Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
111.


__ADS_3

Yuda memutar balikan mobilnya saat menerima kabar jika Rizki kecelakaan dan Rosa mengalami pendarahan. Masih dalam kondisi shock dan menerka-nerka kejadian yang baru di dengarnya. Jantung Yuda berdebar begitu cepat sambil memikirkan bagaimana perasaan Rosa yang selama ini dirinya jaga? Alasan apa sehingga Rizki merelakan diri untuk menyelamatkan Sani dan Mika? Kemanusian atau hal lain? Semua pertanyaan melayang begitu saja tanpa dirinya tahu apa jawaban dari semua pertanyaan itu.


Setibanya di rumah sakit, Yuda menghampiri keduanya di IGD. Rizki dengan luka yang cukup serius dan Rosa yang tak henti memegangi perutnya karena sakit yang dirinya rasakan. Air mata Yuda merembes begitu saja, sakitnya seperti menusuk relung hati. Kenapa ini bisa terjadi, pikirnya.


Setelah pemeriksaan atas luka yang cukup serius, Rizki dipindahkan ke ruang ICU untuk perawatan lebih insentif. Begitu juga dengan Rosa yang harus segera melakukan operasi untuk melahirkan anak-anaknya karena pendarahan yang di alami tak kunjung berhenti.


***


"Lakukan yang terbaik untuk Rosa dan anak-anaknya. Apa pun yang terjadi!!" pinta Ayyas kepada dokter yang akan menangani Rosa.


Deby luruh saat mendengar apa yang terjadi dengan sahabatnya. Genggaman tangan Ayyas pun tak lepas kepada istrinya.


"Apapun yang akan terjadi semua pasti terbaik untuk Rosa. Kita harus berdoa lebih lagi untuk mereka sayang" kata Ayyas dengan mencium puncak kepala Deby agar Deby lebih tenang.


"Terlepas apapun alasan Rizki aku akan tetap menyalahkan dia karena sudah membuat Rosa seperti ini. Kurang apa Rosa sampai tega dia menyakiti Rosa bahkan kali ini juga melukai anak-anaknya hisk hisk" ucap Deby dengan sesak dalam dadanya.


Iya benar yang di ucapkan Deby. Ayyas pun sepemikiran karena memang sudah di luar nalar dari apa yang telah terjadi.


Rizki di nyatakan koma dan Rosa sedang berjuang melahirkan anak-anak mereka. Kondisi Rosa yang semakin melemah membuat Yuda, Ayyas dan Deby tak henti berharap cemas. Rasa khawatir bagi ketiganya cukup membuat jantung mereka bekerja lebih cepat dari biasanya.


Mama Wina yang baru di beri kabar sungguh merasa kecewa bahkan ibu Titi pun rasanya sudah sangat malu akan kejadian ini.


Dalam tangisnya mama Wina berhambur dalam pelukan Yuda. Yuda mengelus punggung mama Wina dan ikut larut dalam tangisnya. Deby dan Ayyas pun menghampiri Yuda dan mama Wina lalu ikut memeluk seperti teletabis. Tak ada kata yang tercipta hanya sebuah keheningan yang terasa. Isak tangis mereka beradu dengan memejamkan mata sambil berdoa yang terbaik menurut versi mereka.

__ADS_1


Dua jam sudah berlalu.


Rosa selesai dalam operasinya dan kedua anaknya lahir dengan selamat. Rosa pula sudah di tangani dan tinggal menunggu pemulihan pasca operasi baru akan di pindahkan ke ruang perawatan yang telah Ayyas siapkan.


Mama Wina membantu mengurus si kembar ke ruang perawatan bayi dan Yuda, Ayyas serta Deby masih setia menunggu Rosa di depan ruang observasi pasca operasi.


Rosa mengedarkan pandangannya pada langit-langit ruangan saat itu. Setelah menyadari apa yang sudah terjadi Rosa menelan ludahnya dengan sulit karena merasa sesak dalam dadanya. Bukan sesak karena butuh oksigen tapi sesak karena suaminya entah bagaimana keadaannya saat ini. Bahkan sakit luka setelah melahirkan hampir tak dirasa oleh Rosa.


