
Hari demi hari telah di lewati Rosa dan Rizki selama mereka berada di kampung halaman Rizki. Hal yang sangat membuat bahagia karena keluarga Rosa sangat menyambutnya dengan sangat hangat. Bahkan rasanya Rosa seperti keluarga sendiri. Ya maklum Rosa memang tak mempunyai sanak saudara lagi. Selepas meninggalnya sang papa, hanya mama Wina yang Rosa tau. Rosa sama sekali tak tahu silsilah keluarga mama Wina atau pun papanya.
"Duuuuh Bude rasanya gak mau kamu pulang Ros. Disini lebih lama lagi yah" kata bude Murni dengan memegangi lengan Rosa. Rosa menyimpulkan senyum dan serasa memeluk dari samping bude Murni.
"Rosa juga maunya gitu bude. Disini adem, sejuk. Rosa juga betah tapi cuti Rosa udah berakhir dan mas Rizki juga gak bisa lama-lama ninggalin pekerjaannya. Udah pasti kasian Alif yang akan keteteran" kata Rosa sambil melepas pelukannya.
"Iya bude kasian anak bungsu bude he he he" sahut Rizki nimbrung.
"Gak apa-apa Ki biar Alif semakin belajar lagi. Bude udah alhamdulillah sekali dia mau belajar sama kamu dan kamu juga mau ngajarin dia. Setidaknya Alif akan punya pandangan mau di bawa kemana masa depan dia" jelas bude mengingat anak bungsunya.
"Iya bude. Rizki juga makasih banget sama Alif yang udah banyak bantu Rizki. Malah sering banget Rizki repotin. Sering banget Rizki alihin kerjaan ke dia he he he. Maaf ya bude"
"Semua ada plus minus nya Ki. Bude melihat untuk saat ini Alif lebih baik dari kakaknya. Bukan bude membandingkan anak-anak bude hanya untuk saat ini yang terlihat seperti itu dan mungkin kamu tau sendiri bagaimana Indra di Jakarta kan?" jelas Bude Murni membuat Rosa dan Rizki mengingat satu hal lalu melempar pandang.
Deg
"Aahh iya bude he he he" ucap Rizki ragu dan menggaruk tenguknya yang tak gatal.
Rizki mengingat perkataan mantan pacar yang menghampirinya karena sedang mengandung anak dari kakak sepupunya ini. Entah Rizki ingin bercerita kepada bude Murni namun enggan karena merasa tak berhak ikut larut dalam permasalahan ini meski sebenarnya Sani sedang mencoba menarik dirinya untuk terlibat.
"Kalau terjadi sesuatu dengan anak-anak bude tolong beritahu bude ya Ki. Baik Indra atau Alif. Mereka kakak beradik namun mempunyai sifat yang sangat berbeda. Bude hanya takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Kamu ngerti kan maksud bude?" tanya bude Murni membuat Rizki kesulitan menelan salivanya. Bagaimana tidak karena memang saat ini sudah terjadi kesalahan pada kakak sepupunya itu. Meski sebenarnya Rizki belum mempunyai bukti tentang kebenarannya juga belum menanyakan langsung perihal apa yang terjadi pada pihak yang bersangkutan.
"Iya bude. Insyaallah jika terjadi sesuatu dengan anak-anak bude, Rizki akan beritahu"
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya Ki. Kalian hati-hati di jalannya. Inget kalau ngantuk jangan di paksa nyetir. Istirahatlah dulu di tempat peristirahatan yang sudah tersedia"
"Iya bude. Kalo gitu Rizki dan Rosa pamit yah"
"Iya Ki. Kabarin bude kalau sudah sampai di Jakarta"
"Iya bude. Sebelum pulang Rizki dan Rosa akan ke sawah dulu sekalian pamit dengan pakde dan si mbah" ujar Rizki dengan merangkul istrinya. Rosa menyimpulkan senyum dan menganggukan kepalanya pelan. Begitu juga dengan bude Murni yang menganggukan kepala kepada kedua keponakannya itu.
***
Setibanya di Jakarta, Rosa dan Rizki pulang ke rumah mama Wina. Mama Wina sudah ada di rumah dan menyambut kedatangan anak semata wayangnya dengan menantu kesayangannya. Rasanya sangat rindu dengan Rosa yang kini telah menjadi istri orang. Namun mama Wina mengerti karena sebelumnya pernah merasakan hal sedemikian.
