
"Lo kalo jalan hati-hati donk!!" teriak seorang perempuan dengan baju ketatnya dan dandanan menornya. Rosa menuduk sebentar karena pakaiannya juga tertumpah kopi panas yang di bawa perempuan itu.
Bu Ratna lalu mencoba membenahi Rosa yang sedang mengibas-ngibaskan pakaian yang kebetulan terkena di area perutnya. Sedikit panas yang Rosa rasakan namun Rosa mencoba menahannya.
"Heh gue ngomong ya sama lo. Kopi gue jadi tumpah tuh" teriaknya lagi sambil menunjuk dengan jari telunjuknya bekasan air kopi di lantai.
Rosa mengangkat kepalanya pelan hingga terlihat wajah jelaa perempuan berdandan menor itu. Oke, perempuan itu bernama Tita.
"Maaf mbak" ucap Rosa pelan dengan membungkukan kepalanya pelan.
"Maaf-maaf. Lagian lo siapa sih? Jalan gak pake mata hah?"
"Maaf mbak saya gak liat" ucap Rosa lagi masih dengan tangan yang mengibas-ngibaskan pakaiannya.
"Gue gak pernah liat lo disini. Lo bukan karyawan sini kan?" tanya Tita dengan nada yang masih tinggi.
"Iya bukan mbak"
"Udah tahu bukan siapa-siapa disini pake bikin masalah. Gantiin kopi gue dan pel bekasan air kopi itu!!" teriaknya lagi sambil menunjuk-nunjuk. Bu Ratna yang tak terima langsung memajukan langkahnya menutupi Rosa untuk bersembunyi di balik tubuhnya. Bukannya apa bu Ratna khawatir jika perempuan gila ini akan berbuat apa-apa yang membahayakan Rosa. Terlebih baru begitu saja perempuan itu sudah meneriaki Rosa sedemikian.
"Maaf mbak, tadi keponakan saya sudah meminta maaf. Kami akan ganti kopi mbak tapi mohon maaf juga kami gak bisa untuk mengepel air kopi di lantai ini. Biar nanti saya panggilkan office girlnya untuk mengepel ini ya mbak" kata bu Ratna dengan lembut kepada Tita. Tita bukanya melunak malah semakin menjadi.
__ADS_1
"Enak aja. Biar dia aja sekalian. Biar tahu rasa. Lagian ibu tolong yah keponakannya di ajarin yang bener. Kalo jalan pake mata. Emang matanya ada gak bisa di gunain sampe harus nabrak saya dan tumpahin kopi saya hah? Kopi saya itu mahal asal ibu tahu. Bukan kopi sembarangan kayak kopi yang ibu jual di warung depan sana" katanya dengan angkuh yang memang mengenal bu Ratna pemilik warung dimana tempat karyawan makan siang atau terima pesanan makanan dari perusahaan tersebut.
"Gak apa-apa bu nanti biar Rosa ganti kopi dan pel lantainya" ucap Rosa yang memegang lengan bu Ratna karena merasa tak enak sudah menimbulkan keributan. Bu Ratna menoleh menatap Rosa yang tersenyum kepadanya, sungguh tak tega bu Ratna melihat Rosa di perlakukan seperti itu. Rosa membalikan badannya lalu berlalu dan menanyakan dimana letak alat pel kepada salah satu karyawan. Tapi langkahnya terhenti kala seseorang menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kepala. Bahkan semua karyawan menundukan kepala kepada seseorang itu termasuk Tita yang sudah membuat keributan dan keramaian karyawan disana.
"Rosa"
"Pa-papah"
Panggil Rosa dan pak Beny secara bersamaan dan terdengar sampai Tita yang jaraknya belum jauh dari Rosa.
Tita menelan salivanya susah setelah kata papa terucap dari mulut Rosa.
"Kamu ngapain disini? Ada perlu sama Yuda?" tanya pak Beny, papahnya Yuda dengan sangat ramah membuyarkan Rosa yang membeku.
