
'Yas izin yah Rosa gak kerja beberapa hari kedepan. Rencana gue mau ajak dia ke kampung halaman gue. Kira-kira boleh gak?' tanya Rizki dalam sambungan telponnya dengan Ayyas. Ayyas tersenyum dari sebrang sana dengan Rizki yang meminta izin kepada dirinya.
'Hmm boleh gak yah' sahut Ayyas pura-pura berpikir.
'Boleh kan Yas. Gue sekalian mau honeymoon soalnya' jelas Rizki mengungkapkan maksud dan tujuannya membuat Ayyas terkekeh namun tak bersuara.
'Hmm gimana Ki. Emang lo rencana berapa lama disana?'
'Seminggu kurang lebih Yas. Gue juga mau sekalian ngunjungin si mbah sama Bude Pakde disana. Kebetulan pas nikah kemaren mereka gak sempet dateng karena si mbah sakit' kata Rizki dengan harapan Ayyas akan mengizinkan Rosa untuk mengambil hak liburnya.
'Oh gitu tapi gimana ya Ki' seru Ayyas masih dengan kepura-puraannya.
'Hmm ya gak apa-apa sih Yas kalo gak di izinin. Gak apa-apa gue ngerti. Soalnya ini juga baru awal bulan kan. Rosa pasti banyak kerjaan buat ngerjain laporan kan? Yaudah kalo gitu Yas' ucap Rizki yang menyerah dan memcoba menerima jika Ayyas tak mengizinkan.
'Gue belom kasih jawaban Ki, jangan ngambek gitu donk. Ngambek lo kan serem he he he'
'Eehh enggak Yas. Kalo emang gak bisa gak apa-apa. Gue ngerti kok. Gue bisa ajak Rosa kapan-kapan kesana'
'Beneran cuma seminggu aja lo perginya?' tanya Ayyas langsung pointnya. Rizki mengangguk menandakan iya padahal Ayyas tak melihat.
'Iya- iya seminggu aja kok Yas. Tapi kalo lo ngasih lebih dari itu gue gak nolak he he he' jawab Rizki sekalian bernegosiasi. Ayyas pun terkekeh mendengar penawaran Rizki ini. Bagaimana tidak, jarang sekali bahkan tidak pernah Ayyas bersikap demikian sebelumnya. Jadi ini benar-benar membuat Ayyas merasa lucu sendiri.
'Seminggu aja dulu yah. Kan tadi lo sendiri yang bilang kalo Rosa kerjaannya banyak di awal bulan ini apalagi dia yang bikin laparan biasanya. Tapi gak apa-apa spesial buat lo dan Rosa gue izinin kalian pergi 8 hari. Enggak kurang dan enggak lebih ya Yas. Gue handle kerjaan Rosa sampe dia balik ke sini. Dan lo juga jangan lupa oleh-oleh buat gue ya'
__ADS_1
Rizki tersenyum dan juga tertawa dengan Ayyas yang menambahkan satu hari dari permintaan liburnya.
'Oleh-oleh? Iya tenang aja. Udah gue pikirin oleh-oleh buat lo, Mona dan Yuda'
Kali ini Ayyas yang kembali terkekeh. Maksud oleh-oleh Ayyas bukanlah makanan atau pun pakaian khas sana melainkan sesuatu yang hidup dan nantinya menjadi pelengkap pernikahan Rizki dan Rosa.
'Kenapa ketawa?' tanya Rizki yang benar-benar belum mengerti maksud Ayyas.
'Lo lucu Ki. Beneran deh. Masa gak ngerti maksud oleh-oleh yang gue maksud ha ha ha ha'
'Emang maksud oleh-oleh lo apa Yas?'
'Pulang dari honeymoon di kampung halaman lo, lo sama Rosa harus bawa keponakan buat gue, Mona dan Yuda. Keponakan yang lucu dan menggemaskan pastinya. Kali aja nanti after gue merried anak kita seumuran dan bisa sahabatan juga kayak orang tuanya'
'Hah keponakan?' tanya Rizki masih bertanya-tanya. Apa yang di maksud Ayyas? Keponakan untuk Ayyas, Mona dan Yuda? Aah Ayyas seandainya tau kalo mereka belom melakukan malam pertamanya mungkin Ayyas akan menertawainya.