"Entah aku harus membentengi kepercayaanku seperti apa lagi dengan kamu mas" ucap Rosa lirih lalu menjatuhkan air matanya.


***


Kondisi Rizki masih belum menunjukan kemajuan baik. Rizki masih terbaring lemah dengan alat bantu medis di tubuhnya. Ibu Titi sampai tak bisa menangis lagi melihat anak laki-laki seperti ini. Bahkan Riana pun merasakan hal yang sama. Sani dan Mika masih dalam dekapan Indra. Indra merasa tak tahu harus bagaimana lagi. Karena memang kecelakaan ini terjadi begitu saja.


'Bodoh. Kenapa harus menjadi pahlawan untuk anak dan istri ku. Lihat sekarang apa yang terjadi denganmu, istri dan juga anakmu? Apa kamu waras Ki?' tanya Indra dalam batinnya.


"Semua akan baik-baik saja. Percayalah" sahut Indra lalu memeluk Sani lagi dan mencium puncak kepala istrinya.


"Aku takut kak. Aku takut disalahkan meski aku tahu kalau aku memang bersalah" ucapnya lagi yang kini air matanya sudah membasahi pipinya.


"Aku akan membela kamu dan ada di sisi kamu. Kamu gak perlu khawatir" kata Indra menenangkan.


"Aku takut kak"

__ADS_1


Riana yang sudah menahan sedari tadi beranjak lalu menghampiri Sani dan Indra. Dan tiba-tiba saja Riana menjambak rambut Sani dengan tarikan yang cukup kuat. Hal ini membuat Sani refleks dan tak melepas gendongannya kepada Mika. Mika terjatuh dengan tangis yang pecah.


"Akkhhh" teriak Sani saat rambutnya di jambak Riana.


"Owwwwaaaaaa....." tangis Mika berbarengan saat Sani berteriak.


Indra melebarkan matanya lalu segera mengambil Mika dan menggendongnya. Sambil menggendong Mika, Indra mencoba melerai Riana yang masih dengan sangat kuat menjambat rambut Sani.


"Riana apa yang kamu lakukan?" tanya Indra dengan nada yang cukup tinggi sehingga membuat orang-orang di lorong ruang sakit menatapnya. Indra dengan nafas yang mengebu-gebu berusaha keras melepaskan jambakan itu tapi tidak dengan Riana yang semakin menjambak dan membalas tatapan sengit kepada Indra.


"Lepaskan Riana. Lihat apa yang kamu lakukan ini" kata Indra dengan terus berusaha melepaska jambakan Riana padahal Mika masih menangis di dalam gendongannya.


"Lepas kak Indra bilang? Ini gak sebanding dengan apa yang sudah terjadi saat ini" teriak Riana lebih kencang dengan mata yang sudah memanas.


"Ini bukan salah Sani. Salah Rizki kenapa dia sok-sok an sebagai pahlawan untuk menolong Sani dan Mika" kata Indra membuat yang mendengarnya tak habis pikir. Sebegitukah pemikiran Indra? Bukannya berterima kasih tetapi malah menyalahkan? Ooohhhhh no.


"Oke baik kalo itu mau kak Indra. Aku akan buat dia juga menyusul mas Rizki di ruang ICU biar kita impas" kata Riana dengan satu tangannya lagi menampar keras pipi Sani. Sani jatuh tersungkur dengan rambut yang masih di tangan Riana. Bahkan banyak rambut Sani yang rontok akibat jambakan itu.


"Ooowwwwaaaaa"


Indra tak bisa melerai lebih karena dirinya masih menggendong Mika yang masih menangis.


"Riana hentikan. Kamu gak bisa melakukan ini seenakannya seperti ini" kata Indra lagi sambil mencoba menghentikan tangis anaknya.

__ADS_1


"Diam kamu kak" kata Riana dengan tangannya kini menarik Sani agar mengikutinya.


"Hentikan Riana. Sebelum kamu menyesal" ucap Indra dengan penuh ancaman tapi Riana menghiraukan dan terus berjalan dengan amarah yang sudah tak tertahan lagi.


__ADS_2