
Wajah Dai Yuping tampak bingung dan bodoh, dia menatap ke arah Hua Chenran di depannya dengan getir.
Dia tidak bisa menahan untuk tidak bertanya kepada Hua Chenran
"Bagaimana? Bagaimana kamu bisa tahu tentang penyamaran ku?"
Namun jawaban Hua Chenran seperti biasanya, sombong dan dingin
"Kenapa aku harus memberitahu kamu? Hanya membuang waktu dan ludahku saja!"
"Ka..kamu!!!"
Dai Yuping meraung dengan penuh amarah, dia sekali lagi memuntahkan seteguk darah, keluar dari mulutnya.
Dai Yuping bergumam dan berpikir,
Hua Chenran saat ini Berbeda! Sangat berbeda dengan saat dia di Desa Dachen. Dulu dia baik dan sangat sederhana, kata-katanya juga lembut.
Tetapi sekarang semua kata-kata yang keluar dari mulutnya itu beracun. Juga darimana Hua Chenran bahkan bisa berkultivasi? Ini sangat mengejutkannya, jika tuan tahu? Bukankah dia akan mati. Memikirkan nya saja membuat hatinya bergidik.
Tapi sepertinya Dai Yuping tidak ingat, Dia sudah berada di tangan Hua Chenran sekarang. Bukankah hidupnya tidak bisa lebih baik daripada kematian.
Melihat pikiran Dai Yuping yang mengembara, dia kemudian segera mengeluarkan tali dan mengikat tangan dan kaki Dai Yuping. Lalu dia memasukkan nya ke dalam ruang Xuantian, di tempat penyiksaan.
Bibir kecil merah muda Hua Chenran membentuk sebuah seringai licik dan indah, seperti telah mendapatkan lokasi mangsanya.
Dia kemudian memakan Gathering pil, setelah wajah pucat itu kembali memerah, Hua Chenran segera berlari dengan ke hutan yang lebih dalam dengan sangat cepat. Jejak ibu Gu nya semakin semakin jelas, kali ini dia pasti bisa menangkap musuhnya ini.
Di kedalaman hutan, terdapat sebuah gubuk bambu yang penuh dengan aura spiritual di sekitarnya.
Dalam Gubuk terdapat seorang pria tampan yang tampak berusia sekitar 26 tahun, pria itu punya tato bunga manzhushahua di punggung tangan kirinya, dia sedang duduk bersila sambil memejamkan matanya.
Tiba-tiba matanya terbuka, di mata itu terdapat keterkejutan dan juga rasa tidak percaya dan khawatir.
"Sialan Gadis kecil itu sekarang sudah ditemukan! Pion nya yang bagus"
Kata nya dengan wajah muram.
__ADS_1
Ini karena master marah kepadanya sebab pada saat dia mengatakan bahwa Hua Chenran sudah mati, tetapi ternyata kartu giok jiwanya masih belum retak, melainkan itu bersinar semakin terang, jadi master marah dan menghapus Kultivasi nya dan melemparkannya ke bumi lagi.
Kekuatan nya saat ini tidak sekuat dulu, sekarang hanya pada tahap pembangunan yayasan lapisan 1.
Jika dia melawan Hua Chenran tidak ada kesempatan untuk menang, dia sangat marah karena Dai Yuping itu sangat impulsif, karena langsung untuk membunuh Hua Chenran, tanpa rencana yang matang. Sekarang rencana bagus yang telah dia susun, hancur berantakan.
Dia merasa Hua Chenran pasti akan segera ke sini, jadi dia memutuskan untuk membunuh anak cacing Gu yang ada di tubuh Dai Yuping. Ini juga sangat berdampak besar padanya, dia akan menderita luka dalam yang serius.
Dia kembali menutup matanya dan dalam sekejap dia melihat cacing berwarna hitam, yang agak besar di sebelah dantiannya dan dia dengan kejam membunuh ibu cacing Gu yang telah dipelihara oleh nya selama setahun.
