
"Mama bersyukur kamu kembali sayang" kata mama Wina menatap Rosa dengan senyum namun matanya memerah. Rosa membalas senyum mama Wina lalu menghampiri dan memeluk mamanya.
"Sekali lagi Rosa minta maaf atas keegoisan Rosa ya mah. Rosa janji, Rosa gak akan seperti ini lagi. Rosa gak akan lari lagi dalam masalah Rosa dan Rosa akan menerima apa pun keadaannya, Insyaallah"
"Iya sayang. Mama juga janji akan selalu ada di samping kamu, mama gak akan membiarkan kamu sendiri lagi" kata mama Wina dengan air mata yang lolos begitu saja. Rasa sesaknya masih sangat terasa setelah Rosa kembali dalam keadaan hamil besar. Mama Wina masih membayangkan bagaimana Rosa sejak awal kehamilannya. Tapi lagi-lagi mama Wina juga merasa lega jika ternyata ada Yuda yang menemani dan melindungi Rosa selama ini.
"Hmm iya mah"
"Oh iya" kata mama Wina lagi sambil melepas pelukan Rosa perlahan. Rosa menghimpitkan keningnya seolah bertanya ada apa?
"Mama mau tanya bagaimana hubungan kamu dengan Rizki sekarang? Semenjak kamu pergi, Rizki berubah sekali, terlihat sangat stress dan frustasii dia sampai dia gak memperhatikan dirinya. Rizki mencari kamu sampai tak ingat waktu, mama menghargai perjuangannya saat dia mencari kamu tapi terlepas dari apa pun itu, semua keputusan ada di kamu sayang. Entah mama pun gak bisa menyalahkan siapa yang salah. Tapi pengakuan Rizki kepada mama dan ibunya jika saat itu dirinya hanya refleks. Rizki pun membuktikan ucapannya. Sampai saat ini dia pun tidak menikahi perempuan itu. Rizki masih setia menunggu dan menanti kamu kembali. Rizki merindukan kamu sama seperti mama. Apa kamu merindukan suami kamu?" tanya mama Wina dengan menatap Rosa. Mencari tahu kebenaran dari tatap anak tunggalnya. Mama Wina merasa ini memang menyakitkan tapi mama Wina menginginkan jika masalah yang di hadapi anak dan menantunya segera terselesaikan.
Rosa menggigit bibir bawahnya yang bergetar karena menahan tangis. Jujur Rosa sebenarnya merindukan suaminya tetapi jika Rosa mengingat kata demi kata yang terucap saat itu, hatinya masih terasa perih. Masih terasa sakit yang menyesakan. Tapi Rosa mencoba berdamai dengan itu semua.
"Mama yakin kamu juga merindukan Rizki. Temui dia besok ya sayang. Hari ini Rizki gak akan pulang kesini karena Rizki minta izin mama mau kerumah ibunya. Ibu mertua kamu sakit, gak lama setelah kamu pergi saat itu" jelas mama Wina. Rosa melebarkan kedua matanya dan segera menyeka matanya yang basah.
"Ibu sakit? Semenjak aku pergi? Ibu sakit karena aku mah?" tanya Rosa terkejut.
"Bukan, bukan karena kamu sayang. Jangan menyalahkan diri kamu. Mungkin karena momentnya yang pas saat kamu pergi. Di tambah mama yakin jika ibu mertua kamu sama kecewanya dengan yang mama rasakan saat itu. Kecewa dengan sikap Rizki terhadap kamu yang terkesan plin plan, kecewa karena untuk menemukan kamu sampai saat ini tidak berhasil"
"Tapi Rosa ikut terlibat di dalamnya mah. Kalo Rosa gak egois dan ga pergi mungkin ibu gak akan sakit dan mungkin mama dan ibu pun gak akan kecewa. Maafin Rosa ya mah"
__ADS_1
"Sudah gak usah merasa bersalah seperti ini. Semua sudah jalannya yang mana kita harus banyak belajar dari ini. Besok kalau kamu mau menemui ibu mertua kamu, biar mama antarkan ya sayang" kata mama Wina dan di anggukan oleh Rosa.
