Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
38. Prioritas Utama Rizki


__ADS_3

"Iya aku sudah menikah. Menikahi perempuan yang sangat aku cintai".


"Enggak. Enggak mungkin kamu udah menikah. Kamu pasti bohong kan? Kamu bilang kayak gitu karena kamu mau menolak aku? Rizki please jangan kayak gini. Tolong pikirkan aku dan calon anak aku. Aku mohon Rizki"


"Buat apa aku bohong sama kamu? Sedangkan kamu sendiri tahu kalau aku bukanlah orang yang pandai berbohong seperti kamu. Jadi stop jangan memaksakan kehendak kamu yang jelas aku menolaknya" kata Rizki menaikan satu suaranya.


Sani tak percaya Rizki bisa berucap demikian bahkan Sani sampi menggelengkan kepalanya. Kini Sani kembali menatap Rosa penuh permohonan agak Rosa bisa membujuk Rizki.


"Ros tolongin aku Ros. Tolong. Cuma kamu yang bisa nolongin aku"


Rosa menghembuskan nafasnya kasar merasa tak percaya terjebak dalam situasi seperti ini.


"Aku mau nolong kamu meminta pertanggung jawaban kak Indra. Tapi aku gak bisa menolong kamu membujuk Rizki untuk menikahi kamu"


"Kenapa gak bisa Ros? Kamu kan belum mencobanya. Tolong aku Ros. Rizki laki-laki baik, Rizki cocok untuk jadi ayahnya anak aku. Kamu ngerti kan maksud aku? Tolong Ros tolong" kata Sani semakin memohon tak tahu malunya. Rosa pun melepas perlahan genggaman tangan Sani di tangannya.


"Maaf aku gak bisa bantu kamu untuk hal itu tapi kalau untuk berbicara dengan kak Indra akan aku coba".


"Kenapa harus Indra? Aku maunya Rizki Ros. Rizki hisk hisk hisk"


"Berhenti menangis Sani. Sudahlah. Aku sudah menikah dan aku gak akan pernah mau menikahi kamu sekali pun aku belum menikah. Mengertilah" kata Rizki dengan suara semakin keras.

__ADS_1


Sani segera menghapus air mata yang membasahi pipinya itu. Di tatap Rizki dalam-dalam dengan harapan Rizki akan luluh padanya dan mau mengabulkan permintaannya.


"Ki please pikirin anak aku. Gak apa-apa kamu gak mikirin aku tapi tolong anak aku. Tolong calon anak aku Ki"


"Aku akan bicara sama kak Indra untuk bertanggung jawab dengan apa yang udah dia lakuin ke kamu" kata Rizki dengan tegas tanpa menoleh lagi Sani.


Perhatiannya tertuju pada Rosa yang memandangnya dengan senyum. Rizki yang merasa terpancing emosi segera mendekatkan wajahnya dengan wajah Rosa. Tanpa aba-aba Rizki mendaratkan ciuman di bibir Rosa untuk pertama kalinya. Bahkan di hadapan Sani. Sani membulatkan mata tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini


Bahkan bukan hanya cium menempel saja. Rizki pun ******* dan menggigit kecil bibir Rosa yang sudah jadi perhatiannya sejak menikah namun tak berani melakukannya. Manis, rasanya manis hingga Rizki enggan melepaskannya malah semakin memperdalam pagutan bibirnya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sani yang murka seketika. Emosinya terpancing dengan pagutan panas yang di lakukan Rizki terhadap Rosa padahal Rosa sudah memukul-mukul dadanya untuk meminta di lepaskan pagutannya.


"Hei" teriak Sani dengan lantangnya tapi Rizki tetap saja mengacuhkannya.


Rizki memandangi wajah cantik Rosa dan membenarkan helaian rambut Rosa ke belakang telinganya. Rizki tersenyum dengan ibu jarinya menghapus sisa salivanya di bibir ranum Rosa. Bibir yang akan membuat Rizki candu.


"Manis. Kayak kamu" ucap Rizki dengan senyum dan hangat lalu mendaratkan ciumananya lagi di kening istrinya. Waw Rosa sangat merona tak percaya dengan suaminya yang sekarang berani terang-terangan menciumnya dimana pun. Bahkan kini Rizki membawa Rosa dalam pelukannya lagi.


