
Sebuah mobil Porsche hitam terpakir di belakang sekolah menengah Luocheng.
"Tuan muda, sekarang sudah sampai di sekolah menengah Luocheng"
Kata Ji Lang dengan tenang, tanpa ekspresi apapun di wajahnya.
Pintu mobil terbuka, dari mobil keluarlah seorang remaja berusia Sekitar 15 tahun.
Remaja laki-laki di dalam mobil Porsche akhirnya menunjukkan penampilannya. Dia memiliki garis bentuk sempurna dari fitur wajah yang tampaknya dibuat dengan hati-hati. Sepasang mata biru yang tajam dan dingin membuat orang jatuh ke dalamnya tanpa sadar dan tidak dapat melepaskan diri. Seragam sekolah yang dipakainya ini memancarkan temperamen yang dingin dan elegan dari tubuhnya.
Kemudian remaja laki-laki itu melompati tembok belakang sekolah, sambil mengecek bahwa tidak ada orang sama sekali.
Jadi dia langsung melompat dengan hati-hati, lalu dia melihat ke arah gerbang sekolah menengah Luocheng.
Ada kilatan kebencian yang dalam di mata birunya yang dingin.
"Seperti ibu, seperti anak yang sama-sama penggoda"
Kata Lan Yueshang dengan sinis.
Setelah mengatakan itu dia berjalan ke arah klub seni beladiri. Dia tahu sekarang sudah jam masuk, jadi dia memilih untuk pergi ke klub seni beladiri sampai jam pelajaran pertama selesai. Penggoda itu pasti sudah masuk ke dalam kelas, sangat memuakkan!!.
Kelas 1 inti
Ketika mereka berlima masuk ke dalam kelas inti, teman sekelas yang lainnya sudah duduk dengan rapi.
Jadi mereka berlima juga berjalan dengan cepat dan segera duduk di bangku masing-masing.
Hua Chenran melihat ke arah Wei Sichu dengan perasaan sedikit bersalah, ya... cuma sedikit!.
"Sichu, bagaimana keadaanmu sekarang?"
Tanya Hua Chenran khawatir.
"Sedikit lebih baik, setidaknya sudah bisa berjalan normal seperti biasanya" jawab Wei Sichu dengan wajah acuh tak acuh. Dia sekarang sedikit marah kepada Hua Chenran, kenapa baru sekarang menanyakan kabarnya? Kenapa tidak semalam?
Hua Chenran mencondongkan kepalanya dekat telinga Wei Sichu, kemudian Hua Chenran berbisik pelan di telinga Wei Sichu
"Sichu, maaf"
Nafas hangat berhembus di sekitar telinganya, tubuh Wei Sichu sedikit kaku dan ekspresi wajahnya menjadi agak kebingungan dan konyol.
"Ya"
Jawab Wei Sichu di tengah kebingungannya, tapi matanya terus menatap Hua Chenran yang sedang menulis.
Senyum kemudian muncul di wajah Hua Chenran dan dia menghela nafas lega, setelah mengetahui Wei Sichu memaafkan dirinya.
Tidak ada yang melihat apa yang dilakukan oleh Hua Chenran, karena itu hanya beberapa detik. Tapi mata tajam Lin Huayu masih melihat semua yang terjadi.
"Sichu... Sichu..., Guru sudah didepan. Kemana kamu menatap?"
Kata Hua Chenran dengan pelan, supaya tidak terdengar oleh guru.
"Oh... ya, guru di depan"
Kata Wei Sichu dengan bingung, segera matanya menjadi lebih jernih ketika mendengar guru di depan.
Akhirnya mata Wei Sichu kembali fokus memperhatikan penjelasan dari guru, tapi pikirannya melayang.
'sepertinya tadi dia terkena sihir, apakah ini yang namanya sihir wanita?'
Jika Hua Chenran bisa mendengar pemikiran Wei Sichu, mungkin dia akan menjawab
'Sihir Wanita Kepala nenekmu!!'
Murid kelas inti fokus mendengar penjelasan dari guru Li, tidak lama kemudian pelajaran berakhir. Mereka semua tidak keluar dari ruang kelas dulu, karena masih ada satu lagi pelajaran sebelum bel istirahat.
5 menit kemudian, Guru Ma masuk dengan pelajaran matematikanya.
Skip Bel istirahat....
