Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
106. Kehidupan sebagai Lady suci


__ADS_3

“Kalian sudah bekerja keras, ini. Kami siapkan cemilan untuk kalian, silahkan nikmati di sela-sela pekerjaan.”


Beberapa pelayan berjalan masuk dan meletakkan berbagai macam kue di meja, suasana ruang kerja Kathelyne kini benar-benar ramai. Bukan hanya karena orang, tapi juga karena tumpuan dokumen yang setia menemani setiap orang. Bahkan bawah mata mereka menjadi hitam akibat tidak tidur setiap malam demi mengerjakan semua dokumen.


“Terima kasih banyak, Nona. Kami pasti akan memakannya nanti.”


Ethelyne tersenyum manis, dia celingak-celinguk namun tak menemukan orang yang dicarinya. “Kathel kemana? Tumben sekali tidak ada di sini.”


“Beliau sedang pergi ke dunia manusia.”


“Eh?? Untuk apa? Kenapa tidak mengajakku?”


“Saya kurang tau, tapi sepertinya Yang Mulia Ratu ingin bertemu dengan manusia bernama Anastasia.”


“Ah, begitu ya. Kalau begitu, aku akan pergi, istirahatlah setelah kalian menyelesaikan dokumen itu ya.” Ethelyne berbalik dan berjalan pergi bersamaan dengan membungkukkan semua orang yang ada di ruang kerja. ‘Anastasia? Kenapa Kathel bertemu gadis itu? Kenapa pula dia pergi ke dunia manusia sendirian, lagipula. Bukankah dia bilang dia tidak ingin bertemu manusia, tapi sekarang dia sendiri yang menemui mereka. Sialan! Menyebalkan! Aku ingin memukul kepala Anastasia, Anastasia itu!’


Meli dan Loreen yang sedari tadi mengikutinya menghela napas.


“Sebenarnya kenapa Lady begitu terlihat kesal saat tau Yang Mulia Ratu bertemu manusia bernama Anastasia itu?”


“Entahlah. Mungkin karena jiwa mereka pernah bersatu,” gumam Meli.


Ethelyne tiba-tiba berhenti dan membuat keduanya ikut berhenti, gadis itu menoleh ke arah keduanya dengan senyum tipis. “Kalian kembalilah, aku akan pergi ke kamarku sendirian.”


“Tapi, Lady--”


“Tidak akan terjadi apa-apa padaku, lagipula. Kita ada di istana iblis kan, tidak akan ada yang berani memperlakukanku dengan tidak sopan. Jadi kembalilah, aku akan memanggil kalian jika membutuhkan sesuatu.”


Loreen dan Meli saling melirik, keduanya membungkuk hormat. “Kalau begitu, kami permisi.”

__ADS_1


Ethelyne melambaikan tangannya dengan senyum manis hingga Meli dan Loreen menghilang dari pandangannya, dia menghela napas dan berbalik. Kembali berjalan ke kamarnya. ‘Melelahkan sekali, padahal aku tidak melakukan apapun. Tapi energi sihirku terkuras banyak hanya dalam waktu setengah hari, belum lagi aku harus ke dunia manusia sore nanti. Hah, benar-benar menguras banyak tenaga.’


~♥~


“Jadi ini maksud dari surat yang kau kirimkan untukku?” tanya Kathelyne sambil melirik cangkir teh di atas meja dan berbagai macam kue yang tampak lezat.


“Saya tidak bermaksud demikian, saya mengundang Anda kemari untuk meminta agar Anda hadir di upacara penobatan saya sebulan dari sekarang. Terlebih lagi, Anda adalah orang yang memiliki peran penting dan membantu saya menjadi Permaisuri.”


“Tidak tertarik.”


“Saya mohon.” Anastasia menyatukan kedua tangannya di depan dada dengan puppy eye yang diandalkannya.


“Tetap tidak.” Kathelyne mengambil cangkir di meja dan meminum teh dengan anggun, dia kembali meletakkan cangkir dan menyadari raut sedih yang terlihat jelas di wajah Anastasia. “Hah, baiklah. Aku akan ke datang, jika sempat.”


“Benarkah??” tanya Anastasia semangat. “Anda harus janji ya, saya akan menunggu kedatangan Anda!”


