
Rosa melangkahkan kakinya pergi entah kemana sesuai langkah kaki menginginkannya. Rosa hanya berbekal kartu atm Ayyas dan uang cash beberapa lembar serta handphone Ayyas yang satunya.
Rosa sengaja tak membawa handphone atau kartu atmnya karena Rosa benar-benar tak ingin ada jejak yang terlihat oleh Rizki. Bahkan Ayyas dan mama Wina hanya menatap sedih kala Rosa sudah menaiki sebuah bus yang entah kemana arahnya.
Bukan entah kemana arahnya sih, hanya Rosa berjanji akan memberi kabar jika sudah sampai di tujuan yang dirinya mau. Rosa melepas senyum manis dengan lebar sambil melambaikan tangan setelahnya naik ke dalam bus dan tak lama bus pun berlalu meninggalkan mama Wina dan Ayyas.
Mama Wina kembali ke toko bakery dan Ayyas kembali ke rumah sakit.
Di tempat lain, Rizki yang telah menyelesaikan pekerjaannya langsung segera bergegas menuju rumah sakit tempat istrinya di rawat. Rizki membawa sebuket bunga mawar merah kesukaan Rosa dan juga membawa makanan kesukaan Rosa. Dengan langkah bahagia dan juga raut bahagia terlihat jelas dari raut wajah Rizki.
Sesampai di dalam ruang rawat inap Rosa, Rizki mengkerutkan keningnya bingung. Bingung karena dalam ruangan tersebut sudah kosong dan tak berpenghuni. Bahkan sekiranya sudah tak ada barang apapun disana. Dan juga brankar pasien sudah sangat rapih.
Rosa segera mengambil ponselnya dan menghubungkan sambunhan telpon ke nomer telpon istrinya tapi hasilnya nihil. Tak di angkat sama sekali meski sudah sampai panggilan ke sepuluh.
"Apa Rosa sudah pulang? Kalau sudah apa Rosa pulang bersama mama Wina? Tapi kenapa gak kabarin aku?" tanya Rizki dengan cemas. Karena Rosa belum pernah tanpa kabar seperti ini.
Dengan cepat Rizki melangkahkan kakinya lalu menancapkan gas mobilnya ke rumah. Bahkan Rizki juga mencoba menghubungi mama Wina. Dan lagi-lagi hasilnya nihil sebab tak ada jawaban dari mama Wina sendiri. Bukan mama Wina tak mau menjawab tapi mama Wina cukup kecewa jadi mama Wina menjauhkan ponselnya sehingga saat Rizki mengabarinya otomatis mama Wina tak akan mengetahui.
Rizki mengemudikan mobilnya menuju rumah mama Wina tapi tak mendapati Rosa atau pun mama Wina disana. Pikirnya pun bertanya.
"Kemana Rosa dan mama Wina? Tadi kata suster Rosa udah pulang dari dua jam lalu harusnya udah ada dirumah. Apa mereka mampir kemana dulu yah?" tanya Rizki pada dirinya sendiri lalu meletakan bunga dan makanannya di meja makan.
Rizki melangkahkan kaki ke kamarnya dan Rosa lalu membersihkan tubunya. Kurang lebih dua puluh menit Rizki habiskan di dalam kamar mandi tapi tak menandakan istri dan ibu mertuanya pulang.
"Rosa sama mama kemana yah? Kenapa belum pulang dan gak bisa di hubungi? Apa hp Rosa habis daya?" tanya Rizki yang sudah duduk di meja makannya dengan posel di genggaman.
"Ayyas, Ayyas pasti tau" kata Rizki tersenyum lalu menyambungkan sambungan telpon ke Ayyas. Tapi kali ini Ayyas pun slow respon sekali kepada Rizki. Bahkan Ayyas sendiri tak mengangkat sambungan telpon Rizki juga.
"Tumben banget gak di angkat. Apa lagi sibuk?" tanya Rizki lagi dengan memandangi ponsel di tangannya.
__ADS_1
Rizki merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga dan tak terasa dirinya pun terlelap disana.
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
hingga
Lima Jam
***
Rosa sampai di tempat terakhir bus yang di tumpanginya. Tidak terlalu lama ternyata hanya memakan waktu beberapa jam saja. Dan memang areanya masih dekat dengan Jakarta.