"Bersih-bersih, makan terus istirahat ya sayang. Mama udah buatkan makanan kesukaan kalian berdua. Sebentar mama panasin dulu. Tadi masaknya kecepetan soalnya" kata mama Wina setiba melihat keduanya memasuki rumah.
Rizki tak henti mengulaskan senyumnya yang berjalan tepat di belakang Rosa. Masih merasa seperti mimpi jika biasanya Rizki hanya main di rumah Rosa sebagai sahabat kini bukan hanya main melainkan tempat tinggal.
Ceklek
Pintu kamar Rosa terbuka dan Rosa segera menekan saklar lampu agar lampu utama dalam kamar tersebut nyala dengan terang. Rosa meletakan tas miliknya di atas nakas dekat tempat tidur dan Rizki meletakan koper yang di bawanya di dekat tempat tidur Rosa. Dan tiba-tiba...
"Astagfirullah" kata Rosa ketika Rizki memeluk dirinya dari belakang. Melingkari tangan kekarnya di perut Rosa bahkan mengeratkannya. Dan lagi wajahnya mengusel-ngusel belakang leher Rosa. Iya mengusek-ngusel seperti anak kucing.
"Kamu ngapain? Bikin kaget aja" protes Rosa yang jantungnya merasa tak aman. Rizki tak menjawab justru malah semakin menjadi. Menciumi belakang leher Rosa dan menghirup harum tubuh Rosa dari sana.
__ADS_1
"Hei. Badanku lengket mau mandi" pinta Rosa dengan lembut. Sebab Rosa merasa curiga jika Rizki sudah melakukan hal demikian.
"Kangen" kata Rizki sejenak melepaskan lalu melakukan hal demikian lagi.
"Tapi aku gerah banget. Gak nyaman mas"
"Tapi akunya nyaman kayak gini" sahut Rizki tak mau kalah. Hingga akhirnya Rosa membalikan badannya dan berhadapan langsung dengan Rizki. Netra keduanya saling bertemu dan Rizki tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Sekali dulu baru kamu mandi yah" bisik Rizki lembut dan ******* bibir yang sudah membuatnya candu.
Rosa ingin menolak pun rasanya tak bisa. Rizki sudah beradu dengan gairahnya. Bahkan ketika dengan Rosa semuanya sudah tak dapat di kendalikan hingga harus segera di tuntaskan.
Saju jam kemudian akhirnya selesai. Rosa kini sudah lebih segar lagi setelah membersihkan dirinya. Tentu membersihkan dirinya bersama dengan Rizki. Iya Rizki memaksa dengan alasan 'Istri gak boleh nolak ermintaan suami, dosa'. Oke baik kalimat itu sudah melekat di pikiran Rosa hingga menolak pun Rosa ragu karena takut berdosa.
Dasar Rizki sejak kapan jadi seperti ini? Ya jelas semenjak menikah dan memiliki Rosa seutuhnyalah. Ho ho ho.
"Kalian ketiduran yah? Kok lama banget?" tanya mama Wina membuat Rosa memerah dipipinya. Melihat merah di pipi Rosa, mama Wina jadi salah tingkah sendiri karena merasa memang terjadi sesuatu yang ada di pikirannya. Di pikirannya? Emang mama Wina mikirin apa?
"Ehh yaudah gak apa-apa mungkin kalian capek kan jadi ketiduran sebentar. Yaudah ayuk ayuk makan dulu sebelum nanti istirahat yah. Tapi makanannya jadi agak dingin lagi. Apa mau di angetin lagi?" tanya mama Wina merasa tak enak.
Lain mama Wina lain Rosa dan Rizki juga yang merasakan hal yang sama. Tak enak. Padahal mama Wina sudah menyiapkan semuanya untuk mereka berdua.
"Gak usah mah, Rizki udah laper dan udah gak sabar makan masakan mama yang ngangenin ini. Terima kasih ya mah udah mau di repotin buat siapin makan untuk kita" kata Rizki dengan bahagia bisa memiliki ibu mertua yang perhatian seperti mama Wina.
__ADS_1
****