
Dengan menarik nafas panjang, Indra tersenyum.
"Apa yang papinya Sani inginkan dari kamu? Tadi gak sengaja sebelum aku kesini, aku melihat papinya Sani berpapasan dengan Rosa dan saat aku ikuti papinya Sani, aku mendengar jika beliau menginginkan kamu menikahi Sani. Dan jika kamu tidak menikahi Sani, maka beliau akan membuat perusahaan kamu bangkrut dan juga beliau merencanakan akan menyingkirkan Rosa. Apa benar begitu?" kata Indra yang membuat semua mata dalam ruang rawat ibu Titi melebar.
Gila dan tak habis pikir.
"Apa kak Indra gak salah dengar?" tanya Rosa memastikan.
"Kak Indra dengar dengan jelas Ros. Apa benar begitu?"
"Untuk membuat perusahaanku hancur iya kak tapi untuk menyingkirkan Rosa? Bagaimana bisa?" tanya Rizki tak habis pikir.
"Aaahhh iya tadi kak Indra bilang kalau om Roni berpapasan dengan Rosa setelah keluar dari ruang rawat ibu? Itu berarti..." lanjut Rizki terhenti.
"Itu berarti om Roni ada niat menyingkirkan Rosa setelah berpapasan dengan Rosa tadi" celetuk Ayyas menyimpulkan.
Kesimpulan yang sama di kepala mereka yang berada dalam satu ruang rawat itu. Rizki diliputi kebingungan karena tak mau berjauhan dengan Rosa tapi bagaimana jalan keluar untuk masalah ini? Jika perusahaannya hancur atau bangkrut, bagaimana nasib keluarga yang bertopang pada dirinya. Iya Rizki yang membiayai seluruh kebutuhan keluarganya.
Rizki, Ayyas dan Yuda menatap Indra dengan serius. Indra yang di tatap pun mengerti maksudnya.
__ADS_1
"Aku akan bertanggung jawab atas anak yang sudah di lahirkan Sani. Maaf, maafkan aku yang terlalu bodoh hingga membuat kamu dan Rosa salah paham. Maaf karena kebodohan aku mencintai seseorang justru malah membuat banyak orang yang tersakiti" kata Indra dengan senyum tipis dan anggukan kepala.
Hening, semua terdiam sejenak menelaah apa yang di ucapkan Indra. Ibu Titi meraih tangan Indra hingga Indra menoleh dan menatap ibu Titi. Mata Ibu Titi berkaca-kaca. Ibu Titi memang sangat ingin Indra bertanggungjawab, tapi ibu Titi tidak mau memaksakan karena sebelumnya Indra juga salah satu korban atas kesengajaan yang di rencanakan.
"Terima kasih" kata Ibu Titi dengan menjatuhkan air matanya. Tangan Indra terulur dan menghapus jejak air mata ibu Titi.
"Maaf jika Indra terlambat bule. Indra salah tapi Indra tidak mau mengakuinya. Maaf sudah membuat semua berantakan. Indra gak akan bisa memaafkan diri Indra jika terjadi sesuatu dengan rumah tangga Rizki dan Rosa bahkan dengan calon keponakan Indra. Indra menyesal bule. Maafkan Indra"
***
Ruang rawat Sani sudah di hias dengan beberapa pernak pernik dan bunga disana. Sani pun di make up dengan sangat cantik. Tapi hati kecil Sani sedang menangis. Sani memikirkan bagaimana nasibnya nanti setelah menikah dengan Rizki. Memang Rizki adalah orang yang permah singgah di hatinya, Sani pun tak menapik jika perasaannya untuk Rizki masih sangat besar sama saat dirinya masih bersama Rizki dulu.
Tapi Sani menyadari saat ini namanya sudah tidak ada lagi di hati Rizki bahkan untuk bertatap wajah saja, amarah Rizki bisa memuncak seketika. Lalu bagaimana jika pernikahan ini terjadi? Apa yang akan terjadi dengan dirinya sedangkan Rizki pasti sangat membenci dirinya.
