Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
55. Rumit


__ADS_3

"Udah selesai sayang?" tanya Rizki setelah Rosa berada di dekatnya. Rosa menganggukan kepalanya pelan dan tersenyum.


"Udah selesai semuanya. Sebentar lagi pacar kak Indra akan di pindahkan ke ruang ICU di lantai 2" kata Rosa dengan pelan. Rizki beranjak dan memeluk Rosa dengan mengelus rambut Rosa yang terurai dan sesekali menciumi puncak kepala Rosa.


"Makasih ya sayang" ucap Rizki setelahnya.


"Sama-sama"


"Makasih ya Ros" kata Indra dengan senyum tipis kepada Rosa yang masih ada di pelukan Rizki.


"Sama-sama kak Indra" sahut Rosa sambil mengurai pelukan Rizki.


"Kamu jangan suka peluk aku di tempat umum. Aku malu" bisik Rosa namun masih terdengar oleh Indra. Indra tersenyum dengan menggelengkan kepala mendengar protes Rosa secara langsung kepada suaminya.


"Gak apa-apa udah halal ini kok" protes Rizki dengan bibir mengkrucut.


"Jangan gitu mukanya. Malu sama kak Indra"


"Gak apa-apa Ros namanya juga masih pengantin baru. Masih anget-angetnya. Kak Indra ngerti kok" ucap Indra pelan.


"Tuh gak apa-apa kata kak Indra, sayang" ucap Rizki membenarkan perkataan Indra. Rosa tak menjawab dan hanya menatap horor suaminya.


"Ros sebelumnya kak Indra makasih banyak yah. Makasih udah bantuin urusin ke administrasinya biar nanti kak Indra ganti ya semuanya" ucap Indra sedikit malu dengan keadaannya saat ini. Iya Indra tidak bisa membayar biaya perawatan rumah sakit Adele saat ini karena sebelumnya sudah hampir habis dengan biaya kebutuhan Adele lainnya.


"Gak usah kak. Gak usah di pikirin. Insyaallah semua udah udah beres sampe pacar kak Indra keluar dari rumah sakit ini" ucap Rosa pelan dan lembut.


"Ya Allah Rosa. Kak Indra janji kalo nanti kak Indra udah nerima gaji, kak Indra akan ganti ya"


"Kak gak usah di pikirin ya. Kakak fokus sama pacar kakak dan kesehatan kakak juga"

__ADS_1


"Iya Rosa makasih banyak sebelumnya" ucap Indra tulus.


Rizki tersenyum melihat Rosa yang tak pernah berubah. Selalu baik kepada siapa pun yang membutuhkannya.


"Yaudah kalo gitu aku pamit ke ruanganku dulu ya kak. Kak Indra tunggu sebentar lagi aja, sebentar lagi pacar kakak akan segera di pindahkan ke ruang ICU"


"Iya Ros"


"Aku pamit ya mas" kata Rosa lalu mencium punggung tangan Rizki lagi dan Rizki pun segera mendaratkan ciuman di kening Rosa yang membuat pipi Rosa merona.


"Iya sayang"


***


Waktu tak terasa sudah menjelang petang. Rizki masih setia menemani Indra di ruang tunggu ICU yang di sediakan. Rosa yang telah selesai bekerja pun menghampiri kedua laki-laki ini yang masih dalam diam dengan pikirannya masing-masing.


"Mas, Kak" panggil Rosa dan keduanya menatap Rosa secara bersamaan.


"Udah ada kemajuan?" tanya Rosa dengan menatap keduanya secara bergantian. Indra tersenyun tipis dengan menggelengkan kepalanya. Karena memang sama sekali tak ada kemajuan dari tadi pagi selepas di pindahkan ke ruang ICU.


Rosa menghembus nafasnya pelan merasa ikut sedih dengan ini.


"Kita shalat magrib bareng yuuk, sebentar lagi sudah mau masuk waktu shalat" ajak Rosa pelan dan di angguki Indra.


Ketiganya pun berjalan berdampingan menuju musola rumah sakit yang letaknya tak jauh dari sana.