"Ayo ke kafetaria, aku sudah sangat lapar" kata Yun Xi dengan suara yang manja.
"Sial...Yun Xi, suara... suaranya di cek ulang, ada kesalahan sepertinya"
Kata Mu Yaning dengan wajah penuh amarah. Darah tinggi ku.....
Suara manja Yun Xi adalah yang paling dan paling membuat orang merinding.
"Cek..cek..1..2..3, pengumuman..e.."
Kata Yun Xi mencoba mengecek apakah ada kesalahan dalam suaranya tadi. Setelah mengecek sepertinya tidak ada kesalahan.
"Tidak ada yang salah sepertinya"
__ADS_1
Kata Yun Xi dengan suaranya yang manja sekali lagi...
"Pisau...mana pisau ku"
Teriak Mu Yaning dengan keras, sambil mencari pisau disekitarnya.
Sementara itu Lin Huayu dan Yan Jina berusaha untuk mencegah terjadinya kejadian yang tidak pantas dilihat oleh anak-anak.
"Sabar.... Ningning kamu harus sabar"
Kata Yan Jina berusaha menasehati.
"Bersabarlah Yaning....ini adalah ujian, bertengkar dengan menggunakan pisau itu tidak baik. Seharusnya kamu menggunakan sebuah pedang"
Tambah Lin Huayu sekali lagi untuk menasehati Mu Yaning.
"Eh... jadi ke kafetaria tidak?"
Tanya Yun Xi dengan suara yang keras dari balik pintu. Ternyata emosi teman yang agak pendiam itu lebih menakutkan.
"Lepaskan!...aku...aku harus pergi ke Kafetaria, cacing-cacing di perutku sudah saatnya diberi makan"
Kata Mu Yaning dengan keras.
Hampir lupa tadi pergi ke kafetaria untuk makan.
"Aku kira jadi berantem tadi"
Kata Yan Jina penuh dengan penyesalan.
"Rugi lah, kita berdua menghalangi Yaning tadi"
Tambah Lin Huayu, dengan ekspresi wajah seperti orang yang dirugikan.
"Lebih baik ke kafetaria sekarang untuk mengisi perut" kata Yun Xi tiba-tiba dengan raut wajah serius.
"Pergi...pergi ke kafetaria"
Lin Huayu bernyanyi kecil. Melihat Hua Chenran dan Wei Sichu sedang mengobrol, Lin Huayu tersenyum dan berkata kepada Hua Chenran
"Xio ran, kami ke Kafetaria dulu..bye"
"Eh...Huayu... kamu"
Belum selesai Hua Chenran berbicara, Lin Huayu dan yang lainnya sudah pergi keluar dari kelas Inti. Padahal dia sudah menyiapkan bekal untuk dirinya dan Lin Huayu.
Lalu Hua Chenran melihat ke arah Wei Sichu di sampingnya.
"Sichu, ayo kita makan bersama"
Ajak Hua Chenran kepada Wei Sichu.
"Baiklah! Aku juga sudah kelaparan sekarang" jawab Wei Sichu sambil tersenyum kecil. Dia senang Chenran mengajaknya untuk makan bersama.
Hua Chenran mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya. Melihat warna kotak makannya, Hua Chenran hanya bisa meratapi nasibnya.
Kenapa warna merah muda ini lagi?
Rasa frustasinya menghilang setelah melihat isi kotak makan.
Sandwich, ayam goreng, telur gulung dan nasi goreng.
Mata Wei Sichu berbinar seketika setelah melihat ayam goreng. Tangannya bekerja lebih cepat, dalam sekejap saja ayam goreng sudah
ada di tangan Wei Sichu.
Hua Chenran menatap tajam ke arah Wei Sichu dan berkata
"Makanlah sebanyak yang kamu mau,
Hari ini aku membawa lebih banyak"
"Tentu saja, aku sangat kelaparan sekarang" kata Wei Sichu sambil memakan nasi gorengnya. Dia mengira Hua Chenran akan marah tadi, karena menatap tajam
ke arahnya.
Kafetaria lantai 1,
"Kenapa tidak mengajak Chenran juga ke kafetaria?" Tanya Yun Xi heran.
"Xio ran membawa bekal nya sendiri, jadi karena itu aku tidak mengajaknya ke Kafetaria"
Jawab Lin Huayu sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana dia bisa mengajak Xio ran? Justru dia ingin Xio ran dan Wei Sichu berduaan di kelas agar mereka menjadi lebih dekat.
