Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
95.


__ADS_3

"Aku kangen Rosa sayang" kata Deby kala berada dalam pelukan suaminya.


Ayyas pun sama merasakan rindu kepada sahabatnya yang entah berada dimana saat ini. Ayyas menyesal karena sampai saat ini tidak bisa menemukan dimana titik keberadaan Rosa. Bagaimana kabarnya? Bagaimana kandungannya? Dimana dirinya tinggal? Apa baik-baik saja? Dengan siapa sekarang dirinya? Itulah pertanyaan yang terus berputar di pikiran Ayyas.


"Aku juga kangen. Tapi sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan dimana Rosa. Aku khawatir, aku takut terjadi sesuatu dengan Rosa" ucap Ayyas mengutarakan kegundahannya.


"Apa kamu udah hubungi Yuda soal kaburnya Rosa ini?"


"Belum. Yuda juga sudah lama enggak kasih kabar tentang keadaannya. Kayaknya dia juga pusing disana. Kamu pasti tahu kerjaan pemilik perusahaan kayak gimana kan? Dan juga kalo Yuda tahu, aku takut dia malah semakin gak bisa lupain Rosa karena dia pasti akan khawatir dengan Rosa dan pastinya dia akan mencari Rosa" jelas Ayyas dengan menggelus rambut Deby.


"Bukannya bagus kalo banyak yang cari sayang? Biar semakin cepat ketemunya"


"Iya memang tapi akan menjadi semakin khawatir jika Yuda mengetahui ini. Kamu juga pasti tahu bagaimana perasaan Yuda kepada Rosa. Yuda memang menerima kekalahannya tapi gak akan semudah itu untuk Yuda melupakan perasaannya. Aku masih sangat yakin jika Rosa adalah nama yang terukir di hatinya sampai saat ini"


"Huft! Semoga Rosa selalu dalam keadaan baik-baik saja"


"Hm" sahut Ayyas yang lalu memejamkan matanya bersama Deby. Terlalu sulit bagi Ayyas memikirkannya. Ayyas yakin jika Rosa baik-baik saja. Rosa anak yang baik dan tentunya akan bertemu dengan orang baik lagi. Yakinlah, pikir Ayyas untuk tetap positif.


***


Rosa masih diam setelah menunggu Yuda menebuskan obatnya di apotek. Entah perasaan apa yang menjalar di hatinya yang jelas Rosa merasa bahagia. Bahagia saat dokter kandungan menyatakan jika Rosa sedang mengandung sepasang anak di dalam kandungannya. Pantas saja ukuran perutnya terlihat besar dari ibu hamil bukan anak kembar.


Yuda menghampiri Rosa dan melamurkan lamunannya. Rosa melemparkan senyum menatap Yuda yang juga menatapnya.

__ADS_1


"Mikirin apa?" tanya Yuda berdiri di hadapan Rosa. Rosa mendongakan kepalanya lalu menggelengkan kepalanya.


"Ayo pulang" ajak Yuda lalu mengukurkan tangannya. Rosa melihat tangan Yuda lalu menatap Yuda kembali. Gak tahu kenapa baginya saat ini Yuda adalah penolong. Entahlah maksud dari penolong itu seperti apa.


Rosa menerima uluran tangan Yuda dan Yuda menggenggamnya sambil mereka berjalan beriringan. Dari sisi Yuda sendiri merasa jika sahabat sekaligus perempuan yang dicintainya ini sedang tidak baik-baik saja. Yuda yakin jika Rosa sendiri tak akan menceritakan apa yang terjadi dengannya saat ini. Apa ini sangat menyakitkan? Tanya Yuda dalam hatinya.


Yuda tak langsung mengantarkan Rosa pulang melainkan mengajak Rosa singgah di salah satu mall terdekat dari rumah sakit yang mereka singgahin tadi. Rosa menatap Yuda dengan sulit di artikan. Tapi Rosa tetap mengikuti kemana Yuda melangkah saat ini.


"Mau beli apa?" tanya Rosa ketika mereka sudah memasuki toko pakaian. Yuda tersenyum manis kepada Rosa dan terus menuntun Rosa untuk berjalan. Yuda memilih beberapa dress untuk ibu hamil tanpa melepas genggaman tangannya kepada Rosa. Pikirnya tak peduli dosa atau apa kata orang jika ada yang melihat dirinya menggenggam tangan istri dari sahabatnya ini.


