Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
41. Rencana


__ADS_3

"Udahlah. Gak usah terlalu obsesi. Kamu salah dalam masalah ini. Salah sendiri terlalu mudah menyerahkan kesucian kamu untuk laki-laki seperti itu. Gak usah lempar batu sembunyi tangan" kata Sena menghampiri Sani.


Sena adalah adik kandung Sani yang hanya berbeda 15 menit saja. Iya Sani dan Sena kembar namun bukan identik. Dan kepribadian mereka juga berbeda serta mereka berdua terpisah dalam pendidikan sehingga jarang yang mengetahui jika mereka kembar.


"Sejak kapan kamu ada disitu?" tanya Sani dengan tatapan sinis. Karena memang mereka berdua sulit disatukan meski mereka kembar.


"Sejak kamu mencurahkan hati kamu dan aku mendengar ucapan kamu yang ingin mengejar cinta Rizki lagi" jawab Sena lalu melangkahkan kaki menghampiri Sani di balkom kamar Sani.


Sena menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan senyum lalu memandang Sani yang memang terlihat memendam masalah berat.


"Terus kamu mau mengadukan ini semua dengan mamih dan Papih?"


Sena menggelengkan kepalanya lalu menepuk bahu Sani.


"Gak akan aku biarin kamu menanggung ini sendirian. Kamu lupa kalo kamu masih punya aku untuk saling berbagi? Iya sih memang kita itu gak pernah akur, aku juga tau kalo kita sering berbeda pendapat bahkan bisa di ibaratkan kita adalah kembar teraneh. Kembar non identik yang memiliki sifat bertolak belakang seperti air dan minyak yang sulit menyatu. Tapi kamu harus tau kalo aku masih peduli dengan kamu. Karena kamu kakak aku, saudara kandungku satu-satunya" jelas Sena membuat Sani tak percaya dengan kata-kata yang di lontarkan Sena.


"Biarkan dia tumbuh dan aku akan membantu kamu dalam masalah ini. Tapi..."


"Apa?"


"Jangan pernah kamu mengusik hubungan Rizki denga istrinya. Jangan pernah kamu mencoba mengejar cinta suami orang. Memangnya kamu mau di cap sebagai pelakor? Heem?" tanya Sena dan di gelengkan kepalanya Sani.


"Lalu bagaimana dengan nasibku jika mamih dan papih mengetahui ini?" tanya Sani yang masih tak ingin membayangkan ketegasan orang tuanya.


"Kita tinggal di apartemenku. Hanya kamu dan aku. Mamih dan papih juga kan jarang pulang karena sibuk dengan pekerjaan jadi biarkan saja. Toh mereka juga gak akan mengetahui karena mereka sibuk dengan dunia mereka"


"Ta-tapi aku malu. Aku malu dengan kondisi ku saat ini. Hamil? Tanpa suami?"


"Sudah ku bilang jika ini salah kamu sendiri. Kamu juga sebenarnya sudah mengetahui sifat kak Indra seperti apa tapi malah kamu sendiri yang menantang hingga akhirnya menjerumuskan diri kamu sendiri. Sudahlah selesaikan masalah ini. Jangan mencari kambing hitam yang akan memperkeruh keadaan. Ingat Rizki sekarang sudah menikah dan memilih perempuan lain yang jelas lebih baik dari kamu. Dan ingat jika aku mengetahui kamu masih mengusik Rizki dan istrinya. Justru aku yang akan membalas apa yang sudah kamu lakukan. Ingat itu. Oke" kata Sena dengan penekanan di akhir kalimatnya lalu meninggalkan Sani yang masih terdiam menelaah perkataan adiknya.


"Kenapa Sena sampai segitunya? Apa Sena mengenal Rizki dan Rosa?" tanya Sani menatap punggung adiknya yang menghilang dalam pandangan matanya.

__ADS_1


***


Rosa menikmati wajah Rizki yang ada di hadapannya ini. Masih tak percaya dengan kenyataan bahwa dirinya telah di nikahi sahabatnya sendiri. Senyum mengembang terlukis indah di wajahnya. Sesekali Rosa membelai pipi Rizki yang di tumbuhi bulu-bulu halus disana.


