Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
120.


__ADS_3

"Kak" ucap Sani dengan tatapan memohon kepada Indra. Rasanya Sani sedang tidak ingin berpikir berat dalam hal ini sedangkan suaminya sudah mengetahui apa yang terjadi.


"Apa pun itu, kamu adalah korban disini" balas Indra dengan mengecup kening istrinya dan jelas membuat Adel semakin geram.


"Belum cukup kamu ambil semua perhatian, kasih sayang bahkan hartanya papih? Dan sekarang kamu ambil Indra dari ku? Kamu pikir kamu siapa? Haah?"


Kalimat yang barusan di dengar Sani membuat dirinya membulatkan mata dengan menatap Indra terkejut. Jika mengambil Indra mungkin Sani bisa terima karena memang Sani melakukannya tapi jika papih? Apa maksudnya? Tunggu sebelumnya Indra berbicara tentang saudara sendiri. Apa itu artinya Adel merupakan saudara yang Sani tidak ketahui? Aahh iya benang-benang permasalahan mulai menyatu dan mulai terlihat dari maksud semuanya. Baik Sani pun akhirnya mengerti.


Sani melepas pelukan Indra lalu menatap Adel dengan tatapan yang sulit di artikan. Dengan seksama dari ujung rambut Adel hingga ujung kaki Adel, Sani tatap dengan degup jantung yang tak karuan.


Kenyataan apa ini yang harus dirinya terima. Padahal Sani sampai di usir oleh keluarganya karena kehamilan diluar pernikahan dan yang lebih sulit diterima jika semua itu adalah perbuatan dari yang katanya saudara dengan dirinya. Bahkan saat Adel menyebutkan papih, Sani langsung berpikir jika papihnya memang benar memiliki perempuan lain dan Adel adalah anak dari perempuan itu. Iya itu hanya tebakan Sani dan kesimpulan yang Sani tangkap dari semuanya.


Di tarik nafas panjang dengan terus menatap Adel. Pikiran Sani jadi berputar kala dirinya mendapatkan perlakukan yang tak seharusnya di dalam keluarganya yang dirinya anggap toxic.


"Jika ada pilihan aku pun tak ingin terlahir dari seseorang kamu anggap sebagai papih!" ucap Sani tak kalah dengan amarah yang selama ini terpendam.


Indra menoleh memeluk istrinya dari samping. Indra mengetahui jika istrinya tak baik-baik saja terlebih jika di ingatkan dengan keluarganya.


"Omong kosong" sahut Adel tak percaya karena selama ini keluarga Sani sangat terlihat bahagia. Bahkan saat di liput di media keluarga itu sangat harmonis tanpa cela apapun dan itu menimbulkan iri pada hati Adel yang ingin sekali diakui sebagai keluarga.


Tapi Adel sama sekali tidak mengetahui jika se

__ADS_1


"Datanglah kerumahnya jika memang kamu butuh pengakuan. Tidak usah melihatkan aku yang sangat jelas tidak mengenal kamu bahkan mempunyai masalah dengan kamu"


"Ha ha ha ha" tawa Adel menggema kala mendengar apa yang Sani ucapkan. Datang kerumahnya?


"Apa kamu sedang bercanda? Kamu bisa berkata seperti itu karena kamu tidak merasakan kehidupan yang aku jalankan selama ini. Kamu bisa dengan mudah untuk melanjutkan pendidikan dimana pun kamu mau, di layani bak seorang putri, lalu apa lagi yang papih berikan kepadamu? Hah?" ujar Adel tak terima dan membandingkan kehidupan yang dijalani dengan kehidupan Sani.


"Lalu apa dengan seperti itu, lo juga ingin hidup seperti itu?" tanya lantang seseorang yang datang ke rumah tersebut.


Semua mata pun tertuju kepadanya. Dengan sangat angguh dia mendekati Adel dan berdiri tepat di samping Adel. Adel menoleh dengan nafas yang memburu karena amarahnya semakin naik.


"Jika lo emang berminat, akan gue bantu caranya supaya lo bisa hidup dengan ekspetasi lo selama ini. Berhentilah mengusik orang-orang yang tidak bersalah dan membuat kekacauan kehidupan orang lain" tegas Sena dengan menatap rendah Adel.


