Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
119.


__ADS_3

"Hai" sapa Rosa dengan menggenggam tangan Rizki yang dingin juga mencium punggung tangan suaminya.


"Aku hanya berharap kamu akan segera bangun. Apa kamu enggak mau menjelaskan ini? Aku juga berharap kamu bisa menjelaskannya. Maaf aku terlalu egois jika aku memaksa kamu menjelaskan ini" kata Rosa dengan suara pelan.


"Maaf karena keegoisan aku hingga aku baru mengunjungi kamu saat ini. Butuh mental dan perasaan yang tenang. Maaf" ucap Rosa dengan terus mencium punggung tangan Rizki lagi. Sambil tersenyum Rosa pun membelai pipi Rizki memberikan kehangatan dari tangannya.


"Segera bangun yah. Apa kamu gak mau bertemu dengan anak-anak kita? Aku akan mengkesampingkan ego aku demi anak-anak kita. Meski seribu bahkan lebih pertanyaan ingin aku tanyakan kepada kamu. Aku akan meredamnya perlahan, demi anak-anak kita. Bertahanlah"


****


Rosa pun sudah kembali ke dalam ruang rawatnya. Perasaan Rosa sudah sedikit lebih lega dari sebelumnya. Rosa berjanji pada dirinya akan bertahan demi anak-anak. Dan akan berfokus kepada pemulihan dirinya, kesembuhan Rizki dan juga anak-anaknya.


Ayyas pun tak akan ikut campur meski dalam hatinya ingin sekali mencabut alat bantu hidup Rizki. Ayyas sangat yakin jika apa yang Rosa lakukan adalah demi kebaikan bersama bukan hanya kebaikan Rosa saja. Begitu pula dengan mama Wina, mama Wina pun tak ingin jika Rosa harus menjadi single parent dengan dua anak begitu saja tapi semua kembali lagi dengan Rosa. Jika nantinya Rosa memutuskan untuk menjadi single parent pun mama Wina akan tetap merentangkan kedua tangannya untuk mendekap anak semata wayangnya juga kedua cucunya.


Ibu Titi selepas mengurus urusan yang di perlukan Rizki langsung menemui Rosa di dalam ruang rawat inapnya. Air mata ibu Titi tak bisa dibendung lagi karena sangat malu dengan menantunya ini.


"Ibu" kata Rosa tak menyangka jika ibu Titi menemuinya. Ibu Titi langsung memeluk Rosa dan menangis dalam pelukan Rosa. Merasa sangat malu sehingga ibu Titi menangis tanpa mengeluarkan sepatah kata. Hanya isak tangis yang terdengar. Rosa mencoba mengerti kembali maksud dari mertuanya dengan mengelus punggung ibu Titi guna memberikan ketenangan.


"Maafin ibu, Ros" ucap ibu Titi lirih lalu melepaskan pelukannya perlahan. Menggenggam kedua tangan Rosa tanpa berani menatap wajah Rosa secara langsung.


"Maafin Ibu, Maafin Rizki juga. Maafin keluarga ibu" sesal ibu Titi mengingat kesalahannya.


"Ibu ngomong apa sih. Kenapa harus minta maaf" kata Rosa dengan pelan dan lembut.

__ADS_1


"Ibu menyadari kesalahan Rizki sangat besar nak. Bahkan ibu pun salah karena tidak menolong kamu dan cucu ibu saat itu. Membiarkan kamu dalam bahaya. Maafin ibu"


Penyesalan terlihat dalam raut wajah ibu Titi. Rosa pun bisa melihat itu, lagi dan lagi Rosa melawan egonya agar masalah yang kini terjadi bertemu dengan ujungnya. Rosa tersenyum manis lalu memeluk ibu Titi kembali.


"Saat ini, fokuskan untuk kesembuhan mas Rizki dan pemulihan anak-anak bu. Selebihnya jika memang masalah ini belum berujung, nanti akan kita bahas lagi. Aku hanya gak mau kejadian buruk semakin mempersulit dan menimpa ketiga orang yang saat ini sedang berjuang" kata Rosa lalu melepaskan pelukan dengan sang mertua.