"Mau sampe kapan ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Rizki yang masih memejamkan matanya. Rosa berangsur mundur karena cukup terkejut mendengar perkataan suaminya yang membuat pipinya merah karena malu. Ros masih aja malu?


Cup


Kecupan Rizki daratkan di bibir ranum Rosa yang menurutnya sangat manis.


"Morning kiss istriku" kata Rizki dengan senyum manisnya menatap wajah istrinya yang terkejut.


"Hari ini kita libur ya sayang" kata Rizki lagi yang masih mendekap Rosa dalam pelukannya. Rosa mengkerutkan keningnya seolah bertanya.


"Iya kita libur. Aku berencana mau ajak kamu honeymoon"


"Ho-honeymoon?" tanya Rosa membeku. Sebab dirinya masih tak mengerti maksud dari kata honeymoon itu.


"Iya. Enggak jauh. Di kampung halamanku. Gak apa-apa kan? Apa kamu ada tempat yang ingin kami datangi? Kita bisa ubah tempatnya kalau kamu keberatan untuk ke kampung halamanku" jawab Rizki dengan sangat lembut kepada istrinya.


Rosa pun mengaggukan kepalanya dan tersenyum menandakan setuju dengan ajakan suaminya.


"Ta-tapi..."


"Hmm?"


"Ini kita dimana?" tanya Rosa yang merasa asing dengan kamar yang di tidurinya semalam.


Rizki terkekeh kecil dengan raut ekspresi di wajah Rosa. Hingga Rizki pun mencium ujung hidung sang istri.


"Di kantorku. Semalam kita gak pulang karena sudah terlalu larut dan kamu sudah terlalu lelap"

__ADS_1


"Hah?" ucap Rosa yang baru mengingat jika semalam dirinya terlelap di dalam pangkuan suaminya itu.


Cup


Lagi dan lagi Rizki mendaratkan kecupannya di bibir Rosa. Rosa pun langsung memanyunkan bibirnya merasa tak percaya dengan Rizki sejak semalam selalu mencium bibirnya.


"Ternyata di balik sikap kamu, kamu kayak gini yah" protes Rosa dengan mengerutkan keningnya.


"Kayak gini? Kayak gini gimana maksudnya?" tanya Rizki tak mengerti namun masih tetap terkekeh dengan raut wajah sang istri.


"Suka cium-cium aku. Malah kadang suka gak kenal tempat. Mau ada orang pun tetep di cium akunya" jawab Rosa dengan malu-malu.


"He he he he ternyata bibir kamu manis. Manis banget bikin aku ketagihan tau gak? Rasanya mau di cium aja gitu. Maaf suka khilaf kalo di deket kamu itu"


"Manis? Apanya yang manis? Aku gak abis minum atau makan yang manis-manis kok. Tapi lain kali jangan suka cium aku di depan orang yah. Aku nya malu" ucap Rosa jujur.


Rizki kembali terkekeh dan menganggukan kepalanya mengerti maksud istrinya.


"Tapi kalo lagi berdua kayak gini boleh donk" ujar Rizki dengan tatapan damba dan langsung mendaratkan kecupannya lagi di bibir Rosa. Bukan hanya sekedar menempal melainkan lebih dari itu.


Rosa tak bisa menolak karena Rizki menahan tenguknya bahkan dalam segi tenaga pun Rosa kalah. Akhirnya Rizki melepas kecupannya setelah di lihat Rosa mulai kehabisan pasokan oksigen.


"Huh huh huh huh" deru keduanya selepas kecupan terlepas.


Rizki masih menatap istrinya yang menghirup oksigen banyak-banyak.


"Lucu. Ternyata selain menggemaskan kamu juga Lucu ya sayang" puji Rizki terus. Rosa hanya bisa menggeleng- gelengkan kepalanya, benar-benar tak menyangka sifat lain Rizki kini dirinya melihat setelah menikah.


"Ampun serius ampun. Aku mau mandi. Gerah banget"


"Ayo kita mandi bareng" kata Rizki dengan senyum lebar di bibirnya.

__ADS_1


"H-hah?" lagi dan lagi dan sekian lagi Rosa di buat terkejut dengan sikap Rizki.


***


__ADS_2