Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
97.


__ADS_3

“Gue akan ke kantor ketika semua ini selesai di antar ke warung bu Ratna. Gue gak mau lo dan calon anak-anak lo kecapean karena harus bawa-bawa ini semua. Lo itu udah berat bawa diri lo dan anak-anak lo jadi biar gue yang bantu lo buat bawa semua ini” kata Yuda dengan penuh kelembutan.


“Maaf ya gue selalu ngerepotin” sahut Rosa yang merasa tak enak hati.


“Sedikit pun gue gak pernah ngerasa di repotin sama lo. Justru gue seneng bisa bantu lo kayak gini. Dan lagi pula kalau papah tau lo yang buat ini dan gak ada yang bantu, udah di pastiin papah yang akan minta gue langsung untuk membantu lo atau mungkin papah akan carikan orang yang buat bantu lo. Jadi lo gak perlu merasa merepotkan. Okeey”


“Tapi tetep aja Yud gue itu dari dulu selalu ngerepotin lo” kata Rosa dengan menundukan kepalanya sedikit lalu menghampiri Yuda dengan membawa kue buatannya yang terakhir.


“Ros denger yah. Mau sampe kapan pun gue gak akan pernah merasa di repotkan sama lo bahkan gue ikhlas jika harus di repotkan sama lo seumur hidup gue. Bagi gue ngeliat lo senyum, ngeliat lo bahagia, itu lebih dari cukup” Ucap Yuda yang entah sadar atau tidak berhasil membuat Rosa diam. Rosa menatap Yuda yang ternyata sudah kembali ke tempatnya semula. Tiba-tiba Rosa jadi teringat dengan masalah yang sedang di hadapinya. Bahkan Rosa juga mengingat jika dirinya belum jujur dengan Yuda dan menceritakannya kepada Yuda. Rosa jadi yakin jika sebenarnya Yuda menunggu dirinya untuk menceritakannya sendiri tanpa harus Yuda bertanya ada apa. Iya pantas saja jika Yuda berkata demikian. Pikir Rosa.


“Yud” panggil Rosa dan Yuda langsung menoleh.


“Hm” jawabnya berdehem karena sedang fokus menghitung.


Rosa mendekati Yuda dan duduk di hadapan Yuda sambil menatap sahabatnya itu dengan raut serius.

__ADS_1


“Kenapa hm? Serius banget? Ada yang mau bicarain sama gue? Apa itu penting?” Tanya Yuda dengan nada sedikit santai. Rosa menganggukan kepalanya lalu tersenyum. Yuda Yuda kenapa selalu bersikap manis kayak gini sih.


“Sekarang malah senyum-senyum. Mau bicarain apa? Tapi sebentar gue beresin ini dulu yah. Lo tunggu di pinggiran tempat tidur saja. Ibu hamil gak baik duduk di lantai tanpa alas lama-lama. Katanya sih itu juga. Gue lupa dapet itu kata-kata dari mana he he he” kata Yuda lalu beranjak membantu Rosa berdiri dan dirinya menyelesaikan yang harus di selesaikan.


Rosa menurut dan mengikuti apa yang Yuda katakan. Dan Yuda sendiri setelahnya menghampiri Rosa dengan duduk di bawah tepian tempat tidur Rosa lalu mendongakan kepalanya menatap wajah ibu hamil ini dari bawah. Pemandangan yang sangat jarang sekali dilihat jadi sebisa mungkin Yuda tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Aura ibu hamil sangat berbeda, bahkan Rosa semakin terlihat cantik meski berat badannya yang sudah meningkat ini.


“Hmm ada apa? Hal serius apa yang mau lo bicarain?” Tanya Yuda dengan raut pendengar setia.


Rosa menatap Yuda dengan senyum. Malu, itu lebih tepatnya yang Rosa rasakan. Sangat malu jika Yuda harus tahu masalah yang sedang di hadapinya ini. Terlebih dirinya yang memilih kabur dari pada menyelesaikan masalah yang tengah di hadapinya.


