Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
59. Mulut Ayyas


__ADS_3

Lagi dan lagi Rosa menghembuskan nafasnya kasar. Terlambat. Iya terlambat bagi Hari mengungkapkan itu sekarang. Kenapa tidak dari sepuluh tahun lalu? Sekarang? Jelas sudah berbeda keadaannya yang sangat di yakinin tak akan Rosa kembali kepada laki-laki yang menyia-nyiakannya hanya karena Rosa kurang cantik saat itu.


Duh Hari, dunia itu berputar lho. Zaman semakin cangih dan otomatis untuk melakukan perawatan diri bukanlah suatu hal yang sulit di dapatan di masa saat ini. Terlebih Rosa yang sudah cukup di kenal karena sebagai model sebuah butik ternama yang jelas akan menampilkan kecantikan yang tersembunyi pada dirinya.


"Maaf aku sudah menikah. Lebih baik kamu gak usah membuang waktu kamu demi aku perempuan yang bukan kriteria kamu" kata Rosa membuat dada Hari terasa sesak. Ingatan Hari berputar seolah kembali pada kejadian sepuluh tahun lalu.


"Me-menikah? Ha ha ha" ujar Hari terkekeh tak percaya. Rosa diam tak membalas karena sudah mengira apa yang akan di tanggap oleh Hari.


"Gak mungkin kamu menikah sedangkan kamu gak punya pacar Ros setelah putus dari aku. Please berhenti bersikap seperti anak-anak kayak gini. Aku minta maaf atas kesalahan aku dulu. Aku serius ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi" ucap Hari dengan tulus mengutarakan keinginannya.


"Seperti dulu lagi? Seperti kamu meninggalkan aku begitu saja kah? Oh maaf sekali pun bukan itu alasannya, aku tetap tidak tertarik dengan ajakan kamu. Jadi tolong Har, tolong jangan usik hidup aku. Hidup ku tenang saat tak ada kamu" sarkas Rosa dengan nada yang lembut.


"Aku ngerti kamu kecewa sama aku Ros tapi setidaknya kasih aku kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya. Aku mengaku jika aku salah saat itu tapi sekarang buktinya aku disini lho di hadapan kamu dan memilih kamu lagi"


Rosa memejamkan matanya dengan mencerna perkataan yang di dengar langsung dari Hari. Oh sungguh Hari, apa kamu berpikir seandainya di posisi Rosa seperti apa gitu?


"Aku bukan seorang yang harus kamu pilih. Meski kamu memilih aku tetap gak mau jadi orang itu. Sudah cukup. Jangan kamu ganggu atau mengharapkan aku. Aku sudah memilih hidupku sendiri, aku sudah menikah meski aku tidak punya pacar setelah putus dengan kamu. Jadi tolong, menjauhlah" pinta Rosa dengan lembut dan penuh penekanan.


Hari masih tak mempercayai apa yang di katakan Rosa. Bagi Hari suatu hal yang tak mungkin jika Rosa menikah tanpa pacaran terlebih selama Hari mencari tau Rosa selama tak bersamanya tak di temukan kedekatan Rosa dengan laki-laki mana pun. Jadi Hari sangat meragu dan tak bisa percaya begitu saja.


"Aku gak bisa menyia-nyiakan kamu begitu saja. Kamu perempuan baik-baik, tulus dan tanpa pamrih. Aku berhak memperjuangkan kamu Ros"

__ADS_1


Rosa tersenyum kecil tak percaya juga dengan apa yang barusan di katakan Hari. Apa? Berhak memperjuangkan? Gak bisa menyia-nyiakan? Astaga Hari harusnya di flashback in ke sepuluh tahun lalu deh. Kok bisa berkata demikian padahal dulu kamu lho yang menyia-nyiakan Rosa dan tidak memperjuangkannya. Rosa memang cuek tapi dia punya perasaan sama seperti perempuan lainnya.