"Bandung?" tanya Rosa dengan senyum kecilnya.
Waktu yang masih sore hari membuat Rosa memutuskan untuk mencari sebuah kontrakan lebih dulu untuk dirinya beristirahat.
Setelah mencari beberapa waktu, Rosa akhirnya mendapatkan kontrakan yang menurutnya cocok, alhamdulillah.
Rosa menghidupkan ponsel yang Ayyas berikan dan memberitahukan dirinya telah sampai tujuan kepada mama Wina dan Ayyas. Tetapi Rosa tak memberitahukan dimana lokasi dirinya berada. Setidaknya Ayyas dan mama Wina merasa lega sudah mendapati kabar dari Rosa.
Rosa mematikan ponselnya lagi setelah mengabari keduanya. Rosa mulai merebahkan dirinya untuk beristirahat karena lelah dalam perjalanan menjumpai tubuhnya. Dalam hitungan menit Rosa pun terpejam dan terlelap.
Di kediaman mama Wina, Rizki yang masih terlelap akhirnya terbangun karena kaget. Rizki membuka matanya lebar dan tak menyangka rumah mama Wina masih gelap pertanda belum ada yang pulang pikirnya. Rizki mengitari rumah dan menghidupkan lampu rumah tersebut.
Rizki tersenyum tak kala mendengar suara mesin mobil terparkir di garasi. Rizki menghampiri dengan senyum riangnya sambul membawa kembali buket bunga yang tadi sudah di belinya.
__ADS_1
Senyumnya seketika luntur tak kala tak mendapati istrinya disana. Rizki menghampiri mama Wina dan segera meraih tangan mama Wina dan mencium punggung tangannya. Mama Wina bersikap biasa padahal dalam hatinya ingin sekali marah.
Mama Wina tersenyum kecil lalu berlalu meninggalkan Rizki. Rizki segera mengikuti mama Wina yang memasuki rumahnya.
"Mah" panggil Rizki dan menghentikan langkah mama Wina.
"Hm" sahut mama Wina yang hanya berdehem.
"Rosa mana mah?" tanya Rizki pelan dan sudah terlihat khawatir.
"Mama gak tau" jawab mama Wina dengan ekspresi datar.
"Tadi kata suster kalo Rosa sudah pulang sama mama" tanya Rizki dengan wajah yang sudah pucat.
"Kamu suaminya. Seharusnya kamu tahu dimana istri kamu" jawab mama Wina dengan tatapan sinis lalu berlalu meninggalkan Rizki. Tapi Rizki terus mengikuti mama Wina hingga mama Wina menutup pintu kamarnya.
"Mah, mamah" panggil Rizki dengan mengentuk pintu kamar mama Wina. Mama Wina yang didalam hanya diam dan menahan tangis karena kejadian hari ini cukup membuatnya sesak.
"Mah, Rosa kemana mah? Rosa dimana? Kenapa mama pulang sendiri?" tanya Rizki lagi.
"Mah apa ada sesuatu? Tolong kasih tau Rizki. Rizki khawatir dengan Rosa mah. Tolong mah" pinta Rizki lagi semakin khawatir.
"Mama tolong kasih tau Rizki. Rizki khawatir mah. Rosa dimana?" tanya Rizki yang sama sekali tak ada jawaban dari mama Wina. Mama Wina membiarkan Rizki begitu saja karena memang sudah berjanji untuk tak memberi tahu kemana Rosa pergi meski mama Wina sendiri tak tahu dimana Rosa saat ini.
Rizki segera meraih ponselnya lagi dan mencoba menghubungi Rosa lewat sambungan telpon tapi tetap saja hasilnya tidak ada sama sekali. Bahkan nomor telponnya sudah tak aktif lagi.
"Kamu dimana sayang?" tanya Rizki dengan sedih dan menggenggam erat ponselnya.
Tanpa menunggu waktu lagi Rizki berlari ke kamarnya dan mengambil kunci mobil dan pergi membelah jalan kota Jakarta.
__ADS_1
Didalam mobil Rizki pun juga terus menghubungi nomer Rosa meski tak ada jawaban dan berlanjut menghubungi Ayyas.