***
"Yuda" panggil Ayyas ketika melihat Yuda memasuki ruang kerjanya. Mata Ayyas melebar dan segera menghampiri sahabat yang selama beberapa bulan terakhir tak ada kabarnya.
Yuda membalas pelukan Ayyas dengan sesekali menepuk-nepuk punggung Ayyas
"Masih hidup lo? Gila yang udah mimpin perusahaan sampai lupa sama sahabatnya. Astaga!" gerutu Ayyas sambil perlahan melepas pelukannya kepada Yuda. Yuda hanya tertawa kecil melihat tingkah Ayyas.
"Menurut lo gue masih hidup apa sudah mati? Hah?"
"Diih apa-apaan kali pake acara berair gitu mata lo" ucap Yuda lalu beranjak duduk di sofa ruang kerja Ayyas. Ayyas memanyunkan bibirnya lalu mengikuti Yuda yang sudah duduk.
"Terharu gue. Lo sibuk banget sampe chat atau telpon gue slow respon banget Yud" jujur Ayyas.
"Lebay lo baru juga kayak gitu udah begini. Lagian lo udah punya istri jadi gue rasa lo gak akan kesepian jugalah Yas" ujar Yuda dengan menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Beda Yud. Gue emang gak kesepian ada istri tapi tetep aja hari-hari gue berasa ada yang beda sejak gak ada lo. Di tambah lagi sama ..." jelas Ayyas namun enggan melanjutkan penjelasannya.
"Ditambah lagi sama apa?" tanya Yuda yang ingin mendengar penjelasan Ayyas.
__ADS_1
"Huft" jawab Ayyas dengan membuang nafasnya kasar.
"Ditambah lagi sama Rosa yang kabur?" tebak Yuda seolah-olah memancing Ayyas bercerita. Memang selama itu Ayyas tidak menceritakan apa pun yang sedang terjadi. Terlebih komunikasi mereka yang sedang tidak intens membuat Ayyas merasa tak bisa menceritakan sembarang masalah Rosa tersebut.
Ayyas mengerutkan dahinya. Dari mana Yuda bisa mengetahui kaburnya Rosa? Apa Rosa menceritakan kepada Yuda? Apa Yuda sudah bertemu Rosa? Apa Rosa sudah kembali. Pikiran Ayyas berputar dan menerka-nerka.
"Gak usah bingung gitu Yas"
"Lo ketemu Rosa dimana? Dimana Rosa sekarang Yud? Gue kangen banget sama dia. Gue pengen banget minta maaf sama Rosa karena gue membiatkan dia pergi begitu saja. Lo.. Lo pasti tahu dimana Rosa?" cecar Ayyas tak sabaran.
"Tawarin gue minum dulu kek. Gue tamu lho Yas disini" gumam Yuda mencoba mendera kepanikan Ayyas.
Yuda tahu asal mula mengapa Rosa bisa memutuskan pergi. Awalnya memang memberik kabar tapi setelahnya Rosa tak memberi kabar sama sekali hingga saat ini dirinya kembali ke rumah mama Wina pun Ayyas belum mengetahuinya.
"Diih biasanya juga ambil sendiri lo. Aishh lo mau minum apa biar gue suruh sekretaris gue yang beliin lo minum" ucap Ayyas sambil berdiri dan berjalan ke meja kerjanya untuk menghubungi sekretarisnya.
"Lo tau selera gue Yas. Jangan pura-pura hilang ingat deh" teriak Yuda dengan senyum jailnya.
"Emang sialan lo kutu nyamuk" gerutu Ayyas dan memesankan minum serta cemilan untuk Yuda kepada sekretarisnya.
Ayyas segera kembali dan duduk di hadapan Yuda dengan menatap Yuda serius. Di pindai dari wajah Yuda terlihat Yuda biasa saja dan tak ada kepanikan saat Ayyas mengajukan banyak pertanyaan tentang Rosa. Biasanya sedikit saja sesuatu terjadi pada Rosa, Yuda pasti dan akan sangat panik, lho kok ini biasa saja? Tanya Ayyas dalam hatinya dengan menatap Yuda penuh pertanyaan.
__ADS_1