"Rizki apa yang kamu lakukan dengan sahabat kamu? Hah? Rosa segitu rendahannya kamu sampai diam saja di perlakukan demikian oleh sahabat kamu sendiri? Kalian pikir ini apa? Mana ada sahabat yang bersikap demikian kepada sahabatnya sendiri? Hah?" teriak Sani yang sudah meletup-meletup.


"Jaga ucapan kamu. Yang pantas di sebut rendahan itu kamu. Kamu berkaca sebelum berbicara" kata Rizki yang tak terima istrinya di katain sedemikian. Murahan? Justru Rosa sangat mahal untuk di dapatkan. Gumam Rizki dalam hatinya.

__ADS_1


"Lalu apa bedanya? Dia mau-maunya di cium kamu seperti itu? Tak ada perlawanan?" tanya Sani mengintimidasi. Padahal Rosa sudah mencoba meminta lepaskan dengan memukul dada Rizki sedari tadi tapi sepertinya fokus Sani hanya pada bibir yang beradu itu deh.


"Gak ada yang salah jika Rosa tidak melakukan perlawanan. Itu artinya Rosa menuruti apa mau suaminya" jawab Rizki dengan penuh penekanan dalam kata terakhir yang di lontarkanya.


Sani semakin di buat terkejut mendengar kata Rizki yang menyatakan menuruti apa mau suaminya.


'Suaminya? Maksudnya? Rosa istri Rizki? Mereka menikah? Apa mungkin? Mereka sahabat. Iya mereka sahabat sedari dulu. Gak mungkin mereka menikah' tanya Sani dalam hatinya.


"Suami? Ck. Apa maksud kamu? Kamu sudah menikah dengan dia? Hah? Kamu menikahi sahabat kamu sendiri?" tanya Sani tak percaya dengan tatapan yang kini mengurar marah dari matanya. Kini Sani beralih pandangan dan menatap Rosa penuh kebencian. Benci? Iya sebenarnya Sani sangat membencu Rosa yang sudah menjadikan dirinya bukan prioritas utama Rizki saat keduanya menjalin hubungan. Rizki selalu mengutamakan Rosa yang katanya sahabat yang harus di jaganya itu.


"Apa benar itu Rosa?" tanya Sani dengan rahang mengeras dan mengepalkan kedua tangannya erat.


Rosa menatap mata Sani yang penuh kebencian itu. Di tarik nafasnya dalam dan dianggukan pula kepalanya.


"Iya. Rizki suami aku sekarang. Jadi kamu gak bisa minta tolong aku membujuk Rizki untuk menikahi kamu. Dia milik aku dan gak akan aku lepaskan seperti kamu melepaskannya dulu" jawab Rosa dengan tegas namun penuh kelembutan di setiap tutur katanya.


Sani menggelengkan kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Sani semakin histeris dan terus menangis meraung disana. Tak percaya seolah dunia sedang bercanda kepada dirinya.


"Kenapa kamu tega sama aku Rosa? Kenapa kamu tega mengambil Rizki dari aku? Apa salah aku sama kamu? Hah? Apa?" tanya Sani dalam isak tangisnya. Rosa terdiam namun mendengarkan dan menelaah setiap ucapan yang di lontarkan Sani.


"Dari dulu sampe sekarang selalu kamu, selalu kamu yang jadi prioritas Rizki. Selalu kamu yang di utamakan Rizki, kenapa harus kamu? Apa kelebihan kamu sehingga laki-laki dingin ini menghangat jika sudah bersama kamu? Hah? Apa Rosa? Apa?" teriak Sani lagi meluapkan isi hatinya.

__ADS_1


Rosa tak bisa menahan lagi, matanya ikut berkaca-kaca tak tega dengan yang di alami Sani saat ini. Rizki paham sifat iba yang melekat oada Rosa pasti sedang keluar dan pasti saat ini Rosa akan merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Sani.


'Apa benar aku yang sudah membuat Sani merasakan hal demikian? Karena Rizki selalu menjadikan aku prioritas utamanya sedari dulu? Tapi bukannya sikap Rizki sama dengan Yuda dan Ayyas yang bersikap seperti itu kepada aku?' tanya Rosa dalam hatinya yang terasa nyeri.


__ADS_2