Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
62. Mulai Terungkap 1


__ADS_3

"Baik mas. Mas tapi.." kata Bintang yang mengantungkan perkataanya. Yuda melemparkan senyum kepada Bintang seolah tahu apa yang sedang di pikirkan adiknya ini.


"Kenapa? Apa yang mau tanyakan?" tanya Yuda mencoba memancing sang adik untuk jujur.


"Maaf ya, maaf sudah buat situasi mas semakin sulit. Tapi aku berharap mas akan semakin baik disana. Aku juga mau mas bahagia" ucap Bintang jujur dari hatinya.


Yuda terkekeh melihat sikap Bintang yang di rasa tidak seperti biasanya.


"Mas bahagia Bintang. Apalagi mas ke Bandung untuk perusahaan papa dan pastinya untuk membahagiakan kedua orang tua kita. Sudah jelas mas bahagia, sangat bahagia. Kenapa kamu harus berpikir kayak gitu?" tanya Yuda yang juga ingin tahu kejujuran sang adik.


"Aku hanya khawatir aja. Yang aku tau karena mas melakukan ini demi aku juga kan. Terima kasih banyak sebelumnya mas" ucap Bintang memeluk Yuda erat.


***


Waktu terus berjalan, minggu telah terlewati. Yuda sudah berada di Bandung dan sudah mulai bekerja di perusahaan sang papa. Ayyas yang semakin posesif kepada istrinya sampai sering kali membawa Deby ikut bekerja dengannya. Begitu juga Rizki yang lebih sering pulang lebih awal untuk bisa memghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan Rosa.


Adele pun sudah keluar dari rumah sakit namun kondisinya masih penuh pengawasan. Entah jika ada sesuatu yang membuat dirinya terguncang, akan di pastikan kondisinya akan semakin memburuk atau mungkin membahayakan nyawanya.


Rania pun dalam hitungan hari akan segera menikah dengan pujaan hatinya selama ini. Namun Sani dan Hari masih gundah belum mendapatkan apa yang mereka mau. Jelas Sani kini membiarkan Rizki dengan hidup bersama istri pilihannya sebab Sani tak mau jika Sena murka dan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya terlebih Sani tak ingin kehamilannya di dengar oleh keluarga besarnya.


Bahkan Hari semakin frustasi karena Rosa sama sekali tak merespon dirinya. Dan Hari semakin yakin jika Rosa memang pantas untuk dirinya perjuangkan.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan meeting dengan klientnya, Hari berencana menemui Rosa dan mencoba untuk bisa meluluhan hati Rosa. Namun sebelum Hari meninggalkan restoran tempat dirinya meeting dengan klient, Hari melengkungkan senyumnya karena melihat di sudut meja ada Rosa seorang diri. Apa ini jodoh? tanya Hari dalam hatinya.


Hari dengan segera menghampiri Rosa tapi langkahnya terhenti ketika laki-laki yang dirinya kenali datang lalu memeluk Rosa dan mendaratkan kecupan di kening Rosa lama sekali. Hari menghimpitkan kedua alisnya merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Rizki" kata Hari bingung dengan perlakuan Rizki barusan terhadap Rosa. Meski sebelumnya Rosa dan Rizki sering berpelukan namun tak pernah sekali pun Rizki mencium Rosa dengan mestranya seperti itu terlebih di depan umum.


Dengan getar Hari mengendalikan sikapnya lalu tetap melanjutkan langkahnya hingga terhenti di meja Rosa. Rosa dan Rizki menoleh dan menatap Hari secara bersamaan. Rosa langsung memutar bola matanya malas ketika dirinya tahu bahwa Hari ada di hadapannya. Namun berbeda dengan Rizki yang menatap Hari sulit di artikan.


"Hai Ros" sapa Hari dengan senyum manisnya tanpa memperdulikan Rizki yang masih menatapnya. Rosa hanya membalas senyum tipis lalu memalingkan muka dengam fokus pada buku menu yang di pegangnya.


