
Melihat bahwa Wei Qiang dan juga Lin Huayu sudah keluar, Wei Sichu menutup pintu bangsal. Kemudian dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang Hua Chenran.
Wei Sichu memegang dengan erat tangan Hua Chenran, ketika dia melihat ke arah kaki kirinya yang patah, rasa kecemasan dan sakit hati dengan jelas terasa di hatinya.
Dia sekarang tahu perasaan nya kepada Hua Chenran bukan lagi Tingkat suka terhadap teman, tetapi itu adalah cinta. Jika tidak! Mengapa saat melihat Hua Chenran melepas lentera kelinci itu ke langit dan juga mendengar kata-kata nya membuat hatinya sakit? Jika tidak! Mengapa saat Hua Chenran jatuh dari tebing dia merasa ketakutan yang tidak bisa dijelaskan? Dia juga merasa kosong dalam hatinya, jika dia memikirkan
Hua Chenran hilang dari hidup nya.
Tapi dia tidak akan terburu-buru untuk menyatakan perasaannya.
Sepintar Wei Sichu bagaimana dia tidak tahu? Dia dan Hua Chenran adalah jenis orang yang sama, yaitu selalu tersenyum dan lembut untuk teman dan keluarga, tidak terlalu peduli dan acuh tak acuh dengan orang asing. Jika dia menyatakan perasaannya sekarang, takutnya bukannya diterima malah dijauhi.
Dia tidak tahu apakah Hua Chenran juga punya perasaan yang kepadanya, jadi Lebih baik seperti ini, jadi teman nya saja. Dia tidak ingin hal-hal seperti perasaan ini justru membuat Hua Chenran menjauh darinya.
Tangan kiri Wei Sichu membelai pipi Hua Chenran, matanya memandang Hua Chenran jelas dipenuhi dengan kelembutan dan kasih sayang. Dia jelas merasakan jantungnya mulai berdegup kencang, wajahnya seperti nya memerah. Lalu Wei Sichu menundukkan kepalanya, semakin dekat dan dekat ke pipi Hua Chenran.
Tapi pada saat itu bulu mata Hua Chenran bergetar, perlahan dia membuka matanya dan dia melihat wajahnya Wei Sichu yang semakin dekat dengannya. Keduanya saling memandang, ada suasana ambigu diantara mereka berdua. Jarak keduanya semakin dekat, bibirnya Wei Sichu dan Hua Chenran hampir bersentuhan.
"Tok...tok...tok"
Suara ketukan pintu terdengar, baik Hua Chenran dan juga Wei Sichu, mereka berdua kaget. Wei Sichu dengan cepat kembali berdiri tegak dan melepaskan tangan Hua Chenran.
Wajah tampan seperti giok putih Wei Sichu, seperti diwarnai dengan lapisan pemerah pipi.
Sementara Hua Chenran yang tidak pernah mengalami hal seperti ini, wajah cantiknya memerah dan matanya masih sedikit bingung. Tapi dia segera memalingkan wajahnya, Hua Chenran juga merasa tidak nyaman dan malu.
Wei Sichu berjalan ke arah pintu dan membukanya, dia hanya melihat seorang wanita berusia sekitar 20 tahun yang bertanya kepada nya
"Apa benar ini dengan nama Wei Sichu?" Melihat usia anak laki-laki di depannya seperti nya benar.
"Iya, ada apa?"
Kata Wei Sichu agak acuh tak acuh.
"Ini makanan yang sudah dipesan oleh tuan Wei Qiang" kata pengantar makanan itu kepada Wei Sichu, lalu sambil memberikan makanan kepada Wei Sichu.
"Oh..." Kata Wei Sichu sambil terus mengambil makanan dari tangan pengantar makanan itu.
Setelah menutup pintu bangsal, dia segera duduk di sofa dan meletakkan box makanan di atas meja, lalu dia langsung membukanya. Melihat juga ada bubur ayam di dalam box, Wei Sichu tahu, bubur ini pasti untuk dimakan oleh Hua Chenran.
"Chenran! Ayo makan dulu"
Kata-kata Wei Sichu sedikit canggung dan malu. Mengingat kejadian yang tadi lagi, sekali lagi dia merasa wajah nya panas dan memerah.
__ADS_1
"Em...Ok"
Jawab Hua Chenran dengan tenang, yang sudah bisa menghilangkan rasa malunya, dia hanya berkata kepada dirinya sendiri, untuk melepaskan semua emosi yang rumit dan tidak relevan bagi kultivasi nya saat ini.
Tadi itu hanya kejadian yang tidak disengaja dan tidak terjadi apa-apa.
Wei Sichu mengambil bubur ayam dalam box, dia bermaksud untuk menyuapi Hua Chenran, memikirkan nya saja ini juga kesempatan, bukan?