'Aaaah iya Yas. Makasih yah udah kasih izin'
'Iya sama-sama buat sahabat gue tersayang apa sih yang enggak. Yaudah kalo gitu salam buat Rosa Malinka. Baby bala bala gue tuh. Jagain ya. Inget dan harus inget'
'Siap. Oke Yas. Makasih ya' ucapnya lalu mengakhiri sambungan telponnya bersama Ayyas.
Rizki tersenyum senang setelah mendapat izin dari Ayyas, sahabat sekaligus atasan Rosa di tempat kerjanya. Rosa pun menghampiri Rizki setelah selesai dan rapih berpakaian.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih pakai baju yang kemarin" tanya Rizki memindai Rosa dari atas hingga bawah.
"A-aku gak bawa baju ganti" jawab Rosa menundukan matanya. Gak berani menatap netra suaminya. Rizki tersenyum lalu menghampiri Rosa dan menggenggam tangan Rosa sambil mengajak Rosa menuju lemari penyimpanan pakaiannya.
"Disini ada baju kamu sayang. Aku udah siapin semuanya" seru Rizki sambil membuka pintu lemarinya. Dan benar saja jika isinya pakaian perempuan yang tak lain pakaian Rosa yang sudah di siapkan Rizki sebelumnya.
Bahkan Rizki menyiapkan ini sebelum mereka menikah, bukan hanya pakaian saja yang Rizki siapkan tetapi perlengkapan lainnya seperti dalaman, tas, sepatu, dan alat sholat untuk Rosa. Karena Rizki sudah memperkirakan hari ini akan tiba dimana mereka akan menginap di kantor milik Rizki itu.
Rosa menganga tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Setelahnya Rosa menatap kembali suami yang berdiri di sebelahnya. Sungguh Rizki seperti sudah mengetahui semua tentangnya.
"Ini pakaian dan perlengkapan buat aku?" tanya Rosa yang masih tak percaya. Rizki menganggukan kepalanya dengan senyum yang tak luntur dari sana.
"Se-sejak kapan kamu siapin ini semua? Kita baru menikah tiga hari lalu dan sebelumnya kita di sibuki dengan acara pernikahan kita. Hmm?"
"Setelah kamu menerima lamaran aku, aku menyiapkan ini. Karena aku tahu kelak atau kapan, kamu dan aku pasti akan menginap di sini. Dan tentunya aku gak mau kamu repot dengan membawa pakaian ganti nantinya jadi aku siapin ini semua buat kamu istri aku tersayang" kata Rizki lembut dengan menggesekan ujung hidungnya dengan ujung hidung Rosa. Iya tau deh yang sama-sama mancung.
"Ka-kamu sampe kepikiran ini buat aku? Daebak" tanya Rosa benar-benar tak percaya dengan sikap Rizki di luar ekspetasinya.
"Yaudah sekarang kamu siap-siap yah. Kamu pakai apa yang kamu suka tapi kayaknya kamu suka semua deh soalnya ini semua memang kesukaan kamu sayang. Terus nanti pakaian kotornya taruh aja di kerangjang biar nanti di laundry sama karyawan aku" kata Rizki menuturkan semuanya
"Pakaian kotornya aku bawa pulang aja ya mas. Gak enak sama karyawan kamu kalo di laundry sama dia. Gak apa-apa kan?" tanya Rosa meminta izin. Rizki pun menganggukan kepalanya dengan senyum dan mengelus puncak kepala Rosa.
"Yaudah gak apa-apa. Asal kamu nyaman aja sayang. Mungkin kamu masih gak nyaman kan? Gak apa-apa nanti juga kamu akan terbiasa"
__ADS_1
"Iya makasih ya mas" ucap Rosa bersyukur dengan sikap hangat Rizki bahkan perhatian Rizki akan dirinya yang tak pernah terhenti.
"Sama-sama. Yaudah siap-siap ya sayang. Aku tunggu di luar sambil nyerahin berkas yang akan aku tinggal ke Alif. Karena hari ini sampai 8 hari ke depan kita akan ke kampung halaman ku"