"Boleh aku gabung?" tanya Hari lagi membuat Rosa menghentikan pandangannya kepada buku menu. Rosa lalu menatap Rizki yang masih enggan berpaling dari Hari. Rosa menggenggam tangan Rizki guna menyadarkan pandangannya agar tak terus menatap Hari dengan sulit diartikan seperti itu.


Hari melihat pergerakan tangan Rosa yang menggenggam erat tangan Rizki. Hingga akhirnya Hari tersadar akan perkataan Rosa yang menyatakan dirinya sudah menikah. Hari menepis pikiran buruknya, mencoba bersikap jika apa yang dilakukan Rosa dan Rizki hanya sebatas pertemanan.


Rosa menggeratkan genggamannya hingga membuat Rizki menoleh dan menatapnya. Iya ada tatapan marah di mata Rizki. Apa Rizki cemburu?


"Maaf Hari, aku mau makan berdua dengan suamiku" kata Rosa yang masih menatap Rizki.


Hari membulatkan matanya dengan kesulitan menelan salivanya. Apa dirinya tak salah dengar? Suami? Rizki? Rizki suami Rosa? Benarkah? Tanya Hari lagi terus yang masih belum bisa mempercayainya.


"Suami? Rizki sahabat kamu?" tanya Hari ingin penjelasan Rosa.

__ADS_1


"Iya Rizki sahabat aku adalah suami ku sekarang" jawab Rosa lalu menoleh dan menatap mata Hari dengan serius.


Hari menggelengkan kepalanya pelan. Masih sulit untuk dirinya percaya hal ini.


"Gak mungkin. Kalian kan selama ini hanya sahabat. Gak mungkin kalian menikah. Kamu lagi bercanda kan Ros. Kamu sengaja bilang begitu karena kamu mau menghindari aku?"


"Aku bukannya menghindari kamu. Tapi ada perasaan yang harus aku jaga. Dan gak seharusnya aku menemui atau membalas kamu karena memang aku sudah menikah. Aku harus menjaga perasaan suamiku"


"Hah? Apa itu alasannya selama ini kamu abaikan aku? Kamu menghindar dari aku?" tanya Hari memastikan. Rosa dengan cepat menganggukan kepalanya dengan tangan yang masih menggenggam tangannya Rizki.


"Ha ha ha ha" tawa Hari tiba-tiba lalu menatap Rizki tak terima. Rizki pun tak kalah menatap Hari sinis. Bagaimana tidak, hati Rizki masih terasa nyeri saat-saat Hari memperlakukan Rosa dulu, meski sudah lama sekali, meski sudah dulu sekali tapi itu masih membekas dalam hatinya.


Rosa menatap heran keduanya. Karena keduanya seperti ada sesuatu yang di katakan lewat tatapan mata itu. Tapi apa?


"Kamu akan menyesal menikah dengan sahabat kamu yang satu ini Ros" kata Hari tanoa menoleh Rosa dan masih beradu mata dengan Rizki. Rizki membulatkan matanya dengan detak jantung yang sudah tak beraturan pastinya. Rizki masih mengingat saat dirinya bertemu dengan Hari di klub malam saat itu. Bahkan tanpa sadar Rizki menerima tantangan Hari yang tak seharusnya di lakukan.


"Aku gak akan menyesal memilih laki-laki yang jelas tulus bahkan bertanggung jawab juga melindungi aku"


"Ha ha ha tulus? Kamu boleh tanyakan kepada suami kamu. Apa benar dia tulus menikahi kamu? Apa tidak ada maksud lain dari pernikahan kalian?" tanya Hari mulai memancing untuk membuka semuanya.


Rosa menghiraukan apa yang di katakan Hari, Rosa tersenyum seolah Hari ingin mengoyahkan hatinya tetapi memang Rizki menikahi Rosa ada maksud lain agar adiknya bisa menikah karena adat istiadat keluarganya.

__ADS_1


"Kamu punya maksud apa berkata demikian? Maaf Hari lebih baik kamu pergi, jangan mengganggu kita yang ingin menikmati makan berdua" ucap Rosa pelan dan lembut agar tidak terjadi keributan lagi.


"Rosa kamu harus sadar. Rizki gak seperti yang kamu kira atau kamu pikirkan..."


__ADS_2