Lengkungan kecil samar terlihat di wajah Wei Sichu.
"Aku bisa memakannya sendiri"
Kata Hua Chenran dengan dingin.
Tapi dalam hatinya dia merasa sedikit malu entah kenapa? Padahal dia sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang terjadi tadi.
Suara dingin Hua Chenran, seperti menuangkan seember air dingin kepadanya, semua antusias nya menghilang dan hanya kekecewaan juga rasa sakit di hatinya yang tersisa.
Hua Chenran kemudian duduk dan mengambil bubur ayam dari tangan Wei Sichu, lalu kemudian dia mulai makan dengan lahap.
Wei Sichu kembali duduk di sofa dan terus memakan makanan nya, tapi matanya sesekali melihat ke arah Hua Chenran yang sedang makan. Tadi hampir saja dia menciumnya, Hua Chenran langsung terlihat dingin lagi kepadanya, bagaimana jika dia nanti mengatakan bahwa dia mencintainya.
Bukankah dia akan menjauhi nya?.
Dia tidak tahu kapan dia mulai jatuh cinta pada Hua Chenran, mungkin saja saat pertama kali bertemu di taman sekolah, dia sudah berbeda kepada Hua Chenran. Biasanya dia tidak pernah berbicara baik dengan orang asing, ataupun orang yang baru saja dia kenal, tapi dia awalnya tidak tahu kenapa dia merasa nyaman saat berbincara dengan Hua Chenran?
Mungkinkah ini takdir? Nasib?
Sepertinya dia harus mulai percaya tentang takdir ini sedikit!
Mulai dari sekarang dia akan mulai mengejar takdirnya dengan sabar.
Senyum cerah tiba-tiba muncul di wajah Wei Sichu, Ketika memikirkan mengejar Hua Chenran dan matanya seperti memperhitungkan sesuatu.
Selesai memakan bubur ayam dengan lahap, Hua Chenran mengambil air dan tanpa sengaja melihat senyum cerah di wajah Wei Sichu. Sudut bibir Hua Chenran bergerak-gerak, dan dia tiba-tiba merasa akan diperhitungkan oleh Wei Sichu. Dia menggelengkan kepalanya dengan ringan, lalu Hua Chenran menyipitkan matanya dan segera meminum airnya.
Wei Sichu yang baru sadar dari lamunannya dan rencananya untuk masa depan, sedikit terkejut Ketika melihat Hua Chenran menatapnya dengan mata yang menyipit. Dia menjadi agak malu, apakah Chenran
melihat pikirannya ya? Wei Sichu menjadi sedikit gugup.
"Tok....tok.....tok..."
Suara ketukan pintu sekali lagi terdengar dan Wei Sichu bangun dari sofa, dia berjalan ke arah pintu dan mulai membuka nya dengan sedikit kekesalan di wajahnya, lalu ketika dia membuka pintu nya dia melihat itu adalah Wei Qiang dan Lin Huayu, ada sedikit senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Sichu bagaimana dengan Xiao ran?
Apakah dia sudah bangun?"
Tanya Lin Huayu berturut-turut
dengan rasa khawatir di hatinya.
"Chenran sudah bangun"
Kata Wei Sichu dengan tenang.
"Baguslah! Ini bagus!"
Akhirnya batu yang menggantung di hatinya terjatuh, rasa lega segera terasa di dalam hati Lin Huayu.
Lalu Lin Huayu mulai memanggil Hua Chenran dengan keras
"Xiao ran...!! Akhirnya kamu bangun"
dan dia pun juga langsung memeluk Hua Chenran, dengan air mata yang mulai mengalir.
"Sudah... sudah..! Bukankah aku baik-baik saja sekarang?"
Kata Hua Chenran dengan lembut, sambil menepuk punggung Lin Huayu untuk menenangkan nya.
"Tapi.... tetap saja... wow...."
Kata Lin Huayu dengan suara yang agak tercekat, bagaimanapun tidak?
Temannya jatuh ke tebing setinggi hampir 200 meter didepannya, jadi coba bayangkan bagaimana perasaan nya? Sebelum Hua Chenran bangun, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah mimpi belaka.
Hua Chenran tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya menepuk punggung nya dengan lembut dan membuat Lin Huayu tenang.
Wei Qiang dan Wei Sichu hanya duduk di sofa dan melihat saja, karena memang tidak ada yang bisa mereka berdua lakukan.
Beberapa saat kemudian, Lin Huayu sudah mulai cukup tenang dan berkata kepada Hua Chenran
"Xiao ran! Aku sudah menelepon Nyonya Sun tadi, katanya malam ini kamu akan Langsung dipindahkan ke rumah sakit LinCheng di kota A"
"Wah.... pengaturan yang bagus, aku memang merasa lebih nyaman jika di kota A"
Hua Chenran berkata dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1