Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
40. Sikap Berbeda Rizki


__ADS_3

"Kamu temenin aku kerja ya sayang" kata Rizki setelah membenarkan posisi duduknya di kursi kebesarannya. Rosa meneliti dan mengedarkan pandangan ke sudut ruang kerja Rizki. Rapih dan sangat rapih, ya itulah Rizki. Tak pernah berubah sedari dulu.


Rizki memperhatikan gerik Rosa dan takut membuat Rosa bosan, Rizki segera menarik tangan Rosa hingga istrinya jatuh tepat di pangkuannya.


Deg


Berdebar jantung keduanya oleh kelakuan Rizki barusan. Rizki yang terpana dengan cantiknya Rosa begitu juga dengan Rosa. Wajah mereka terlalu dekat, bahkan sangat dekat. Rizki melemparkan senyumnya lalu menarik tenguk sang istri dan mendaratkan ciuman di bibir ranum istrinya. Keduanya terbuai seperti sudah ada gelora membara di dalam diri mereka masing-masing. Rizki melepaskan pagutannya setelah mendapati Rosa seperti kehabisan oksigen.


"Maaf" bisik Rizki dan membersihkan bibir Rosa dengan ibu jarinya.


Rosa terdiam karena masih merasa malu dengan apa yang terjadi barusan.


"Mukanya jangan ngegemesin kalo gak mau aku cium lagi" kata Rizki dengan tangan kirinya melingkar di perut Rosa dan tangan kanannya mengambil dokumen yang akan di kerjakan.


"A-aku jangan disini deh. Takut ganggu kamu" ucap Rosa tak enak hati. Pahadal Rizki sangat kesenangan Rosa mau berada di atas pangkuannya.


"Disini aja biar aku makin semangat kerjanya jadi biar cepet selesai juga kerjaan aku"


"Gak enak kalau ada sekretaris atau asisten kamu yang masuk"


"Ya gak apa-apa emangnya kenapa kalo mereka masuk. Kita juga udah nikah. Udah suami istri jadi sah-sah aja kan kalo mereka ngeliat kita kayak gini"


"Hah? Ini beneran Rizki?" tanya Rosa terheran-heran. Pasalnya Rizki itu dulunya sama sekali tak pernah bersikap demikian. Bahkan saat masih bersama Sani pun untuk saling menggenggam tangan pun rasanya bisa di hitung.


Cup

__ADS_1


Ciuman mendarat di pipi chubby Rosa.


Ki udah, pipi Rosa memerah terus tuh. Kasian anak orang malu.


"Panggil siapa barusan?" tanya Rizki yang mengalihkan pandangannya ke berkas dokumen di atas meja. Rizki mengalihkan pandangannya karena mengetahui jika istrinya kini tengah malu-malu.


"Hah? Maaf mas" jawab Rosa yang menunduk sambil memperhatikan gerak Rizki mengerjakan tugasnya.


"Gak apa-apa tapi kalau salah panggil lagi nanti kena hukuman kayak tadi lagi ya" kata Rizki memgingatkan agar Rosa tidak selalu memanggil dirinya dengan nama.


"Iya"


"Iya apa?"


"Iya aku enggak panggil kamu dengan sebutan nama lagi mas" tutur Rosa lembut membuat Rizki semakin menghangat.


"Dari dulu" sahut Rosa memutar-mutarkan matanya.


Rizki hanya membalas dengan senyum saja. Dirinya kembali fokus pada pekerjaannya agar cepat selesai karena merasa kasian dengan istrinya yang menemani ini.


Ini kali pertama Rosa menemani Rizki bekerja dan berada si atas pangkuan Rizki. Rosa menyandarkan kepalanya di dada Rizki dan melingkarkan satu tangannya di punggung Rizki. Iya Rosa memeluk Rizki. Rizki senyum dalam diam. Masih melihat pergerakan Rosa dari ujung matanya.


Lama-kelaman Rosa merasa mengantuk karena hari pun sudah semakin malam namun Rizki belum juga selesai dalam pekerjaannya ini.


Tak terasa waktu sudah menunjukan hampir pukul setengah dua belas malam. Rosa masih dalam posisinya. Begitu Rizki yang baru menyelesaikan dokumen terakhirnya dan sudah di berikan asistennya.

