
"Hai Deby Monalisa" teriak Rosa ketika bertemu dengan sahabat kuliahnya dan juga calon istri sahabat SMAnya.
Deby dan Rosa sama saling menghampiri dan langsung memeluk sambil memberikan cium pipi kanan dan juga pipi kiri juga berakhir dengan pelukan hangat.
"Hai Rosa Malinka. Duuuh kangen banget aku sama pengantin baru yang satu ini. Gimana-gimana after merried? Ar9oe you happy?" sapa Deby dengan antusias ingin tahu perasaan Rosa yang di nikahi sahabatnya sendiri sambil melepaskan pelukannya. Rosa menganggukan kepalanya dengan memberikan senyum lebar manis versi dirinya.
"I'm so Happy Deb. Semua di luar ekspetasi aku. Alhamdulillah pokoknya. Sebentar lagi juga kamu bakalan ngerasain"
"Iya mudah-mudahan tapi kan beda sama kamu. Aku kan sama Ayyas emang pacaran dan sebelumnya bukan temenan. Kalo kamu itu dari temen malah bisa di bilang sahabatan banget sama Rizki eh tiba-tiba jadi nikah gini. Canggung gak si Ros? Duuh aku jadi pengen tahu banget nih he he he maaf yah" ucap Deby agar Rosa tak tersinggung dengan rasa ingin tahunya.
Rosa terkekeh kecil mendengar perkataan Deby. Lalu merangkul Deby sambil berjalan bersama dan duduk berhadapan di sebuah Cafe tempat biasa mereka datangi.
"Sambil ngopi kali ya ceritanya he he he" seru Rosa lalu memesan kopi kesukaannya dan juga Deby kepada salah satu waiters yang mendatangi mereka. Setelah menentukan pesanan kopi dan cemilan, waiters pun berlalu untuk menyiapkan pesanan Rosa dan Deby.
"Ayo ayo jadi gimana-gimana?" ucap Deby dengan suara manjanya.
"Ya ampun Deby Monalisa calon istrinya Ayyas William ini bener-bener yah. Lo bener-bener yah kayak calon suami lo. Ha ha ha"
__ADS_1
"Namanya jodoh Rosa ya sebelas dua belas lah. Kamu paham lah itu" kata Deby membela dirinya.
"Ya ya ya iya deh yang jodoh sama Ayyas. Insyaallah"
"Issshhks nyebelin deh Rosa Malinka ini. Gak suka aah gelay"
"Tuh kan alaynya mulai keluar. Persis banget sama Ayyas" protes Rosa ketika kelakuan Deby mulai seperti Ayyas. Deby sendiri terkekeh kecil karena memang benar apa yang di katakan sahabat yang di kenalnya sejak kuliah ini.
"Ihk gak apa-apa kali Ros. Emang virusnya Ayyas udah melekat banget di aku. Eh tapi kan balik ke topik deh Ros, aku beneran mau tau. Hmm lebih tepatnya apa yah? Ya gitu deh pasti kamu ngerti maksud aku"
"Kamu khawatir? Tenang aja. Aku baik-baik aja. Aku bahagia Deb, bahagia banget untuk sampai saat ini. Awalnya juga aku mikir apa bisa ya aku jalanin pernikahan dengan sahabatku sendiri. Secara aku sama Rizki udah sama-sama itu lama banget. 14 tahun bukan waktu yang sebentar kan?" ucap Rosa sambil menghentikan sejenak setelah waiters mengantarkan pesanan mereka.
"Jujur iya aku sedikit worry Ros. Dan yang kamu bilang barusan bener banget. Kalian emang udah sahabatan lama banget bahkan udah kenal secara keseluruhan termasuk keluarga masing-masing kan. Nah yang jadi pertanyaan aku sikap Rizki ke kamu gimana? Dia memperlakukan kamu kayak apa gitu? Secara meski kenal lama tapi kan Rizki bisa di bilang laki-laki pendiem dan dingin gitu" jelas Deby mengutarakan maksud hatinya.
