Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
47. Luna


__ADS_3

Meli menatap nampan berisi makanan yang belum disentuh, dia menatap ke arah barier yang masih terpasang. Ethelyne yang berada di dalam berier tengah tertidur sambil bersandar di dinding. ‘Kenapa Yang Mulia tidak memakan makanannya?’


Meli menghela napas panjang, dia mengangkat nampan berisi makanan itu dan membawanya keluar. “Akan saya bawakan makanan baru.”


Tepat setelah pintu tertutup, Ethelyne membuka matanya. Dia berdiri dan menghilangkan barier. ‘Apa wabah itu akan benar-benar ada? Apa Luna benar-benar bisa memprediksi masa depan?’


“Mama, Luna hanya ingin mengingatkan Mama soal wabah itu. Luna tidak ingin ada manusia yang mati karena wabah, oleh karena itu. Luna tidak membenci Mama meskipun Mama akan melakukan perang dan menyandera manusia.”


Ethelyne berdesah frustasi, dia berjalan ke arah meja dan membuka laci. Ethelyne mengambil gelang berwarna emas dengan hiasan phoenix, dia memakai gelang itu. Seketika aura gelap keluar dari tubuhnya dan seolah dihisap oleh gelang itu.


Ethelyne terduduk di lantai dengan napas yang terdengar sangat lemah, dia menatap gelang di pergelangan tangannya. ‘Sudah kuduga, energi iblisku akan terhisap oleh gelang ini.’ Ethelyne tersenyum miris. ‘Aku tidak bisa menggerakkan badanku, hah. Bahkan berdiri saja rasanya tidak bisa, apa karena energi iblisku hampir di hisap sampai habis?’


Suara ketukan pintu menganggu lamunan Ethelyne, gadis itu memegang meja dan berusaha berdiri. Dia dengan langkah pelan berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Ah, Kak Ryan. Ada apa?”


“Aku hanya ingin mengunjungimu, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Ryan sambil melirik ke arah dalam, dia tidak dapat melihat kamar Ethelyne dengan jelas karena gadis itu hanya membuka pintu kamarnya sedikit.


“Aku baik-baik saja, kebetulan ada yang ingin kubicarakan. Ayo masuk.” Ethelyne membuka pintu kamarnya lebar, warna matanya sempat berubah merah 3 detik.


Ryan tanpa ragu melangkah masuk dan menatap seisi kamar penuh selidik, Ethelyne menutup pintu kamarnya. Dia bersandar di pintu sambil menatap Ryan yang tampak mencari sesuatu.


“Apa Kakak mencari sesuatu?” tanya Ethelyne memulai percakapan.


“Oh, aku ingat dulu tatanan kamarmu tidak seperti ini. Sepertinya kamarmu berubah banyak sejak terakhir kali aku kemari.” Ryan berjalan ke arah meja dan mengambil buku tipis. “Apa ini buku yang diberikan Ibu dulu?”


“Begitulah, bagaimana keadaan Kak Zen? Aku sudah lama tidak melihatnya, aku cukup khawatir saat tau bahwa Kak Zen kehilangan inti jiwanya.”


Ryan terdiam. “Begitulah, Zen akhir-akhir ini selalu emosi dan tidak pernah berdiam diri. Energi sihirnya juga selalu menguar dari tubuhnya.”

__ADS_1


“Maaf, aku seharusnya tidak mengambil inti jiwa Kak Zen.”


“Itu bukan salahmu.” Ryan meletakkan buku itu kembali, dia berbalik ke arah Ethelyne dengan senyuman. “Lagipula, kau tidak melakukan secara sa--dar.” Ryan menatap Ethelyne terkejut, dia terduduk sambil menunduk dan menatap sebuah pedang yang kini bersarang di perutnya. Ryan menatap Ethelyne tak percaya. “Kenapa?”


“Kau bertanya kenapa?” Ethelyne berdiri tegak dan berjalan ke arah Ryan, dia berjongkok dan tanpa perasaan menarik pedang suci yang bersarang di perut pria itu. Ethelyne mengangkat pedang itu tinggi, darah dari pedang tampak menetes ke lantai. “Ah, warna darah hitam yang indah.” Dia melirik Ryan yang terbaring dengan genangan darah hitam, bahkan darah tidak berhenti keluar dari lubang di perutnya. “Ck, ck, ck. Apa kau sungguh berpikir aku bodoh? Kak Ryan tersayang, aku tau. Selama ini, kau hanya berpura-pura baik padaku kan.” Ethelyne menusukkan pedang itu ke lantai, dan menatap Ryan datar. “Aku tau, kakak kan yang memerintahkan Zen untuk menghabisi pelayanku saat itu. Kak Ryan juga lah, yang meminta Kak Zen untuk memanggilku ke hutan gelap dan hampir di makan oleh serigala iblis. Itu sebabnya, Harvey tiba-tiba muncul tepat saat aku berhasil menghabisi mereka semua.”


“Kau, salah paham.”


“Aku memang salah paham, karena sejak dulu. Aku pikir kakak yang selalu baik padaku.” Ethelyne mengusap wajah Ryan lembut, dia tersenyum iblis. “Jangan khawatir, Kakak bisa bersama Kak Zen setelah ini. Setelah menghabisi Kakak, aku akan menghancurkan inti jiwa Kak Zen. Dengan begitu, kalian berdua bisa bersama di neraka nantinya.” Ethelyne berdiri dan berjalan keluar, dia berhenti sejenak saat membuka pintu. “Mili, bantu aku bersihkan semua kekacauan. Ingat, tubuhnya harus tetap utuh. Aku tidak ingin boneka dengan tubuh yang hancur.”


Sekelebat bayangan gadis berambut kuncir kuda dengan mata berwarna hitam dan senyum lebar itu mengangkat tangannya hormat. “Tentu saja, Yang Mulia. Akan Mili pastikan tubuh Pangeran Zen tidak terluka, bahkan Mili tidak akan membiarkannya lebam sedikitpun.”


“Kerja bagus.” Ethelyne menutup pintu kamarnya, bertepatan saat itu. Sebuah cahaya berwarna hitam menembus celah pintu. Dengan santainya, Ethelyne berjalan melewati lorong yang sedikit sepi. “Ah, aku lapar. Kira-kira, hari ini makan apa ya?”





Wanita yang tidak lain adalah Ethelyne itu mengusap kepala Luna lembut. “Sayang, Mama tidak ingin mereka hanya menambah dosa dengan hidup di dunia.”



“Luna tau, Luna sudah melihatnya. Paman Ryan membunuh manusia dan memberikannya pada Paman Zen, meskipun hanya sementara. Tapi hidupnya bisa lebih lama dengan paman Zen memakan manusia, tapi apa Mama benar-benar melakukannya demi manusia? Bukankah Mama membenci manusia?”



Ethelyne berjongkok dan memeluk Luna erat. “Mama memang sangat membenciku manusia, tapi Mama tidak ingin orang yang tak bersalah ikut terlibat dalam permasalahan antara Mama dan Paman-Paman.”

__ADS_1



Luna tersenyum manis. “Luna tau Mama orang yang sangat baik.”



~~~♥~~~



”Luna,” gumam Ethelyne sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya, dia menatap datar lukisan yang tergantung di belakang pintu. ‘Hah, baik ya? Kau terlalu berpikir banyak, Luna. Aku tidaklah sebaik itu, semuanya. Semuanya hanyalah rencanaku, jika wabah akan benar-benar terjadi seperti yang kau katakan. Maka rencanaku akan berjalan dengan sempurna.’



“Yang Mulia, utusan dari istana Iceworld ingin bertemu dengan Anda,” kata Loreen dari balik pintu.



Ethelyne menghela napas. “Apa harus aku?”



“Ya, Yang Mulia. Karena Anda adalah Ratu dari istana ini, jadi Anda harus menemui sang utusan.”



“Eh, merepotkan sekali. Aku akan datang.” Ethelyne berdiri dan dengan malas berjalan ke arah lemari, dia membuka lemarinya dan mengambil gaun berwarna ungu gelap dan cadar yang berwarna senada. Dengan langkah gontai, dia berjalan ke arah kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, Ethelyne keluar dari kamar mandi dengan cadar yang telah menutupi wajahnya. Dia berjalan ke depan cermin dan memperbaiki tatanan rambutnya. ‘Kira-kira, siapa utusan yang dikirim mereka ya? Aku tidak sabar ingin melihatnya.’


__ADS_2