
Melihat kakek yang pingsan, Hua Chenran segera mengambil denyut nadi nya. Kemudian dia menghela nafas lega, kakek hanya pingsan karena rasa terkejut yang berlebihan.
Mungkinkah ada yang merangsang dengan sesuatu yang penting bagi kakek ini? Tapi tidak ada orang lain di sekitar sini, selain kami berenam. Tidak mungkin karena kedua bayi nya yang imut, kan?
Beberapa saat kemudian ada dua orang yang berpakaian hitam sedang menuju ke arah mereka dan mata kedua orang itu tertuju pada kakek yang sedang berbaring pingsan di bangku taman. Hua Chenran segera menebak identitas mereka berdua, yaitu Supir dan pengawal kakek itu.
Tetapi yang Hua Chenran tidak lihat adalah mata supir dan juga pengawal itu, sangat terkejut ketika melihat ke arah bayi Yi'er dan Yan'er. Karena ke dua orang melihat tuan tua Lan tidak sadarkan diri dan masih belum sadar, mereka berdua tidak berani gegabah untuk berbicara atau pun bertindak.
Hua Chenran melihat Supir dan juga pengawal itu hanya duduk diam dan memilih menunggu kakek itu bangun, jadi dia juga ikut menunggu sambil ikut bermain dengan Yi'er dan Yan'er di sekitar taman.
Tidak lama setelah itu, kakek itu perlahan membuka matanya dan pandangan mata nya itu tertuju pada Yi'er dan Yan'er, dalam gendongan nya Hua Chenran dan Lin Huayu.
"Oh ya gadis muda, siapa nama mu?"
Tanya kakek itu dengan harapan samar di matanya.
"Nama saya Hua Chenran"
Jawab Hua Chenran dengan tenang.
"Oh... berarti, gadis Xiao ran kedua bayi itu adalah keluaran mu?"
Tanya kakek itu yang masih dengan harapan di matanya, karena dia melihat wajah Hua Chenran yang juga memiliki sedikit kemiripan dengan kedua bayi yang sedang digendong.
"Maksudmu Yi'er dan Yan'er, mereka berdua adalah... adikku"
Jawab Hua Chenran dengan tenang.
Hampir saja dia mengatakan bahwa Yi'er dan Yan'er adalah anaknya, dan untungnya dia cepat mengganti nya dengan kata 'adikku'. Sumpah! Rasa nya sangat tidak nyaman menyebut bahwa dia adalah kakaknya, tapi untuk sekarang dia tidak boleh untuk mengekspos dirinya dulu.
Memikirkan hal ini membuat mata Hua Chenran mulai sedikit redup, lalu mata itu perlahan menjadi cerah kembali. Dia yakin pasti ada hari dimana dia berdiri tegak, dan dapat memenuhi identitas nya sebagai seorang ibu, bagi kedua bayinya Yi'er dan Yan'er di dunia ini.
Kakek itu jelas tidak tahu emosi batin Hua Chenran dan mata kakek tua itu terlihat bingung dan menjadi sangat penasaran, lalu dia bertanya lagi
"Adik kandung..?"
__ADS_1
"Tentu saja!"
Jawab Hua Chenran dengan cepat dan penuh keyakinan, dia tidak ingin ada orang yang curiga bahwa Yi'er dan Yan'er adalah bukan adiknya, seperti identitas yang sudah dipersiapkan oleh dirinya dan Sun Lili.
Lin Huayu, Jian Zi dan Jian Liu tidak bisa menahan untuk bersimpati, dan juga sedih kepada Hua Chenran.
Pasti sangat tidak nyaman untuk memberitahu bahwa anaknya adalah adiknya, hanya supaya kedua anak itu bisa mendapatkan identitas yang baik dan layak, juga agar tidak dihina oleh orang-orang. Diam-diam mereka bertiga hanya menghela nafas tidak berdaya.
Tapi tidak ada yang melihat mata kedua bayi itu juga dipenuhi kesedihan, mereka berdua saling melirik dan seolah-olah berkata
'jika saja aku sudah bisa berbicara aku ingin memanggil seorang ibu, bukan nya seorang kakak, tetapi aku tidak ingin jika ibu menjadi sedih'
Kemudian mata mereka berdua segera berbinar, dan tidak terlalu dengan orang-orang dewasa di sekitar mereka berdua, lalu mereka berdua melihat ke arah Hua Chenran dengan tatapan mata yang imut dan polos, berkata dengan celotehan keras dan segera terdengar
"Ma...." Kata Hua Junyi dengan susah payah, dan mencibir dalam hatinya, lidah kecil ini sangat menggangu nya.
"Ma....mama...."
Kata Hua Junyan dengan tangan kecilnya mengusap pipi Hua Chenran.
Dua suara seperti susu terdengar dan semua orang terdiam, mata mereka sekarang benar-benar terfokus ke arah Hua Junyi dan Hua Junyan.
Sepertinya mereka semua tidak salah dengar, bayi empat bulan berbicara yang sangat mengejutkan mereka. Walaupun itu hanya kata sederhana seperti mama, tetap saja terpana.
