
Yuda dan Ayyas menemui Rizki atas permintaan Rosa. Rosa sejujurnya ingin menemui Rizki tapi hatinya masih belum merasakan utuh sehingga mengurungkan niatnya dan di wakili oleh kedua sahabatnya.
Baik Yuda maupun Ayyas sama-sama merasakan hancur melihat kedua sahabatnya seperti ini. Alat bantu dalam tubuh Rizki menggambarkan jika Rizki memang separah itu dalam kecelakaan yang menimpanya.
"Gue gak tahu harus ngomong kayak gimana. Lo sahabat gue, lo baik, lo setia kawan, pokoknya selama kita kenal, gak pernah kita ada sedikit cekcok antara kita tapi kenapa setelah lo nikah dengan sahabat perempuan kita satu-satunya itu semua sikap lo baru keliatan? Hmm?" Tanya Ayyas dengan nafas panjang duduk di samping brankar Rizki sedangkan Yuda hanya berdiri memandangi Rizki yang bernafas dengan ventilator.
"Gue sangat menyayangkan hubungan kalian berdua. Lo juga pasti tahu kalo gue juga sayang sama Rosa. Gue juga sayang sama lo Ki tapi kenapa sekarang banyak nalar yang gue gak ngerti dari lo" ucap Ayyas lagi sambil mencoba mengeluarkan ungkapan hatinya.
"Kalo lo masih ada perasaan dengan mantan pacar terindah lo harusnya lo jangan nikahin Rosa. Ki lo tahu gak ini bukan kejadian pertama kalinya lho. Masa iya itu namanya khilaf dan kejadiaan sekarang lo hampir kehilangan nyawa lo bahkan nyawa Rosa dan nyawa anak-anak lo. Apa lo lagi bercanda dengan malaikat maut?"
"Jujur hati gue sakit ngeliat keadaan rumah tangga kalian masih ada bayangan masa lalu kayak gini padahal mantan pacar Rosa akhirnya mundur setelah Rosa memilih lo ya meski awalnya lo pun melakukan kesalahan yang mana menjadikan pernikahan ini seperti taruhan"
"Apa lo tahu dari sikap lo ini ada hati orang lain juga yang terluka. Bukan, bukan hanya gue. Tapi ada mama Wina bahkan Yuda. Karena gue rasa lo pasti tahu perasaan sahabat lo itu kepada Rosa kayak gimana kan. Seolah itu lo pemeran antagonis pake banget tahu" kata Ayyas lagi dan mendapat toyoran dari Yuda. Ayyas menoleh dengan nyengir kuda namun mendapatkan pelototan dari Yuda.
__ADS_1
"Lo buruan bangun Ki. Lo jelasin semua ke istri lo. Emang lo gak mau liat anak-anak lucu lo? Apa lo mau anak-anak lo manggil Yuda dengan sebutan ayah? Kita semua disini nungguin lo bangun. Lo harus bangun sesegera mungkin, Rosa dan anak-anak lo masih butuh lo. Gue yakin meski perasaan Rosa hancur pake banget tapi dia tetep nungguin lo. Oh iya maafin Rosa yang belum kesini buat nemuin lo yah. Gue harap lo ngerti perasaan Rosa saat ini. Pokoknya lo harus bangun dan setelah lo bangun gue akan balaskan rasa sakit hati Rosa ke lo. Jadi lo harus siap-siap ya. Oke Ki" kata Ayyas lagi menepuk pelan lengan Rizki dengan senyum di sudut bibirnya. Meski Ayyas sangat kecewa tapi Ayyas tidak bisa menghakimi Rizki begitu saja. Ayyas yakin ada sesuatu yang membuat Rizki bisa berbuat seperti demikian ya meski perbuatannya selalu di ulang dan ujungnya membuat kecewa.
Ayyas beranjak dan menepuk bahu Yuda saat Yuda sedang fokus memperhatikan sahabatnya yang terbaring. Yuda menganggukan kepala lalu menoleh ke Ayyas untuk meninggalkannya sejenak. Karena memang ada sesuatu yang ingin Yuda sampaikan juga kepada sahabatnya ini. Ayyas mengerti dan meninggalkan keduanya di dalam ruang ICU.
"Gue cuma mau bilang dan berharap lo cepet sadar Ki. Lo tahu hati gue sakit ngeliat Rosa seperti saat ini. Bukan karena perasaan gue untuk dia. Tapi dia udah cukup kuat melalui sendiri. Dia menahan ini sendiri"
"Apa lo tahu waktu pertama kali gue ketemu dia saat dia kabur? Apa lo mau sekarang dia kabur lagi? Gue gak bisa bayangin itu. Gue gak bisa bayangin gimana dia ngurus anak-anaknya sendiri tanpa bantuan dari siapa pun. Segera sadar yah. Rosa lebih butuh lo saat ini. Meski dia kecewa tapi gue yakin kalo dia juga mengharapkan lo ada disisinya"
"Gue akan jaga mereka sampai lo sadar. Tenang gue gak akan ambil alih posisi lo jika bukan lo atau Rosa yang minta. Gue masih sadar dan waras akan perasaan gue yang bertepuk sebelah tangan ini. Miris lho gue Ki tapi gak apa-apa asal kalian bisa bahagia, gue rela dan ikhlas. Please lo harus buruan sadar" kata Yuda saat siap-siap meninggalkan ruang ICU Rizki. Tiba-tiba tangan Rizki bergerak dan menyentuh tangan Yuda. Yuda mematung lalu melebarkan matanya saat dirasa melihat pergerakan baik dari Rizki.
***
"Rizki sudah sadar Ros tapi masih di ICU karena masih dalam pengawasan" kata Ayyas setelah mendapat kabar baik. Rosa tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sedikit lega tapi Rosa masih enggan untuk menemui suaminya itu hingga tanpa mereka sadari ada dua orang yang datang menemui mereka.
__ADS_1
"Hai Ros" sapa orang itu yang suaranya tak asing bagi Rosa.
Rosa dan Ayyas menoleh namun ternyata dua orang ini bukanlah orang yang di harapakn oleh Rosa.
"Hai kak Rosa. Ini buat kak Rosa dan ini buat keponakan aku" kata salah satu orang lagi dengan gembiranya. Rosa melemparkan senyum pada gadis yang tak lain adalah Bulan. Iya dua orang tersebut adalah Bulan dan Hari.
Rosa menerima hadiah dan bingkisan untuk dirinya dan anak-anaknya dengan ragu. Tapi Rosa tetap menerima meski hatinya ingin menolak.
"Terima kasih Bulan. Harusnya kamu gak perlu repot-repot tapi terima kasih yah sekali lagi" ucap Rosa dengan senyum yang di anggap Hari sangat menenangkan hatinya.
"Sama-sama kak. Kakak cepat pulih yah" sahut Bulan lalu menghampiri Rosa dan duduk di pinghir brankar Rosa.
"Insyaallah akan cepat pulih kok" balas Rosa sekenanya padahal dirinya sudah baik-baik saja meski dalam hitungan hari baru selesau operasi melahirkan anak-anaknya.
__ADS_1
"Gimana kabar kamu Ros?" tanya Hari dengan sangat ramah meski sudah mendapat tatapan sinis dari Ayyas. Dan Ayyas tetap dalam tempatnya tak bergeser karena tak ingin membuat Rosa merasa gak nyaman dengan kedatangan tamu tak di undang begini.
Terlebih Hari seolah mengetahui sela dimana hubungan Rosa dan Rizki tidak baik-bain sehingga menggunakan kesempatan untuk bisa masuk lagi dalam hidupnya Rosa.