
"Lo gila?" tanya Ayyas marah langsung menatap Rizki yang sedang bersandar. Entah apa yang ada di dalam pikiran Rizki saat ini. Yang pasti Ayyas sampai menggelengkan kepalanya saking tidak percaya dengan langkah yang di ambil Rizki.
Iya Rizki mengambil keputusan untuk menggugat cerai Rosa bahkan pemberkasan sudah masuk ke dalam pengadilan. Hah serius Ki?
Rizki menoleh dan menatap Ayyas yang semakin mendekatinya. Marah? Sudah pasti akan di rasakan oleh Ayyas atau pun Yuda nantinya. Mungkin mama Wina begitu juga keluarga besar dari kedua belah pihak. Rizki sengaja mengambil keputusan ini karena merasa tidak pantas merepotkan Rosa setelah kejadian yang membuat Rosa kecewa. Dan berpikir mungkin dengan ini biar Rosa sekalian kecewa dan marah kepada dirinya. Agar jika sesuatu terburuk terjadi padanya Rosa tidak akan merasakan sakitnya kehilangan.
"Hm" jawab Rizki yang bukan di harapkan oleh Ayyas.
"Alif udah urus semua dan semua sudah masuk pengadilan" lanjut jawab Rizki berusaha dengan tenang padahal dalam hatinya terasa sakit dengan keputusan yang di ambilnya kini.
"Ya tapi kenapa Ki? Setelah semua perjuangan lo, perjuangan Rosa, perjuangan kita? Hah? Dimana otak lo? Gila!!" sumpah serapah Ayyas layangkan begitu saja. Ayyas yang merasa sudah menutupi sakitnya Rizki pun merasa bersalah kepada Rosa. Dengan niat yang sama agar Rosa tidak begitu kecewa atau terkejut nantinya justru hasilnya malah akan membuat Rosa semakin kecewa begitu pun terkejut. Sungguh Ayyas berpikir keras akan semua ini.
"Semua demi kebaikan Rosa dan anak-anak Yas. Lo tahu kalo kesembuhan gue sangat kecil sekali? Dan gue harap lo gak akan bocor akan semua yang lo tahu tentang gue"
"Ya tapi gimana dengan Rosa dan anak-anak lo nantinya? Mikir gak sih? Rosa bakal jadi ibu tunggal dengan dua anak? Lo mikir gak perasaannya? Lo mikir mentalnya? Beban yang lo tinggalin berat banget buat dia bahkan luka yang lo tolehkan juga dalem banget. Astaga gila sumpah lo" kata Ayyas lagi dengan memegang pelipisnya sambil mondar mandir di dekat brankar Rizki.
__ADS_1
"Lo kira ini gak berat buat gue Yas? Berat Yas. Gue merasa jadi laki-laki paling bodoh yang udah nyakitin istri dan anak-anak gue. Terlebih karena kebodohan gue yang gak sengaja nyelametin Sani dan anaknya malah bikin istri gue melahirkan mendadak, malah bikin anak-anak gue lahir belum cukup bulan bahkan sampai harus di rawat intensif cukup lama. Sedangkan gue? Terbaring gak sadarkan diri Yas, gue gak ada disaat Rosa butuh gue. Dan yang bikin gue semakin mantap saat gue tahu jika keluarga gue seolah lebih mementingkan gue dari pada Rosa yang butuh pertolongan saat itu" ungkap Rizki mengeluarkan isi pikirannya yang terus berputar atas rasa bersalah yang tak berujung.
Hening beberapa saat karena Ayyas pun tak menyahut. Ayyas pun tidak bisa menyalahkan Rizki disaat keadaan sudah seperti ini. Hubungan Rizki dan Rosa bahkan keluarganya memang perlahan merenggang begitu saja. Entah karena malu atau apa yang jelas semua berubah dalam waktu yang singkat.