Hua Chenran yang mendengar suara kedua bayinya memanggil mama, langsung membuat dirinya sangat terharu dan langsung melupakan kesedihan barusan. Kemudian Hua Chenran mencium Hua Junyan dalam gendongannya beberapa kali.
Hua Junyi melihat dari jauh merasa tidak puas, dia juga ingin dicium oleh dan digendongnya oleh ibunya. Oke, salahkan dia yang tertua dan dia adalah bayi yang baik hati, jadi dia akan sedikit mengalah untuk adiknya yang bau.
"Ekhm.... bisakah kakek mengambil foto kedua bayi ini, mereka terlihat mirip dengan anak kakek yang sudah meninggal" kata kakek Lan itu dengan sedikit kesedihan dalam suaranya.
Tapi dalam hatinya dia merasa sangat bahagia, dia menemukan tiga cucu lainnya yang sangat baik. Memikirkan anaknya yang sudah meninggal, dia tidak bisa untuk tidak mengutuk. Entah kali ini anak perempuan siapa lagi yang dia provokasi, tapi setidak nya dia mengenali ke tiga cucu ini lebih awal, jika tidak bukankah dia akan menyesal seumur hidupnya?.
"Baiklah!" Kata Hua Chenran dengan tenang, karena tidak ada jejak kejahatan di mata kakek itu. Dia juga berpikir bahwa kakek ini juga sedikit menyedihkan, jadi dia setuju.
Kemudian pengawal itu mengambil ponselnya dan mengambil foto dari Hua Chenran dan Lin Huayu yang sedang mengendong dua bayi yang imut, dengan wajah yang ceria.
__ADS_1
Lan Huang tidak pernah merasa begitu bahagia dalam hidupnya, bukankah teman-temannya itu selalu saja memamerkan cucu perempuan mereka, lihat saja nanti! Tentu saja cucu perempuan nya adalah yang paling lembut dan terbaik. Juga kedua cucu nya yang bayi juga sangat pintar, di usia yang masih sangat muda.
"Kedua gadis ini, panggil saja kakek itu, kakek Lan" Kata Lan Huang dengan senyum bahagia yang terlihat jelas di wajahnya. Dia merasa kedua gadis sangat enak dipandang dan juga terlihat sangat lucu.
"Kakek Lan!" Teriak Hua Chenran dan juga Lin Huayu dengan senyum di wajah mereka berdua.
Secara alami Lan Huang sangat puas, seperti mendengar cucu perempuan memanggil dirinya sendiri. Setelah itu mereka berbicara beberapa patah kata lagi, kemudian Lan Huang bersama dengan supir dan pengawal pribadi nya pergi dari taman.
Sesampainya di dalam mobil, Supir dan pengawal pribadi Lan Huang tidak bisa membantu, tetapi tampak lebih penasaran lagi. Sepertinya kali ini tuan tua Lan ini mendapat tiga cucu baru, dan mereka berdua hanya melihat senyum bahagia dari wajah patriak keluarga Lan ini saja, mereka berdua sudah mengetahui nya.
Lan Huang tidak memperhatikan Supir dan pengawal pribadi nya,
dia sekarang sedang sibuk untuk mengirim foto yang diambil tadi, kepada dua cucunya yang bau dan tidak patuh itu.
#cucu perempuan yang lembut dan dua cucu bayi yang imut#
Juga di bawah foto yang sudah terkirim itu tertulis, 'tentu saja tidak seperti kedua cucu yang bau itu'.
Kemudian dia melihat ke arah pengawal pribadi yang duduk di samping nya dan berkata
"Periksa semua berita yang terkait tentang Hua Chenran"
Keluarga Lan,
Lan Yueshang yang sedang dalam suasana hati yang buruk, terus saja mengacak rambutnya beberapa kali. Dia masih teringat saat Hua Chenran dengan dua anak laki-laki lain, sedang makan bersama dengan bahagia dan juga terlihat sangat dekat.
Apakah ini mungkin adalah rasa yang dikatakan oleh orang yang sedang jatuh cinta, yaitu cemburu. Cemburu melihat gadis yang disukai bersama dengan anak laki-laki lain, apalagi saling tersenyum begitu bahagia.
Tiba-tiba saja dia menerima pesan, karena mungkin itu penting jadinya Lan Yueshang mengambil ponselnya dan melihat pesan apa itu.
#cucu perempuan yang lembut dan dua cucu bayi yang imut#
Melihat caption ini Lan Yueshang hanya tertawa kecil, dan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kakeknya yang selalu saja tidak bosan untuk memamerkan cucunya. Setelah itu dia langsung saja tertawa dengan terbahak-bahak, melihat kata-kata yang ditulis dibawah foto itu.
Lan Yueshang menjadi penasaran, siapa kali ini dipuji oleh kakeknya yang selalu ingin pamer cucu perempuan?
__ADS_1
Lalu dia segera mendownload foto yang dikirim oleh kakeknya, saat dia melihat foto itu, ponselnya segera jatuh dari tangan nya. Air mata mengalir dengan tiba-tiba dan Lan Yueshang merasa hatinya yang pertama kali berdenyut hari itu di hutan belakang sekolah, kini telah hancur berkeping-keping.