
Di Kafetaria lantai 1
Mereka bertiga mengantri selama beberapa menit, lalu mereka bertiga mulai memilih makanan favorit yang ingin mereka makan.
Lalu mereka memilih meja yang tampak tidak terlalu berisik karena suara beberapa orang.
"Jika boleh tahu, Sichu selama ini kamu sakit apa?"
Hua Chenran merasa sayang sekali untuk tidak pergi ke sekolah pada hari pertama.
"Itu hanya demam biasa"
Jawab Wei Sichu acuh tak acuh.
"Xio ran! Jian Zi mengirim foto Yi'er dan Yan'er yang sedang tersenyum di Weibo"
Kata Lin Huayu dengan keras. Lalu kemudian Lin Huayu menutup mulutnya, karena hampir saja dia akan mengatakan ibu baptis.
"Perlihatkan padaku"
Setelah mengatakan itu Hua Chenran langsung mengambil ponsel Lin Huayu.
"Keduanya sangat imut"
Inilah yang merepotkan dari para gadis-gadis, terlalu heboh dengan hanya foto artis nya saja.
"Siapa yang di foto? Kalian berdua sekarang terlihat seperti fan fanatik"
"Tentu saja harus fanatik"
Kata Hua Chenran dengan bangga, lalu dia memperlihatkan foto ke 2 bayinya pada Wei Sichu.
"Bayi? Sedikit mirip denganmu"
Kata Wei Sichu tanpa sadar.
"Keduanya adalah adikku"
Ketika pada kata terakhir, Hua Chenran sedikit tercekat saat mengatakannya.
"Sepertinya aku pernah melihat wajah orang yang mirip ke dua bayi
di foto ini, tapi dimana?"
Saat dia pergi ke ibukota sebulan yang
lalu, sepertinya dia pernah melihat seorang yang mirip dengan bayi ini.
Alarm di hati Hua Chenran menyala, inilah hal yang sangat ditakutkan dan juga dinantikan olehnya.
Bagaimana jika yang tidur dengannya, benar-benar orang tua.
Jika itu benar, dia merasa sangat menjijikkan karena di benua Surga Suci, pelamarnya adalah pemuda dengan kekuatan tingkat tinggi dan beberapa calon patriak. Tapi disana kuno dan mengandung konsep selir, jadi Hua Chenran tidak akan pernah percaya dengan janji mereka, yang hanya akan memiliki dia sebagai istri utamanya. Bahkan jika dia bisa menjaga janji setianya, tetap saja para tetua tidak akan membiarkan putra keluarga mereka, kurus keturunan.
Sebenarnya Hua Chenran juga ingin bertemu dengan binatang buas itu dan menghancurkan jiwanya berkeping-keping, karena orang itu yang menyebabkan dia hamil.
"Dimana kamu pernah melihatnya?
Aku tidak tahu kedua adikku bisa mirip dengan orang yang kamu kenal"
Tanya Hua Chenran dengan santai.
Tapi hatinya sudah memaki leluhur ke 18, laki-laki yang memperkosanya.
Lin Huayu di sampingnya hampir berteriak, saat mendengar
Hua Chenran kembali bertanya tentang hal itu. Sebenarnya Lin Huayu juga ingin tahu, siapa ayahnya? Siapa yang membuat
Xio ran hamil? Tapi percuma penasaran, bahkan Hua Chenran sendiri tidak tahu siapa itu.
"Sepertinya di ibukota, tapi aku tidak terlalu yakin"
Kata Wei Sichu sambil mengernyitkan keningnya.
"Ibukota!"
Hua Chenran bergumam dengan suara dingin.
__ADS_1
"Xio ran tenangkan dirimu"
Bisik Lin Huayu di sampingnya.
"Kamu benar Huayu"
Balas Hua Chenran dengan tenang.
Huayu benar, dia tidak boleh terlalu impulsif ketika mendengar tentang laki-laki brengsek itu lagi.
Kejadian setahun yang lalu di penginapan kota Anxi, tidak ada ingatan yang jelas saat dia mabuk.
Jadi otomatis, dia tidak bisa mengingat siapa yang melakukan hal-hal itu padanya.
"Chenran kamu kenapa?"
Tanya Wei Sichu tanpa sadar, saat melihat wajah Hua Chenran yang agak pucat.
Wei Sichu pun bingung dengan tindakan dan kata-katanya sendiri hari ini, kapan dia pernah menjadi orang yang khawatir kepada orang lain, apalagi dengan gadis di depannya, yang baru saja ditemui.
"Tidak apa-apa, ini hanya biasa periode bulanan wanita"
Kata Hua Chenran dengan suara yang kecil dan terlihat malu.
"Oh"
Respon Wei Sichu agak acuh, tapi sebenarnya telinganya memerah.
Dalam hatinya dia berpikir, dapatkah gadis ini memberitahukan laki-laki dengan santai tentang periode bulanannya? Sekarang dia merasa sangat malu tanpa alasan.
Wei Sichu terlalu banyak berpikir, sebenarnya Hua Chenran hanya berpura-pura pemalu, supaya tidak dicurigai adanya kelainan tadi.
Juga Hua Chenran tidak menganggap Wei Sichu sebagai laki-laki, dia hanya menganggap Wei Sichu sebagai seorang anak-anak. Karena perbedaan umur antara mereka berdua sangat jauh, Hua Chenran selalu merasa umurnya adalah lebih dari 300 tahun.
"Ayo ke ruang pengobatan sekolah"
Kata Wei Sichu dengan serius.
