
"Yaudah mandi dulu ya sayang. Nanti baju kamu aku siapin. Gak usah malu lagi mulai saat ini. Baik aku atau kamu udah berhak untuk melakukan hal ini atau bahkan lebih. Aku tunggu di luar yah. Kamu jangan lama-lama mandinya. Aku gak mau kamu kedinginan lagi. Ya tapi kalo kamu mau kedinginan lagi gak apa-apa. Aku siap buat selalu memeluk kamu dan bikin tubuh kamu selalu hangat" kata Rizki membuat Rosa terdiam dan menelaah apa yang di katakan suaminya lalu mendaratkan ciuman di kening sang istri.
Rizki meninggalkan Rosa di dalam kamar mandi dan tidak mengunci pintunya. Setelah di luar kamar mandi Rizki pun langsung memegangi dadanya yang sedari tadi ternyata sama berdebar kencang seperti Rosa hanya saja Rizki mampu menutupi rasa gugupnya.
"Indah banget" kata Rizki berusaha mengatur nafas yang memburunya. Begitu juga dirinya memyadari sesari tadi seperti ada yang ingin keluar dari dalam dirinya. Entahlah apa, Rizki selalu membantahnya. Terlebih Rizki masih belum berani menyentuh Rosa.
"Bisa gila gue ngeliat hal itu sering-sering. Aahh tapi kan Rosa udah jadi istri gue. Gak apa-apa juga kali gue sering-sering ngeliat dia kayak gitu" kata Rizki lagi pada dirinya sendiri. Rizki langsung melangkahkan kali ke koper dan mengeluarkan pakaian yang akan di kenakan istrinya hari ini. Iya pakaian ini memamg Rania yang menyiapkannya. Baik pakaian Rosa mau pun pakaian Rizki.
Lima belas menit Rosa keluar dengan pakaian yang sudah di siapkan sebelumnya. Rizki tersenyum melihat Rosa yang di rasa semakin cantik saja.
"Udah?" tanya Rizki dan di anggukan oleh Rosa.
"Yaudah gantian ya. Nanti subuhnya bareng jangan duluan. Aku gak lama kok mandinya"
"Iya" jawab Rosa singkat lalu berlalu dan mengelar sajadah untuk kedua menjalankan ibadah berjamaah pertama kali setelah menikah.
Rosa rapih dengan sudah mengenakan mukenanya. Rizki menghampiri Rosa lalu segera mengambil sarung dan peci yang sudah Rosa siapkan. Senyum terus terpancar dan tak memudar sekali pun. Bahagia, benar-benar bahagia.
Rizki memulai shalat subuh dan membacakan surat pendek serta qunut dengan sempurna. Indah sekali suara Rizki. Meski sudah sering kali mengimami Rosa tapi rasanya kali ini sangat berbeda dengan status mereka yang baru.
Selepas shalat Rosa langsung mencium punggung tangan Rizki dengan haru. Iya ada air mata yang membasahinya disitu. Rizki juga tak lupa membacakan doa di ubun-ubun Rosa setelahnya mencium kening Rosa dengan sangat lama dan membawa Rosa dalam pelukannya.
"Aku bahagia Sa. Bahagia aku itu kamu" kata Rizki mengeratkan pelukannya.
"Hm" kata Rosa berdehem karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Terima kasih mau kasih aku kesempatan. Aku berdoa semoga kita bisa menjalani pernikahan ini sampai maut yang memisahkan kita. Aamiin ya Rabbalallaamiin" kata Rizki dengan doa penuh harapan.
"Aamiin"
"Ya udah yuuk siap-siap. Nanti setelah sarapan kita pulang ke rumah ibu dulu yah. Kita nginep disana malam ini. Baru besok kita ke rumah mama. Gimana?" usul Rizki sambil mengurai pelukannya.
"Kamu libur kerja sampai kapan?" tanya Rizki lagi.
"Ayyas ngasih libur satu minggu. Tapi besok kan akhir bulan. Kayaknya gue mau masuk kerja aja deh. Gimana? Boleh gak?" tanya Rosa sambil meminta izin kepada Rizki. Rizki tersenyum merasa di hargain dengan sang istri yang meminta izinnya untuk bisa bekerja esok hari di akhir bulan.
Rosa yang menjabat sebagai direktur keuangan memang seharusnya ada dalam perusahaannya saat sedang akhir bulan atau tutup buku.