__ADS_1


"Istri lo pindahin dulu Ki. Kasian itu. Lo juga pasti pegel nahan dia dari tadi kan?" kata Alif asisten Rizki. Selain Asisten Rizki, Alif juga merupakan saudara sepupu Rizki. Dan tak lain adalah adik dari Indra.


"Iya sebentar lagi. Ini gue udah selesai. Lo beresin semua ya sisanya ya. Gue pindahin Rosa ke kamar dulu" sahut Rizki yang ingin beranjak. Kamar? Kan tadi katanya di kantor? Iya jadi di ruang kerja Rizki ini terdapat sebuah kamar yang memang sudah di sediakan sejak dulu. Karena memang biasanya Rizki suka bermalam jika harus menyelesaikan pekerjaan hingga malam seperti ini.


"Iya. Yaudah lo selamat istirahat ya. Biar ini gue yang beresin. Gue juga gak pulang malem ini" kata Alif sambil menenteng berkas dokumen yang telah Rizki selesaikan.


"Oke. Thanks ya Al. Tapi yang lain udah pada pulang kan?" tanya Rizki memastikan karyawannya.


"Udah Ki. Udah dari jam sepuluh sampe setengah sebelasan tadi. Lo gak usah khawatir. Udah lo istirahat aja. Kasian istri lo. Lagi pula lo pengantin baru malah maksain kerja di akhir bulan gini" jawab Alif lalu berlalu meninggalkan Rizki, begitu juga Rizki yang menggendong Rosa ala bridal dengan hati-hati menekan tombol yang membukakan pintu di balik lemari ruang kerjanya.


Terbukalah kamar yang tersedia di dalam ruang kerja Rizki. Waw. Rizki tersenyum memandang wajah istrinya yang tertidur. Damai rasanya. Dengan hati-hati Rizki membaringkan Rosa di kasur berukuran 160x180 itu. Setelah membaringkan Rosa, Rizki mendaratkan kecupan di kening Rosa sambil melamat-lamat wajah Rosa.


"Berat juga kalo lama-lama. Untung enggak kesemutan. Dan pastinya untung sayang" kqtq Rizki dengan tangannya membelai puncak kepala Rosa lalu Rizki bergegas ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari lelah aktifitas seharian ini.


Selesai membersihkan diri, Rizki ikut membaringkan tubuhnya di samping Rosa. Dengan lelapnya Rosa Rizki memeluknya erat dan ikut terlelap dengan hangat.


***


"Gak mungkin. Gak mungkin. Kenapa mereka harus menikah? Kenapa? Terus gimana dengan nasibku sekarang? Gimana kalo mamih dan papih tau tentang kehamilanku ini? Sudah bisa di pastikan amukan papih yang akan menyiksaku habis-habisan karena di anggap membuat malu keluarga" gumam Sani di balkon kamarnya. Sani menjambak rambutnya frustasi karena tak mengerti harus bagaimana lagi.


Sani menyadari kesalahannya tapi dirinya pun tak ingin menggugurkan janin yang saat ini berkembang di rahimnya. Tapi bagaimana dirinya mempertanggung jawabkan semua kepada keluarga yang terbilang terpandang dan terhormat itu?


"Indra. Kenapa juga kamu gak mau mempertanggung jawabkan ini? Kalo kamu berkata tak menginginkan dia, aku pun sama Ndra. Aku belum menginginkan dia tapi kenapa dia menginginkan aku untuk menjadi ibunya?" tanya Sani dengan suara di dalam isakan tangisnya. Sani tak mengerti dan tak tahu harus berbuat apa lagi.


Sani meraih ponselnya dan di tatap poto saat dulu dirinya masih bersama dengan Rizki. Ada penyesalan dalam hatinya karena telah melakukan kesalahan bodoh meninggalkan laki-laki yang sangat tulus kepadanya.

__ADS_1


Sani tersenyum menatap ketampanan Rizki saat itu. Dan juga berandai kalau dirinya tak terjebak dalam situasi ini dan Rizki belum menikah, sudah dirinya pastikan akan mengejar cintanya Rizki lagi. Tapi Sani juga sadar jika sekarang sudah terlambat baginya. Namun Sani tak putus asa karena dirinya bertekad untuk mengejat cinta Rizki kembali dengan cara apa pun.


"Kamu harus kembali padaku Ki. Harus. Apa pun yang terjadi. Aku akan pastikan itu".


__ADS_2