Sungguh beruntung Rizki memiliki Rosa. Dan ibu Titi yakin jika Rizki sadar hanya sebuah penyesalan yang pertama Rizki rasakan.


"Terima kasih banyak sayang. Maaf dan ibu menyesal"


****


"Gak usah berperan lembut seperti itu. Kamu tidak sebaik dengan apa yang terlihat" teriak Adel dengan tatapan benci kepada Sani. Sangat jelas jika Adel memang ada dendam yang belum tuntas kepada Sani. Sani sebenarnya tidak berani dengan tatapan yang Adel berikan tapi Sani mengingat jika awal permasalahan dirinya ikut terlibat dan Sani memberanikan diri agar Adel mau mengakui maksud dan tujuannya seperti apa selain ingin kembali bersama dengan mantan pacarnya itu.


Saat pertama kali pertemuan dengan Yuda dan Yuda meminta tolong untuk bisa bertemu dengan Adel, Indra merasa tidak yakin. Yuda pun tidak memberitahukan ada apa dan dengan maksud apa dalam pertemuan yang nanti terjadi. Kini dengan semua bukti yang Yuda tunjukan, Indra hanya ingin Adel mengakui dari mulutnya sendiri. Meski sulit untuk percaya tapi kenyataan yang terlihat rasanya sudah cukup membuktikan siapa sebenarnya Adel. Dan juga Indra yakin jika memang semua yang Adel lakukan ada kaitannya dengan sang istri bahkan mungkin lebih dari itu.


"Sebelumnya aku tidak mengenal kamu. Apa kamu mengenal aku?" tanya Sani dengan berani menatap kedua mata Adel yang di geluti amarah.


"Sama sekali tidak" jawab Adel ketus.


"Kenapa kamu menargetkan aku dari tabrak lari itu?"


"Ck! Masih berani kamu bertanya kenapa? Hah??" bukan jawaban yang Sani dapatkan justru teriakan semakin menggema. Adel benar-benar ada di batas amarahnya. Dengan cepat Adel mengambil vas bunga yang berada di meja hadapannya dan dengan cepat melemparkannya kepada Sani.

__ADS_1


Kali ini Indra tidak akan melakukan kesalahan yang sama hingga akhirnya Indra berusaha melindungi istrinya dari vas bunga yang sudah mengudara tersebut.


Braaaak


Pyaaarr


Praanggg


Tepat bahu Indra yang terkena vas bunga dan langsung merembeskan darah di balik kaos putih yang di kenakan.


"Kak.." kata Sani lirih penuh ketakutan di dalam pelukan Indra. Indra tersenyum dan mengecup kening istrinya sambil mengelus punggung istrinya agar tidak merasa ketakutan.


"Aaarrrrrgggghhhhhh" teriak Adel tidak terima.


"Buat apa kamu melindungi perempuan itu? Buat apa kamu melindungi perempuan yang sudah menghancurkan hubungan kita. Kita dulu sangat bahagia sebelum ada perempuan itu Ndra...." teriak Adel tak terima dengan perlakuan Indra melindungi istrinya.


Indra diam dan tak menyahuti Adel justru Indra semakin mengeratkan pelukannya kepada Sani. Yuda memutar bola matanya malas karena harus melihat drama secara langsung. Jika bukan karena Rosa sangat enggan baginya melakukan ini.


"Kamu sama seperti ibumu. Sama merampas apa yang menjadi milik orang lain" teriak Adel akhirnya.


Ucapan yang ingin di dengar oleh Indra dan juga Yuda. Meski Yuda sudah mengetahui tapi Yuda tetap ingin membuktikan jika bukti yang dirinya tahu memang valid pada kenyataanya.


Sani semakin tidak mengerti maksud dari Adel. Apa hubungannya dengan ibu yang di maksud Adel. Apa Adel mengenal ibunya? Pikir Sani.

__ADS_1


Sani mendongakan kepalanya untuk menatap Indra yang masih memeluknya. Mencoba mencari tahu lewat tatapan yang dirinya berikan kepada sang suami.


__ADS_2