"Cobain ini" kata Yuda sambil memberikan beberapa dress pilihannya. Rosa menerima dan berjalan ke ruang ganti. Bagus, cantik, pas, dan nyaman. Itulah yang Rosa rasakan kala mencoba dress pilihan Yuda. Iya begitulah Yuda sedari dulu. Selalu tahu apa selera dan kesukaan Rosa. Bahkan Yuda pun selalu pas memberikan ukuran pakaian untuk Rosa.


Yuda tersenyum puas melihat penampilan Rosa saat ini. Yuda pun meminta kepada pelayan toko untuk membungkus semua dress pilihannya untuk Rosa. Rosa yang tak bisa menolak pun hanya bisa tersenyum sebagai ucapan terima kasih.


"Lo tinggal sama papa disini?" tanya Rosa ingin tahu.


"Enggak. Gue tinggal sendiri di apartemen. Papa rencana pindah ke Jakarta lagi karena mama mau tinggal di Jakarta sama Nenek"


"Terus rumah papa yang disini?"


"Kosong tapi ada yang ngurusin kok" ucap Yuda sambil menoleh menatap Rosa sebentar lalu kembali fokus pada jalan raya.


"Kenapa lo gak tinggal di rumah papa aja?"

__ADS_1


"Terlalu besar kalo gue tinggal disana sendirian. Meski di rumah itu ada mbak yang ngurusin rumah tapi gue kurang nyaman aja gitu" jelas Yuda jujur yang memang lebih suka sendiri.


"Nah kita udah sampe" kata Yuda sambil memarkirkan mobilnya. Yuda segera turun dari mobilnya dan memutarkan mobilnya lalu membukakan pintu untuk Rosa turun. Sungguh perlakuan Yuda ini sangat hangat sekali.


"Tuan putri mau makan apa? Apa mau di samain sama gue?" tanya Yuda sambil menggoda Rosa. Rosa terkekeh kecil mendengar Yuda yang memanggilnya tuan putri. Mengingatkannya kepada Yuda remaja yang selalu memanggilnya seperti itu, bahkan bukan cuma panggilan melainkan jiga perlakuan.


"Iya samain aja tapi agak pedas ya" pinta Rosa dan di anggukan Yuda. Tapi Yuda bukan memesankan pedas melainkan original. Bukan tak mau hanya Yuda khawatir jika Rosa makan makanan pedas terlebih ada dua janin yang tumbuh di dalam perutnya.


Sesampai makanan di atas meja, Rosa dengan antusias memakan makanannya tapi perlahan Rosa menatap Yuda dengan sinis.


"Gue tahu gue ganteng. Gak usah ngeliat begitu ntar naksir repot" ucap Yuda penuh percaya diri.


"Ini gak ada pedes-pedesnya sama sekali Yud" protes Rosa sambil mengunyah makanannya.


"Lo boleh gak sayang sama diri lo tapi lo harus sayang sama anak-anak lo" sahut Yuda dan membalas tatapan Rosa yang sinis. Rosa memanyunkan bibirnya dengan sebal kepada Yuda tetapi Yuda menahan tawanya karena merasa gemas dan lucu dengan ekspresi Rosa saat ini.


***


"Gimana udah ada kabar tentang Rosa?" tanya Rizki ketika melihat orang suruhannya membantu mencari keberadaan istrinya.


"Maaf pak sampai saat ini kami belum berhasil menemukan ibu Rosa. Ibu Rosa sangat sulit di lacak. Terakhir yang kami tahu ibu Rosa berada di terminal Bandung. Kami sudah mendatangi terminal hampir setiap hari tapi kami belum menemukan hasil" jawab Iwan dengan jujur atas usahanya selama ini.


Rizki mendesah frustasi merasa bingung harus memcari kemana lagi istrinya. Rizki seperti hilang arah dan kendali setelah kepergian Rosa ini. Bahkan perusahaannya di ambil alih oleh Alif karena Rizki sudah sangat jarang sekali ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2