__ADS_1
"Yaudah aku izinin kamu buat closingan besok. Tapi berangkat dan pulang kerjanya sama aku yah"
"Iya"
"Yaudah sekarang mau tidur lagi atau gimana? Ini masih pagi juga kan"
"Boleh gue tidur lagi?" tanya Rosa dengan semeringah. Bagaimana tidak waktu tidur itu hal yang tak pernah di sia-siakan Rosa.
"Boleh. Mau sambil di peluk lagi juga boleh" jawab Rizki lembut menggoda Rosa hingga pipi Rosa memerah lagi.
"Gemes kalo merah lagi kayak gini pipinya" ucap Rizki mencubit gemas pipi Rosa. Rosa diam dan hanya menutup wajahnya dengan tangannya.
"Ha ha ha ha"
"Jangan di ketawain. Malu gue malu"
"Malu aku malu pada semut merah" gida Rizki yang semakin menjadi.
"Rizki" teriak Rosa lalu mencubit pinggang Rizki sebagai andalannya.
"Aww sakit sayang isshsk cubitannya kecil tapi pedes"
"Biarin yang penting sayang. Yaudah sini aku peluk lagi tidurnya yuuk" kata Rizki lalu menarik Rosa dalam pelukannya lagi.
***
Kini Rosa dan Rizki sudah ada dalam perjalanan menuju rumah Rizki. Mereka hanya menginap semalam saja karena memiliki rencana akan menginap malam ini di rumah Rizki dan selanjutnya akan tinggal di rumah Rosa.
Iya Rosa meminta setelah menikah untuk tetap tinggal dirumahnya karena Rosa berat untuk meninggalkan mama Wina tinggal sendirian. Selain hanya mama Wina yang dirinya punya, Rosa juga tak ingin jauh-jauh dari sang ibu.
"Sayang" panggil Rizki saat masih mengemudi. Rosa menoleh dan melemparkan senyum kepada suaminya.
"Hm"
"Aku boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Rizki dengan serius dengan sesekali menoleh pada istri dan fokus pada setirnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Tapi kamu jangan marah"
"Hm tergantung permintaannya"
"Hm gini. Bisa gak sekarang kamu biasain ngomong sama akunya gak pake gue lo lagi dan bisa gak kalo lagi marah, kamu marahnya harus tetap manggil aku sayang" kata Rizki dengan sangat lembut dan tersenyum manis. Rosa menautkan kedua alisnya. Pikirnya untuk perminyaan pertama akan di cobanya namun untuk permintaan kedua yang mana harus menggunakan kata sayang membuat Rosa merasa lebih aneh lagi karena belum pernah sedemikian melakukan itu.
"Hah gimana?"
"Iya ubah cara berbicara kamu, gak pake gue lo lagi dan harus pake kata sayang kalo kamu lagi marah. Paham kan maksud aku?" tanya Rizki dan di anggukan oleh Rosa. Mengerti sih tapi......
"Di coba dulu. Gak harus langsung ya sayang. Semua belajar secara bertahap" kata Rizki lagi lalu menarik tangan kanan Rosa dan disematkan jari Rosa dengan jarinya.
"Terus ada lagi"
"Apa lagi?"
"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan mas yah. Mas Rizki" kata Rizki penuh percaya diri lalu mencium punggung tangan Rosa.
Rosa melebarkan kedua matanya merasa tak percaya dengan permintaan sang suami.
'Ini bener Rizki?' tanya Rosa dalam hati yang terheran-heran dengan sikap suaminya.
"Sayang mau kan?" tanya Rizki lembut dan penuh harap.
"Kalo gue gak mau gimana?" tanya Rosa membalikan pertanyaan.
"Istri itu harus nurut lho sama suaminya. Semua itu ada ajarannya di dalam al-quran. dan surganya istri itu ada di suaminya juga. Emang kamu gak mau masuk surga karena menuruti permintaan suami" kata Rizki semakin lembut dan pasti perkataannya membuat Rosa tidak bisa protes lagi.
"Gimana? Mau kan panggil aku dengan sebutan mas?" tanya Rizki lagi.
"I-iya di coba ya" jawab Rosa kikuk. Namun senyum terbit di bibir Rizki.
"Harus di coba sayang. Coba aku mau denger kamu panggil aku dengan sebutan mas".
"Iya Ki eh Mas. Iya mas" kata Rosa yang membuat Rizki bahagia sekali.
"Makasih"
__ADS_1
***
Setiba di perkarangan rumah Rizki, Rizki langsung turun dari mobilnya dan segera membukakan pintu mobil sang istri. Rosa cukup tersenyum dengan sikap Rizki yang di liat manis. Semanis senyumnya. Rizki tak lupa menggenggam tangan Rosa lalu membawanya berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah.