
Indra memberi isyarat untuk Sani tetap tenang. Sani menganggukan kepalanya lalu menghampiri Indra. Indra menyerahkan Mika kepada Sani yang sudah mulai tenang saat berada dalam gendongannya tadi. Sekarang Indra menghela nafas setelah melihat pacarnya tergeletak di lantai dalam kontrakannya dengan makanan yang di bawanya berserakan disana.
Adel yang pura-pura pingsan itu mengintip dengan sedikit membuka matanya ingin mengetahui apa yang akan di lakukan oleh Indra. Indra sendiri setelah memberikan Mika, menatap Sani dengan satu tangannya berada di atas kepala Sani dan mengelusnya lembut
"Gak usah takut, kamu di kamar saja. Biar ini aku yang urus. Jangan di jadikan beban ya sayang" kata Indra dengan lembut lalu mengecup kening Sani agar Sani merasa lebih tenang.
Sani menganggukan kepalanya dan perlahan meninggalkan Indra dan Adel disana. Di benarkan posisi Adel dan di biarkan telentang di atas karpet yang sudah tersedia sebelumnya. Setelahnya Indra membersihkan sisa makanan yang berserakan disana. Indra melihat jika makanan yang di bawakan Adel memang makanan kesukaannya tapi tidak lagi untuk saat ini. Karena apa pun tentang Adel sangat menyakitkan bagi Indra.
Indra tak lupa membuatkan teh manis panas untuk Adel minum setelah Adel bangun dari pingsannya. Hingga beberapa menit kemudian.
"Ndra.." lengkuh Adel mencoba membuka matanya. Adel tak lupa memegangi dada dan juga kepalanya agar seolah-olah sakit keduanya. Indra menghampiri Adel namun tidak sama sekali membantu Adel untuk bangun dan membenarkan posisi Adel.
"Ndra." panggil Adel lagi dan seolah tidak percaya jika laki-laki yang di hadapannya ini sangat bersikap tidak seperti biasa. Kenapa? Apa karena Sani? Tanya Adel berperang. Indra diam namun membantu Adel untuk duduk dan memberikan teh manis yang sudah di buatnya tadi.
"Ndra tadi aku kayaknya mimpi deh" ujar Sani setelah memberikan gelas teh manis hangatnya kepada Indra.
"Mimpi apa?" tanya Indra pelan dan lembut seperti biasanya. Jujur dalam hati Indra merasa sangat kecewa dan sakit hati. Bagaimana tidak, perempuan yang sudah Indra bela mati-matian tega membohongi dan menjebak dirinya hingga seperti ini. Bahkan Indra tidak menyangka bila Adel memiliki dendam untuk di balas.
Perasaan Indra membeku saat pertama kali mendengar pengakuan Adel di kala itu. Adel mengakui jika dirinya berpura-pura sakit dan menjadikan Indra sebagai umpan dalam menjalankan balas dendamnya.
__ADS_1
Adel mengakui bila dirinya mencintai Indra tapi kenapa harus melakukan itu kepada orang yang tak salah. Dengan mata yang memerah Adel meluruhkan air matanya lalu mendekati Indra dan memeluk Indra dengan sangat erat. Indra membiarkan beberapa saat lalu mencoba melepaskan pelukan Adel.
"Aku mimpi kamu, kamu gendong bayi tadi. Bayi iya bayi tapi itu bayi siapa?" tanya Adel bingung sendiri. Indra tidak menjawab hanya memperhatikan sikap Adel yang demikian. Indra seperti sudah tidak bisa percaya lagi dengan Adel. Bahkan saat ini dimata Indra bahwa Adel sedang berperan dalam drama yang di buatnya.
"Ndra.." panggil Adel dengan menggenggam tangan Indra dan disaat yang bersamaan Rizki dan Rosa datang dengan beberapa tentengan di tangan mereka.
Adel semakin menyimpitkan kedua matanya. Dilihatnya dengan jelas jika yang ada di hadapannya benar Rosa. Iya Rosa. Adel menoleh ke Indra yang mempersilahkan Rizki dan Rosa untuk bergabung dengan mereka.
"Kalian ngapain kesini?" tanya Adel yang entah dari ketiganya tidak mengerti maksud itu. Indra, Rizki dan Rosa saling melempar pandang.
"Kalo gue mau kesini emang harus izin sama lo?" tanya Rizki datar menatap Adel tajam. Adel membalas tatapan Rizki dengan sinis terlebih ketika mata Adel dan Rosa saling bertemu.
"Ndraa" panggil Adel manja. Indra menoleh Adel sekilas lalu beralih menoleh kepada sepupunya itu.
"Kalian mau minum apa?" tanya Indra dengan suara yang berbeda saat kepada Adel tadi. Adel semakin mengkerutkan keningnya.
"Gak usah repot-repot kak. Kita kesini cuma mau bawain ini buat Mika. Tadi pas di kita lagi ke perlengkapan bayi, kita inget kalo kelahiran Mika yang belum ada persiapan jadi kita belikan ini buat keponakan kita. Semoga bermanfaat dan bisa di gunakan ya kak" ucap Rizki sambil menyodorkan paper bag yang ada di tangannya dan meletakan di hadapan Indra.
Dan Adel lagi-lagi bingung sendiri. Bagaimana bisa Rizki dan Indra berbaikan secepat ini? Bukannya kemarin sedang panas-panasnya? Hmm?
__ADS_1
"Terima kasih banyak Ki, Ros. Kalian mau ketemu Mika?" tanya Indra lagi dengan sudut bibir terangkat. Entah mengapa saat dirinya membicarakan Mika, hatinya merasa sangat bahagia. Manusia kecil itu berhasil meluruhkan kerasnya hati Indra.
"Eemm gak kak. Kita mampir cuma mau kasih ini saja dan kalo kak Indra serta Mika ada perlu sesuatu jangan sungkan untuk minta bantuan kita yah. Insyaallah kita akan bantu sebisa kita" ucap Rizki lagi lalu beranjak bangun dan meninggalkan kontrakan Indra.
"Mika? Mika itu siapa ndraa? Apa Mika itu nama bayi yang di gendong kamu dalam mimpi aku tadi?" tanya Adel dengan wajah memelas. Jujur Adel sekarang jadi buntu sendiri karena ini semua ada di luar dugaannya.
"Kamu sudah lebih baik? Aku antar kamu pulang sekarang" jawan Indra datar dan beranjak namun belun sempat beranjak lengan Indra sudah tertahan oleh tangan Adel.
"Ndraaa kamu kenapa sih?" kini Adel yang bertanya karena merasa perubahan sikap Indra yang sangat dingin kepadanya.
"Tunggu sebentar aku ganti baju dulu" tepis Indra dan melangkahkan kaki ke dalam kamar kontrakannya dengan membawa paper bag yang di berikan oleh sepupunya.
"Indraaaaa" teriak Adel yang tak di gubris sama sekali oleh Indra.
Indra memasuki pintu kamarnya secara perlahan. Indra takut jika dirinya berisik agak mengganggu dua perempuan yang ada di dalam kamarnya sedangkan Indra tidak tahu apa anaknya sedang tidur atau tidak.
"Kak" pekik Sani setelah Indra menutup rapat pintu kamarnya. Indra tersenyum manis kepada Sani dan menghampiri istrinya. Indra seketika memeluk Sani dan menjatuhkan wajahnya di bahu sang istri.
Sani menghembuskan nafas panjang lalu membalas pelukan Indra dengan mengusap punggung suaminya. Setelah merasa sedikit lega Indra melepaskan pelukannya dan mencium kening Sani lalu memberikan paperbag yang ada di genggamannya sedari tadi.
__ADS_1
"Ini dari Rizki dan Rosa untuk Mika. Mereka memang peduli dan sangat peduli orangnya. Kamu jangan sampai salah mengartikan kepedulian mereka" kata Indra dengan lembut. Mendengat kata-kata Indra membuat Sani menjadi malu akan masa lalunya dulu. Bahkan sampai saat ini Sani masih merasa bersalah karena hampir saja membuat rumah tangga mantan pacarnya berakhir.