"Rizki itu gak pernah dingin sama aku tau Deb. Justru sikapnya setelah menikah itu bener-bener beda banget. Lebih hangat dan dia bener-bener memperlakukan aku dinluar nalar aku. Bahkan aku kayak gak percaya dia bisa bersikap kayak gitu Deb" jawab Rosa dengan hati menghangat jika mengingat setiap sikap manis yang Rizki lakukan kepada dirinya.
"Aaahh yang bener? Ya ampun gimana ya rasanya di kasih perhatian sama laki-laki dingin kayak gitu? Pasti beda banget rasanya ya?" tanya Deby memcoba membayangkan. Rosa hanya menggelengkan kepala dan menyedot kopi dingin miliknya.
__ADS_1
"Yang pasti seneng banget Deb. Bikin berdebar mulu. Rasanya jantung aku tuh mau pindah tempat aja. Karena itu yang tadi aku bilang yah. Rizki kalo udah sama aku sikapnya itu berubah berasa lagi sama pawangnya kali ya? Jinak-jinak merpati he he he" kata Rosa dengan kekehan jika mengingat sikap manis yang Rizki berikan.
"Baiklah aku lega kalo gitu. Semoga pernikahan kamu ini jadi pernikahan yang selalu di berkati Tuhan, selalu dalam lindungan Tuhan, dan yang pastinya semoga keluarga kecil kalian segera di berikan malaikat-malaikat kecil yang akan menjadi pelengkap dalam rumah tangga kalian dan tentunya akan membuat rumah tangga kalian semakin bahagia. Aamiin" harao Deby dengan pernikahan Rosa dan Rizki.
"Aamiin ya Allah aamiin. Makasih banyak ya Deb. Semoga doa terbaik kamu berbalik ke kamu juga yang akan segera menikah dengan pilihan kamu. Meski Ayyas kadang suka geser otaknya, gak ada akhlaknya, tapi Ayyas itu laki-laki yang bertanggung jawab dengan apa pun itu. Terbukti dari dia yang menjaga aku dengan baik sampai aku menikah dengan Rizki"
"Iya aku tau itu Ros makanya aku juga bener-bener bersyukur bisa bertemu dengan Ayyas. Udah seiman, sefrekuensi, sejalan, sepemikiran, ya puji Tuhan bangetlah Ros. Bahkan mudah-mudahan setelah aku bersama Ayyasn nantinya kita bisa jalanin silaturahmi kita lebih dekat lagi bukan?"
Rosa menganggukan kepalanya dengan senyum manisnya.
"Oh iya pas acara resepsi aku, kamu bisa temenin aku bawain sebuah lagu? Lagu khusus buat Ayyas tapi kayaknya pas juga kamu bawain buat Rizki. Aku minta temenin karena aku takut grogi saat itu. Kamu tau kan kalo aku udah grogi suka kayak gimana he he he"
"Bawain lagu?" tanya Rosa sambil berpikir. Entah apa yang di pikirkannya.
"Iya. Aku mau kasih surpise sedikit buat Ayyas. Ayyas itu sering banget nyuruh aku kayak bawain lagu gitu cuma akunya suka malu kalo bawain lagu di depan dia. Suka langsung ilang gitu suara aku Ros. Aku juga bingung, kayak masih ada pembatas dari diri aku yang bikin aku suka setengah mati malu kalo berhadapan dengan Ayyas"
"Hah?" tanya Rosa hampir tak percaya sebab selama Rosa mengetahui hubungan keduanya semua terlihat baik-baik saja dan seolah mereka sudah tak malu sama sekali. Terlebih Ayyas sering sekali mengajak Deby dalam berbagai hal yang penting dalam hidupnya.
__ADS_1
"Yang bener Deb? Kamu malu sama Ayyas? Malu apa malu-maluin? Eeh" celoteh Rosa antara terkejut atau mengejek.
Deby tak heran dengan ucapan yang baru di dengarnya ini sebab memang dirinyalah pandai sekali dalam bersikap menjaga gengsinya. Oh iya? Masa sih?