Kathelyne hanya berdehem sebagai jawaban. ‘Kukirim Ethel saja, lagipula kan. Kami memiliki paras yang sama, jadi tidak mungkin ada yang bisa membedakan kami. Kecuali warna rambut dan mata, tapi itu bukan masalah besar. Lagipula, Ethel mungkin saja suka pesta seperti itu.’


~♥~


“L-lady Ethelyne!! Senang bertemu Anda, Anda ingin mengambil apa?? Saya bisa memberikan semuanya untuk Anda,” kata penjual panekuk.


‘Mengambil? Sepertinya terdengar aneh.’ Ethelyne tersenyum canggung, mau dia mendengarkannya berkali-kali. Dia tetap tidak terbiasa dengan keramahan rakyat di kerajaan Iceworld, terlebih lagi mereka bahkan rela memberikan semua yang mereka jual secara percuma. “B-berapa harga panekuk itu?”


“Silahkan ambil sebanyak yang Anda mau, Anda bisa mengambilnya secara percuma.”


“Bukankah itu terdengar tidak baik?”


“Tidak apa-apa, Lady Ethelyne. Kami ikhlas memberikan semua yang kami punya, terlebih lagi. Anda adalah gadis yang telah melindungi kerajaan kami dari wabah berbahaya yang bisa membunuh manusia.”

__ADS_1


‘Siapa yang memberitahu mereka sih?? Lagipula, bukan aku yang menghilangkan wabahnya. Akupun hanya meminta bantuan Kathel.’


“Silahkan, ambil saja yang Anda mau. Yang lain pun senang jika Anda mengambil yang Anda inginkan tanpa membayarnya, benar kan?”


“Benar!”


“Lady Ethelyne telah menolong kami, jadi kami akan membalas hutang budi kami dengan semua ini.”


“Kami bisa memberikan apapun yang Anda kau secara percuma.”


“Kami senang jika Anda menerimanya, Lady.”


Ethelyne hanya tersenyum mendengar sorak-sorai rakyat-rakyat yang terdengar sangat keras. “Meski begitu, saya tetap harus membayarnya. Saya harap kedepannya. Kalian tidak memperlakukanku sespesial ini, lagipula. Aku hanyalah beruntung karena mendapat berkah dari Dewi dan Tuan Naga, jadi tolong perlakuan aku seperti biasa.”


“Tidak bisa begitu! Lady Ethelyne telah menolong kami semua dari wabah, jika kami bertindak tidak sopan pada Anda. Maka kami akan berdosa pada Dewa dan Dewi yang memberkati kehidupan Anda.”


“Tapi meski begitu, kalian akan menderita kerugian besar jika kehabisan barang-barang tanpa keuntungan. Jadi, tolong terimalah uang dan perlakuan saya seperti biasanya. Dewa dan Dewi tidak akan menghukum kalian hanya karena tidak bersikap hormat pada saya, lagipula. Saya bukanlah bangsawan ataupun keluarga kerajaan, saya adalah rakyat biasa seperti kalian semua.”


Para rakyat yang mendengar hal itu saling menatap dan berbisik-bisik.


“Baiklah, kami akan menuruti permintaan Lady. Tapi kami tidak mungkin bersikap tidak sopan pada Anda, karena jika kami melakukannya. Kami tidak akan memaafkan diri kami sendiri.”


“Baiklah.” Ethelyne tersenyum dengan kedua tangan menyatu di depan dada. “Kalau begitu, tolong berikan aku panekuk manis yang diberi buah.”


“Anda ingin buah apa saja, Lady?”


“Eum, berikan buah pisang saja.”


“Baik, tolong tunggu sebentar.”

__ADS_1


Ethelyne menatap sekeliling yang tampak ramai seperti terakhir kali dia berkunjung, dia tersenyum manis. ‘Rasanya rindu sekali, padahal di dunia ilusi saat itu. Semua rakyat yang ada di sini sama, tapi entah kenapa. Aku merasa perasaan yang berbeda saat bersama mereka di dunia ilusi dan di dunia nyata, aku senang tapi juga sedih. Kira-kira, bagaimana keadaan kedua kakak Lyne di dunia ilusi? Meskipun aku yakin mereka tidak nyata, tapi entah kenapa. Hatiku tetap terasa sakit mengingat hari-hari bersama keluarga Lyne, dunia damai yang selalu kuimpikan. Kehidupan yang bahagia, dan tanpa sihir seperti yang kuinginkan … apa benar akan ada dunia yang seperti itu?”


__ADS_2