Selepas menjalankan ibadah shalat magrib, Rosa, Rizki dan Indra segera kembali menuju ruang ICU Adele. Dengan langkah yang tak di perhatikan Indra pun tak sengaja menabrak seseorang hingga hampir terjatuh.


"Ma-maaf ma-maaf saya gak sengaja" kata Indra sambil mengambil selembar kertas kecil berwarna hitam putih dengan buku pink di lantai. Indra terpaku saat melihat selembar kertas kecil itu. Merasa lirih dan terasa bersalah. Entah kenapa perasaan itu ada begitu saja.

__ADS_1


Sedangkan Rosa dan Rizki hanya diam tak bersuara menyaksikan sesuatu yang ada di hadapannya ini. Rizki lebih memilih memeluk Rosa dari samping tubuhnya guna melindungu istrinya agar tak terjadi hal yang di inginkan.


Indra menyodorkan kertas kecil dan buku pink itu kepada pemiliknya namun seketika membuat Indra melebarkan matanya karena sang pemilik menatapnya dengan mata yang sudah memerah. Iya dia adalah Sani.


"Sa-sani?" panggil Indra pelan tetapi masih bisa terdengar oleh sekitarnya.


Sani menerima apa yang di berikan Indra. Dengan menatap sinis kepada ketiganya saling bergantian karena emosi dalam dada Sani rasanya memuncak namun dirinya enggan meluapkan.


Marah? Iya marah


Kecewa? Iya sangat kecewa


tapi Sani sadar akan semua itu tidak akan menyelesaikan masalahnya terlebih Sani mendengarkan saran Sena meski terkadang masih suka ngedumel atas kalahnya dirinya untuk memiliki Rizki.


Sani bergegas meninggalkan ketiganya setelah menerima semua yang di berikan Indra. Dengan mata yang memerah juga air mata yang membasahi pipinya Sani berjalan begitu saja tak menghiraukan tatapan dari ketiganya yang terkejut karena bertemu secara tidak sengaja ini.


"Kejar kak" kata Rizki membuyarkan lamunan Indra yang menatap kepergian Sani begitu saja.


Indra menggelengkan kepalanya dan menolak mengejar Sani bahkan menbiarkan Sani berlalu dengan sakit di hatinya.


"Adele lebih membutuhkan kakak Ki" kata Indra memutar balikan badannya dan berjalan pelan ke ruang tunggu di dekat ICU.


Rizki dan Rosa hanya saling pandang dengan menaikan kedua bahu. Gak apa, setidaknya semua pasti akan terselesaikan nantinya.


Dilain tempat, Sani memegangi dadanya yang terasa sesak. Bagaimana tidak, Sani masih mengingat penolakan Indra untuk bertanggung jawab atas apa yang menimpanya bahkan Indra enggan mengakui jika dirinya telah melakukan hubungan terlarang itu.


"Bodoh kenapa harus ketemu dengan ketiganya. Apa benar Rosa dan Rizki akan membantuku?" tanya Sani pada dirinya sendiri setelah sampai di dalam mobilnya.


"Rosa kenapa kamu harus menjadi orang baik? Mana bisa aku melawan kamu jika kamu selalu berbuat baik denganku? Kenapa kamu selalu baik seperti dulu. Aku benci itu Ros. Aku benci. Aku benci kebaikan yang kamu tebarkan" gemuru Sani dengan tatapan nanarnya.

__ADS_1


"Indra. Kenapa kamu begitu murung? Kenapa kamu gak mau tanggung jawab Ndra? Kenapa kamu mengira aku perempuan murahan? Padahal kamu tau kalo kamu yang udah ambil virgin aku saat itu. Aaaarrggggghhhh" teriak Sani sambil membanting setir mobilnya.


Sani menangisi kebodohannya hingga membuatnya terjebak dalam satu kamar dengan Indra dan terjadi hubungan terlarang itu. Sani menyesal dan sangat menyesal sampai harus menjadikan Rizki pilihan untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang terjadi antara dirinya dan Indra. Dan yang semakin membuat Sani merasa kalah saat tahu bahwa Rosa telah menikah dengan Rizki. Laki-laki yang dirinya pilih sebagai pengganti penanggung jawab.


__ADS_2