Queen Of The Demon World

Queen Of The Demon World
89. Endear


__ADS_3

Napas gadis berambut cokelat tampak tersengal-sengal, dia memegang pedang tumpul yang diarahkan ke naga besar di hadapannya.


“Anda cukup hebat karena bisa bertahan sampai detik ini.”


Ethelyne tersenyum tipis. “Begitulah,” katanya dengan senyum angkuh, padahal jelas sekali ada bekas akibat belati angin yang terus menyayat tubuhnya tadi. Bahkan gaun yang dikenakannya pun menjadi berantakan dan penuh lumpur. ‘Hah, aku tidak berharap dia begitu kuat. Aku tidak bisa beregenerasi ataupun menggunakan sihir sama sekali, mungkinkah dia menggunakan sihir penyegel?’


“Memang pantas disebut sebagai Ratu kegelapan, Anda masih bisa sombong ketika malaikat pencabut nyawa sudah ada di depan mata.”


Ethelyne hanya tersenyum menanggapi. ‘Sekarang, apa yang harus kulakukan?’


“Sepertinya Anda tidak protes meski tau kalau saya menggunakan sihir penyegel.”


“Tentu saja, lagipula. Sihir penyegel hanya bisa dilakukan oleh klan Naga hitam, dan juga. Tidak ada peraturan bahwa dilarang menggunakan kekuatan terlarang di sini.”


“Tidak disangka Anda ternyata cukup pintar ya.”


“Hah, tentu saja. Lagipula, sebelum menyerang musuh. Harus menyiapkan rencana yang matang dan harus mengetahui seluk-beluk dari musuh itu sendiri, benar bukan. Keturunan kelima dari naga putih. Endear.”


Naga di hadapannya tampak terdiam sesaat, naga itu tertawa terbahak-bahak. “Anda juga tau rupanya.” Dia membuka mulutnya, energi di sekitar berkumpul di hadapannya dan membentuk bola sihir berwarna hitam. “Waktu Anda sudah habis, sekarang. Anda akan menemui Dewa kematian.”


Ethelyne berdiri tegak tanpa rasa takut sedikitpun, dia menatap datar bola sihir hitam yang semakin membesar dan membesar.


Bola sihir itu langsung terbang menuju ke arah Ethelyne, saat bola sihir hampir melahap tubuh gadis itu. Sebuah barier yang mengeluarkan aura suci tiba-tiba muncul dan melindunginya.


“Ah, kau cukup terlambat ya. Murey.” Ethelyne menoleh ke kanan, tepatnya ke arah Murry yang terlihat sangat frustasi.


“Seharusnya kau berterima kasih karena sudah kutolong.” Murry mengalihkan pandangannya ke arah Naga itu. “Kau semakin bertambah besar ya, Endear.”


“Hoh, tidak kusangka akan bertemu kau di sini, Tuan Naga legendaris.”


Murry mengalihkan pandangannya ke arah Ethelyne yang tengah duduk bersila sambil bersedekap dada. “Bukankah kau itu terlalu santai?”


“Hump, biar saja. Lagipula, aku tidak akan bisa mati semuda itu juga kali.”


Murry menghela napas panjang, dia mengangkat tangannya ke arah Endear. “Penghakiman Dewa.”


Tiba-tiba, sebuah cahaya turun dari atas dan langsung menembus tubuh naga besar Endear. Dia langsung saja meledak dan membuat darah dan daging berciprat kemana-mana.


“Wow, boleh juga. Murey.”


“Namaku Murry.”


Tanpa memperdulikan ucapan Murry, Ethelyne berdiri dan menghilangkan barier yang mengurungnya. Dia berjalan ke arah sebuah bola yang penuh darah dan mengambilnya.


Ethelyne memutar-mutar bola itu dan tersenyum. “Sempurna!”


“Kau sedang apa? Kita harus ke dunia atas segera, ritual pembangkitan Lady Ethelyne akan dilakukan sebentar lagi.”


“Oh iya, aku lupa!” Ethelyne berdiri dan menghampiri Murry. “Ini,” katanya sambil mengulurkan bola penuh darah di tangannya.


“Apa?”


“Bukankah kau pernah bilang butuh banyak kekuatan untuk membangkitkan dia kembali, jadi gunakan inti jiwa ini. Aku tidak tau apa kekuatannya cukup, tapi jika jika dipertimbangkan dari kekuatan bola sihirnya tadi. Seharusnya kita bisa menggunakannya selama setengah tahun.”


Murry tertegun sejenak. “Jadi, kau mengambil resiko untuk membunuhnya agar bisa membangkitkan jiwa itu dengan cepat?”


