Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
10. Enggak Ditolak


__ADS_3

Rosa pun menggelengkan kepalanya.


"Gue tau lo lagi dalam mode serius Ki"


"Terus kenapa ketawa?" tanya Rizki heran.


"Lo lucu" jawab Rosa singkat dan mendapatkan keheranan dari Rizki.


"Gue udah denger semua yang bicarain sama mama kemarin malam" kata Rosa yang mulai ikutan mode serius.


"Lo emang orang pertama yang berani bicara seperti itu sama mama. Jujur gue ragu. Karena kita kenal dari dulu sebagai sahabat bukan sebagai seorang perempuan atau laki-laki" kata Rosa lagi menundukan kepalanya sebentar sambil mengingat kejadian yang telah di lewatinya bersama Rizki.


"Tapi yang gue tau. Lo gak pernah ninggalin gue dalam moment apa pun di hidup gue selama 14 tahun terakhir kita bersama-sama. Lo ada bahkan selalu ada. Saat Ayyas dan Yuda gak ada, lo pasti ada" ucap Rosa lalu kembali menatap kedua mata Rizki yang tak bergeser sedikit pun memandangnya.


"Bahkan saat kayak gini, yang gue anggep main-main justru lo tunjukin keseriusan lo dengan mama. Lo tau?" tanya Rosa sambil menghirup nafas sebanyak-banyaknya.


"Hati mama bisa lo ambil begitu aja tanpa pertimbangan. Entah, yang pasti restu mama udah lo dapet kan?" tanya Rosa lagi dan di anggukin oleh Rizki.


"Terus?" tanya Rizki yang ingin sekali mendengarkan intinya langsung meski jujur dirinya takut di tolak lagi oleh Rosa.


"Terus apa ada hal lain yang bisa gue tolak sedangkan mama udah kasih restu?" kata Rosa yang langsung menerbitkan senyum Rizki dan tanpa sengaja membuat sudut mata Rizki berair.

__ADS_1


"Jadi?" tanya Rizki ingin memastikan. Rosa membalas dengan anggukan kepalanya pelan dan Rizki pun dengan spontan mencium kedua punggung tangan Rosa yang di genggamnya.


"Makasih Sa. Makasih" ucapnya yang terus menghujani punggung tangan Rosa dengan menciumnya lagi dan lagi. Rosa pun menarik satu tangan yang di genggam Rizki lalu mengangkat wajah Rizki dan di hapusnya air mata di sudut mata calon suaminya itu.


"Jangan nangis" ucap Rosa pelan. Rizki hanya menggelengkan kepalanya.


"Bukan nangis sedih tapi bahagia"


***


Keesokan harinya, sekitar jam tujuh malam. Rizki bersama ibu, bapak dan saudaranya mendatangi kediaman Rosa. Rizki mengutarakan maksud secara resmi dan mencoba melamar Rosa secara resmi juga. Sayangnya hal yang bahagia ini tidak Rosa atau Rizki katakan kepada Ayyas dan Yuda. Entah apa tapi rasanya terlalu mendadak untuk memberi tahukan kedua sahabat mereka itu.


Bahagia terlihat jelas dari kedua keluarga ini. Merasa tak percaya ikatan silaturahmi mereka akan semakin erat dengan ikatan pernikahan yang akan di selenggarakan oleh Rosa dan Rizki. Bahkan saudara Rizki pun tak kalah bahagianya.


"Nanti ibu konsepnya mau pakai adat jawa ya mas. Biar semakin kental dan sakral pernikahan kalian" kata ibu Titi yang sangat berantusias.


"Royal Wedding aja bu. Itu kan pernikahan impian kekinian bu" usul Riana yang membayangkan betapa mewahnya jika Rizki dan Rosa menikah dengan konsep demikian.


"Aku gak mau komen ah. Biar semua urusan mas Rizki dan kak Rosa toh yang akan menikah kan mereka, yang akan mengeluarkan biaya juga mereka" kata Rania enteng namun benar adanya.


"Iya bu. Udah gak usah ikut campur atau memaksakan. Biar pernikahan Rizki berjalan sesuai keinginan dia dan calon istrinya" ucap Rini, kakak tertua Rizki.

