Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
115.


__ADS_3

"Ba-baik alhamdulillah baik" jawab Rosa yang agak sedikit canggung dengan mantan pacarnya ini. Pikir Rosa apa lagi ini, belum juga selesai dengan mantan pacar suaminya kini harus berurusan dengan mantan pacarnya sendiri.


"Oh iya keponakan aku dimana kak? Boleh gak di jengukin gitu?" tanya Bulan yang menggedarkan pandangan pada ruang rawat Rosa namun tidak ada yang di maksudnya.


Ayyas yang mendengar kata keponakan dari mulut Bulan menggelengkan kepalanya pelan merasa tak percaya. Tak tahu apa yang di katakan Hari sehingga Bulan mengatakan anak-anak Rosa adalah keponakannya. Bahkan hadiah yang di bawakan oleh Bulan bisa di bilang cukup besar dan banyak. Entah itu apa tetapi feeling Ayyas mengatakan demikian.


"Eemm anak-anak kakak masih di ruang perawatan bayi" jawab Rosa dengan senyum tapi tidak dengan Bulan yang mengkerutkan seolah sedang berpikir.


"Kenapa?"


"Karena mereka membutuhkan perawatan lebih intensif jadi untuk beberapa waktu mereka akan berada disana sampai kondisinya membaik" jawab Rosa dengan lembut.


"Mereka? Apa anak kakak kembar?" tanya Bulan yanh rasanya Ayyas ingin menjitak kepalanya. Lho?


Rosa mengangguk dengan senyum di sudut bibirnya. Hari sampai tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari senyum Rosa barusan. Perasaannya semakin melebar seolah rasa ingin memiliki terus mengebunya.


"Jaga pandangan. Inget istri orang!" seru Ayyas dengan nada ketusnya. Bulan menoleh dan menatap Ayyas datar lalu menantap Hari yang tak terpengaruh sedikit pun dengan sindiran Ayyas.


"Kak Rosa sekali lagi selamat yaa atas kelahiran anak kembar kakak. Maaf aku gak tahu kalau anak kakak kembar jadi aku beli hadiahnya gak kembar" ucap Bulan dengan memasang wajah murung yang jelas membuat Ayyas memutar bola matanya malas.


"Gak apa-apa. Sebelumnya terima kasih ya Bulan sudah repot untuk jenguk dan bawain hadiah untuk anak kakak"


"Tapi ini semua bukan dari Bulan saja kok kak tapi bang Hari juga" kata Bulan lalu melirik Hari dan menyikut perut Hari agar berhenti menatap pujaan hatinya ini.

__ADS_1


"Aaww" ringis Hari pelan lalu menoleh ke Bulan dengan tatapan bingung. Bulan membulatkan matanya dengan ekspresi kesal terhadap abangnya ini.


"Eeehh iya kenapa?" tanya Hari bingung.


"Kak Rosa ternyata anaknya kembar bang dan kita bawa hadiahnya gak kembar" jawab Bulan dan kini Hari yang melebarkan matanya karena terkejut. Rosa melahirkan anak kembar? Pikirnya selalu berkata seandainya dirinya adalah suami Rosa akan sangat bahagia dikarunia anak kembar seperti ini karena Hari memang sangat menginginkan untuk memiliki anak kembar.


"Ros" panggilnya menoleh ke Rosa dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Anak kamu kembar?" tanya Hari seolah tak percaya dan ingin mendengar langsung dari Rosa. Rosa tak bersuara hanya menganggukan kepalanya.


"Selamat ya Ros" katanya yang sudah tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Terima kasih" jawab Rosa dan setelahnya keadaan menjadi hening sampai akhirnya Hari dan Bulan memutuskan untuk pulang.


***


Ceklek


"Mau apa la..." kata Ayyas yang mengira itu Hari.


"Mau apa lagi apa?" tanya Yuda yang semakin mendekat menghampiri keduanya.


"Gue kira si Hari senin selasa rabu itu yang masuk lagi. Hampir mau ngumoh gue ngeliat dia sama adeknya yang sok deket itu. Diiiih males banget!!" gerutu Ayyas yang masih belum hilang rasa kesalnya. Padahal Hari dan Bulan bermaksud baik menjenguk Rosa tapi Ayyas tidak berpikir demikian.