"Tidak apa-apa! Ini biasa nanti juga akan segera membaik"
"Xio ran selalu seperti ini, lebih baik kita sekarang kembali ke kelas"
Ada-ada saja memang, Lin Huayu merasa jantungnya hampir keluar dari tubuhnya. Untungnya Xio ran
tidak lagi mempedulikan tentang laki-laki brengsek itu, jika tidak
Lin Huayu tidak bisa membayangkan
meja ini menjadi bubuk.
Lin Huayu kembali teringat ketika
sudut meja di rumah Sun berubah menjadi bubuk, hanya dengan satu kali genggaman tangan Hua Chenran.
Sekarang Lin Huayu merasa temannya sangat tampan, jika saja Hua Chenran berakting dalam film.
Pikiran Lin Huayu sekarang pergi kemana-mana, bahkan tidak bisa mendengar panggilan Hua Chenran.
Ada apa dengan Huayu? Pasti sekarang temannya sedang punya pikiran yang aneh lagi. Jadi dia mengguncang bahu Lin Huayu pelan-pelan, tapi tidak ditanggapi.
Kemudian dia sedikit mencubit
pipi Lin Huayu.
"Eh..Ayam...ayam..." Suara Lin Huayu agak keras, jadi beberapa orang yang dekat dengan meja mereka bertiga, menoleh untuk melihat.
Tersadar dari lamunannya, Lin Huayu
melirik Hua Chenran dan berkata seolah-olah tidak terjadi apa-apa
"Ayo pergi ke kelas sekarang"
"Ayo" lalu dia melihat ke arah Wei Sichu dan bertanya "Sichu bersama?"
Tanya Hua Chenran, karena mungkin anak laki-laki biasanya, suka bermain basket ataupun bola voli saat sedang istirahat, jadi Hua Chenran pikir
Wei Sichu juga pasti akan pergi bermain basket bersama temannya.
__ADS_1
"Baiklah"
Jawaban Wei Sichu masih selalu membosankan seperti sebelumnya.
Keluarga Leng, A City.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan dekorasi barang mewah, seorang anak laki-laki sedang berbaring malas di sofa, sambil bermain game di ponselnya.
Anak laki-laki itu mempunyai fitur wajah yang terlihat lembut, alis pedang, mata coklat persik, hidung tinggi, bibir kecil kemerahan dan rambut coklat agak keriting.
"Hachihh..."
"Kenapa hari ini aku banyak sekali bersin? Sepertinya ada banyak yang berbicara buruk tentang ku hari ini"
Kata Leng Yuesheng sambil terus bermain game, tapi wajahnya masih terlihat gelap dan agak kesal.
Kelas inti,
Tidak lama setelah mereka bertiga kembali ke dalam kelas, bel masuk berbunyi.
Semua murid kelas inti menunggu guru, dengan patuh di dalam kelas.
Saat guru masuk, semua murid mulai mengeluarkan buku pelajarannya.
Mulai hari ini, ketua kelas inti ini kembali ke Wei Sichu seperti yang
disepakati sebelumnya.
Lama kemudian pelajaran selesai, dan tiba-tiba ada pemberitahuan, untuk guru pelajaran berikutnya tidak datang ke sekolah karena sedang dalam keadaan sakit.
Segera setelah berita itu di umumkan oleh Hua Chenran, seluruh kelas inti segera bersorak dan keluar dari ruang kelas dengan penuh semangat.
"Huayu kamu juga pergi keluar?"
Tanya Hua Chenran dengan wajah sedikit penasaran.
"Ya, latihan klub tari. Oh... Xio ran! Apakah kamu tidak berpikir untuk bergabung dalam sebuah klub?"
Sekolah sudah beberapa hari dimulai, juga rata-rata murid kelas 1 sudah mulai bergabung dengan klub.
"Em...aku tidak pernah berpikir, belum ada klub yang aku minati.
Nantilah, aku juga sedang tidak terburu-buru untuk bergabung dengan sebuah klub sekolah"
Hua Chenran berkata dalam hatinya, untuk tidak peduli dengan masalah bergabung dengan klub apapun.
"Sekarang tidak ada murid di kelas, ikuti aku saja ke klub menari!"
Ajak Lin Huayu.
"Huayu, kamu pergi saja dulu. Ada yang harus ku kerjakan"
Hua Chenran menolak secara halus.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Xio ran jangan rindukan aku, bye..."
Teriak Lin Huayu dengan keras sambil berlari.
Melihat bayangan Lin Huayu hilang dari pandangan nya, Hua Chenran kembali menghela nafas panjang.
Masuk ke dalam klub sekolah sangat merepotkan, lebih baik waktunya digunakan untuk berkultivasi dan berlatih ketrampilan pedang.
Ketika Hua Chenran membalikkan badannya, keduanya tidak sengaja berhadapan dan saling memandang.
Rumput sekolah yang tampan dan bunga sekolah yang cantik.
Pemandangan ini begitu indah, seperti cinta pertama yang sedang mekar dan perlahan bersemi, membuat orang ingin mengabadikan momen indah ini, tapi itu jika dilihat oleh orang yang tepat.
Jiang Shaoning lupa mengambil ponselnya saat keluar tadi, karena terlalu senang tidak ada pelajaran.
Saat masuk ke dalam kelas, seluruh wajahnya gelap dan terdistorsi.
Melihat pemandangan di depannya, ingin rasanya dia merobek wajah
Hua Chenran dan Mencabik-cabik menjadi beberapa bagian.
Tapi Jiang Shaoning berusaha untuk tenang, dia tidak ingin usahanya selama 4 tahun ini rusak, hanya karena satu Hua Chenran. Dalam hal ini dia tidak boleh meninggalkan citra negatif di depan Wei Sichu.
__ADS_1