"Gue yakin, lo atau Yuda pasti bisa jagain Rosa dan anak-anak gue. Dan mungkin itu permintaan terakhir gue Yas. Gue gak bisa percaya lagi sama siapa pun selain kalian berdua. Terlebih hanya kalian berdua yang selalu ada untuk Rosa. Dan lambat laun Rosa pun akan melupakan gue dengan rasa sakit yang di rasakan karena gue"
***
Semenjak pulang dari rumah sakit atas permintaan Rizki, Rosa merasa ada yang aneh. Seperti perasaan yang tidak karuan atau hal yang tiba-tiba membuat pikirannya gelisah. Entah apalah Rosa tak mau memikirkan tapi semua terus berputar sehingga mau tak mau Rosa harus memikirkannya.
Rizki pun meminta Rosa untuk fokus terhadap anak-anak mereka dan tidak usah khawatir dengan dirinya yang masih di rawat. Biar dirinya di rawat dan di jaga oleh keluarganya saja.
Setelah meminta maaf memang Rosa tidak lagi menyinggung kejadian yang telah terjadi, Rosa cenderung diam dan mengalihkan perhatian kepada si kembar dan juga kebutuhan Rizki selama dirawat saat itu. Begitu pun Rizki tidak melakukan hal yang mencurigakan.
Sampai akhirnya ada sebuah surat yang tiba di rumah mama Wina yang di peruntuk untuk Rosa. Rosa sempat menautkan dahinya karena bingung dengan sebuah map coklat yang ada di tangannya saat ini. Pengadilan agama tertulis di atas map coklat tersebut.
__ADS_1
Setelah menerimanya Rosa segera membukanya karena merasa penasaran dengan detak jantung yang terdetak cepat begitu saja. Mulutnya terbuka lebar dengan mata yang membola. Surat panggilan persidangan perceraian atas nama dirinya dan Rizki. Rizki menggugat cerai? Atas dasar apa?
Bergetar tangan Rosa hingga menjatuhkan surat yang di pegangnya. Begitu pun dengan tubuhnya yang seketika luruh. Bukan karena sedih tapi karena shock. Kenapa? Padahal sebelumnya semua baik-baik saja? Kesalahan apa sampai harus dirinya yang di gugat? Bahkan harusnya dirinya yang mengguggat bukan di gugat seperti ini. Pikir Rosa terus melayang.
Rosa yang masih diam dalam luruhnya tidak sadar dengan kedatangan Yuda ke kediamnya. Yuda mendekat dan masuk ke dalam rumah mama Wina karena tidak ada jawaban karena dirinya datang bahkan dilihatnya Rosa tidak bergerak dalam luruhnya dari luar rumah.
"Ros" panggil Yuda berjongkok di hadapan Rosa. Rosa mendongakan kepalanya dan menatap Yuda yang juga menatapnya bingung.
"Kenapa?" tanya Yuda lagi menyadarkan Rosa. Rosa sadar lalu segera menyembunyikan surat yang beberapa menit lalu dirinya terima.
"Kenapa? Ehh.. Enggak apa-apa. Lo-lo kapan sampai?" tanya Rosa balik dengan tatapan polosnya kepada Yuda. Yuda yang merasa tidak beres pun menatap Rosa penuh selidik bahkan sampai menatap Rosa dari ujung rambut sampai ujung kaki dan mana melihat sebuah map coklat yanh sedang di sembunyikan Rosa di balik punggungnya.
"Lagi mikirin apa sampe gue dateng lo gak sadar? Pegel gue di depan pencet bel tapi enggak ada sautannya yaudah gue masuk aja karena tadi ngeliat lo ada disini. Ngapain juga lo duduk di lantai kayak gini? Dan apa yang lo sembunyiin dari gue?" cecar Yuda langsung membuat Rosa menatap Yuda dengan wajah yang memerah. Lho kok merah si Ros? Ahh.
"Maaf" jawab Rosa dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? Mau lo bilang apa gue cari tahu sendiri? Lo tahu kan kalo lo gak akan bisa sembunyiin apa pun dari gue?" lanjut Yuda lagi dan Rosa hanya diam. Diam karena Rosa pun bingung. Semua terlalu tiba-tiba baginya.
Yuda pun mengulurkan tangannya dan mengambil alih map coklat yang ada di tangan Rosa. Sambil melihat Rosa lalu memfokuskan kembali ke map tersebut dan membukanya perlahan.