__ADS_1


"Oooooo" jawab Yuda yang tak mempedulikan namun kini matanya tertuju pada hadiah berbungkus rapi yang berada tak jauh dari brankar Rosa.


"Itu dari dia?" tanya Yuda menoleh dan menatap Ayyas serta Rosa secara bergantian.


"Iya" jawab Ayyas ketus dan Rosa hanya menganggukan kepalanya.


"Lo kesel karena apa? Dia jenguk Rosa apa dia bawa hadiah?"


"Dua-duanya!!" jawab Ayyas menaikan sedikit suara dan Yuda membalas dengan hembusan nafas.


"Lo keberatan Hari sama adeknya kasih hadiah gitu?"


"Bukan keberatan cuma gue kesel aja kalo ngeliat muka dia. Rasanya kesel gue dari dulu belum hilang juga. Pengen nabok pokoknya tapi mana boleh sama Rosa" kata Ayyas membuat Rosa mengalihkan pandangan dan menatap Ayyas penuh tanya.


"Emang bener lo gak ngebolehin Ayyas nabok itu anak?" tanya Yuda dengan tangan yang membuka jinjingan dan menyiapkan makanan untuk makan mereka bertiga. Rosa menatap Yuda dan menganggukan kepalanya.


"Kenapa?"


"Buat apa Yud? Apa dengan kayak gitu akan membuat kesel Ayyas hilang? Bukan hilang yang gue takutin malah bikin dendam. Bisa jadi Hari yang gak terima akan dendam dengan Ayyas begitu pula Ayyas yang kalo Hari membalasnya akan ada rasa ingin membalas lagi. Gue gak mau cuma karena gue memimbulkan permusuhan yang nantinya malah membahakan diri sendiri. Iya kalau diri sendiri yang kena kalau malah keluarga kita yang kena gimana?" jawab Rosa pelan.


Yuda tersenyum manis dengan jawaban yang barusan dirinya dengar. Yuda semakin mengagumi perempuan yang ada di hadapannya ini. Bagaimana dirinya tidak semakin jatuh cinta. Meski cinta sepihak tapi Yuda tidak menuntut untuk memiliki.


"Tapi gue kesel Ros. Muak banget ngeliat muka sama tingkahnya. Apalagi pas itu si Bulan bintang itu bilang anak lo keponakannya. Iiihhhkk pengen gue pites aja gak tuh. Gak gak pokoknya anak-anak lo bukan keponakan dia. Bukan pokoknya" keluh Ayyas dengan nada yang masih marah-marah.

__ADS_1


"Entahlah Yas. Gue juga bingung kenapa Bulan bisa berkata demikian. Gue cuma berpikir positif saja kalau dia anggep anak-anak gue keponakan berarti dia sayang sama anak-anak gue. Kalau sayangkan gak mungkin akan nyakitin. Jadi biarin saja yaa" bujuk Rosa agar Ayyas berhenti marah-marah.


"Kata siapa kalau sayang gak akan nyakitin? Buktinya sahabat gue, suami lo yang sayang sama lo tapi nyakitin lo Ros. Itu juga yang bikin gue kesel bahkan hampir murka. Oke dia sahabat gue tapi gak harus juga nyakitin sahabat perempuan gue yang udah gue anggap adik. Bahkan sekarang suami lo yang sayang sama lo itu terbaring koma. Karena apa? Karena kecelakaan yang menyelamatkan mantan pacar dan anak mantan pacarnya. Dan lo gak bisa bohong kalo lo juga merasa sakit jika lo mendengar dan menelaah kejadiaan ini bahkan sampe lo yang pendarahan keluarganya bukan menolong lo lebih dulu. Padahal mereka tahu ada dua nyawa yang sedang bersama lo saat itu!!!!" kata Ayyas mengeluhkan ungkapan hatinya. Membuat Rosa diam membisa begitu dengan Yuda yang sudah tidak bisa berkata apapun.


__ADS_2