier, dia menyentuh pipi Laurie dan Vio dengan senyum lembut di dalam barier. “Aku akan membuat kalian tetap hidup dengan menggunakan setengah jiwaku.”
Mata Laurie berkaca-kaca. “Master.” Dia menghapus air mata yang menggenang menggunakan lengannya.
“Apa Anda yakin? Jika akan menggunakan jiwa Anda sebagai bayarannya, maka 70% anda tidak mungkin bisa bereinkarnasi,” kata Vio dengan bijaknya.
“Itu bukanlah masalah, selama aku bisa melihat kalian berdua bahagia. Maka semuanya akan baik-baik saja.” Ethelyne tersenyum, dia menurunkan tangannya dan melangkah mundur dari barier. “Pergilah dan temui Mika, beritahu dia. Aku, gadis suci terakhir akan meminta bantuan Tuan Murry untuk melakukan satu hal yang bisa menebus dosaku.”
“Tapi, kami tidak bisa masuk melewati barier--”
“Aku membagikan kekuatan suci pada kalian, dengan begini. Kalian bebas untuk keluar masuk melewati barier, tapi ingatlah satu hal. Semuanya tergantung hati kalian.”
Laurie dan Vio saling menatap, keduanya mengangguk bersamaan. “Kami akan melaksanakan perintah dari Gadis suci Virgian,” kata keduanya sambil berlutut dengan sebelah kaki sebagai tumpuan.
Ethelyne terkekeh kecil melihat sikap serius keduanya. “Terima kasih, kalian bisa pergi sekarang. Berhati-hatilah pada hewan buas.”
__ADS_1
Keduanya perlahan-lahan memudar dan menghilang, saat aura keberadaan keduanya tidak Ethelyne rasakan lagi. Senyum di wajahnya perlahan luntur, dia kembali duduk di tepi jendela dan menatap barier berwarna biru yang membentuk lingkaran dengan dia sebagai intinya. Ethelyne tersenyum miris. “Bukankah lucu terkurung dalam barier sendiri, hah. Aku tidak tau sampai kapan lagi aku bisa bertahan.” Dia menatap ke luar jendela. “Aku hanya berharap, dunia ini tetap akan berjalan setelah kepergianku. Setidaknya, kau akan menyelesaikan keinginanku yang tidak sempat terkabulkan, kan? Luna.”
“Ada apa, Yang Mulia? Apa Anda sedang tidak sehat? Anda terlihat sangat pucat hari ini,” kata Ned sedikit khawatir, bagaimana tidak. Bahkan wajah Eadric lebih pucat saat pertama kali dia melihat pembunuhan, jika Eadric tidak bergerak atau bernapas. Mungkin saja seseorang akan mengira dia telah mati.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya merasa sedikit pusing.” Eadric masih mengingat ucapan Rimuru kemarin, dia merasa sangat aneh dengan kata-kata gadis itu. ‘Semula, dia mengucapkan salam perpisahan. Dan beberapa menit kemudian, dia berkata kami mungkin akan bertemu lagi suatu hari nanti.’ Eadric berdesah frustasi, selain ucapan Rimuru yang ambigu. Pekerjaannya yang menumpuk membuatnya semakin tampak pusing, Eadric mengepalkan tangannya. ‘Sialan gadis itu, dia selalu datang dan pergi sesuka hati. Dia tidak menghormati aku sebagai tuannya, lihat saja saat kami bertemu kembali. Aku tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi!’
“Yang Mulia, bagaimana jika Anda berjalan-jalan lebih dahulu?” tawar Ned yang merasakan perubahan suasana hati Eadric.
Ned menghela napas, dia membungkuk hormat dan berjalan pergi. ‘Kenapa sikap Yang Mulia semakin aneh?’
~~~♥~~~
“Mama, kenapa Mama membawaku kemari?” tanya Seorang gadis kecil imut berusia 9 tahun, warna mata merah rubynya tampak sangat indah. Dia mendongak dan menatap wanita yang digandengnya.
__ADS_1
“Luna, apa kau ingin menemui Bibimu? Dia orang yang sangat baik, dia yang menjaga mama selama ini.” Wanita itu tersenyum lembut, dia berjongkok dan menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu. “Luna, jika kau keluar dari sini. Kau harus bersikap baik pada Bibi, meskipun Mama mungkin tidak bisa menemanimu. Tapi kau tidak boleh merasa kehilangan Mama.” Wanita itu mengecup kening Luna. “Jika Luna merindukan Mama, Luna bisa ke dunia ini dan bertemu Mama. Sayang, Mama berharap. Kau tidak akan berakhir seperti Mama, hiduplah seperti gadis biasa. Jangan ungkapkan kekuatanmu pada siapapun, Mama tidak ingin Luna mengorbankan diri Luna seperti Mama.”
Luna menatap Wanita itu bingung, dia mengangguk dengan senyum manis. “Iya, Luna pasti akan mendengarkan ucapan Mama. Luna akan bersikap baik pada semua orang dan tidak akan mengungkapkan kekuatan Luna, selain itu. Luna juga akan membuat Mama bangga melihat Luna.”
Wanita itu tersenyum tipis, dia mengusap pipi Luna lembut. “Luna, jangan selalu bersikap baik. Jika ada seseorang yang mengganggumu, kau juga harus melawan balik.” Wanita itu menoleh dan menatap hamparan bunga yang mengelilinginya mereka, seolah tidak ada ujungnya sama sekali. “Luna harus seperti kupu-kupu itu.” Dia menunjuk kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga. “Luna tidak boleh membuat diri sendiri merasa sedih ataupun menderita, Luna harus seperti kupu-kupu yang terbang bebas di langit.”
Luna kembali mengangguk, dia memeluk Wanita itu. “Luna sangat menyayangi Mama, Luna tidak ingin pergi dari Mama.”
“Bukankah Luna ingin melihat dunia luar? Jika Luna tetap bersama Mama, Luna tidak akan bisa melihat dunia luar dan terkurung di sini selamanya.”
Luna melepaskan pelukannya, matanya yang berwarna merah Ruby tampak sangat sendu. “Luna tidak ingin kehilangan Mama.”
“Mama tidak akan meninggalkan Luna, Mama akan selalu berada di sini dan menemani Luna.”
“Luna hanya ingin bersama Mama, Luna tidak apa-apa jika tidak memiliki Papa. Tapi jika Luna juga kehilangan Mama, Luna akan sangat sedih.”
__ADS_1
Wanita itu menggendong Luna dan berdiri. “Luna, dunia luar bahkan lebih luas dari dunia ini. Mama hanya ingin berpesan, jika Luna tiba di dunia manusia nanti. Luna tidak boleh bersikap jahat pada siapapun kecuali jika mereka yang menganggu Luna.”