
Rizki tersenyum mendengar perkataan ibunya yang benar apa adanya. Dan yang Rizki tahu jika Rosa adalah salah satu orang di balik kesuksesan yang dia capai hingga saat ini. Bagaimana tidak, saat terpuruk kondisi Rizki, hanya Rosa yang selalu stay dan selalu menguatan untuk Rizki selalu kuat.
Dan di akui Rizki juga jika dirinya mulai memiliki rasa kepada Rosa sejak saat itu. Sejak Rosa yang tak pernah meninggalkan Rizki dalam keadaan apa pun Rizki.
"Rosa memang berbeda bu. Dia istimewa buat Rizki" ucap Rizki yang masih dalam pelukan ibunya.
"Pesan ibu jangan sampai kamu sia-siain orang seperti Rosa yah. Karena jika kamu sia-siakan belum tentu kamu akan bertemu untuk kedua kalinya dengan orang yang seperti itu. Paham kan maksud ibu" kata ibu Titi lalu mengurai pelukannya dan membenahi rambut Rizki yang berantakan. Rizki oun mnganggukan kepalanya pertanda paham maksud ibunya.
"Iya bu. Rizki janji gak akan sia-siain Rosa. Rosa sangat berarti dalam hidupnya Rizki. Rizki minta doa dan restu ibu yah semoga semua yang Rizki dan Rosa lakukan selalu lancar begitu juga dengan rumah tangga yang akan kita bangun nanti. Semoga kita selalu bahagia dan saling menjaga satu sama lain. Meski Rizki yakin kalo hidup Rizki akan sangat bahagia nanti karena akan selalu ada Rosa di sisi Rizki" ucap Rizki dengan sangat percaya diri.
"Makanya kalo cinta itu nyatain mas. Diem-diem aja malah selama ini. Untung aja belom ketikung duluan sama orang lain. Kalo udah bisa nangis bombay kali kamu mas" kata Rania menimpali sebab Rania memang sudah tahu jika Rizki memiliki rasa denga Rosa sejak lama.
"Nah bener tuh Ki. Lagian kamu kenapa bisa nyimpen rapih perasaan kamu selama itu sih? Padahal kalian bareng-bareng terus lho. Kok Rosa juga bisa gal enggeh kalo kamu nyimpen rasa sama dia" tanya mbak Rini yang tak habis pikir juga. Rizki membalas senyum dengan dua pernyataan dari saudaranya yang benar adanya.
Iya Rosa enggak enggeh karena Rosa memang menganggap semua yang Rizki lakukan bukan karena perasaan laki-laki terhadap perempuan. Tapi yang Rosa anggap perasaan Rizki hanya sebagai sahabat saja yang selalu ada tanpa embel-embel apa pun.
"Yaudahlah mbak, Ran. Itu udah berlalu dan sekarang Rosa juga udah tau perasaan aku. Jadi gak usah liat kebelakang lagi. Liat kedepan dan doain juga untuk hubungan kita nantinya".
__ADS_1
"Iya mbak gak habis pikir aja gitu lho Ki. Tapi mbak bahagia tau kalo akhirnya adek mbak yang ini udah siap menempuh hidup barunya dengan perempuan pilihannya. Gak nyangka udah gede adek mbak sekarang"
"Untuk menempuh hidup baru perlu kesiapan mbak. Bukan cuma kesiapan finansial aja tapi kesiapan mental. Emangnya Rania yang cuma modal kebelet kawin doang ha ha ha makanya minta nikah buru-buru sampe aku harus di paksa nikah juga. Untung Rosa mau aku ajak nikah dalam waktu dekat ini. Lagian kamu tuh masih muda Ran. Kenapa sih udah kebelet kawin?" gerutu Rizki sebenarnya. Sudah rasanya cukup menahan kesal kepada adiknya yang memaksa dirinya harus segera menikah. Meski ingin menikah juga tapi harusnya tidak dengan keadaan seperti ini.
