
"Kak Indra" panggil Rizki saat Indra masih menunggu di depan ruang IGD. Indra menoleh dan tersenyum kecil kepada Rizki.
"Nih sarapan dulu yuuk. Kak Indra harus jaga kondisi juga biar gak sakit"
"Iya Ki. Makasih banyak ya"
"Sama-sama kak. Oh iya beberapa hari lalu aku pulang kampung, bude dan pakde salam buat kak Indra. Kapan-kapan nanti kita pulang kampung bareng ya kak"
"Iya Ki. Kak Indra juga udah kangen banget sama ibu dan bapak" kata Indra sambil membuka plastik berisikan bubur ayam.
"Kak. Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Indra hati-hati takut menyinggung perasaan Indra.
"Boleh. Apa ini berhubungan dengan Sani?" tanya balik Indra menebak. Rizki menganguk cepat dengan senyum kikuk.
"Apa dia datang menemui kamu?" tanya Indra dengan menyuapkan bubur ayam ke dalam mulutnya .
"Iya Sani sempat datang menemui aku 2 kali. Pertama sebelum aku menikah dan kedua saat aku sudah beberapa hari menikah"
"Apa dia mengatakan jika dirinya hamil?"
"Iya dia bilang jika dirinya hamil dan dia meminta aku untuk menikahinya kak"
"Hah? Apa dia sudah gila?" tanya Indra tak percaya dengan Sani yang meminta Rizki menikahinya.
"Entahlah kak. Tapi maaf kak. Apa benar?" tanya Rizki meragu.
__ADS_1
"Benar apanya? Benar kalau kak Indra yang menghamilinya maksud kamu?" tanya balik Indra dengan santai menyuapi sendok ke mulutnya lagi.
"Iya. Dia berkata demikian. Maaf bukannya aku mau ikut campur cuma kayaknya dengan Sani menghampiri aku sama aja dia mengajak aku terlibat bukan?"
"Maafin kak Indra ya Ki. Kak Indra gak bermaksud melibatkan kamu. Kak Indra juga gak sadar saat itu. Kak Indra mabuk dan saat bangun sudah ada Sani di samping kak Indra. Kak Indra gak inget apa yang udah kak Indra lakuin dengan Sani. Maafin kak Indra ya Ki".
"Tapi apa benar anak yang di kandung Sani itu anak kak Indra?" tanya Rizki dan Indra menggelengkan kepalanya.
"Kak Indra gak tau tapi memang saat kak Indra cek di sprei itu ada bercak darah. Mungkin itu darah virginnya dia" jawab Indra dengan enteng dan selesai dengan sarapannya.
"Dia ngaku sama aku kalo hanya tidur sama kak Indra aja. Apa dia sudah menemui kak Indra?"
"Sudah dan disaat dia menemui kak Indra di depan pacar kak Indra. Pacar kak Indra shock dan penyakitnya kambuh bahkan sampai saat ini penyakitnya sering sekali kambuh" jawab kak Indra jujur.
"Tapi maaf kak sebelumnya. Apa kakak mau mempertanggung jawabkan itu semua? Biar bagaimana pun itu anaknya kak Indra. Aku percaya jika Sani memang perempuan yang bisa menjaga harga dirinya"
Rizki merasa iba kepada ketiganya karena biar bagaimana pun semakin hari perut Sani akan semakin membesar. Tentunya Rizki masih memiliki rasa khawatir bagaimana Sani nanti di perlakukan oleh orang tuanya yang sangat terpandang itu.
"Lagi pula kamu tau kan. Kak Indra dan Sani bagaikan langit dan bumi. Kita beda kasta Ki. Kakak bukanlah orang yang pantas buat Sani. Mana bisa kakak mencukupi kehidupannya dengan kakak yang kerjanya hanya sebagai manager saja. Kamu tau kan gaji kakak sebesar apa? Bukannya kakak gak bersyukur untuk saat ini kakak masih bisa membiayai Adele dan hidup kami berdua saja kakak udah sangat bersyukur. Kakak gak tau gimana Adele kalo kakak bertanggung jawab dengan Sani. Sedangkan Sani? Kakak yakin jika dia bisa menghadapi masalah ini" tutur Indra menjelaskan semua keadaannya.