"Sebentar lagi Yuda datang, kamu tunggu di ruangannya saja" kata pak Beny setelah Rosa mencium punggung tangannya.
"Eh tapi sebentar" ucap pak Beny lalu terfokus kepada noda kotor di pakaian Rosa. Setelahnya pak Beny melihat sekumpulan orang yang masih berdiri di belakang Rosa juga dengan tumpahan air kopi di lantai lalu kembali menatap Rosa lagi dengan tatapan yang bisa di bilang marah.
"Siapa yang melakukan ini kepada anak saya?" tanya pak Beny tapi matanya masih menatap Rosa. Rosa sendiri menudukan kepalanya karena tak berani menatap papa dari sahabatnya. Rosa tahu jika pak Beny akan marah jika ada yang mengusik dirinya. Dan ini bukanlah hal pertama. Pak Beny sendiri sudah mengangap Rosa sebagai anaknya terlebih Rosa sahabat baiknya Yuda yang mana Rosa sangat dekat dengan Yuda dan keluarganya.
Tita semakin tercengkat dengan wajah yang sudah pucat pasi. Bagaimana bisa dirinya membuat kesalahan fatal kepada seseorang yang katanya anak dari pemilik perusahaan. Ah padahal setahunya pemilik perusahaan tak mempunyai anak perempuan tapi mengapa pak Beny memperkenalkan Rosa sebagai anaknya? Tanya Tita dalam hati memaki dirinya sendiri.
__ADS_1
Semua terdiam karena tak berani dengan pemilik perusahaan yang amat sangat dingin ini. Mereka takut salah berucap yang nantinya akan membuat dampak buruk bagi karir mereka.
"Kenapa diam? Kalian mau ngaku sendiri atau mau saya periksa cctv? Yang jelas jika itu saya lakukan, saya akan memastikan pelakunya gak akan bebas dalam jeratan saya" kata pak Beny cukup membuat suasana semakin hening.
"Pah" kata Rosa mengangkat kepalanya menatap pak Beny.
"Oke baik, Sandy mohon buatkan surat peringatan pertama bagi semua karyawan yang ada disini" kata pak Beny dengan suara tegas dan lantang.
"Papa jangan kayak gitu" ucap Rosa pelan.
"Itu gak seberapa dengan mereka yang memperlakukan anak papa seperti ini" balas pak Beny melembutkan suaranya. Karena memang pak Beny tak bisa menaikan suara di hadapan Rosa.
"Rosa yang salah pah" kata Rosa lagi menutupi agar pak Beny tidak menjalankan surat teguran bagi karyawan yang tidak salah. Padahal mereka salah lho Ros, mereka gak membela kamu saat di perlakukan seperti itu. Mereka memilih diam dan menyaksikan.
"Perempuan ini yang melakukannya pak. Dia yang jalannya tidak hati-hati tapi menyalahkan Rosa dan memaki Rosa padahal Rosa sudah meminta maaf" ucap bu Ratna sambil melirik sinis Tita yang sudah ketakutan. Mata pak Beny tertuju pada Tita dengan tatapan menusuk tajam. Bisa-bisanya dia berbuat seenaknya seperti itu.
"Benar begitu?" tanya pak Beny kepada Tita. Tita sendiri tak berani menatap pak Beny namun menganggukan kepalanya pelan.
"Siapa kamu sampai berani seperti itu kepada anak saya?" tanya pak Beny lagi dengan tegas. Pak Beny sangat tidak suka dengan Tita yang mengganggu Rosa. Tita diam seolah mulutnya terkunci dan tak bisa berkata apa pun.
"Sandy tolong urus dia. Bawa dia ke Hrd, dan hitung berapa pesangonnya per hari ini" perintah pak Beny tak mau di ganggu gugat lalu menepuk bahu Rosa dan berlalu meninggalkan semuanya.
__ADS_1
"Ta-tapi pak"