Sena? Kok bisa ada disana? Dari mana Sena tahu? Apa Yuda menghubunginya? Oh tidak. Sena melacak keberadaan Sani lewat ponsel Sani. Dan itu selalu Sena lakukan karena selalu mengkhawatirkan saudara kembarnya ini.


"Lo akan berurusan sama gue kalo lo terus mengusik Sani. Lo kira gue gak tahu apa yang sudah lo lakuin kepada kembaran gue ini?Hm?" ucap Sena yang benar-benar sudah cukup mengumpulkan bukti untuk menarik Adel ke jalur hukum.


"Tapi sayangnya gue kalah cepat dengan laki-laki itu" lanjut Sena lalu menatap Yuda dengan aura dinginnya.


"Bahkan dia bisa melakukan lebih dari apa yang gue lakuin. Dan lo salah memilih lawan disini" senyum menantang Sena sungguh tak membuat Adel takut sekali pun tapi Adel justru menatap Yuda yang memang sedari tadi menatapnya dingin bahkan untuk apa Yuda berada disana. Aaahh Adel melupakan hal itu.


"Sudah selesai dramanya nona Adel?" tanya Yuda yang akhirnya bersuara.

__ADS_1


Adel tak mengerti maksud Yuda tapi Adel cukup takut dengan pertanyaan yang di lontarkan Yuda barusan. Otak Adel terus berpikir maksud dari pertanyaan Yuda. Huuuft sepertinya benar yang di ucapkan Sena jika dirinya salah memilih lawan.


Lalu di balik layar TV yang di belakangi Yuda, Sani dan Indra terdengar audio yang berputar. Audio yang menjelaskan soal anak buah Adel melakukan tabrak lari atas perintah Adel dan dengan sebuah bayaran. Juga Yuda memutar video pengakuan anak buah Adel yang sudah menabrak sahabatnya itu.


Adel menelan salivanya dengan berat, nafasnya terasa tercekik karena tidak membayangkan jika semua akan ketahuan secepat ini. Astaga bagaimana ini? Pikirnya terus memaksa mencari jalan keluar tapi..


"Akui kesalahan kamu dan serahkan ke polisi agar hukuman yang kamu terima lebih ringan" kata Indra yang merasa kasian dengan mantan pacarnya.


Mata Adel sudah berkaca-kaca, rasanya sudah tak bisa membela dirinya sendiri juga mendapat simpatik Indra lagi. Lagi dan lagi Adel menyesal melibatkan Indra dalam masalahnya. Jika bukan Indra dalam masalah ini, akan di pastikan Indra terus berada dalam pihaknya. Iya iya itu hanya pikiran Adel saja. Hanya ekspetasi tanpa adanya realita.


***


"Dari mana saja?" tanya Rosa dengan memanyunkan bibirnya saat melihat Yuda masuk kedalam ruang rawatnya. Yuda tersenyum lebar melihat sikap Rosa yang menurutnya sangat gemas. Yuda menghampiri Rosa lalu memberikan makanan kesukaan Rosa sebagai sogokan.


"Tuh kalo sudah nyogok gini pasti ada something nih" kata Rosa sambil menerima bawaan dari Yuda dan melihatnya. Mata Rosa berbinar dengan senyum menggembang di bibir manisnya lalu Rosa menatap Yuda ketika Rosa mengingat jika Yuda sudah terlalu lama berada di Jakarta.


"Oh iya" ucap Rosa dengan menatap Yuda serius tapi yang di tatap membalas dengan tatapan datar


"Apa?"


"Kerjaan lo gimana? Kan waktu itu cuma mau anter gue saja" kata Rosa merasa sedikit bersalah. Yuda menatap Rosa lalu mengacak-ngacak puncak kepala Rosa.

__ADS_1


"Nanti gue balik ke asal gue kalo urusan gue sudah selesai. Awalnya memang buat anter lo saja ke Jakarta tapi ternyata ada hal penting yang harus gue selesaiin disini dulu"


"Lalu perusahaan lo siapa yang ..."


__ADS_2