"Hm kenapa?" tanya Yuda lembut.


"Lo gak tanya kenapa gue bisa ada disini?" ucap Rosa dengan tatapan serius. Yuda membalas dengan senyum tipis lalu memberanikan diri untuk menggenggam tangan Rosa yang ada di hadapannya.


"Gue tahu lo pasti sedang tidak baik-baik saja. Gue tahu lo pasti lagi ada dalam masalah. Gue tahu lo pasti saat ini buat waktu untuk sendiri. Gue tahu lo juga belum siap buat cerita masalah lo sama gue. Tapi buat gue gak masalah. Lo disini, dihadapan gue, sekarang ini dan lo dalam keadaan baik-baik saja itu udah cukup buat gue. Gue gak peduli dengan apa itu masalah lo, yang pasti lo harus tahu kalo di dalam masalah lo akan selalu ada gue disisi lo dan gue janji gak akan ninggalin lo. Gue akan selalu berusaha untuk selalu disini meski gue gak tahu seserius apa masalah lo" kata Yuda dengan tatapan serius menatap Rosa bahkan tanpa sadar mata Risa sampai berair menahan air matanya yang ingin keluar.

__ADS_1


Kenapa? Kenapa harus Yuda yang sangat peduli dengan dirinya? Kenapa harus Yuda yang tak mengingari janjinya? Kenapa? tanya Rosa yang terus berperang di dalam pikirannya.


"Menangislah. Jika menangis bisa membuat lo merasa lebih baik, merasa lebih tenang dan juga jika memangis bisa mengurangi rasa sakit yang lo rasa, silahkan menangis. Tapi inget menangis secukupnya dan jangan terlalu berlebihan yah. Hmm sekarang apa boleh gue peluk lo?" kata Yuda yang hatinya merasa perih dengan tatapan Rosa. Terasa sakit melihat pujaan hatinya seperti hilang arah seperti ini.


Rosa menganggukan kepalanya lalu merenggangkan kedua tangannya. Yuda bangkit dari duduknya lalu memeluk Rosa dengan erat. Rosa sendiri menangis dan menumpahkan rasa yang ia rasakan saat ini. Badan Rosa bergetar dalam pelukan Yuda. Yuda mengelus punggung Rosa agar Rosa bisa merasakan jika dirinya tak sendiri lagi.


“Gue akan tunggu sampe lo siap dengan sendirinya cerita sama gue. Tapi sebelumnya gue minta maaf, mungkin gue salah karena keberadaan lo disini gue gak bilang siapapun begitu pun dengan papah yang gak kasih tahu keberadaan lo disini. Bahkan papah mengirim beberapa orang untuk stay menjaga lo dari jauh. Maaf kalo itu berlebihan tapi yang harus lo tahu, lo gak sendiri, masih ada gue, masih ada papah, masih ada keluarga gue yang pastinya akan ada disamping lo disaat ini, entah bagaimana pun itu” kata Yuda dengan sangat lembut. Rosa mengangguk paham dan menghapus sisa air matanya.


“Terima kasih, terima kasih karena gak pernah berubah. Terima kasih untuk selalu ada, terima kasih Yud”


"Sama-sama Rosa Malinka. Sekarang masih mau nangis apa mau anter pesenannya? Kalo lo masih mau nangis, gak apa-apa nangis aja. Gue temenin sampe lo merasa lebih tenang. Tapi kalo udahan nangisnya, kita jalan sekarang yuuk. Takut nantinya pesenan kue lo telat" ucap Yuda dengan membantu Rosa menyeka air mata Rosa. Setelahnya Yuda berdiri di hadapan Rosa yang masih duduk lalu mengulurkan tangannya agar Rosa menerima uluran tangan Yuda.


"Kalo lagi hamil jangan nangis terus, apalagi sering nanti anaknya jadi cengeng lho" goda Yuda dan berhasil menerbitnya senyuman di wajah chubby Rosa.


Yuda selalu begitu dan akan terus begitu.

__ADS_1


***


__ADS_2