“Ya, sebenarnya aku kebetulan jatuh ke ruang bawah tanah ini sih.” Ethelyne menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Tapi, aku memang berencana untuk membunuhnya dan membawa inti jiwanya. Yah, aku sudah mencarinya dalam waktu yang lama. Tapi tidak ketemu, tidak taunya dia bersembunyi di lorong ini.”


“Begitu ya.” Murry menarik tangan Ethelyne, keduanya menghilang dalam sekejap mata.

__ADS_1




“Bagaimana? Apa Yang Mulia sudah ketemu?” tanya Loreen khawatir, namun prajurit dan pelayan yang sudah berkeliling seluruh istana. Bahkan seluruh negara Li tidak dapat menemukannya.



“Sebenarnya Yang Mulia menghilang kemana? Apa dia benar-benar pergi ke dunia atas?” Loreen mondar-mandir karena khawatir sekaligus panik, dia sampai tidak memberitahu Meli karena takut terkena omelan. “Bagaimana ini? Aku harus bagaimana??”



“Yo, Loreen. Kau sedang apa?” tanya Mili yang tiba-tiba saja muncul di depan Loreen dan mengangetkan gadis itu.



“N-nona Mili, Yang Mulia. Yang Mulia menghilang entah kemana.”



“Oh, palingan dia pergi ke dunia atas untuk mengunjungi jiwa sucinya.”



“Tapi kenapa Yang Mulia tidak melapor terlebih dahulu? Jika seperti ini, saya khawatir Meli akan tau dan mengomeli kita berdua.”



“Sstth, pokoknya rahasiakan saja. Jangan bicarakan di depan Meli dan dia tidak akan mengetahuinya.”



“Benar juga, tapi. Bagaimana jika Yang Mulia tidak kembali dalam waktu dekat dan membuat Meli curiga?”




“Oh, jadi begitu rencana kalian.”



“Benar--” Mili tiba-tiba menjadi merinding saat mencerna suara yang muncul di belakangnya, bahkan Loreen yang berdiri di hadapannya pun tampak ketakutan. Dengan kaku, Mili menoleh ke belakang dan mendapati Meli yang tengah berdiri tak jauh dari mereka sambil bersedekap dada. Dia menelan salivanya gugup. “Me-meli.”



“Jadi, Yang Mulia tidak ada di istana saat ini?” tanya Meli sambil melangkah ke arah keduanya yang masih terdiam kaku.



“Anu, sebenarnya. Yang Mulia ke dunia atas--”



“Apa? Yang Mulia ke dunia atas?!”



“Eh, jadi kau tidak dengar ucapan kami tadi?” Mili melirik Loreen yang juga tampak kebingungan.

__ADS_1



“Tidak, aku hanya mendengar kalian berkata soal rahasia dan berbisik-bisik.”



Mili menelan salivanya, dia merutuki kebodohannya yang langsung saja mengatakan yang sebenarnya tanpa tau apa yang didengar Meli.



“Jadi, Yang Mulia pergi ke dunia atas. Benar?”



Loreen dan Mili kini seperti anak kecil yang ketahuan mencuri, keduanya hanya mengangguk kecil dengan kedua tangan di depan perut.



Meli memijat pelipisnya. “Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa Yang Mulia tiba-tiba ke dunia atas dan tidak memberitahu saya?”



“Kami tidak tau, kami hanya menerka-nerka kalau Yang Mulia ada di dunia atas.”



Tatapan Meli berubah dingin. “Jadi maksud kalian, keberadaan Yang Mulia tidak diketahui saat ini?”



Keduanya lagi-lagi mengangguk.



Meli berbalik dan berjalan pergi dengan tergesa-gesa.



Loreen mengalihkan pandangannya ke arah Mili. “Nona, bagaimana ini? Apa Meli akan membenci kita karena tidak memberitahunya lebih awal?”



“Tenanglah.” Mili menepuk pundak Loreen. “Berserah saja pada nasib.”



~~~♥~~~



“Semua persiapan sudah selesai kan?”



Para roh yang mempersiapkan semuanya mengangguk, Murry melirik William. Pria itu melangkah maju dengan bola sihir berwarna hitam-biru di tangannya, dia meletakkan bola sihir itu di tengah-tengah lingkaran sihir berukuran kecil dan keluar dari lingkaran.



William kemudian berdiri di samping Murry, kedua tangan mereka terangkat ke arah lingkaran sihir itu. Perlahan-lahan, energi suci mengalir ke seluruh tubuh mereka. Sebuah kabut putih bercahaya tampak keluar dari telapak tangan mereka dan membuat lingkaran sihir itu bercahaya.

__ADS_1



Ethelyne yang berdiri di samping para roh mengigit kukunya gugup. ‘Semoga berhasil, semoga berhasil. Semoga berhasil,’ batinnya terus layaknya membaca mantra.


__ADS_2