Iya Adele adalah seorang yatim piatu yang tengah sakit jantung sejak kecil. Adele sudah tak bekerja lagi sejak dirinya sering kambuh dan sering sekali tak masuk kerja.
Indra sebagai pacar merasa kasian dengan kondisi Adele yang semakin melemah semenjak tahu dirinya menghamili Sani bahkan saat Sani mengamuk meminta pertanggung jawaban atas apa yang sudah mereka lakukan meski dalam kondisi tidak sadar.
"Kalo kak Indra gak keberatan biar Rizki bantu biaya pengobatan pacar kakak yah. Dan kalo kakak gak keberatan juga, apa kakak mau kerja di perusahaan Rizki. Aku rencana mau buka kantor cabang di kampung halaman. Kalo kakak berminat, aku akan jadikan kakak sebagai pimpinan di kantor cabang tersebut. Biar sekalian kakak bisa deket dengan bude dan pakde yang selalu merindukan kakak" jelas Rizki menuturkan rencana melebarkan usahanya.
__ADS_1
Indra tersenyum lebar dengan menepuk bahu Rizki dan menghela nafasnya panjang.
"Makasih Ki tapi kakak gak mau merepotkan kamu dan keluarga. Kamu tau sendiri jika ibu dan baoak sudah menilai aku jelek. Ya sekali jelek akan jelek terus. Berbeda aku dengan Alif Ki"
"Kak, bude dan pakde gak seperti itu. Mereka masih suka menanyakan keadaan kak Indra sama aku. Kakak juga jangan berpikir merepotkan karena aku gak merasa di repotkan oleh kakak. Kak Indra itu kakaknya Rizki, keluarganya Rizki dan kak Indra juga dulu banyak banget bantu Rizki dan keluarga Rizki. Jadi gak ada salahnya kalo sekarang Rizki bantu kak Indra. Jangan tolak ya kak" pinta Rizki tulus.
Indra tersenyum dan menundukan kepalanya. Tak lama perawat pun keluar dari ruang IGD dan mencari keluarga pasien.
"Keluarga pasien Adele?" panggil perawat setelah berada di depan pintu IGD. Indra langsung beranjak dan menghampiri perawat tersebut.
"Saya sus"
"Dokter ingin bicara. Mari ikut dengan saya Pak"
Indra pun mengikuti perawat menemui dokter dan di temani Rizki. Indra mencoba mengumpulkan kekuatan agar bisa menerima hal buruk yang akan di dengarnya. Rizki meletakan tangannya di bahu Indra guna agar Indra tau jika dirinya tak sendiri. Indra tersenyum tipis kepada Rizki dengan anggukan kepalanya.
"Keluarganya pasien Adele?" tanya dokter ketika melihat kedua orang laki-laki di hadapannya.
"Iya dok" jawab Indra pelan.
"Siapanya pasien maaf?" tanya Dokter Yolan selaku dokter spesialis jantung.
"Saya pacarnya dok" jawab Indra dengan berani dan menatap dokter Yolan dengan senyum tipisnya.
"Maaf orang tuanya pasien ada?"
__ADS_1
"Adele sudah tidak mempunyai orang tua dok dan hanya saya yang dia punya" jawab Indra pelan dengan kebenaran yang ada.
"Oke baik. Jadi begini pak. Kondisi pasien saat ini sangat lemah. Lemah sekali. Karena sebelumnya saya pernah mengingatkan kan jika pasien tidak boleh banyak pikiran, banyak tekanan atau pun stres yang membuatnya seperti menanggung beban" kata dokter Yolan mengingatkan Indra akan perkataannya dulu.