"Kalo ngomong jangan sembarangan. Kebelet kawin? Ihk mas gak tau aja rasanya menanti pernikahan setelah pacaran lama. Lah iya mas kan gak pernah pacaran lama kan ya? Pernah kan tuh sama cewek gak jelas tuh siapa kali namanya gak penting juga. Abis itu mas cuma ngabisin waktu mas cuma kak Rosa yang gak ada statusnya. Cuma status sahabat yang berkedok padahal mah cinta banget sama kak Rosa. Mas harusnya bersyukur karena aku mas sekarang jadi bisa nikahin kak Rosa. Bukan malah nyalahin aku kayak gini isshhks bikes deh kamu mas" kata Rania yang tak mau di salahkan.
"Tetep aja kamu ikutan salah titik" sahut Rizki yang sama tak mau kalah.
"Udah donk masa anak ibu jadi berantem gini. Biar gimana pun awalnya setidaknya sekarang ibu bahagia karena anak-anak ibu akan segera menikah dengan pilihannya masing-masing. Jadi jangan saling menyalahkan yah. Harus saling mendukung satu sama lain. Supaya keluarga kita selalu rukun dan damai dalam keadaan apa pun" ucap ibu Titi menengahkan dengan senyum di sudut bibirnya.
***
Senyum Rizki yang tak pudar dari lengkungan bibirnya menandakan betapa bahagia dirinya. Tidak menyangka dalam hitungan minggu dirinya akan mengubah status sahabat Rosa menjadi suami Rosa. Duuuhh gak sabar jadinya. Itulah pikiran Rizki saat itu.
Jalanan yang masih cukup lenggang karena masih pagi membuat Rizki sampai lebih cepat ke rumah calon istrinya ini. Di parkirkannya mobil secara rapih dan turunlah dengan santai Rizki memasuki rumah Rosa.
"Assalamualaikum" salam Rizki sebelum memasuki rumah Rosa.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" balas salam Rizki dari mama Wina, sang calon mama mertua. Rizki oun langsung mencium punggung tangan mama Wina seperti biasanya yang beda sekarang hanya statusnya yang akan menjadi calon menantu.
"Tumben pagi-pagi udah kesini. Mau anter Rosa kerja?" tanya mama Wina yang menggoda Rizki pagi-pagi. Rizki oun melemparkan senyum dengan pipi yang sudah merona.
"Iya mah. Mau anter Rosa kerja. Gak apa-apa kan mah? Biar mama Rizki anter juga ke toko bakery. Mama mau ke toko bakery juga kan?" tanya Rizki dengan sangat lembut. Mama Wina pun mengangguk dengan senyum manisnya.
"Iya mama mau ke toko bakery. Mama mau check kondisi toko bakery. Ya bisa di bilang audit dadakan gitu" kata mama Wina sambil mempersilahkan Rizki duduk terlebih dahulu. Duduk di meja makan karena biasanya Rizki suka saraoan bareng di rumah Rosa.
"Sarapan dulu ya Ki. Mama udah buat nasi goreng. Kamu pasti suka deh"
"Aduh makasih mah. Maaf ngerepotin" kata Rizki yang gak enak hati.
"Biasanya juga ngerepotin kok sekarang pake maaf ngerepotin" sahut Rosa yang baru saja turun dari lantai dua dan menghampiri mamanya di dapur.
"Rosa gak boleh gitu sama calon suami" ucap mama Wina mengingat Rosa, takut-takut Rosa lupa jika semalam dirinya sudah di lamar resmi oleh sahabatnya sendiri. Rosa pun menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menoleh dan menatap Rizki yang duduk manis di meja makan dengan mata yang menatapnya dengan senyum.
"Mau susu, teh atau kopi?" tanya Rosa mencoba menghilangkan gugupnya.
__ADS_1
"Air putih aja" jawab Rizki dengan senyum yang tak memudar. Rosa pun menganggukan kepalanya lalu menyiapkan air putih untuk Rizki.
***