"Kalau sudah selesai dengan apa yang kamu katakan, silahkan pergi karena aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dan aku mohon dengan sangat untuk kamu jangan menemui aku untuk membahas masalah pribadi seperti ini lagi. Keputusanku tetap sama dan gak akan berubah sekali pun aku belum menikah. Sekarang aku sudah menikah dengan laki-laki yang tentunya tidak memiliki hubungan pacaran denganku sebelum kami menikah. Mengertilah. Karena aku yakin disana banyak perempuan yang mengejar kamu terlebih saat itu cukup banyak perempuan yang ingin bersama kamu. Pilihlah salah satu" kata Rosa dengan ekspresi datar.


Hari menggelengkan kepalanya merasa tak percaya jika Rosa yang sekarang bisa mengungkapkan isi hatinya. Bahkan kini Hari sadar jika dulu dirinyalah yang membuat Rosa memendam apa yang ingin di ungkapkannya.


"Aku gak bisa. Aku harus memperjuangkan kamu. Aku serius Ros. Aku mau hubungan kita serius. Aku mau nikah sama kamu" jelas Hari yang pasti tak di dengar Rosa.


"Aku pamit. Permisi" kata Rosa dengan senyum lalu membalikan badan dan melangkah meninggalkan Hari.


Hari terdiam dengan apa yang barusan terjadi. Iya Rosa menolaknya, Rosa tak ingin menjalin hubungan dengannya lebih serius padahal dulu Rosa sangat ingin bersanding denga Hari. Hari, inget lho itu dulu. Dulu itu masa lalu.


***


"Gih balik lo sono" sahut Ayyas yang masih meletakan tangannya di pinggang Deby. Deby melirik sinis suami yang suka memancing emosi sahabatnya.


"Mentang-mentang udah punya pasangan berani banget ngusir gue" kata Yuda dengan bibir manyunnya.


"Sini pindah duduknya deket gue" kata Rosa dengan senyum manis dan menepuk kursi di sebelahnya.


Rizki pun menganggukan kepala dengan senyum kepada Yuda yang menatapnya setelah Rosa mengajak duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Iya Yuda sedikit menjaga jarak dengan Rosa agar bisa mematikan perasaannya. Yuda hanya membalas dengan cengiran khas yang memamerkan gigi rapihnya.


"Gak usah Ros, gue disini aja"


"Iya Ros biarin Yuda deket-deket gue. Biar gue bisa kangen-kangenan sama Yuda" sahut Ayyas cengengesan.


"Tadi lo ngusir gue sekarang lo mau deket-deket gue. Dih ora sudi gue. Lo pikir gue laki-laki apaan" seru Yuda dengan memutar bola matanya malas.


"Ucup cup cup cup, Yuda tayang jangan malah donk. Akyu kan cuma bercanda tayang" kata Ayyas yang membuat semuanya menghimpitkan kedua alis mereka.


"Jijik gue jijik. Anjir jijik banget gue dengernya. Sono lo jauh-jauh dari gue. Gila gak habis pikir. Baru juga pulang honeymoon, abis enak-enak sama Deby terus tiba-tiba begini. Lo kesambet setan sono kali apa setannya ngikutin lo sampe jadi gini?" celoteh Yuda membuat yang lain menggelengkan kepalanya.


"Makanya nikah biar bisa ngerasain honeymoon" ledek Ayyas dengan menjulurkan lidah.


"Emang lo ya Yas. Mulut lo gak bisa di setting dikit aja biar ga nyinyir. Seneng banget kayaknya kalo mancing emosi gue" keluh Yuda dengan tatapan sinis kepada Ayyas.


Ayyas tertawa kecil merasa lucu dengan ekspresi wajah Yuda seperti itu.


Deby segera mencubit pinggang suaminya dan melepaskan tangan Ayyas yang ada di pinggangnya.


"Aw aw aw sakit sayang kok aku di cubit sih? Di sayang donk" kata Ayyas dengan mengelus pinggangnya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Tolong mulut kamu di kendalikan Yas"


__ADS_2