Seketika ada banyak darah keluar dari mulutnya, dia menderita rasa sakit di seluruh organ dalam tubuhnya. Kemudian dia dengan cepat pergi, menghilang dari gubuk bambu ini seperti bayangan.
Sementara itu Hua Chenran yang sedang berlari, dia segera berhenti berlari. Keningnya mengerut dan wajahnya dipenuhi oleh amarah, matanya melihat ke arah hutan menjadi lebih dingin lagi. Dia menemukan bahwa, jejak orang yang membunuhnya dan orang tuanya, telah menghilang begitu saja.
Tidak punya pilihan lain, akhirnya Hua Chenran memutuskan untuk maju ke hutan yang lebih dalam lagi.
Tetapi Hua Chenran segera kembali menghentikan langkah kakinya, dia mendengar ada yang memanggilnya dengan keras dan penuh kesedihan.
Jadi Hua Chenran segera berlari dengan cepat menuju ke tempat dia pertama kali jatuh, untuk menghindari kecurigaan publik, dia lalu menggertakkan giginya memilih mematahkan kaki kiri nya sendiri. Kemudian Hua Chenran langsung berbaring di atas tanah, seolah-olah dia pingsan setelah jatuh dari tebing setinggi hampir 200 meter.
Wei Sichu, Lin Huayu dan Wei Qiang juga sudah tiba di dasar tebing dan tentu saja kekhawatiran, ketakutan dan rasa bersalah terlihat jelas di mata dan wajah mereka bertiga.
"Chenran!!!"
"Chenran!!!"
"Xiao ran...!!"
Tiga puluh menit kemudian, polisi menemukan Hua Chenran yang sudah tergeletak di tanah dengan darah di seluruh tubuhnya.
"Nona Hua sudah ditemukan!"
"Hua Chenran sudah ditemukan!"
Rumah sakit,
Wei Sichu, Lin Huayu dan Wei Qiang berkumpul di depan ruang operasi, dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Ketika dokter keluar dari ruang operasi, mereka bergegas untuk bertanya keadaan Hua Chenran sekarang.
"Dokter bagaimana dengan Xiao ran?"
Tanya Lin Huayu dengan penuh kecemasan dan matanya masih bengkak karena banyak menangis.
"Ini tidak apa-apa sekarang, operasi berjalan lancar. Untungnya cepat dibawa ke rumah sakit, dan tulang kaki yang patah masih bisa kembali berfungsi seperti semula"
Kata Dokter dengan serius.
"Terimakasih dokter"
Kata Wei Sichu dengan penuh syukur.
"Ya, sama-sama"
Jawab dokter kembali.
Setelah berbicara beberapa patah kata lagi, mereka bertiga masuk ke dalam bangsal rumah sakit dan melihat Hua Chenran dengan wajah pucat, dan masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Tiba-tiba saja perut Lin Huayu berbunyi, jadi dia segera berkata
"Ayo makan dulu! Jika tidak nanti kita tidak punya energi sama sekali, untuk merawat Xiao ran"
"Kalian berdua pergi dulu, aku akan makan nanti saja! Aku masih ingin menunggu Chenran bangun lebih dulu di dalam bangsal"
kata Wei Sichu dengan tenang, tapi ada lebih banyak nada kesedihan yang terdengar.
Wei Qiang tahu jika sepupunya ini sudah memutuskan, pasti akan sulit untuk membujuk nya. Jadi karena itu Wei Qiang segera berkata
"Baiklah! Kamu tunggu di sini di dalam bangsal, nanti kami berdua akan memesan makanan untukmu disini, ayo Huayu aku sudah sangat kelaparan sekarang"
"Ok ayo pergi"
Kata Lin Huayu dengan tenang sambil terus mengelus perutnya yang sedang kelaparan.
Melihat bahwa Wei Qiang dan juga Lin Huayu sudah keluar, Wei Sichu menutup pintu bangsal. Kemudian dia menarik kursi dan duduk di samping ranjang Hua Chenran.
__ADS_1