"Tersenyumlah, sebelum senyum itu sirna dari wajah cantik kamu" lanjut Sena meninggalkan Sani dan menghampiri keponakan cantiknya.
Sani masih terdiam, gemuruh perasaannya tak menentu. Pikirnya apa yang harus di lakukannya saat ini? Bagaimana cara membatalkan pernikahan yang di dasarkan kebencian ini?
Sempat dalam pikir Sani, kemana Indra? Sani sempat memikirkan ayah dari anak yang sudah dirinya lahirkan itu, sejujurnya hanya Indra yang bisa menolongnya jika Indra mau bertanggung jawab atas dirinya. Tapi lagi dan lagi harapan Sani sirna.
__ADS_1
Keputusan papi Roni tanpa sepengetahuannya. Sani hanya dan harus menuruti apa yang di perintahkan oleh papinya. Salah, iya salah harusnya papi Roni meminta Indra yang bertanggung jawab karena Indra ayah dari anaknya bukan Rizki yang hanya masa lalu Sani.
"Aaagggrrrrrrhhh!!!" teriak Sani frustasi.
Sena memperhatikan Sani dari jauh, Sena tahu betapa stresnya Sani saat ini tapi Sani tak punya pilihan. Selain dirinya paska melahirkan yang membuat kondisinya belum bisa bergerak dengan bebas juga karena seluruh pengawasan dan penjagaan untuk dirinya sangat di perketat oleh papinya.
Tiga puluh menit berlalu. Yang di tunggu akhirnya tiba di dalam ruang rawat Sani yang mana sudah ada penghulu, papi Roni, mami Lina, Sena, Sani dan bayi perempuan Sani.
Rizki memasuki ruanh rawat Sani lebih dulu setelahnya ada Rosa di belakang Rizki yang mana tangan Rizki terus menggenggam erat istrinya itu.
Sorot mata papi Roni menajam menandakan tak suka dengan ini, tapi setelahnya ada Ayyas, Yuda, mbak Rini dan suami serta yang terakhir Indra. Mata Indra dan mata Sani bertemu. Sani melebarkan kedua matanya dengan berpikir apa yang akan terjadi? Kenapa ada Indra? Rosa? Rosa sudah kembali?
"Maksud kamu apa Rizki?" tanya papi Roni dengan suara meninggi. Rizki yang di tanya hanya membalas dengan senyum sopan sambil melemparkan pandangan kepada seluruh keluarga Sani dan juga penghulu.
"Saya mewakili keluarga yang akan mendampingi akad nikah anak om" jawab Rizki.
Papi Roni menghimpitkan keningnya. Mewakili keluarga? Berarti bukan Rizki yang akan menjadi mempelai?
"Sani, saya Rizki dan ini kakak saya Indra. Rencana kedatangan kami selain undangan dari om Roni juga ingin menyampaikan maksud kami. Maksud kami tak lain adalah ingin menjadikan kamu sebagai salah satu keluarga besar kami yang mana kakak sepupu saya meminta untuk melamar kamu. Jika kamu menerimanya, maka kakak sepupu saya tidak akan menunggu waktu lebih lama untuk menikahi kamu. Mau kah kamu menerima lamaran dari kakak sepupu saya Indra?" ucap Rizki dengan tegas dan terdengar jelas.
__ADS_1
Sani menganga tak percaya dengan apa yang barusan dirinya dengar. Ucapan Rizki pun sangat terdengar santun di telinganya. Bahkan genggaman tangan Rizki kepada Rosa sangat terlihat jika Rizki sangat mencintai Rosa dan tak akan ada pula kesempatan bagi dirinya kembali ke posisinya dulu.
Kinu Sani menatap Indra yang juga sedang menatapnya. Masih merasa tidak percaya karena dulu Indra menolak dirinya dengan mentah-mentah bahkan tidak mau mengakui kandungannya itu adalah anaknya.