"Bagus sekali membawa bekal, jadi tidak perlu untuk mengantri dalam membeli makanan" kata Mu Yaning dengan apresiasi di wajahnya.
__ADS_1
"Hai.... kalian besok ada rencana untuk membawa bekal ke sekolah?"
Tanya Yun Xi tiba-tiba saja.
"Boleh juga! Kita bisa makan bersama-sama di dalam kelas dan juga tidak perlu mengantri lagi" Kata Yan Jina sambil memberikan dua jempol untuk Yun Xi.
"Wah.... boleh juga itu, aku setuju"
Kata Lin Huayu sambil mengambil botol air yang ada di depannya.
"Ide yang bagus"
Tambah Mu Yaning lagi.
Saat Lin Huayu sedang meminum air, tanpa sengaja dia melihat sesuatu yang lewat dan segera tersedak.
"Batuk....batuk....."
"Huayu, kamu kenapa?"
Tanya Yan Jina di sampingnya dengan kekhawatiran sambil menepuk punggung Lin Huayu.
"Itu... batuk, aku tidak apa-apa. Hanya tersedak saat minum air"
Jawab Lin Huayu untuk meredakan kekhawatiran mereka bertiga.
Lin Huayu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi, sangat tidak mungkin!! Dia tidak percaya!!!
Mungkin saja matanya yang salah, karena melihat foto Leng Yuesheng tadi yang ada di ponsel Yun Xi.
Lin Huayu pun melanjutkan untuk memakan makanannya.
Ketika tengah memakan makanannya, Lin Huayu melihatnya sekali lagi berjalan ke kafetaria lantai 2. Dia pun menyemburkan makanan yang sedang dimakannya ke Mu Yaning yang duduk di depannya.
"Hai.... menjijikkan! Huayu ada apa denganmu?" Tanya Mu Yaning marah dengan nasi di pipi dan rambutnya.
"Maaf....Yaning! Aku tidak sengaja, sumpah!. Itu karena aku tidak sengaja melihat laki-laki cantik tadi"
Jawab Lin Huayu dengan jujur sambil mengangkat kedua jarinya.
"Ya... sudah, aku memaafkan kamu"
Kata Mu Yaning dengan tenang, lalu dia melihat ke arah Yan Jina
"Jina temani aku ke toilet dulu sebentar, untuk membersihkan ini"
"Ok, kami pergi ke toilet dulu"
Kata Yan Jina.
"Ya"
Jawab Lin Huayu dan Yun Xi.
Setelah Mu Yaning dan Yan Jina pergi ke toilet, wajah gosip Yun Xi tiba-tiba muncul begitu saja.
"Huayu, siapa laki-laki cantik yang kamu lihat? Dimana dia?"
Tanya Yun Xi berturut-turut.
"Aku tidak tahu, aku hanya melihat dia naik ke Kafetaria lantai 2 tadi"
Jawab Lin Huayu sambil menggelengkan kepalanya.
"Katakan saja ciri-cirinya padaku, mungkin aku mengenalnya, juga mungkin saja dia juga merupakan rumput sekolah"
Kata Yun Xi dengan raut wajah penasaran, siapa laki-laki cantik yang dilihat oleh Lin Huayu?
"Baiklah aku akan mengatakannya"
Kata Lin Huayu, lalu melanjutkannya
" Laki-laki cantik, tinggi tubuhnya mungkin sekitar 180 cm, tubuhnya proporsional.... sangat tampan"
"Stop....stop!! Huayu katakan saja ciri-ciri dari wajahnya"
Kata Yun Xi dengan wajah tampak tidak berdaya. Jika seperti itu Lin Huayu mengatakan ciri-cirinya sampai tahun monyet pun, dia tidak akan pernah bisa mengetahui siapa laki-laki cantik itu.
"Rambut hitam pendek, wajah yang cantik dan fitur wajahnya dibuat dengan hati-hati. Matanya biru"
Kata Lin Huayu dengan suara yang pelan.
Yun Xi tersenyum cerah dan matanya menjadi berbinar, setelah mendengar ciri-ciri dari laki-laki cantik yang dilihat oleh Lin Huayu.
"Huayu!! Kamu sangat beruntung untuk bisa melihatnya"
__ADS_1
Teriak Yun Xi dengan antusias.