__ADS_1


"Tapi ibu mau lho Rin. Kan waktu kamu nikah gak bisa seperti itu" sahut ibu Titi yang mengingat pernikahan anak pertamanya dulu sangat sederhana sekali.


Rini mengerti tapi bagi Rini pernikahan sederhana sudah cukup baginya. Tak perlu mewah dengan berbagai konsep impian saat ini. Meski memiliki keinginan tersebut tapi saat itu Rini sangat tahu diri dengan keuangan ibu dan bapaknya yang tak mungkin atau memungkinkan mengelar pesta mewah untuk pernikahannya.


"Lagi pula Rosa kan orang sunda bu. Bisa jadi Rosa akan menggunakan adat sunda sesuai dengan adat dari keluarganya. Nah kalo ibu memang mau pakai adat jawa nanti biarkan di pernikahan Rania saja. Toh Rania juga akan segera menikah dalam hitungan bulan kan bu?" kata Rini menyarankan agar ibunya tak memaksakan kehendaknya secara sepihak.


"Nah untuk resepsinya itu kita serahkan ke mereka berdua juga yang menjalankan. Maunya seperti apa. Meski Rini rasa, Rizki akan memberikan apa saja sesuai kemauan Rosa. Tapi Rini juga rasa kalau Rosa bukanlah orang yang memanfaatkan keadaan. Dan pasti akan menggelar resepsi dengan konsep yang sangat sederhana juga" kata Rini lagi yang di anggukan semuanya. Sebab memang benar jika Rosa sesederhana itu orangnya.


"Baiklah. Ibu mengerti Rin. Biar semua ibu serahkan ke Rosa dan Rizki. Tapi ibu tetap mau turut tangan membantu acara pernikahan mereka ya. Gak apa-apa kan?" tanya ibu Titi sedikit ragu tapi tetap meminta izin kepada anak sulungnya. Sebab ibu Titi takut melakukan kesalahan yang nantinya malah merusak suasana.


"Boleh bu tapi kita minta izin sama mereka dulu ya. Takut mereka gak nyaman----"


"Boleh donk bu boleh banget kalo ibu mau bantu-bantu Rizki dan Rosa menyiapkan acara pernikahan kita" kata Rizki yang memotong ucapakan sang kakak dan ikut bergabung dengan semuanya.


"Beneran Ki? Waah seneng banget ibu" ucap ibi Titi dengan sangat gembira.


"Tapi janji jangan terlalu banyak ngatur ya bu. Ibu tau kan kalo Rosa anaknya enggak enak hatian. Takutnya nanti dia gak nyaman kalo nurutin semua maunya ibu" pinta Rizki hati-hati agak ibunya tidak tersinggung.


"Siap. Makasih ya Ki. Makasih mau kasih menantu sebaik dan secantik Rosa. Kamu memang sangat beruntung" sahut ibu Titi lalu membentangkan kedua tangannya ingin memeluk anak laki-lakinya. Rizki pun mendekat dan menyambut pelukan hangat sang ibu.


"Semua juga berkat doa ibu kan. Sama ibu juga bantu bicara sama Rosa kan? Jangan kita Rizki gak tahu lho bu" kata Rizki apa adanya. Sebab Rizki tak sengaja mengecek cctv saat hari dimana Rosa mengunjungi rumahnya dan berbicara serius dengan sang ibu di taman belakang rumah miliknya.

__ADS_1


"He he he ibu gak ngapa-ngapain kok. Ibu cuma bilang kalo ibu sebenernya mau banget kalo Rosa jadi menantu ibu. Biar gimana pun ibu gak akan lupa dengan kebaikan Rosa bahkan pengorbanan Rosa waktu bayarin biaya rumah sakit Riana saat keuangan keluarga kita enggak baik-baik aja saat itu kan. Bahkan Rosa gak mau di ganti padahal dulu itu jumlahnya cukup besar lho Ki. Tapi dia bener-bener tulus nolongin adek kamu. Entah gimana nasib adek kamu kalo biaya rumah sakitnya enggak ke bayar saat itu" kata ibu Titi mengingat kebaikan yang telah Rosa lakukan untuk keluarganya dulu.


__ADS_2